All In My Head

All In My Head
BAB 45



Author POV


Adel ikut berlari bersama beberapa perawat menuju ruang operasi. Ia menggenggam erat telapak tangan Lirya yang terasa dingin itu. Airmatanya ikut mengalir deras bersama dengan keringatnya.


Ia tidak tau bahwa selama ini, Lirya menyembunyikan semua ini dari mereka. Dan kini, ia merasa berhutang budi pada Lirya. Namun, ia tidak tau harus berbuat apa selain hanya berdoa untuk keselamatan Lirya.


Setelah tiba di depan pintu ruang operasi, seorang perawat menghentikan mereka dan memberitahu untuk menunggu di luar ruangan.


Adel terduduk lemas begitu saja di depan pintu sambil memegang dadanya. Suara tangisannya pun mulai memudar. Cathrine menghampirinya, lalu memutar badan Adel agar menghadapnya.


"Astaga, Adel!" Teriaknya, yang membuat semua orang melihat ke arah mereka berdua.


Bukan tanpa alasan ia berteriak, akan tetapi karena darah yang menetes dari hidung Adel. Wajahnya tak kalah pucat dengan bibirnya. Tak lama kemudian, ia pun pingsan di pangkuan Cathrine.


"Panggilkan perawat!" pintah Cathrine pada bodyguardnya.


***


"Bagaimana dok? Apa yang terjadi padanya?"


"Nona Adel mengidap penyakit Leukimia."


Cathrine menutup mulutnya yang sudah membuka lebar. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia menarik nafas dalam-dalam, sebelum akhirnya bertanya lagi.


"Apa bisa disembuhkan dok?"


"Nona Adel harus menjalani perawatan secara rutin dari kami. Karena penyakit ini belum terlalu parah, jadi penyakit ini masih mudah untuk disembuhkan."


"Syukurlah kalau begitu. Terima Kasih Dokter," ucapnya sambil beranjak menuju tempat tidur Adel.


Adel membuka matanya perlahan dan mengerjapkannya beberapa kali. Sedangkan Cathrine, lidahnya terasa kaku untuk bertanya yang sebenarnya pada Adel.


Adel mengkerutkan keningnya, melihat Cathrine yang menangis cukup deras.


"What happen, Cath? Kenapa kau menangis?"


Cathrine menarik nafas panjang, sebelum akhirnya berbicara.


"Miss France, kenapa kau begitu jahat padaku? Kenapa kau tidak memberitahuku bahwa kau memiliki penyakit Leukimia?"


Cathrine memeluk erat Adel yang masih terbaring lemas di atas tempat tidur.


"Maafkan aku Cath. Aku hanya tidak ingin kalian semua mengkhawatirkan diriku. Aku tidak mau semua orang bersedih hanya karena penyakitku," jawabnya sambil mengelus lembut bahu Cathrine.


"Kau selalu saja memikirkan orang lain, tapi tidak pernah memikirkan dirimu! Kali ini, kau harus mengikuti perawatan secara rutin. Kalau tidak, aku akan memukuli Key!" jawabnya, kemudian kembali menangis.


"Hey! Sudahlah jangan menangis lagi! Aku berjanji akan melakukan perawatan secara rutin agar penyakit ini bisa sembuh."


***


Di sisi lain...


"Key! Aku sudah berhasil membajak roket mereka. Dan sekarang, aku akan mengirimkan roket ini padamu Borowsky!" teriak Aswin dengan antusiasnya.


"Baiklah, saatnya menghitung mundur!" teriak Aswin lagi.


"10, 9, 8, 7, 6....."


"Oh Shit!" Aswin berteriak kesal.


"Kenapa As?"


"Mereka kembali mengambil ahli roketnya. Satu-satunya cara selamat adalah keluar dari mobil ini! Karena waktunya sudah sangat dekat sekali."


Key memukul stirnya keras, namun tetap melajukan mobilnya.


"Apa kau ingin tau, apa arti dari "Prajurit pada akhirnya akan kembali ke sisi tuannya?"


Tak lama kemudian, roket itu pun mulai mendekat pada mobil mereka. Sedangkan mobil mereka juga mendekat pada Borowsky.


"Are you ready?" tanya Key pada Aswin.


"Of Course No! Tapi, yah!"


'Inilah perang yang sebenarnya, Borrowsky!


Mereka berdua pun terjun ke arah yang berbeda. Sedangkan roket membakar habis pasuka Borrowsky termasuk dirinya dan mobil Key.


Buarrrr!


Ledakan hebat terdengar jelas di telinga mereka, dan kobaran api besar itu pun membuat manik mata mereka berwarna merah.


Meskipun badan mereka terluka parah, tidak membuat senyum mereka hilang. Namun, tak lama kemudian, pandangan mereka menjadi kabur dan semuanya menjadi gelap begitu saja.


***


3 days later....


Key mengerjapkan matanya beberapa kali, lalu memegang kepalanya sambil meringis. Seorang wanita cantik, berambut coklat, dan memiliki mata coklat itu, tengah memandanginya dengan sangat lekat.


Wanita itu mencubit perutnya dan berhasil membuatnya berteriak keras.


"Shttt! Kenapa kau berteriak sangat keras Key!" ucap Adel sambil memukulnya lengannya yang telah di perban itu.


Ia pun tersenyum lalu menarik tubuh Adel ke dalam pelukannya. Ia mencium bahu Adel, telinga, lalu rambutnya.


"Ku jahat sekali Key! Kau tidak melihatku selama tiga hari ini, dan hanya asik bermimpi. Kau jahat!"


Key melepaskan pelukannya, dan memandangi Adel lekat.


"Jika aku bermimpi tentang dirimu bagaimana?"


"Tentu saja itu hanya kebohongan. Biar kutebak, di dalam mimpimu kau memang benar memeluk, menggendongku, dan menc...."


Adel memotong kalimatnya, sedangkan Key menaikkan alisnya sebelah sambil menunggu kalimat selanjutnya dari Adel.


"Tidak, lupakanlah! Yang jelas, itu semua hanya mimpi dan tidak akan pernah nyata." Adel memasang wajah cemberutnya, dan membuat Key semakin gemas padanya.


"Kau salah! Aku tidak memeluk, atau menggendongmu. Tapi yang kulakukan hanyalah..."


Key tidak menyelesaikan kalimatnya, melainkan mengecup pipi Adel. Adel mengerjapkan matanya beberapa kali, yang membuat Key duduk sempurna lalu menarik wajah Adel dengan sangat dekat.


Key melepaskan imfus dari tangannya, dan mengubah posisi Adel menjadi di bawah tubuhnya. Adel yang sadar bahwa mereka sedang berada di rumah sakit, mencoba mendorong tubuh Key. Tapi usahanya hanya sia-sia.


Key menahan kedua tangan Adel, sehingga Adel tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain hanya merasakan merinding yang heba.


"Astaga kalian berdua!"


Suara teriakan itu membuat Key melepaskan tangan Adel, dan mengalihkan pandangannya. Dengan cepat, Adel menghilang dari pengawasannya dan berdiri di samping Cathrine.


"Aku tahu bahwa kau merindukan Adel, tapi seharusnya kau mengunci pintu dulu Key!" teriak Cathrine dengan senyum mengejeknya.


"Ayo Cath! Aku lupa bahwa dokter tadi menyuruhku ke ruangannya," ucapnya sambil menarik tangan Cathrine.


"Get Well Soon, Key!" teriak Adel sebelum ia keluar dari ruangan.


"Dasar kau Cath!"


Cath hanya menjulurkan lidahnya pada Key, lalu mengikuti langkah Adel. Sedangkan Key, hanya bisa mengacak rambutnya kasar.


***


Adel berdiri sendiri, menyaksikan suasana malam yang tampak begitu penuh cahaya lampu. Sebuah tangan menyentuh pundaknya, dan membuat perhatiannya teralihkan.


"Lirya! Kau sudah sadar?" teriaknya bersemangat, sambil memeluk Lirya.


"Kau sendiri, bagaimana dengan terapimu tadi pagi?"


Adel melepaskan pelukannya, dan menatap Lirya dengan raut wajah terkejut.


"Ka..kau..."


"Aku diberitahu oleh Sugar. Sebenarnya aku sudah mulai sadar tadi malam, tapi adikku melarangku keluar dari ruangan."


Adel mengangguk paham.


"Seperti biasanya, aku harus menjalani terapi secara rutin. Kata dokter, kondisiku mulai membaik," jawabnya.


"Baguslah kalau begitu. Lalu, bagaimana dengan Key?"


"Ia sudah sadar tadi pagi, dan kondisi tubuhnya juga membaik."


Lirya mengangguk pelan. "Apa kau ingin bertemu Key?" tawar Adel.


"Ahh, tidak. Kau tau kan bahwa Key sangat benci padaku sejak 4 tahun yang lalu," ucapnya sambil menunduk.


Adel mengangkat pandangan Lirya. Ia kembali memeluk Lirya.


"Jangan bersedih seperti itu, Lirya. Kau belum mencobanya. Kau dan aku sangat kenal sifat Key yang sebenarnya. Ia bukan seorang pendendam. Ayo, ikut aku!"


Adel melepaskan pelukannya, kemudian menggenggam tangan Lirya dan menuntunnya menuju ruang Key.


***


Tak lama kemudian, mereka pun tiba di ruangan Key. Adel mengetuk pintu pelan. Sedangkan Lirya, mencoba untuk pergi, namun Adel menahannya.


Tok...tok...tok


"Masuk!" Suara khas Key, terdengar dari dalam ruangannya.


Adel membuka pintu, lalu mendorong Lirya agar masuk ke dalam ruangan. Setelah ia berhasil membuat Lirya masuk, ia pun langsung meninggalkan mereka berdua.


Key terlihat terkejut, kemudian kembali seperti biasanya. Lirya berjalan perlahan ke arah Key.


"Aku tau bahwa kau masih marah padaku Key. Tapi kali ini tolong mendengar penjelasanku," ucapnya sambil menunduk.


"Kau tidak perlu menjelaskannya. Karena aku sudah paham dengan masalahmu."


"Lalu?" tanyanya penasaran.


"Lalu apa?" tanya Key kembali.


"Lalu? Apa kau sudah memaafkanku?"


"Untuk apa aku marah padamu? Bukankah kau juga menyelamatkan Adel?"


"Key!" Teriaknya sambil mengangkat pandangannya menghadap Key.


"Yah?" sahutnya.


"Apa aku boleh memelukmu sebagai seorang sahabat?"


Key tersenyum lalu mengangguk. Ia pun berlari ke arah Key, kemudian memeluknya erat.


"Jangan melakukan kesalahan seperti diriku Key. Adel adalah wanita terbaik yang pernah kutemui. Buatlah ia selalu bahagia, meskipun ia harus menjalani terapi untuk melawan penyakitnya," ucapnya.


Terapi?


Key melepaskan pelukannya. Lalu bertanya pada Lirya. "Terapi? Maksudnya?"


Mata Lirya membulat sempurna. Ia tidak sadar dengan apa yang ia ucapkan baru saja. Sedangkan Key, ia segera beranjak keluar ruangan untuk menemui Adel.


***


"Cath! Apa kau tau dimana Adel?"


"Ia tadi ingin pergi ke taman, mungkin saja ia pergi ke sana. Ada apa Key?"


Key tidak menghiraukan pernyataan Cathrine, dan terus berjalan mencari Adel.


Setibanya di taman, matanya mulai berkeliling mencari Adel.


'Itu dia'


Ia pun mempercepat langkahnya menuju Adel yang tengah duduk sendiri di depan air mancur.


"Adel!" teriaknya.


To be continue....