All In My Head

All In My Head
BAB 47



KEY POV


Sudah satu jam aku menunggunya keluar, tetapi ia tak juga keluar dari kamar mandi. Aku pun memutuskan untuk masuk ke kamar mandi.


'Padahal ia hanya mengganti baju, tapi mengapa begitu lama.'


Aku membuka kenop pintu kamar mandi, dan melangkah masuk. Aku pun mendapati dirinya sedang tertidur pulas dengan posisi terduduk di samping lemari handuk. Aku tersenyum, lalu menghampirinya dan duduk di sebelahnya.


"Aku tau bahwa kau menghindariku karena masih tidak siap. Tapi, aku tidak akan memaksakanmu," ucapku sambil mengelus tiap helai rambutnya.


Aku menggendongnya ala Bridal Style, lalu meletakkannya di atas kasur king size kami. Gaun pengantinnya ini masih melekat di tubuhnya. Jika aku melepaskannya, ia pasti akan memukuliku besok pagi.


Sementara ia tidur, aku hanya duduk di sampingnya dan memandanginya. Aku bisa saja menciumnya saat ini, tapi aku rasa itu tidak adil karena menciumnya dalam posisi tidur.


Tubuhnya berbalik membelakangiku. Aku pun menarik tubuhnya dan mendekapnya. Rasanya sangat berbeda dengan memeluknya dalam keadaan sadar.


Aku mencium tengkuknya, lalu kembali memeluknya dengan sangat erat. Aroma tubuhnya hampir membuatku mabuk seketika.


Ia menggerakkan tubuhnya dan posisi saat ini pun menghadapku. Aku rasa, aku tidak akan tidur malam ini.


"Key," ucapnya lembut.


Aku rasa ia sedang mengigau. Tiba-tiba ia melingkarkan tangannya pada leherku, dan menarik wajahku mendekat pada wajahnya.


"I Love You My Vampire," ucapnya dengan mata tertutup.


"I Love You even more, Miss France," jawabku.


Aku terkejut ketika ia mengecup bibirku sekilas. Aku pun mengusap bibirnya lembut. Aku melepaskan kedua tangannya yang melingkari leherku.


Aku meraih telapak tangan kirinya, lalu mengecup lembut cincin pernikahan kami, yang terlihat indah di jari manisnya.


***


Aku tetap terjaga sejak semalam, dan hanya melihatnya tertidur. Ia mengusap matanya yang masih tertutup. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum akhirnya membuka matanya dengan sempurna.


"Morning! My Wife," ucapku.


Matanya membulat sempurna dan reflek ia menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya. Sebelum ia berhasil bangun, aku sudah lebih dulu berada di atas tubuhnya.


Tubuhnya terlihat kaku, dan keringat sedikit mengalir di dahinya.


"K...Key," ucapnya lirih.


Aku mendekatkan hidungku dengan hidungnya, ia pun menutup kedua matanya. Aku hanya smirk dan menggenggam kedua telapak tangannya lalu meletakannya di samping kepalanya.


"I Love You Key!" ucapnya lalu mengecupku lagi sekilas.


Aku tersenyum lalu menciumnya lembut. Ia menahanku agar tidak terlalu lama, tapi usahanya hanya sia-sia. Aku mengubah posisi kami, sehingga kami saat ini sedang duduk, tanpa melepaskannya.


Aku sudah tidak peduli dengannya yang memukuliku agar aku mengontrol diri. Tanganku bergerak untuk membuka sempurna resleting dress yang masih ia kenakan dari semalam.


Dress yang ia kenakan pun, kini telah menyingkir dari tubuhnya, dan hanya pakaian dalam saja yang melindungi bagian tubuh terindahnya.


Adel terus memukuliku, hingga aku menyerah dan melepaskan ciuman kami.


"Oh My!" ucap Adel sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.


"Kenapa? Bukankah aku sudah menjadi suamimu?" ucapku sambil smirk.


Baru saja ia akan melangkah ke arah kamar mandi, aku sudah lebih dulu menarik lengannya. Dan membuatnya terpaksa memamerkan semua bagian tubuhnya yang indah itu.


"Jangan lari lagi, Adel!" pintahku lalu menggendongnya ala Bridal Style menuju kamar mandi.


Aku meletakkannya ke dalam Bathtub, lalu membuka bajuku dan hanya mengenakan celana. Aku ikut masuk ke dalam Bathtub lalu menyalakan shower sehingga tubuhnya pun basah.


"KEY! Apa yang kau lakukan?" protesnya.


"Aku ingin mandi bersama istriku," jawabku.


Aku yang tidak bisa mengontrol diri pun berhasil membuatnya menyerah padaku.


"Oh damn! I need you, Adel!" ucapku sekilas dan semuanya pun terjadi begitu saja.


***


Adel tertidur pulas di atas tempat tidur dengan selimut yang menutupi tubuh indahnya itu. Meskipun hanya melakukan mandi romantis, ia tetap saja merasa lelah.


Bahkan lagi - lagi ia pingsan sebelum aku mengerjainya lebih lama lagi. Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku melihat responnya.


Aku membuka gorden dan membiarkan cahaya masuk ke dalam kamarku. Ia tidak terganggu sama sekali dengan cahaya yang menghampirinya itu.


Aku menghampirinya dan duduk di samping kepalanya. Aku memainkan jariku di atas punggungnya yang terekspos dengan bebas. Ia menyingkirkan tanganku, padahal aku mengira bahwa ia sedang tertidur sepenuhnya.


"Aku tidak tidur lagi, jadi jangan macam-macam lagi denganku!" pintahnya dengan mata yang masih tertutup.


"Bukankah, aku sudah menyentuhmu?" ucapku sambil terkekeh.


Ia membuka matanya, dan menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya. Ia pun segera bangkit dari tidurnya dan duduk di tepi ranjang.


"Aku ingin memakai baju dulu," ucapnya lalu berjalan menuju lemari.


Setelah selesai memakai baju, ia membuka pintu lalu keluar dari kamar. Aku pun mengikutinya.


Merasa bahwa aku sedang mengikutinya, ia pun berbalik ke arahku. Ia bahkan mengerutkan keningnya di hadapanku sembari menaikkan alisnya sebelah.


"Apa ada tempat yang menarik di sini?"


"Berikan aku ciuman, lalu aku akan membawamu kesana," ucapku sambil smirk.


Ia memutar bola matanya dan memasang wajah datar. Ia menghela nafas sejenak sebelum akhirnya berbicara lagi.


"Kita sud...."


Ia menutup mulutnya dan matanya membulat sempurna. Sedangkan aku hanya smirk, lalu melangkah mendekatinya.


"Aku hanya bercanda. Ikut aku!" Aku menarik tangannya dan menuruni anak tangga.


Setelah tiba di depan kolam renang yang ukurannya cukup besar ini, aku menyuruhnya untuk menutup mata. Ia pun menuruti perkataanku.


Aku pun membawanya melangkah mendekati barisan tanaman yang ukurannya lebih tinggi dari tubuhku. Setelah berhasil melewatinya, aku pun memberitahunya agar membuka matanya.


"Kau bisa lihat sekarang!" pintahku.


Ia pun membuka matanya. Dan betapa terkejutnya ia setelah melihat pemandangan di depan matanya.


"Apa ini Key?" ucapnya sambil berdecak kagum.


"Itu adalah dirimu, Adel. Meskipun mereka indah tapi dirimu lebih indah dari mereka," jawabku sambil tersenyum padanya.


Ia menatap mataku lekat, dan aku pun bisa melihat matanya yang berkaca-kaca.


"Terima Kasih Key!"


Ia melompat ke arahku dan memelukku erat. Ia menangis di dalam dekapanku, dan aku pun bisa merasakan kebahagiaannya aat ini.


"Jika aku belum sempat memberikanmu kebahagiaan dengan sekuntum bunga, maka aku akan membahagiakanmu dengan ribuan bunga," ucapku sambil mengecup rambutnya.


Ia melepaskan dekapanku, lalu menatapku lagi.


"Apa boleh bulan madu kita dibatalkan? Di sini bahkan lebih baik dari seribu tempat bulan madu lainnya," ucapnya sambil tersenyum.


"Jika itu maumu," ucapku lalu menarik pinggangnya dan menciumnya.


To be continue...


***