
Author POV
Atmosfer kota abad pertengahan, serta deretan rumah-rumah dengan bingkai kayu yang khas dan colourful, dan juga kanal-kanal air, menghiasi suasana perjalanan Adel dan Key. Padahal mereka baru saja sampai di desa, tapi ibunya malah menyuruhnya untuk mengajak Key berjalan-jalan.
Mereka berjalan berdampingan, namun jarak diantara mereka berdua sedikit jauh. Adel bingung ingin membicarakan apa, jadi ia memilih untuk diam saja. Setiap kali Key merapat ke sampingnya, ia juga bergeser menjauh. Key sangat gemas melihatnya, ia pun langsung menggenggam tangan Adel dengan cepat, agar Adel tidak sempat menjauh lagi.
Key yangsadar bahwa tangan Adel dingin, segera memasukkan telapak tangan Adel yang ia genggam tadi ke dalam saku jaketnya. Adel menoleh ke arah Key yang tersenyum sambil menatap lurus ke depan. Adel pun tersenyum kecil dan kembali menatap lurus ke depan.
"Key?" tegurnya.
"Hem?"
"Aku ingin bertanya sesuatu padamu. Tapi, kau harus menjawabnya jujur."
"Apa aku pernah berbohong padamu, hem?" gumamnya.
"Iya, kau sering berbohong."
Raut wajah Adel yang berubah kesal, membuat Key semakin gemas dan mencubit hidung mancungnya.
"Arghh!" Teriaknya sambil memegang hidungnya yang terasa sakit karena cubitan dari Key.
"Lain kali jangan kesal seperti itu! Aku tidak mau wanita cantikku menampilkan wajah kesalnya padaku," ucapnya sambil terkekeh, sedangkan Adel masih cemberut.
Langit berwarna biru cerah di atas mereka perlahan berubah menjadi abu-abu terang. Beberapa butiran air turun setiap detik, mengenai kulit pucat Key. Mereka berdua melihat ke arah langit mendung itu.
Beberapa orang terlihat berlarian mencari tempat teduh, dan ada juga yang masuk ke dalam rumah masing-masing. Tanpa berpikir panjang, Key menarik Adel untuk mencari tempat berteduh. Suasana desa itu seketika terlihat sedikit sepi, meskipun masih ada beberapa turis dan warga desa lain yang masih berjalan-jalan.
Mereka berteduh di depan sebuah rumah kosong yang terlihat masih sangat terawat. Rumah itu sedikit jauh dari keramaian warga desa. Kecanggungan pun tercipta diantara mereka berdua. Adel menunduk sambil menggerai rambutnya yang terikat, lalu mengibasnya pelan. Key yang sedari tadi memandanginya, membuatnya menjadi salah tingkah, dan berhenti melakukan kegiatannya itu.
"Kenapa berhenti?" tanyanya.
"Aku rasa, rambutku sudah cukup kering," jawabnya sambil terlihat salah tingkah. Key tersenyum simpul, kemudian berpindah posisi ke depan Adel.
Ia tersentak sedikit, karena gugup. Ia pun kembali menunduk. Meskipun Key sering bersikap seperti ini, tetap saja ia selalu merasa gugup. Key mendekatkan wajahnya ke wajah Adel yang masih menunduk. Sehingga, wajah mereka saat ini hanya berjarak 3 centi.
"Kau ingin bertanya apa tadi?"
"Eh, aku...."
Key mengangkat dagu Adel dengan tangan kanannya, sehingga mereka saling bertatapan.
"Yang bertanya ada di sini, bukan di bawah sana. Sekarang, tanyakan apa yang ingin kau tanyakan tadi!" pintahnya.
Adel menelan air liurnya, sebelum akhirnya ia bertanya.
"Apa kau mencintai Kate? Apa kau sudah bertunangan dengannya? Dan kenapa kau menciumku, tapi di lain waktu kau mencium Kate?" tanyanya bertubi-tubi, dan membuat Key terkejut ketika mendengar pertanyaannya.
Wajah Adel terlihat tenang, tidak ada amarah di wajahnya, ataupun tanda kesedihan. Ia hanya menampilkan senyum kecilnya.
Raut wajah Key seketika berubah menjadi serius, namun tidak beramarah. Ia menatap Adel lekat-lekat, layaknya seekor serigala yang siap menerkam. Tangan kanannya berpidah ke samping kiri kepala Adel, kemudian ia smirk.
"Apa kau cemburu?"
"Jawab saja Key, jangan mempersulitnya!" Pintahnya dengan nada tenang.
Suasana diantara mereka menjadi hening sebentar, hanya suara nyanyian dari hujan yang terdengar. Tak lama kemudian, Key menjawabnya.
"Jika aku menyukainya, kenapa?" tanyanya balik, sambil tersenyum mengejek.
"Oh baiklah."
Ia akhirnya tersenyum pahit mendengar jawaban Key. Ia kembali menunduk, sedangkan Key menatap wajah cantiknya, masih dengan posisi yang sama. Suara nyanyian dari hujan tak lama semakin tenggelam, yang masih terdengar hanyalah suara rintikkan air yang sedang mendarat di atap rumah temoat mereka berteduh.
"Key, hujannya sudah turun. Lebih baik kita pulang, karena sebentar lagi malam," ajaknya. Namun, Key tidak menggubris ajakan Adel.
Ia malah menarik pinggang Adel untuk mendekat padanya. Adel tersentak karena terkejut. Ia mengangkat dagu Adel agar wajah mereka bisa bertemu. Ia mengusap lembut dagu Adel, kemudian merapatkan punggung Adel ke dinding.
"Jangan pernah bertanya itu lagi!"
Adel hanya mengangguk tanda mengerti. Ia sedikit takut untuk membuka suaranya karena melihat wajah Key yang terlihat serius. Key mendekatkan bibirnya ke daun telinga kanan Adel.
"I Love You. Maaf aku baru mengatakannya" ucapnya kemudian mengecup pipi kanan Adel sekilas.
Seketika ia terdiam mendengar kalimat dari Key. Tatapannya lurus ke depan, sesekali ia mengerjapkan matanya. Mencoba untuk mencerna kalimat Key.
Key hanya tertawa melihat tingkah Adel yang terlihat seperti anak kecil melamun. Ia pun segera menarik tangan Adel untuk pulang, tanpa menunggu Adel sadar dari lamunannya.
***
"Jadi, kapan kalian kembali ke London?" tanya ibu Adel sembari mempersiapkan makanan di atas meja makan.
"Ohiya, ibu jadi lupa. Pasti Key tidak bisa berlama-lama meninggalkan pekerjaannya ya?"
Ucapan Ibunya, membuatnya memberikan tatapan tajam ke arah Key sambil tersenyum paksa ke arah ibunya. 'Bagimana bisa ia dipecat! Dia kan bosnya.'
"Lalu, bagiamana dengan jalan-jalan mu tadi Key?"
"Sangat menyenangkan. Desa ini sangat indah dan cantik seperti gadis-gadis desanya."
Key mengedipkan sebelah matanya ke arah Adel. Yang tentu saja mendapat tatapan tajam dari Adel. Perbincangan terus berlanjut sambil menikmati hidangan makan malam buatan Adel dan Ibunya. Adel kembali ceria seperti biasanya setelah berkumpul dengan keluarganya lagi.
Setelah makan malam selesai, Adel segera membereskan meja makan yang dibantu oleh Key. Ibu dan ayahnya kembali ke kamar untuk beristirahat, dan Abriel mengerjakan tugasnya lagi. Kini hanya tinggal mereka berdua di dapur.
Dengan pikiran liciknya, Key memeluk Adel yang sedang mencuci piring, dari belakang. Ia mencium bahu Adel yang terekspos, serta melepas ikatan rambut Adel. Sehingga rambutnya tergerai.
"Key, aku sedang mencuci piring. Dan ti...tidak baik, jika Ayah, Ibu, dan Abriel melihatnya," ucapnya sedikit terbata-bata karena sentuhan Key yang membuatnya merinding.
"Adel, ak... Heh, maaf aku mengganggu kalian." Abriel langsung membelakangi mereka.
"Aku hanya ingin memberitahu, kalau kau dan Key tidur sekamar, karena di kamar tamu masih kotor. Aku juga sudah menaruh satu kasur lagi di kamarmu. Sekian info dariku," ucapnya yang kemudian terdengar suara tertawa darinya.
"Lihat Key! Abriel sudah melihat kita."
Adel terlihat kesal, kemudian mempercepat pekerjaannya. Key hanya terkekeh mendengar omelan kecil dari bibir Adel.
"Baiklah kalau begitu, kita akan melanjutkannya di kamar."
Ia langsung melangkah ke kamar begitu saja, meninggalkan Adel yang hampir selesai dengan tugas dapurnya.
***
Adel sedikit ragu melangkah masuk ke dalam kamarnya sendiri. Ia mencoba mencari ketenangan agar tidak merasa gugup. Ia menarik nafas dalam-dalam sebelum akhirnya ia mengetuk pintu dan masuk ke dalam kamarnya.
'Dimana dia?'
Mata Adel berkeliling mencari sosok pria tampan yang sedari tadi masuk ke dalam kamarnya. Tiba-tiba, sepasang tangan kekar mendekapnya dari belakang. Sontak ia ingin berteriak, namun tangan Key segera menutup mulutnya.
"Shuttt!"
"Lepaskan Key! Dan, kenapa kau bersembunyi seperti itu?" Adel mencoba melepaskan tangan kekar Key yang melingkari tubuh langsingnya.
"Hahaha, kau pasti sedang mencariku kan?"
"Tidak!" cetusnya.
"Jangan berbohong!"
"Lepaskan Key!"
Akhirnya ia melepaskan pelukannya.
Ia memperhatikan Adel dari atas sampai bawah. Ia sedikit tergoda karena Adel hanya mengenakan hot pants dan tanktop. Key melangkah menuju pintu kemudian mengunci pintunya.
"Kau ingin menggodaku dengan pakaian seperti itu, hem?"
"Hey! Aku tidak serendah itu! Tadi bajuku basah, karena terkena air tadi. Jadi aku mengambil tanktop dan hotpants di kamar Abriel. Tapi jika itu membuatmu risih, tenang saja, aku akan memakai baju yang lain."
Key menahan tangan Adel, ketika Adel melangkah ke arah lemarinya. Kemudian menjatuhkan Adel ke atas kasur. Ia menahan kedua tangan Adel. Keringat terus mengalir dari dahi Adel, nafasnya tidak beraturan. Ia mendekatkan wajahnya pada Adel sambil smirk.
Perlahan ia mencium leher Adel lembut, rambutnya sedikit menyapu wajah Adel. Adel mencoba untuk menahan desahannya karena ciuman Key yang membuatnya merinding. Telapak tangan Key terlihat menggenggam tangan Adel. Kaki Adel sesekali bergerak naik turun.
"Key!" Ia sedikit mendesah, namun terdengar seperti bergumam. Senyum kemenangan menghiasi wajah Key.
"Cukup Key!"
Teriakan Adel justru membuat Key langsung membungkam bibir Adel dengan bibirnya. Terasa sangat hangat.
Reflek, Adel melingkarkan tangannya ke leher Key. Sedangkan Key mengambil posisi duduk dan memposisikan Adel duduk di pangkuannya. Mereka kemudian berdiri, ciuman mereka masih belum terpisah. Sampai akhirnya Adel melepaskan ciuman dari Key dengan jari telunjuknya.
"Adel, you make me so mad," ucap Key sedikit kualahan karena ciuman yang cukup lama tadi.
"I Love You Key!"
"I Love You too, Adel."
Baru saja Key ingin membuka kaosnya, tangan Adel segera menahannya.
"Aku lebih suka jika kita melakukannya ketika sudah menikah nanti," ucapnya lembut sambil mengusap wajah Key. Key kembali tersenyum, kemudian mengecup kening Adel sekilas.
to be continue...