
Key POV
Wanita cantik di sampingku, sedang menggandeng tanganku sambil menuruni anak tangga yang jumlahnya cukup banyak. Mungkin lebih terlihat seperti sepasang pengantin. Aku lega karena dia sudah tidak marah padaku. Aku juga harus lebih berhati-hati, agar Kate tidak menjebakku lagi.
"Pasangan yang serasi," ucap Ibuku ketika kami menuruni anak tangga terakhir. Kemudian melangkah keluar rumah dan masuk ke dalam mobil. Kami pun segera menyusul.
Aku belum pernah melihat senyum ibuku sebahagia itu, sampai menampilkan deretan giginya yang rapi dan putih. Aku rasa, Adel memenuhi kriteria pilihannya.
Seperti kebanyakan ibu pada umumnya, ibuku selalu saja menanyakan kekasih, atau bahkan calon istri. Dan hari ini, aku berhasil menjawab pertanyaannya yang lalu.
Aku melirik Adel yang terlihat sedikit salah tingkah. Aku merangkul pinggangnya, dan bisa kutebak bahwa ia pasti memberiku tatapan tajam. Aku senang sekali menggodanya, karena aku senang melihatnya kesal.
"Lepaskan Key!" bisiknya padaku. Namun, aku tidak menghiraukannya.
Aku menuntunnya menuju mobil Limosin berwarna hitam, yang sedari tadi menunggu kami di depan pintu rumah. Sedangkan ayah dan ibuku sudah lebih dulu naik ke dalam mobil.
***
"Sudah berapa lama kalian berdua berpacaran?" tanya ibuku yang hampir saja membuatku tersedak.
"Em, 1 bulan"
"1 tahun"
Ucap kami bersamaan, namun dengan jawaban yang berbeda. Aku dan Adel saling bertukar pandang.
"Maksudnya, 1 tahun."
"1 bulan."
Dan kini, aku dan Adel bertukar jawaban.
"Baiklah, ibu hanya bercanda menanyakan itu pada kalian," ucap ibuku sambil tersenyum.
"Ohya Adel, kau mengambil jurusan apa?" tanya ibuku pada Adel, ketika ia menceritakan tentang kuliahnya.
"Aku mengambil jurusan sastra Mrs."
"Setelah lulus, kau berencana bekerja dimana?" Kini giliran ayahku yang menanyakannya.
"Ah, aku belum memikirkan soal pekerjaan."
"Semoga kau cepat memikirkan soal pekerjaan," canda ayahku.
Dan sekarang, pembicaran mengarah pada pembicaraan wanita. Aku hanya terkekeh melihat Adel yang tidak terbiasa dengan topik pembicaraan ibuku, yang mengarah pada fashion dan topik pembicaraan wanita lainnya.
Aku senang bisa melihat ibuku akrab dengan Adel. Padahal, biasanya ibuku selalu berkata ketus dengan wanita yang pernah kubawa ke hadapannya. Termasuk dia.
Dia yang kumaksud bukan Adel, tapi seorang wanita yang pernah singgah di kehidupanku. Bahkan Cathrine sama sekali tidak mengetahui rahasiaku ini. Karena memang, aku menyembunyikan identitasnya sebagai seorang mata-mata.
Dia dan aku sudah menjalin hubungan hampir 2 tahun. Kami berdua bertemu ketika aku tinggal di Seatle. Hubungan kami terputus karena alasan pekerjaannya sebagai seorang mata-mata.
Aku tidak tau, kenapa aku tiba-tiba mengingat dirinya. Disaat aku mulai mencoba mencintai Adel dan melupakannya, ia kembali merasuki pikiranku. Mencoba untuk menyingkirkan Adel dari kepalaku. Tapi aku harus berusaha agar semua itu tidak terjadi. Aku tidak mau bayangannya mengendalikan pikiranku lagi.
"Key?" Adel membangunkanku dari lamunanku.
"Are you okay?"
"Yah, I'm okay."
Aku mencoba untuk bersikap normal agar Adel tidak tau bahwa ada sedikit masalah dalam pikiranku. 'Maafkan Adel, aku terpaksa berbohong padamu.'
Setelah makan malam selesai, aku sengaja menghentikan langkah Adel yang berjalan sejajar dengan ibuku yang baru akan masuk ke dalam mobil.
"Mother, aku ingin membawa Adel ke suatu tempat dulu."
"Baiklah, Ibu dan Ayah pulang lebih dulu," ucap ibuku sambil memeluk kami berdua.
Setelah mobil yang ditumpangi Ayah dan Ibuku jalan, Adel langsung meninjak kakiku dengan hellsnya yang cukup sakit kurasakan.
"Hei, whats wrong?"
"Karena memintaku jalan denganmu tanpa memberitahuku lebih dulu."
Ia memberikan tatapan pembunuhan padaku. Aku tidak menjawabnya lagi, melainkan menggendongnya ala Bridal Style masuk ke dalam mobil.
***
"Kenapa membawaku ke hutan gelap seperti ini Key?" tanyanya ketus sambil menahan langkahnya. Seolah ia memasang rem di bawah heelsnya.
"Aku tidak mau Key. Bisa saja di dalam sana ada psikopat atau pembunuh lainnya. Aku tidak ingin mati muda Key," rengeknya.
Aku hanya tertawa keras mendengar kekhawatirannya. Aku yang mulai geregetan, langsung menggendongnya.
"Key, turunkan aku!"
Aku tetap tidak menghiraukan teriakannya, sambil terus melangkah masuk ke dalam hutan yang sangat gelap ini. Sedangkan dia, hanya menutup matanya. Lebih baik dia menutup matanya, agar ia tidak segera tau apa yang akan aku tunjukkan padanya. Aku menghidupkan flashlight agar bisa melihat jalan di dalam hutan gelap ini.
Setelah sampai di depan menara yang terlihat cukup tua, aku menurunkan Adel dan mematikan flashlight ponselku.
"Bukalah matamu! Tidak ada bahaya disini."
Ia membuka matanya perlahan.
"Jadi kau membawaku kesini, hanya untuk melihat menara tua ini?"
"Kau belum lihat seluruhnya dari atas sana," ucapku sambil smirk.
Aku menuntunnya naik ke atas menara dengan sangat hati-hati karena suasana yang sangat gelap ini. Aku memang sengaja mematikan flashlight ponselku, agar aku bisa membuatnya takut. Semua teman-temannya juga pasti tau, bahwa Adel adalah orang yang penakut.
"Wow!" ucapnya dengan nada kagum, ketika kami sampai di atas menara tua ini.
Pandangannya tidak lepas dari pemandangan indah dari atas menara ini. Pemandangan indah yang kumaksud adalah taman bunga yang terdiri dari berbagai jenis bunga warna warni yang tersusun membentuk namanya. Ditambah hiasan lampu kelap kelip yang terlihat seperti bintang. Bukan hanya itu, tapi suara ledakan firework menambah decak kagumnya.
Sebenarnya, ini bukanlah hutan sungguhan. Aku sudah mempersiapkan ini semua, termasuk membuatnya takut.
Aku mengeluarkan sebuah kotak beludru berwarna merah dari saku celanaku. Kemudian memperlihatkan kepadanya.
"Adel, Will You Marry me?"
Raut wajah Adel yang terlihat bahagia tadi, seketika memudar. Aku melihat alisnya saling bertautan, dahinya mengkerut, dan tatapannya mengatakan bahwa ia sedang kebingungan.
"Maafkan aku Key, aku masih belum siap untuk menikah. Minggu depan, aku baru akan lulus. Aku tidak ingin terlalu terburu-buru untuk menikah," jelasnya panjang lebar.
Tentu saja itu adalah jawaban yang sangat mengejutkan bagiku. Tapi harus bagaimana lagi, jika ia memang belum siap menikah aku tidak akan memaksakannya.
Aku hanya takut, jika aku tidak segera memilikinya, bayangan hitam itu akan terus menghantui pikiranku.
"Aku tau ini semua pasti berat bagimu Adel. Jadi, aku tidak akan memaksamu. Tapi, aku akan terus menagihmu. Dan, jangan marah lagi padaku," ucapku sambil smirk.
Aku mencium keningnya, kemudian pipinya, lalu bibirnya sekilas.
"Thank You, Key! And I Love you!" ucapnya, kemudian menarik wajahku dan mengecupku sekilas.
***
Author POV
"Key!" teriak seorang wanita berambut coklat, bermata biru, dengan mantel berwarna navy menutupi pakaiannya.
Key memalingkan wajahnya ke arah wanita itu. Tampak wajahnya berubah menjadi tegang. Wanita itu pun melangkah mendekati Key. Tapi Key seolah mematung ketika wanita itu menghampirinya.
"Lama tidak bertemu denganmu," sapa wanita itu dengan nada ramah.
"Ayo Key!" ajak Adel yang baru saja keluar dari supermarket, sambil sibuk menaruh dompetnya ke dalam tas miliknya.
"Ohia, tadi ak...." Adel tidak meneruskan kalimatnya, ketika ia melihat gadis bermata biru itu berdiri di depan Key.
"Oh Hi? Apa kau temannya Key?" tanya Adel dengan ramah.
"Masuklah ke dalam mobil, Adel!" pintah Key.
"Tapi, di..."
Key tetap bersikeras memintah Adel untuk masuk ke dalam mobil, tanpa menghiraukan gadis bermata biru yang masih terus memandanginya. Mereka meninggalkan gadis itu sendirian, di depan supermarket.
"Kau belum menjawabku Key."
"Nothing. Just forget it!"
Adel mendengus kesal dan memilih untuk diam tanpa bertanya lagi. Perasaannya mulai berubah menjadi tidak tenang. Seakan sesuatu dari dirinya akan hilang sebentar lagi. Tapi ia kembali sadar dan harus menyingkirkan fikiran negatif itu dari kepalanya.
'Kau harus berpikiran positif Adel!'
To be continue.....