
Cathrine POV
Aku baru saja mengecek beberapa berkas yang berisi daftar orang-orang yang terlibat dengan Johnny Borowsky. Dan aku terkejut ketika melihat Jacob Walcott ada di daftar ini. Siapa lagi kalau bukan anak dari pemilik perusahaan Walcott. Biar kuceritakan sedikit tentangnya.
Aku dan dia pernah menjadi sepasang kekasih. Menurutku, menjadi kekasihnya merupakan suatu kebanggan. Dia tampan, baik, dan humoris. Semua orang juga tahu bahwa aku dan dia pernah memiliki ikatan. Tapi lambat laun, dia berubah menjadi egois.
Terkadang jika marah, ia tidak ingat lagi bahwa ia mempunyai kekasih dan mengajak wanita lain untuk memuaskan nafsunya. Terkadang juga ia suka mabuk, dan aku sangat benci dengan yang namanya minuman keras. Tapi setelah melakukan semua itu, ia akan bertekuk lutut di hadapanku untuk meminta maaf. Aku dengan mudah memaafkannya begitu saja. Mungkin saat itu aku masih sangat bodoh untuk tetap mempertahankan hubungan kami.
Karena berkali-kali ia melakukan itu, akhirnya aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami, karena aku sudah tidak tahan lagi. Dan sejak saat itu pula, aku tidak pernah bertemunya lagi selama 4 tahun. Bahkan media pun tidak pernah lagi memberitakan tentang kabarnya. Sepertinya, cukup bagiku untuk menceritakan sedikit tentangnya.
Sejak dua tahun terakhir, kami mendengar kabar bahwa perusahaan Ayahnya terlibat dalam jaringan narkoba. Terlebih, ia sekarang telah bekerja sama dengan Johnny Borowsky, seorang penghianat negara. Tentu saja ini bukanlah misi yang mudah, karena di sisi lain perusahaan keluarga kami juga ikut terancam.
"Cath," tegur Aswin ketika ia masuk ke dalam ruanganku. Aku sedikit terkejut, karena aku terlalu fokus menatap layar laptop sehingga aku tidak sadar dengan kedatangannya.
"Ah you suprised me, As."
"Oh I'm sorry Cath."
"Kau sedang apa sampai larut malam begini?"
"Aku sedang melacak informasi terkait daftar nama yang kau berikan kemarin." Aswin tersenyum simpul, sembari berjalan mendekatiku.
"Apa kau sudah tau?"
"Tau apa?"
"Jacob Wallcot. Dia juga ikut bekerja sama dengan Johnny Borowsky."
"Iya, aku sudah membacanya tadi." Aku tersenyum kecut.
"Aku harap kau tidak memikirkannya lagi."
"Iya As, aku tau. Dia hanya masa laluku, jadi aku tidak perlu memikirkannya lagi." Aswin tersenyum lagi.
Aku terkejut ketika ia tiba-tiba menggenggam tangan kananku dan menuntunku untuk berdiri. Aku mencoba untuk fokus menatapnya, tapi yang ada aku jadi gugup.
Padahal aku dan dia sudah bertahun-tahun menjadi sahabat dan rekan kerja. Tapi, tetap saja aku selalu gugup ketika menatap matanya apalagi ia menggenggam tangan kananku seperti ini.
"Aku ingin bertanya sesuatu Cath, tapi kau harus menjawabnya."
"Kau mulai bercanda lagi, hemm. Cukup As!" Ia memang sering bercanda, dan kali ini aku tidak akan tertipu lagi. Aswin memang tipe cowok yang humoris. Terkadang, aku percaya dengan ucapannya.
"Aku serius!" Aku lihat rahangnya sedikit mengeras. Aku jadi takut untuk menjawabnya lagi.
"Ayolah As, kau...."
Darrr.....
Sebuah peluru yang entah darimana datangnya, berhasil menghancurkan lemari kaca di belakang kami. Sontak aku dan Aswin pun langsung menunduk. Aku membuka laci mejaku, dan mengambil dua buah pistol.
"Aswin! Dia lari ke arah sana!" Aku menunjuk ke arah jendela ruangan kami yang juga pecah. Aswin segera melompat keluar dan mengejar penyusup tadi. Aku melepaskan high hells yang kupakai saat ini, dan berlari tanpa alas kaki.
Suara pistol Aswin saling bersahutan dengan pistol penyusup tadi. Aku mulai merasakan tumit kakiku sakit. Akhirnya, aku memutuskan untuk duduk sebentar di ketinggian gedung ini.
"Damn!" Satu peluru sedang mengincarku lagi. Aku beruntung, karena hanya goresan kecil saja.
Aku mengarahkan pistolku ke arah orang yang menembakku tadi. Berkali-kali aku menembaknya, tapi sayangnya tembakanku terus saja melesat. Aku mencoba untunk mengumpulkan kefokusanku dan menarik nafas dalam-dalam, kemudian mencoba untuk menembak lagi dan
'Yes! I got it!'
Aku pun segera berlari ke arah sasaranku tadi. Melompat jarak pendek ke gedung seberang. Ketika aku sampai, ia masih terbaring lemas karena terkena peluruku tadi. Tepat dibagian lengan kanannya.
"Siapa kau!" tanyaku sembari mendekatinya dan membuka topengnya.
Aku membelalakkan mataku, terkejut ketika mengetahui siapa orang itu.
"Jacob?"
Ia menyeringai sambil meringis kesakitan.
"Lama tidak berjumpa, Nona Cathrine."
Air mataku jatuh begitu saja. Nafasku menjadi sesak, dan hidungku mulai berair.
"Cath, apa kau.... Jacob?" Aswin ikut menyusul.
"Oh, jadi kau yang melakukannya." Aswin mengepalkan tangannya, dan bersiap untuk menghajar Jacob, namun aku menahannya.
"Sudahlah As, lebih baik pergi dari sini." Aku menarik Aswin untuk kembali ke ruangan kami. Karena aku malas berlama-lama melihatnya. Sepertinya, luka di hatiku kembali terbuka. Perasaan yang sudah ku musnakan 4 tahun lalu, seakan mencoba untuk membuat molekul baru lagi.
'Ingat Cath! Kau tidak boleh memikirkannya lagi!'
***
Author POV
Jarum jam menunjukkan pukul 6 pagi. Perlahan, Adel membuka kedua matanya. Ia masih merasa sedikit pusing, meskipun ia rasa tidurnya sudah lebih dari 8 jam. Ia ingin bangkit dari tidurnya, namun ia marasakan ada sesuatu yang menahannya.
Ia memalingkan wajahnya ke arah kirinya, dan ia mendapati Key masih tidur dengan posisi masih memeluknya. Ia segera membungkam mulutnya agar tidak teriak.
Perlahan, ia memindahkan tangan kanan Key yang masih melingkar di pinggangnya. Kemudian menggeser tubuh Key sedikit jauh darinya. Ketika berhasil, Adel segera berdiri dan memeriksa pakaiannya.
'Hufft, syukurlah." Ia memjamkan matanya sambil mengelus dadanya. Menarik nafas panjang, kemudian dihembuskannya kasar.
"Kenapa Miss France? Apa kau berharap aku melakukannya?"
Adel menggelengkan kepalanya dengan wajah kesal.
'Sejak kapan devil itu bangun?'
"Jujur saja, aku tidak keberatan. Jika kau mau, aku bisa melakukannya." Key smirk, dan tentu saja membuat Adel semakin gugup. Karena Adel memang gadis yang sangat polos dalam hal percintaan.
Key segera bangkit dari tempat tidurnya, dan melangkah menuju Adel. Belum sempat Adel berlari, Key sudah lebih dulu memeluknya dari belakang. Key memberikan ciuman dibagian pundaknya yang terekspos, karena kancing bagian belakangnya tidak terkait.
Adel seperti tidak sanggup menahan getaran di hatinya. Belum lagi tangan Key yang saat ini sudah berhasil memegang pinggang rampingnya secara bebas. Adel menahan nafas dan suaranya untuk tidak mendesah sedikit pun. Ia tahu, Key hanya sedang mempermainkannya.
'Damn! Devil ini menggodaku lagi.'
Key membalikkan tubuh Adel, sehingga mereka saat ini sedang berhadapan. Baru saja ia ingin mencium Adel, ponselnya berdering. Ia berdecak kesal, kemudian mematikan ponselnya dan memasukkan kembali ke dalam sakunya.
"Kenapa kau tidak mengangkatnya? Siapa tau itu telfon penting?" Adel mencari cara agar Key membebaskannya.
"Aku tau Adel, kau hanya sedang mengalihkan perhatianku kan?"
"Tidak Key, coba kau angkat saja dulu. Siapa tau itu berita penting."
"Yah, baiklah. Aku akan menurutinya, tapi harus ada imbalannya."
Key mengambil ponselnya tadi, dan membuka riwayat panggilan. 'Ternyata Cath.'
Ia menghubungi nomor Cathrine lagi.
"Hallo Key!"
"Ya Cath, ada apa? Dan jangan berbicara seperti orang yang sedang gugup seperti itu."
"Key, cepatlah ke kantor sekarang. Kita harus membicarakan sesuatu."
"Membicarakan apa Cath? Dan, bukannya sehatusnya kau kuliah?"
"Tidak Key. Rapat mendadak ini lebih penting dari kuliah ku."
"Yah, baiklah. Aku akan ke sana 10 menit lagi."
"Cepatlah!" Key memutuskan sambungannya.
Ia kembali melirik ke arah Adel yang juga menatapnya dengan heran.
"Hey! Kenapa wajahmu heran seperti itu?" tanya Key.
"Eh tidak , aku tidak apa. Aku harus pulang, dan terima kasih untuk semuanya. Permisi," pamitnya.
Adel berjalan memunggunginya. Dengan langkah yang sangat cepat, ia berhasil menarik tangan Adel.
"Tunggu!"
to be continue...