All In My Head

All In My Head
BAB 41



Adel POV


Aku sebenarnya tidak terlalu yakin menjalani misi kedua ini. Kali ini adalah rencana Sugar dan ditambah sedikit oleh Key. Sebenarnya aku menolak untuk memainkan peran ini, tapi mereka memaksaku.


Dan misi kali ini, bukan menakuti Lirya lagi. Akan tetapi, rahasia perusahaannya.


Aku sudah menggunakan kontak lensa yang dibuat secara khusus, agar bisa melewati ruangan rahasia milik perusahaan tempat Lirya bekerja. Dan juga topeng yang jika kupakai akan terlihat seperti wajah asli.


Aku juga memakai sarung tangan yang berbahan kulit sintetis dengan sidik jari yang sudah dibuat dengan menyesuaikan sensor ruangan itu. Tidak lupa juga, kami memasang earphone untuk alat komunikasi.


Setelah persiapan kami telah selesai, aku membuka pintu mobil dan melangkah keluar. Sedangkan Key, sibuk melacak keberadaan cheat yang di sembunyikan perusahaan itu.


"Ruangan itu berada di lantai 9, dan di sana sedang tidak ada orang. Jadi, kau cukup aman," ucapnya melalui earphone yang ku kenakan.


Aku pun langsung menuju ruangan yang penuh dengan alat sensor itu. Sensor pertama adalah sidik jari, dan aku berhasil melewati lorong pertama. Yang kedua adalah sensor mata, dan aku berharap bisa berhasil juga, akan tetapi...


'Gagal!'


Aku mencoba menggerakkan dan memoerbaiki posisi lensa kontak yang kupakai, lalu mencoba lagi. Dan akhirnya...


'Terverifikasi!'


Setelah pintu terbuka, aku pun langsung menghubungi Key dan Sugar yang sedang memantauku di dalam mobil.


"Selanjutnya apa?" tanyaku dengan nada berbisik. Meskipun ruangan ini adalah tempat rahasia dan tidak ada seorang pun, aku harus tetap berjaga.


"Masukkan kode yang kuberitahu padamu tadi!" pintahnya.


Aku pun memasukkan kode pada brankas besar yang berada di hadapanku ini. Setelah berhasil memasukkan kode itu, brankas itu pun terbuka dan menampilkan sebuah cheat card berwarna emas.


Tanpa berlama-lama lagi, aku langsung menukar cheat itu dan langsung menutup brankas itu. Setelah selesai dengan tugasku, aku segera keluar dari ruangan ini, sebelum ada yang sadar dengan keberadaanku.


***


Setelah sampai di dalam mobil, aku segera membuka penampilan palsuku tadi. Dan berpenampilan seperti penyamaranku sebagai Alexa.


"Wah! Ternyata cheat ini berkilau seperti emas. Cantik bentuk dan warnanya, tapi membahayakan dunia."


Sugar melihat setiap sisi cheat itu. Sedangkan Aku dan Key, hanya tertawa melihat Sugar.


Tak lama kemudian, kami pun tiba di depan apartemen Sugar. Aku dan Sugar pun segera turun. Sebelum aku berhasil keluar, Key menarik tanganku lagi dan mengecup keningku sekilas.


Seperi biasa, pipiku selalu saja merona. Padahal Key sudah berapa kali mengecupku, tapi tetap saja aku merasa malu.


"Ekhem." Sugar berdehem, tanda bahwa ia sedang mengejekku. Aku pun langsung keluar dari mobil.


"Aku sangat merindukanmu," ucap Key dari dalam mobil. Aku hanya membalasnya dengan senyuman dan melambaikan tanganku padanya sebelum akhirnya ia menutup kaca mobil.


Kulihat mobil Key sudah berada jauh dari apartemen, aku dan Sugar segera beranjak masuk ke dalam apartemen.


"Wait! Aku melupakan sesuatu," ucapnya sambil menghentikan langkahnya.


"Apa lagi, Sugar?"


"Ah, aku lupa kalau stok pembalutku sudah menipis. Jadi aku akan ke minimarket dulu. Kau duluan saja yah!" pintahnya sambil berlari menuju minimarket yang tidak terlalu jauh dari apartemen.


Baru saja aku akan melangkah masuk ke apartemen, seseorang yang tak asing lagi bagiku muncul di hadapanku. Sontak aku menghentikan langkahku, dan berusaha bersikap tenang, agar penyamaranku tidak terbongkar.


"Well, well! Jadi kau masih hidup," ucapnya yang sontak membuat jantungku berdegup kencang.


Alisku saling bertautan, dan keringatku mulai mengalir.


"Kenapa kau diam? Bukankah aku memang benar?" ucapnya menantang.


'Darimana dia tau?'


Kaki kiriku mulai melangkah ke belakang, sebelum akhirnya aku berlari. Aku berlari menuju keramaian agar mereka sulit untuk menemukanku. Aku melepas kacamataku dan rambut palsuku.


Aku menoleh sekilas ke belakang dan ku dapati Lirya dan 2 rekannya sedang mengejarku. Aku terus berlari entah ke arah mana, karena aku sulit menemukan peluang untuk kabur dari jangkauan mereka.


Bughh!


'Arggh!' ringisku kesakitan sambil bangkit kembali.


"Miss France!" teriaknya.


"Cath?" tanyaku tak percaya.


Cathrine menggenggam tanganku kuat, dan meraba wajahku.


"Kau masih hidup?" tanyanya dengan nada khawatir.


Hampir saja aku lupa bahwa Lirya sedang mengejarku. Aku pun langsung menarik tangan Cathrine, dan membawanya berlari juga.


"Kenapa kau berlari?" tanyanya dengan nafas yang tak beraturan lagi. Aku menelan liurku sebelum aku menjawab pertanyaannya.


"Ceritanya panjang, Cath! Jika kita sudah menemukan tempan yang aman, aku akan menceritakan semuanya," jawabku terengah-engah sambil terus berlari.


"Aku tidak tau bahwa kau pelari yang hebat," teriaknya.


"Bisa dibilang, aku pelari terbaik di Sekolahku dulu."


"It's cool!" teriaknya lagi.


Aku melihat tokoh kostum yang jaraknya sudah dekat dengan kami. Aku dan Cathrine punmemutuskan untuk masuk ke dalam toko itu. Aku dan Cathrine langsung memilih kostum yang akan kami kenakan untuk melakukan penyamaran lagi.


"Ini kartu atm milikku! Pinnya xxxxxx" Cathrine melemparkan kartu atmnya pada kasir tokoh itu, dan kamu pun menuju keluar tokoh.


"Hufft! Finally!" Cathrine menghembuskan nafasnya kuat.


Setelah kami merasa aman, karena aku telah melihat Lirya berlari ke arah lain, kami pun mencari tempat yang aman untuk beristirahat. Kami pun membuka kepala boneka yang kami kenakan.


Aku mulai merasakan pandanganku sedikit kabur, dan tubuhku hampir saja jatuh. Namun, Cathrine segera menopang tubuhku dan membantuku duduk dengan benar.


"Astaga Adel!" teriaknya sambil memandang wajahku dengan wajah yang terkejut.


Aku pun meraba wajahku, dan mendapati tetesan darah yang mengalir dari hidungku. Yah, seperti biasa aku pasti mimisan lagi karena kelelahan.


Cathrine segera mengambil sesuatu dari dalam tasnya, yang tak lain adalah sapu tangan. Ia langsung menempelkannya pada hidungku agar darahku tidak menetes lagi. Aku pun langsung mengangkat pandanganku ke arah langit-langit, untuk menghentikan mimisanku.


"Are you okay?" tanyanya memastikan.


Aku hanya mengangguk dengan posisi masih menghadap langit-langit. Setelah menurutku cukup, aku pun mengembalikan pandanganku menghadap Cathrine.


"Ini, minumlah!" Cathrine memberikan sebotol air mineral padaku, dan aku pun langsung meneguknya.


"Aku rindu padamu, Miss France! Jangan tinggalkanku lagi!"


Cathrine memelukku erat, dan kurasakan airmatanya mengalir di bahuku. Aku pun membalas pelukannya.


"Iya, aku akan berjanji padamu. Jadi, sekarang hapuslah airmatamu itu!"


"Wait! Kenapa kau menggunakan lensa kontak?" tanyanya penasaran.


Baru saja aku akan menjawabnya, ia lebih dulu memotong jawabanku.


"Yah! Aku baru ingat. Apa benar pelayan yang berada di rumah Key waktu itu adalah kau?" tambahnya.


Aku hanya mengangguk sambil tersenyum. Cathrine memang penebak yang hebat.


***


"Aku tidak menyangka bahwa Lirya melakukan hal sejauh itu padamu," ucapnya ketika aku selesai menceritakan yang sebenarnya pada Cathrine.


"Yah begitulah. Dan sekarang, aku semakin sulit untuk mendapatkan bukti bahwa ia mencoba melakukan pembunuhan padaku."


"Tenanglah Adel! Aku dan Key akan membantumu."


Suasana kembali hening, dan hanya ada suara sahutan angin laut yang meramaikan suasana diantara kami. Aku menikmati setiap hembusan angin yang menerpa rambutku.


Drtt drtt


Aku langsung mengambil ponselku dari saku celanaku. Dan mendapati sebuah panggilan dari Sugar.


'Oh My! Aku lupa dengan Sugar.'


"Hallo?"


"Akhirnya kau mengangkat ponselmu juga. Kau kemana saja? Aku sangat khawatir," tanyanya dari seberang sana.


Aku terkekeh pelan. "Ah, maafkan aku, Sugar. Aku tadi sedang pergi ke festival dekat apartemenmu," jawabku.


"Syukurlah! Jadi, sekarang kau berada dimana?"


"Aku sedang bersama Cathrine, sepupu Key. Jadi, kau tenang saja."


"Baiklah kalau begitu, aku akan menjemputmu sebentar."


"Jangan Sugar! Penyamaranku sudah diketahui oleh Lirya. Jadi, aku tidak bisa lagi tinggal di tempatmu."


"Benarkah? Huh, kenapa penyihir itu sangat pintar sekali. Kalau begitu, jaga dirimu baik-baik yah Adel!"


"Iya Sugar, kau juga. Terima kasih juga atas bantuanmu."


"Oke," jawabnya. Dan kami pun memutuskan sambungan.


Cathrine kembali mengajakku kembali ke dalam mobilnya, sebelum Lirya berhasil menemukan kami lagi.


"Aku tadi sudah menghubungi Key, dan ia menyuruhku membawamu ke villa rahasia milik keluarga kami. Dia bilang setelah selesai rapat, ia akan menyusul."


Aku hanya mengiyakan ucapan Cathrine.


***


"Mandilah! Aku akan mengambilkan beberapa pakaianku yang ada di dalam mobil.


Aku mengangguk pelan. Setelah Cathrine keluar dari kamar, aku pun langsung membuka baju dan beranjak masuk ke dalam kamar mandi.


"Pakaianmu ada di atas kasur," teriak Cathrine dari luar kamar mandi.


"Yaa," sahutku.


Setelah selesai mandi, aku mengelap tubuhku dengan handuk kemudian mengenakannya, karena bathrobe tidak ada di sini. Aku mulai melangkah ke luar kamar mandi.


Saat aku melangkah lagi, lantai yang ku injak terasa licin. Alhasil aku pun terjatuh. Handuk yang membungkus sebagian tubuhku pun terlepas. Untung saja, aku mengenakan pakaian dalam, jadi aku tidak perlu terlalu khawatir.


"Wow!"


Sontak aku mematung dan membulatkan mataku. Suara itu? Aku bangun dari lamunanku dan mencari asal suara itu.


Key!


Saat ini ia sedang duduk di sudut ruangan ini dengan posisi menyilangkan kakinya. Ia beranjak dari tempat duduknya sambil membuka jas dan dasinya.


"Jangan terlalu terpesona denganku," ucapnya sambil smirk, lalu menyodorkan tangan kanannya.


Aku hanya memberikannya wajah datarku, lalu meraih tangannya untukĀ  berdiri dengan benar. Setelah berdiri sempurna, ia menarik tubuhku ke tubuhnya.


"Key! Aku ingin memakai baju!" pintahku sambil terus mendorong tubuhnya.


Bukannya menjawabku, ia justru memandangi wajahku. Seperti biasa, aku selalu terpesona dengan manik matanya itu. Ia melonggarkan dekapannya, dan menyuruhku memakai baju.


"Waktumu hanya 10 detik. Jika kau belum memakainya, jangan berharap kau bisa memakai baju malam ini," ucapnya sambil tersenyum simpul.


Tanpa beralama-lama lagi, aku segera mengambil pakaian yang diberikan oleh Cathrine di atas tempat tidur. Sedangkan Key, terus saja menghitung.


Sial!


Karena terlalu terburu-buru, bajuku sedikit tersangkut di kalungku. Aku pun segera membenarkannya dengan cepat, sebelum waktuku habis.


"6..."


Ayolah!


Aku mulai frustasi dengan jahitan bajuku yang sedikit tersangkut.


"8"


Aku terus menarik dan akhirnya...


"10"


Aku berhasil memakai baju dengan sempurna pada hitungan terakhirnya. Aku memberikan tatapan sini pada Key, sedangkan ia hanya smirk padaku.


Ia kembali mendekatiku lagi, dan menarik tubuhku sehingga menyatu dengan tubuhnya. Lalu tangannya bergerak ke bagian atas bajuku. Aku membulatkan mataku sempurna, lalu menahan tangan Key.


"Tenanglah! Aku tidak lupa dengan janjiku," ucapnya memastikanku.


Ia melepaskan tubuhku. Sedangkan tangannya masih berada di bagian di lingkaran leher bajuku.


"Apa kau akan menggodaku dengan tidak mengancing bajumu," ucapnya sambil mengaitkan 2 kancing bajuku.


Death!


Ia berhasil membuatku terlihat bodoh lagi.


"Good Night!" Ia mengecup keningku sekilas, lalu beranjak keluar dari kamar.


To be continue....