
Adel POV
"Ah maksudku, aku sedang mengingat keluargaku. Aku rindu pada mereka, jadi aku menangis. Yah, itu saja," jawabku asal. Mungkin jawabanku tidak masuk akal, 'ah biarlah.'
"Kenapa kau tidak menghubungi mereka? Sekalian kau perkenalkan diriku pada mereka." Ia tersenyum simpul sambil mengeluarkan ponsel dari sakunya dan memberikannya padaku.
"Untuk apa kau memberiku ponsel? Aku bisa menghubungi mereka dengan ponselku sendiri. Simpan saja ponselmu!" Ucapku sembari megambil ponselku di meja samping kasurku.
"Yah, siapa tau aku bisa menghubungi mereka saat nanti aku melamarmu."
Tentu saja kalimatnya membuat sayap khayalanku bekerja. Ditambah senyum jahilnya yang selalu ia tampilkan ketika sedang menggodaku, sukses membuatku salah tingkah dan aku pun cegukan.
"Anggap saja ini adalah obat untuk menghilangkan cegukanmu,"
Ia menciumku sekejap, sebelum aku membalas kalimatnya tadi.
Aku segera mencari nomor ponsel ayahku untuk menghubunginya lagi. Padahal sebelum ia datang, aku sudah menelpon ayahku.
Trutt...
"Allò," baru saja aku mengatakannya Key sudah berhasil merebut ponselku.
"Key, kembalikan!" Bisikku sedikit keras padanya.
"Shutt!" Ia mengisyaratkanku untuk diam.
"Allò Adel?"
"Allò Madame." Aku mulai berkeringat, padahal AC di apartemenku ini sudah sangat dingin. Lebih tepatnya aku malu, bukan takut.
"Oh aku kira kau Adel. Aku sedang berbicara dengan siapa? Dan dimana Adel?" Aku bisa mendengar pertanyaan bertubi-tubi dari ibuku.
"Aku Key, kekasih baru Adel. Sepertinya Adel belum mengenalkanku padamu ya Madame? Adel masih berbelanja, jadi aku yang memegang ponselnya."
Aku membulatkan mataku sebesar mungkin. Mungkin dia sudah gila atau stress mengatakan hal tidak logis itu. 'Apa ada mantra yang bisa kuucapkan untuk mengutuknya?'
'Arrgh Key!'
"Key!" Bisikku sambil memohon padanya. Aku tidak mau dia mengatakan hal-hal aneh lainnya. Untung saja ibuku yang mengangkatnya.
"Iya nak, Adel tidak pernah memberitahu kami tentang dirimu. Tapi aku besyukur jika Adel memiliki kekasih disana."
Aku mimpi apa semalam? Kenapa ibuku malah membiarkan anaknya berpacaran. Padahal ibuku pernah memarahi adikku berpacaran. Sedangkan aku yang jauh darinya, malah ia biarkan untuk berpacaran.
Tapi apa boleh buat, aku hanya membiarkannya berbicara dengan ibuku. Sedangkan aku beranjak ke dapur untuk memasak, karena perutku tidak bisa diajak kompromi saat ini.
Setelah selesai memasak, aku kembali ke tempat Key. Aku menyuruhnya untuk mencicipi masakanku. Meskipun hanya masakan sederhana. Aku kira ia masih lama berbicara dengan ibuku, tapi sepertinya ia akan menutup telfonnya.
"Iya Madame, aku akan berjanji padamu bahwa aku akan selalu menjaga Adel, tenang saja."
Begitulah kalimat terakhir yang ku dengar dari mulut Key sebelum ia memutus sambungannya. Meskipun aku tahu bahwa ia tidak serius mengatakannya, tapi aku merasa sangat senang mendengarnya. 'Semoga aku bisa menemui orang lain yang sepertimu, yang mencintaiku juga.'
Aku menggelengkan kepalaku, menyadarkan diriku sendiri dari lamunanku.
"Hem, sepertinya aku mencium aroma makanan," ucapnya sambil menikmati aroma masakan yang kubuat tadi.
"Yah, aku tau kalau kau juga lapar. Lebih baik kita ke meja makan sebelum perutmu berbunyi lagi."
Cup...
Aku terkejut ketika ia mencium keningku.
"Itu sudah cukup membuatku kenyang. Jaga dirimu baik-baik, aku mau pulang. Nanti malam aku akan menemuimu lagi di tempat kerja."
Ia mengacak rambutku, sebelum ia keluar dari apartemenku. Padahal aku ingin sekali ia mencicipi masakanku, meskipun hanya sedikit.
'Ah, kenapa aku berharap lebih.' Aku hanya tersenyum mendengar kata batinku sendiri. Ternyata memang benar, 'sakit yang terdalam adalah kalimat yang tidak bisa terucap oleh kata.'
****
Jacob POV
Harus kuakui, dia adalah perempuan tercantik yang pernah kutemui. Aura kecantikannya semakin memancar ketika aku melihatnya dari dekat. Tapi sepertinya cukup bagiku untuk memuji kecantikannya, karena aku tidak boleh sampai melupakan tujuanku mendekatinya.
Jika kalian pikir sebelumnya aku adalah pria yang baik, itu salah. Kalian boleh mengatakanku munafik atau ********, karena itu memang kenyataan. Ayahku bernama Frankli Walcott, dan aku sangat bangga memiliki ayah seperti dia. Penjahat profesional, ialah ayahku. Meskipun banyak agen rahasia yang mengawasi kami, tapi mereka selalu gagal untuk mencari bukti kejahatan kami.
Key Armstrong Haynsworth. Dia adalah sasaran kami saat ini. Dengan memanfaatkan Kate untuk mendekatinya, aku rasa sangat mudah untuk menjatuhkannya. Tapi kami sangat was-was terhadapnya, karena dia orang yang sangat sulit untuk ditakhlukan. Dia mendirikan agen rahasia sendiri, yang beranggotakan tiga orang.
"Selamat Malam Mr..."
Aku melirik pada pelayan yang baru saja menghampiriku, dan ternyata dia adalah Adel. Bisa kulihat wajahnya sedikit pucat. Apa dia sakit?
'Sepertinya bukan urusanku.'
"Mr. Walcott?" ucapnya sambil tersenyum padaku. Aku mengangguk mengiyakan pertanyaanya.
"Dan kau pasti Adel kan?" Aku membalas senyumannya.
"Iya benar. Apa kau sendirian?" tanyanya padaku.
"Iya, aku sendiri. Kau kerja di sini?"
"Ah iya, aku bekerja paruh waktu di sini."
Oh ternyata dia bukan orang kaya. Biar kutebak, pasti dia sama seperti gadis lainnya yang memanfaatkan kekayaan kekasihnya. Ternyata gadis ini pintar sekali mencari lelaki kaya raya seperti Key. Mungkin aku juga bisa merayunya dengan kekayaan yang ku miliki.
Ia memberikan sebuah buku menu, tapi aku menolaknya.
"Aku tidak ingin memesan makanan, aku hanya ingin pesan secangkir ice coffe."
"Baiklah Mr. Walcott, pesanan Anda akan segera datang. Terima kasih," ucapnya sebelum pergi menyampaikan pesananku ke meja Bar.
Tak lama kemudian, pesananku telah datang. Tetapi, bukan Adel yang mengantarnya.
"Pesanan Anda. Selamat menikmati." Ia membungkukkan badannya, kemudian berbalik untuk pergi.
"Excuse me, apa kau tahu dimana pelayan yang bernama Adel?"
"Oh anda mengenalnya? Ia merasa pusing tadi, jadi manager kami menyuruhnya pulang."
"Apa dia sudah pergi?"
"Sepertinya belum, dia sedang ada di ruang ganti."
"Boleh kau menghantarkanku padanya?"
"Tentu saja." Aku mengikuti pelayan ini untuk menuju ruang ganti.
Saat kami tiba di depan ruang ganti, Adel juga baru saja keluar dari ruang ganti.
"Saya permisi dulu tuan," dia membungkukkan badannya sebelum meninggalkan kami berdua di depan ruang ganti.
"Mr. Walcott? Apa yang membawa anda kemari?"
Suaranya sangat lemah sekali. Bibirnya sedikit bergetar, dan matanya sedikit berair.
"Aku dengar kau sedang sakit. Jadi, aku menawarkan diri untuk mengantarmu pulang."
"Terima kasih untuk tawaranmu Mr. Walcott. Tapi aku bisa pulang sendiri."
"Aku tidak terima penolakan. Dan panggil saja aku Jacob, karena aku jadi merasa canggung saat mendengarmu memanggilku seperti itu."
Aku menarik tangannya dan membawanya keluar dari restoran ini melakui pintu belakang restoran yang biasa digunakan sebagai pintu para pekerja untuk masuk dan keluar restoran.
"Mr. Walcott, em maksudku Jacob. Kau tidak perlu repot-repot, aku bisa pulang sendiri." Ia melepaskan tangannya dari pergelangan tanganku.
"Tidak apa Adel, biar aku saja yang mengatarmu."
Adel tetap pada pendiriannya, menolak tawaranku.
'Sial!'
Rencanaku bisa gagal jika dia menolak tawaranku. Padahal ini rencana awalku, tapi aku tidak boleh gagal.
"Ayolah Adel, aku bisa menghantarmu."
"Tidak apa Jacob, aku bisa....."
Dia mendadak meringis kesakitan sambil memegang kepala bagian kirinya.
"Adel! Kau tidak papa?" tanyaku padanya, walaupun sebenarnya aku hanya pura-pura khawatir.
"A...aku..." ia sedikit memijat keningnya.
"Menjauhlah darinya!" Teriak seseorang yang berjarak sekitar 10 meter dari tempatku berdiri.
'Ternyata pangeran telah datang untuk menyelamatkan permaisurinya."
Aku tersenyum licik padanya. Sedangkan di wajahnya penuh dengan amarah. Biar kutebak, pasti karena Adel sedang bersamaku.
Ia mendorong tubuhku untuk menjauh dari Adel.
"Adel? Are you okay?"
"Yaa, I'm okay." Adel sudah berhenti meringis, lalu Key menggendongnya ala Bridal Style.
"Aku tidak ingin melihatmu bersamanya lagi! Jika kau mendekatinya lagi, maka jangan lupa mencari tempat pemakamanmu!"
Ia pergi dari hadapanku dan membawa Adel masuk ke dalam mobilnya.
'Sepertinya, pertempuran kali ini akan sangat seru.'
***
Key POV
Aku masih tidak fokus menyetir saat ini. Bagaimana tidak?
Wajah Adel terlihat sangat pucat. Sepertinya ia sedang sakit, tapi kenapa ia tidak memberitahuku tadi siang? Atau ia baru saja sakit.
Aku tidak ingin mengganggu tidurnya saat ini, karena seperti yang kulihat ia terlihat sangat lelah. Jadi, aku memutuskan untuk membawanya ke penthouseku.
Aku menggendongnya ala Bridal Style ketika aku sampai ke penthousku. Aku kira ia akan terbangun, tapi sepertinya ia tidur dengan sangat nyaman.
Aku membaringkannya di atas kasur king size milikku. Saat ini wajahnya tidak sepucat tadi, mungkin karena ia terlalu lelah. 'Apa yang membuat lelah Adel?'
Aku mengecup keningnya sejenak, kemudian memandangi wajah cantiknya. Meski tidur seperti ini pun, ia terlihat sangat cantik. Bibirnya sudah tidak sepucat tadi, kini terlihat merah natural seperti biasanya.
'Ah sial! Aku mulai membayangkannya lagi.'
"Key!"
"Adel, are you okay?" Aku sedikit cemas karena ia tiba-tiba berbicara dalam tidurnya, dan terlihat sedikit gelisah. Dahinya mengkerut, seperti sedang mengkhawatirkan sesuatu.
Ia kembali tidur pulas seperti tadi. Namun airmatanya tiba-tiba saja mengalir dari ujung ekor matanya. Aku menggenggam tangannya erat.
"Don't leave me," ucapnya lirih.
Aku memeluk kepalanya dan mencium rambutnya. "Aku akan selalu di sampingmu Adel."
Entahlah, kenapa hatiku menjadi pilu. Aku bahkan tidak tahu dengan perasaanku saat ini. Jatuh cinta? Aku tidak tahu pasti.
Aku merasakan mataku mulai lelah. Aku pun memejamkan mataku dan tidur dengan posisi masih memeluk Adel. Tidak pernah kurasakan hal senyaman ini ketika memeluk gadis lain. Rasanya nyaman seperti ibuku memelukku.
***
"Sometimes you choose to look happy because you do not want to explain why you are sad to them who even can not understand"
***