All In My Head

All In My Head
BAB 7



Author POV


"Cath! Kenapa restaurant ini sepi sekali? Apa makanannya tidak enak?"


Ucap Adel ketika mereka bertiga masuk ke dalam L'Astrance Restaurant.


"Shutt! Jangan bicara sembarangan Miss France!" Bisik Cathrine pada Adel.


Key sedikit terkekeh mendengar kalimat Adel yang bisa membuatnya dipukul pemilik restoran ini.


'You're so fun, Miss France'


"Miss France, kau mau pesan apa?" Tanya Cathrine pada Adel ketika pelayan menyodorkan beberapa buku menu.


"Don't call me Miss France anymore!" Jawabnya ketus.


Key hanya tersenyum melihat tingkah mereka seperti anak yang sedang bertengkar merebutkan sebuah mainan.


Ia merasa mood nya sudah membaik.


"Whatt!" Teriak Adel yang hanya bisa didengar oleh mereka bertiga saja.


"OMG Adel! Kau kenapa lagi?" Tanya Cathrine dengan wajah datar.


"Aku tidak percaya! Ini restaurant Perancis?" Tanya Adel dengan wajah dengan wajah sumringah.


Key kembali tersenyum. Bahkan senyumnya kali ini adalah senyum terbaik yang ia miliki.


"Ia Adel, apa kau lupa?"


Adel menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Oh God, apa temanku satu ini sudah menjadi pelupa?" Cathrine memukul pelan dahinya sendiri.


"Today is your birthday."


Adel mengerjapkan matanya, sambil mencerna kalimat yang diucapkan oleh Cathrine.


Cathrine menepuk kedua tangannya, memberikan sebuah isyarat.


Tak lama kemudian, datanglah beberapa pria bertubuh sedikit gemuk, membawa alat musik seperti gitar, biola, gitar dan saxophone.


Adel sangat terharu mendengar lantunan musik yang dimainkan oleh beberapa pria bertubuh gemuk itu.


Setelah pertunjukkan musik yang sangat merdu tersebut, pria bertubuh gemuk itu undur diri dan datanglah dua orang pelayan mendorong trolley dinning cart ke arah mereka.


Pelayan itu membuka tutup stainles yang menutup sebuah cake yang berukuran sedang, dengan susunan buah cherry, lilin kecil berwarna-warni dan chocolate di atasnya.


Pelayan itu menghidupkan lilin itu.


Mata Adel sedikit berkaca-kaca, namun segera dihapusnya. Karena ia tidak suka airmatanya dipertontonkan.


"Make a wish, dan tiup lilinnya!" Pintah Cathrine sambil sumringah.


Adel memejamkan matanya, mengucapkan permohonannya yang hanya diketahui oleh dirinya sendiri.


Adel membuka matanya, setelah itu ia meniup puluhan lilin kecil berwarna-warni yang sedang menyala terang di atas kue ulang tahunnya.


Setelah selesai meniup lilinnya, Adel memeluk Cathrine erat.


"Ah Cathrine, kau sangat baik sekali," ucapnya sambil meneteskan airmatanya yang sudah tidak sanggup lagi tertampung di pelupuk matanya.


"Kalau aku boleh jujur, ini bukanlah rencanaku. Tapi sebenarnya, aku ingin membawamu ke restoran jepang dan akan mengerjaimu," jawab Cathrine sedikit terkekeh yang membuat Adel melepaskan pelukannya.


"So?" Tanya Adel bingung.


"Orang itu ada di depanmu. Aku juga heran kenapa dia bisa tahu tanggal lahirmu, padahal aku tidak pernah memberiyahunya."


Adel melirik ke arah Key yang memang sedari tadi sedang memandangnya sambil tersenyum simpul.


'Lebih baik kau mati saja Adel! Devil ini pasti sedang merencanakan sesuatu. Dan darimana dia tahu tanggal lahirmu?'


Wajah Adel seketika datar dan tidak ada senyum sama sekali di wajahnya.


"Maaf Mr. Haynsworth. Seharusnya kau tidak perlu berlebihan seperti ini," ucapnya sambil tersenyum paksa.


"Hei Adel! Seharusnya kau bersyukur. Karena dia tidak pernah sebaik ini kepada perempuan lain, termasuk aku."


Cathrine pura-pura cemberut, kemudian ia tertawa.


'Kau memang perempuan yang spesial Adel,' batin Key sambil tersenyum miring.



Setelah selesai makan malam, mereka memutuskan untuk pergi berkaraoke. Sebenarnya Adel sangat malas, namun Cathrine terus saja memaksanya.


Ketika mereka hendak masuk ke mobil, entah darimana asalnya sebuah peluru menyerang mereka. Untung saja tembakan itu meleset dan tidak melukai mereka.


Orang-orang yang berada di sekitar mereka pun ikut berhamburan.


Mata Key berkeliling mencari asal tembakan tersebut.


Key menoleh ke arah Cathrine dan Adel yang baru saja berdiri.


Dengan sigap Key menarik tangan Adel dan Cathrine ketika ia melihat peluru itu sedang mengincar mereka berdua.


Mereka jatuh tersungkur di depan mobil Lamborghini milik Key. Mereka masih bersyukur, karena peluru tidak mengenai mereka.


Dengan langkah dan gerakan yang cepat, Key mengambil pistol miliknya di dalam mobilnya, lalu mengejar penembak itu yang sudah tidak berada di tempatnya semula.


"Adel dengarkan aku! Hubungi 999, dan tetaplah berada di dalam mobil! Jangan kemana-mana sampai kami kembali, paham!"


Adel sedikit kaget melihat sahabatnya itu sedang memegang pistol dan berlari layaknya seorang anggota kepolisian.


Tanpa banyak pikir lagi, ia mengambil ponselnya dan menghubungi call center 999.


Adel keluar dari mobil dan menghampiri mobil polisi itu.


"Excuse me sir. Aku Adel yang menghubungi call center tadi."


"Ohya Mrs. Adel, apa kau bisa menceritakan semua kejadiannya dari awal?"


Adel pun menceritakan semua yang ia ketahu, meskipun ia tidak tahu pasti motif penembakan itu.


Tidak lama kemudian, Cathrine dan Key datang dengan membawa satu orang yang tidak lain adalah penembak tadi.


Pakaian Cathrine dan Key terlihat sangat kotor dan ada banyak robekan di beberapa bagian.


"OMG Cath! Apa kau baik-baik saja?" Tanya Adel khawatir.


Tangan Adel menjadi sangat dingin. Bukan karena udara malam ini yang menjadi faktornya, akan tetapi karena ia sangat gugup sekali.


"Tidak pernah sebaik ini Adel," jawabnya sambil menyunggingkan senyum.


Adel mengubah pandangannya ke Key. Ia sedikit heran melihat Key yang sangat akrab dengan polisi-polisi itu.


"Mr. Haynsworth, lama kita tidak berjumpa."


"Iya, aku sangat sibuk belakangan ini. Jadi aku tidak sempat mengunjungi kalian."


'Mereka terlihat sangat akrab,' batin Adel.


"Adel, lebih baik kita menunggu di dalam mobil saja. Dress ku robek, bisa-bisa aku masuk angin jika berlama-lama berada di luar."


Adel hanya menuruti perkataan Cathrine.


Cathrine mengambil kotak P3K, lalu mencari alkohol 70% dan perban.


"Biar aku yang mengobatimu," Adel mengambil alkohol dan perban dari tangan Cathrine.


"Arghh, pelan-pelan Adel!" Cathrine sedikit meringis.


"Sorry Cath."


Adel mengobati luka Cath yang bisa dibilang tidak terlalu parah, namun rasa sakit yang dihasilkan sangatlah dahsyat.


"Thanks Adel," ucap Cathrine ketika Adel sudah selesai membalut perban di pergelangan tangannya.


"Em Cath, aku mau bertanya. Sejak kapan kau menjadi pahlawan seperti tadi?"


"Kau terlalu berlebihan Adel. Aku bukan pahlawan."


Adel tertawa kecil melihat wajah Cathrine yang cemberut.


"Sebenarnya ini sangat privasi sekali. Karena ini adalah rahasia Key. Kami mendirikan agen rahasia sendiri yang anggotanya hanya aku, Key dan Aswin. Kami juga bekerja sama dengan FBI dan MI-6 secara diam-diam. Kami membantu mereka untuk menyelidiki beberapa kriminal yang sampai saat ini masih belum ditemukan secara pasti siapa dalangnya," jawab Cathrine panjang lebar, sedangkan Adel sedikit menganga.


Tak beberapa lama kemudian, Key masuk ke dalam mobil.


"Key, biarkan aku saja yang membawa mobil. Lukamu belum kau obati kan," Cathrine dan Key bertukar posisi. Dimana Cathrine yang menjadi juru mudi sekarang.



"Adel, tidurlah di rumahku malam ini, please!" Kata Cathrine manja.


"Yah, baiklah," jawabnya sedikit malas.


Cathrine memasang senyum sumringah di wajahnya.


Adel baru sadar kalau Key sudah tidak bersama mereka lagi.


"Cath!" panggilnya sebeum Cath masuk ke kamarnya.


"Ya, kenapa?"


"Um, dimana Key? Apa dia sudah pulang?"


"Tidak Adel, dia tidak pulang kemana-mana. Dia sekarang tinggal di rumahku. Sebenarnya baru 1 minggu yang lalu, dan kamarnya tepat di depan kamar tamu."


Adel mengangguk mengerti.


"Adel aku ke kamar dulu, nanti aku akan menyusul ke kamarmu."


Adel mengangguk setuju.


Ia merasa kakinya seolah memaksanya untuk pergi ke kamar Key. Sepertinya ia tidak bisa menahan keinginan kakinya yang memaksanya untuk masuk ke kamar Key.


Pintu kamar Key merupakan pintu terlarang bagi Adel.


Belum sempat ia mengetuk pintu kamar Key, pintu itu sudah dibuka oleh Key sendiri.


"Wow! Apa ini sebuah keajaiban? Wanita yang sangat membenciku sedang berdiri di depan pintu kamarku," ucapnya sambil smirk.


Wajah Adel menjadi merah padam lantaran ia sedikit kesal dan malu.


Adel mengurungkan niatnya untuk berterima kasih dan mengobati luka Key.


Ketika ia hendak pergi, tangan Key sudah lebih dulu menariknya untuk masuk ke dalam Kamar Key.


Key menghempaskan tubuh Adel di atas kasur king size miliknya.


Adel mencoba untuk bangkit, namun Key sudah terlebih dulu menindih tubuhnya.


"Mr. Haynsworth, apa yang ingin kau lakukan?" Tanya Adel sedikit gugup, karena jarak wajah mereka yang hanya 5 cm.


"Kau terlalu formal Miss France. Lebih baik panggil saja aku Key," jawabnya sembari mendekatkan wajahnya lebih dekat ke wajah Adel.


"Key, tolong lapaskan aku!"


to be continue...