
Key POV
Aku mengerjapkan mataku beberapa kali, sebelum akhirnya aku membuka mataku dengan sempurna. Kepalaku masih terasa sakit, dan rasanya aku tidak sanggup untuk duduk.
Aku melihat sekelilingku, mencoba mengingat apa yang kulakukan terakhir kali. Ruangan ini terdapat banyak sekali peralatan rumah sakit, dan aku rasa memang benar ini adalah rumah sakit.
"Kau sudah sadar?" suara lembut itu membuatku menoleh ke sisi kananku.
Dan disitu aku melihat Adel yang berpenampilan seperti biasanya. Baru aku akan menyebut namanya, ia sudah menahan bibirku untuk tidak bicara.
Aku bertanya kenapa. Meskipun aku tidak bersuara, tapi ia pasti paham dengan pertanyaanku. Ia memutar bola matanya, merasa kesal karena aku tak paham dengan maksudnya.
Ia mengeluarkan sebuah kertas dan menuliskan sesuatu. 'Tolong panggil aku dengan nama Alexa. Karena aku takut jika Lirya menaruh sesuatu di ruangan ini dan mendengarkan percakapanku denganmu.'
Aku mengangguk mengerti, dan ia tersenyum padaku. Rasanya aku ingin sekali memeluknya dan mengecupnya. Tapi aku takut jika ada yang melihat kami, penyamaran Adel akan terbongkar.
"Berapa lama aku tidur dan berada di ruangan ini?" tanyaku.
"4 days," jawabnya singkat.
What? 4 hari?
Pantas saja kepalaku terasa sakit sekali.
"Kata dokter, obat bius yang ditembakkan padamu memiliki efek bius yang sangat keras. Seharusnya obat ini masih berefek sampai 2 hari lagi, tapi daya tahan tubuhmu sangat kuat terhadap obat bius ini."
Aku tidak menghiraukan perkataannya, dan hanya memandanginya. Aku tidak peduli seberapa lama aku sakit, karena yang terpenting adalah aku tidak mau dia yang terluka.
"Sudah mengerti Tuan muda Haynsworth?"
Aku mengambil paksa kertas yang dipegang olehnya tadi. Dan menuliskan sesuatu untuknya.
'Bisakah aku menciummu? Karena obatku ada di..." aku menggambar bentuk bibir.
Aku menunjukkan wajah melasku padanya. Sedangkan ia hanya memberikanku tatapan tajam.
"Ad..." aku hampir saja menyebut nama aslinya.
"Alexa maksudku, hem. Bisakah kau menutup gorden itu?" Aku menunjuk ke arah jendela ruangan inapku.
"For what?"
"Ekhem, bukankah aku majikanmu? Jadi turuti saja perkataanku," ucapku dengan penuh kemenangan.
Ia berdecak kesal, kemudian membuka pintu kamar dan ia terlihat sedang berbicara sesuatu dengan beberapa bodyguard yang menjaga di depan ruangan inapku.
Setelah itu, ia masuk kembali dan menutup gorden. Ia melangkah kembali ke sisi tempat tidurku.
Aku menuliskan sesuatu lagi di dalam kertasnya. 'Apa disini ada kamera cctv?'
"Tidak, Tuan!" ucapnya ketus.
Ia menarik kertasku lagi dan menuliskan, 'haruskah seperti itu menjagamu? Lalu, untuk apa bodyguard menjaga di depan pintumu!'
Aku tertawa keras, meskipun dadaku masih terasa sakit. Aku menarik pergelangan tangannya, dan membuatnya jatuh ke atas dadaku.
Ia berusaha untuk bangkit kembali, namun aku langsung mendekapnya dengan sangat erat. Memeluk tubuhnya seolah obat dari semua penyakitku ini. Aku tidak peduli dengan sakit yang menyiksa tubuhkh ini.
"Kau tidak boleh seperti ini Key!" bisiknya, sambil berusaha memberontak. Tapi semua itu hanya sia-sia untuknya.
"Key!"
Aku terkejut mendengar suara teriakan itu, dan membuatku melepaskan dekapanku. Begitupun dengan Adel, ia segera berdiri tegak dan hanya menunduk.
Lirya berjalan menghampiri Adel, dan plakk. Telapak tangannya mendarat sempurna di pipu mulus Adel. Dan membuat Adel terduduk.
"Lirya!" Aku langsung meneriakinya.
"Dasar wanita penggoda! Kau sengaja kan menggoda Key, hem?" bentaknya pada Adel.
Ruanganku penuh dengan suara makian dari Lirya, dan tak lama kemudian Lirya memanggil semua bodyguardku. Aku berusaha mencegah Lirya untuk tidak memperbesar masalah ini. Tapi ia terlalu keras kepala dan tidak mendengarkanku.
Baru saja aku akan bangun tempat tidurku, Lirya sudah menahanku. Aku tidak sanggup untuk berusaha bangun lagi karena tubuhku sudah sangat lemah, mungkin karena obat bius itu.
Aku tidak tahu apa yang akan Lirya lakukan pada Adel. Aku begitu bodoh, kenapa aku tidak mendengarkan perkataannya tadi. Kenapa dia harus menerima semua resiko ini?
"Lirya, aku mohon padamu! Ini tidak seperti apa yang kau lihat."
"Kau bilang ini semua tidak sengaja kan, Key? Aku dari awal tau bahwa ia memang sengaja menggodamu. Aku tahu dia sangat mirip dengan Adel, maka dari itu ia mencoba untuk menggodamu," balasnya.
"Aku akan menikahimu! Asalkan kau membebaskannya!"
Sial!
Kalimat itu terucapkan begitu saja dariku.
"Benarkah Key?" Lirya segera memelukku. Sedangkan aku tidak bisa mengatakan apa-apa lagi, karena aku terlalu bodoh mengatakan semua itu.
***
"Lirya tidak jadi mengusirku?" tanyaku pada Sugar yang masih terlihat khawatir padaku.
"Iya, tapi ada satu hal yang sangat berat untuk kukatakan."
"Apa itu?" tanyaku penasaran.
"Li..lirya," Sugar mengucapkannya dengan terbata-bata, dan membuatku geregetan
"Bicaralah dengan jelas, Sugar!"
"Lirya akan segera menikah dengan Key," ucapnya dengan penuh penyesalan.
Aku cukup menyesal mendengarnya. Aku terduduk lemas di kasur queen sizeku. Aku tidak habis pikir, bagaimana bisa Key melakukan semua ini?
"Adel, aku..."
Aku mengisyaratkan Sugar untuk tidak berbicara lagi. Bahkan airmataku pun tidak ingin keluar karena mendengar kabar itu.
"Sepertinya aku tidak punya harapan lagi, Sugar. Kenapa Key tega melakukan semua ini padaku? Aku tau ia berusaha menolongku, tapi ia tidak perlu melakukan semua itu. Aku rasa Lirya memang benar, Key memang masih mencintainya."
"Semua ini belum selesai, Adel. Aku masih punya rencana kedua."
Sugar tesenyum lebar. Dan aku tidak tau maksud dari senyum yang mengembang itu.
***
Setelah cukup lama menghadapi kemacetan di jalan, akhirnya kami pun tiba di penthouse mewah milik Sugar. Pertamanya, aku hanya tau bahwa Sugar kaya, tapi ternyata ia sangat kaya.
Desain interiornya sangat bagus, dan lebih terkesan klasik.
"Aku tidak tau bahwa kau sangat kaya, Sugar." Aku masih menatap kagum isi penthouse ini.
"Ah, kau terlalu berlebihan Adel," ucapnya sembari menyalakan AC ruangan tengah.
"Aku berbicara jujur, Sugar."
"Sudahilah semua pujianmu itu, dan ayo bawa barang-barangmu ke kamar."
Aku mengikuti langkah Sugar yang akan menunjukkan kamarku. Ia hanya mengantarkanku sampai depan pintu, dan memberiku kunci kamar.
"Istirhatlah dulu Adel, aku tiba-tiba ada urusan mendadak."
Aku mengangguk mengerti, dan Sugar pun meninggalkanku sendiri di depan pintu. Aku segera memasukkan kunci kamar, dan membuka pintu. Aku menyalakan lampu kamar, dan akhirnya aku bisa melihat isi kamar itu.

Aku mematung sejenak, mengamati isi ruangan itu. Seolah-olah, aku adalah seorang putri kerajaan yang berhak mendapatkan semua ini.
Aku segera menaruh barangku, dan melompat ke kasur yang berukuran king size itu. Rasanya sangat nyaman sekali.
Aku menatap langit-langit kamar, dan berusaha melupakan semua hal yang mengusikku sedari tadi. Aku berusaha untuk berpikir positif, karena aku yakin bahwa Key tidak akan mengkhianatiku.
Terkait rencana baru Sugar, aku masih memikirkannya. Karena aku takut jika penyamaranku akan mudah terbongkar. Bayangkan saja, aku akan pura-pura bekerja di perusahaan penerbitan buku milik Sugar. Selanjutnya, aku masih belum diberitahu oleh Sugar.
Hufft, semoga saja berhasil.
To be continue....