All In My Head

All In My Head
BAB 21



Key POV


Dinginnya udara pagi yang masuk melalui ventilasi udara, masih menusuk kulitku. Meskipun aku sudah menggunakan selimut tebal. Aku membuka mataku, dan melihat makhluk yang sangat cantik, masih tertidur pulas di atas tempat tidur yang berada di seberang tempatku tidur. Lebih tepatnya aku tidur di atas kursi panjang. Ku lirik jam dinding, ternyata masih pukul 4 pagi. Pantas saja udara masih terasa dingin.


Aku beranjak dari kursi dan menuju kasur Adel. Aku duduk di sebelahnya perlahan, agar ia tidak terbangun. Aku mengatur posisi tidurnya, agar menghadap diriku.


Aku mengelus rambutnya yang sedikit berhamburan. Tanktop dan hot pants yang ia kenakan, membuatku sedikit tergoda untuk menyentuhnya.  Tapi aku tidak akan membiarkan aura kegelapan mendatangiku sepagi ini. Aku beranjak keluar dari kamar dan pergi ke kamar mandi, meskipun masih terlalu pagi untuk mandi.


***


"Ayah, Ibu, kami pergi. Jangan lupa datang ke wisudaku bulan depan," ucap Adel sembari memeluk kedua orang tuanya, sebelum kami masuk ke dalam mobil.


Aku bisa melihat mata indah dengan manik warna coklatnya, berkaca-kaca. Aku menggenggam tangannya lembut, mungkin itu bisa membuatnya sedikit tegar. Aku menuntunnya untuk masuk ke dalam mobil. Ia terus melambaikan tangannya ke arah orang tuanya.


Aku kembali menggenggam tangannya, yang tadi sempat kulepaskan ketika akan masuk ke dalam mobil. Ia mengelap airmatanya dengan jarinya.


"Sudah?"


"Yah," ucapnya singkat.


"Bagaimana jika jalan-jalan sebentar?"


Ia hanya mengiyakan tawaranku.


"Em, aku lupa bertanya padamu. Apa kau membeli mobil baru di sini?" tanyanya.


"Iya," bohongku.


Hampir saja mulutku terbuka untuk tertawa, tapi aku segera menahannya. Aku sangat senang melihat kepolosannya itu.


"Astaga!"


Aku mendadak menghentikan mobilku. Untung saja kami sedang berada di jalan yang sepi.


"Ada apa, Adel?"


"Kita lupa membeli tiket. Arggh!"


Ia mengacak rambutnya kasar. Aku baru melihatnya menjadi segila itu. Lebih tepatnya seperti orang yang sedang frustasi.


"Kau tenang saja. Kita tidak akan terlambat sampai ke Inggris."


"Bagaimana bisa kau seyakin itu?" tanyanya sedikit menantangku.


"Karena aku memiliki segalanya Adel," jawabku dengan bangga.


"Hem, kalau begitu buktikan!"


"Kalau kau ingin pergi ke Inggris sekarang, bagaimana dengan jalan-jalan kita?"


"Lupakan tentang jalan-jalan. Aku sedang kesal sekarang," jawabnya ketus.


Aku hanya terkekeh mendengar jawaban ketusnya. Aku jadi ingat pada ibuku. Kemarin ia bersikap sangat manis padaku, dan sekarang ia terlihat kesal padaku. Ternyata perubahan suasana hatinya sangat cepat.


***


"Hey! Kenapa kita melewati jalan ini? Parkiran berada di sana Key!" omelnya pdaku.


"Diam, atau aku akan menyentak keningmu," aku mengancamnya.


Ia memalingkan wajahnya dariku, sepertinya ia sedang kesal padaku. Aku hanya tersenyum melihatnya, dan kembali fokus menyetir. Tak lama kemudian, dua petugas memerintahkanku agar menghentikan mobilku. Aku langsung membuka kaca mobilku. Ketika mereka melihat wajahku, mereka kembali membuka jalan. Aku bisa melihat wajah Adel yang terlihat heran.


"Kau lihat kan kehebatanku?" ucapku sombong. Ia hanya memasang wajah datarnya.


Ketika kami tiba di depan pesawat pribadiku, aku segera mengajaknya turun dari mobil. Namun ia terlihat seperti enggan untuk naik ke pesawat.


"Kenapa tidak ada orang disini? Dan dimana petugas bandara? Kenapa hanya ada bodyguard mu?"


"Sudah selesai dengan pertanyaanmu, Miss France? Aku akan menjawabnya di dalam pesawat nanti."


Aku segera menggendongnya ala Bridal Style. Tentu saja ia memberontak.


"Turunkan aku, Key! Aku bisa menaiki tangga sendiri."


"Aku tidak yakin padamu," ucapku sambil smirk padanya.


Setelah sampai di dalam pesawat, aku menurunkannya. Seketika ia terdiam ketika melihat isi dari pesawatku.


"This is crazy."


"Lebih baik kita duduk, karena pesawat akan lepas landas sebentar lagi."


Aku menuntunnya untuk duduk di sebelahku. Matanya masih menjelajahi isi pesawatku ini.


"Kau suka?"


Ia hanya mengangguk sebentar, kemudian memandangi lagi isi pesawat ini. Aku melihatnya beberapa kali menggigit bibirnya.


"Apa kau menginginkan ciumanku?"


Ia terlihat kaget dengan pertanyaanku. Dan tentu saja ia terlihat salah tingkah.


"Ken..."


Aku mendorong tubuhnya sampai ia terbaring. Aku mengecup keningnya, kemudian mengelus rambutnya yang sangat lembut dan harum. Ia hanya memejamkan matanya dan kedua tangannya berada di depan dadanya.


"Kau pasti mengantuk? Lebih baik kau tidur dulu. Aku akan membangunkanmu nanti."


Ia kembali duduk dan mendorong dadaku untuk mundur. Kemudian ia berdiri dan berpindah duduk ke sofa yang berada di seberangku.


"Kenapa kau berpindah?"


"Aku ingin melihat awan, karena biasanya aku akan tertidur ketika pesawat sudah lepas landas. Dan sekarang aku tidak akan melewatkan kesempatan ini."


Aku menaikkan alisku sebelah. Ternyata dia sangat suka dengan tidur. Aku membiarkannya melakukan apa yang ia mau, karena aku sepertinya akan tertidur.


***


"Excuse me, Tuan Muda Haynsworth. Pesawat kita sudah landing."


Pramugari pribadi pesawatku membangunkanku dari tidurku. Aku langsung berdiri dan mencari dimana Adel. Ternyata dia pindah ke sofa yang berada di bagian belakang. Aku tersenyum melihatnya, lalu menggendongnya ala Bridal Style. Aku kira dia akan terbangun, namun ia malah tertidur sangat pulas.


Aku membaringkaannya ke dalam mobil limousine ku yang sudah menunggu kami. Sedangkan aku, masih harus ke kantor untuk melihat keadaan kantor.


"Hantarkan dia ke penthouseku di KAH Hotel, Ar. Bilang padanya bahwa aku akan mengajaknya makan malam jam 7 pm nanti."


"Baiklah Tuan Muda."


***


Adelaide POV


Aku membuka mataku, dan duduk untuk mengumpulkan oksigen sebelum aku berdiri.


'Oh tidak!'


Aku ada dimana? Bukankah aku berada di pesawat? Kenapa bisa aku berada di dalam mobil?


"Anda sudah bangun Miss Adelaide?" tanya supir yang menyetir mobil ini.


"Ah iya. Maaf, kita sedang menuju kemana?"


"Tuan Muda Haynsworth menyuruh saya untuk menghantarkan Anda ke penthouse." Aku hanya mengangguk mengerti.


Tak lama kemudian, kami tiba di depan hotel bintang 5 yang sangat megah dan besar. Aku sedikit menganga dan diam sejenak, sebelum akhirnya supir Key membukakan pintu mobil untukku.


'KAH Hotel?'


"Tunggu dulu! Bukankah tadi kau bilang kita akan penthousenya?"


"Iya  Miss Adelaide. Saya memang akan menghantarkan ada ke penthouse Tuan Muda." jawabnya sambil tersenyum ramah padaku.


'Kenapa ada banyak sekali penthouse miliknya?'


Ia membantuku untuk membawa koperku, namun aku menolaknya. Aku memilih untuk membawa koperku sendiri. Karena aku tidak pantas diperlakukan dengan hormat seperti ini.


***


Armin membuka pintu penthouse dengan sebuah card, kemudian memberikannya padaku.


"Tuan Muda berpesan agar Anda bersiap untuk pergi makan malam pukul 7 pm."


"Iya, baiklah."


"Saya permisi dulu, Miss Adelaide."


Aku mengiyakan pamitannya.


Penthouse ini lebih luas dari yang kemarin. Namun, tidak ada satu pun housekeeper disini. Bahkan di penthouse ini memiliki 3 kamar. Aku memasuki salah satu kamar yang berada di sebelah kanan.


Aku melirik jam tanganku, berharap masih ada waktu untuk bisa tidur sejenak. '5 pm.'


Sepertinya aku harus segera mandi.


Aku membuka pakaianku, dan memakai bathrobe. Kemudian melangkah ke kamar mandi.


Setelah setengah jam berada di kamar mandi, aku segera keluar dan menuju meja rias yang berada di sebelah kamar mandi.


'Apa sebelumnya Key pernah membawa wanita lain ke sini?' ucap batinku tiba-tiba.


Karena di meja rias ini tersedia alat make up lengkap, serta alat hair styler.


'Buang pikiran negatif mu itu Adel!' Aku mengetuk kepalaku sendiri, agar tidak berpikiran negatif lagi.


Sebuah kotak kecil beludru berwarna biru, sangat menarik perhatianku. Aku mengambil kotak kecil itu, lalu membukanya.


'WOW!'


Isinya adalah cincin Rose Red Ruby. Tapi, siapa pemilik cincin ini?


Aku segera menutup kotak cintin ini, dan mengembalikan ke tempat semula.


Aku jadi bingung harus berdandan seperti apa. Jujur saja, aku bukanlah gadis yang mengetahui cara berdandan. Setelah berpikir sejenak, akhirnya aku memutuskan untuk memakai bedak tipis dan lip gloss. Karena aku tidak tau memakai eyeliner dan eyeshadow, jadi aku membiarkan mataku terlihat natural saja.


Aku melupakan sesuatu. 'Dress?'


Aku hanya memiliki satu dress di dalam tasku, tapi dress itu sangat kusut.


Drtt...drtt


Aku mengambil ponselku yang bergetar di atas meja rias.


________________


From : **********


Bukalah lemari besar yang berada di kamar pertama yang berada di sebelah kanan. Pilihlah sesuai seleramu.


Jangan lupa dandan yang cantik! Saranku, pilihlah dress yang terlihat seksi.


________________


Ini pasti Key?


Dia pikir, aku mau mengenakan pakaian seksi agar terlihat seperti pekerja ****? Mengenakan pakaian seksi di malam hari, bukanlah kesukaanku. Aku rasa ia terlalu banyak mengkhayal. By the way, aku memang berada di kamar pertama.


Aku beranjak dari tempat dudukku, menuju lemari. Aku membuka pintu lemari yang ukurannya tidak lazim ini, lebih tepatnya lemari ini sangat besar. Seketika aku tercengang, ketika melihat isi lemari ini. Bukan lemari, menurutku lebih tepat disebut ruang pakaian.


Tidak seperti lemari yang biasa kulihat. Yang kulihat saat ini adalah sebuah ruangan yang ukurannya cukup besar. Aku jadi teringat Film Narnia. Ruangan ini terdapat ratusan dress, ratusan pasang sepatu cantik, dan beberapa aksesoris seperti cincin, kalung, mahkota, gelang, jam tangan dan masih banyak lagi. 'Tunggu dulu, Mahkota? Apa dia mau mengadakan kontes kecantikan?' Aku masuk ke dalam lemari ini, dan berkeliling untuk melihat lebih jelas isinya.


"This is crazy!"


Tanpa berpikir lebih lama lagi, aku segera memilih dress simple berwarna biru selutut dengan bahan sifon, dengan lengan di atas siku. Aku mengurai rambutku, dan memakai flat shoes berwarna hitam.


Aku rasa penampilanku cukup. Berulang kali aku memutar badanku di depan kaca. Aku sangat senang melihat diriku seperti ini.


Sepertinya aku siap lebih awal. 'Lebih baik aku menghubunginya saja.'


Aku mengambil ponselku dan menghubunginya.


"Hallo?"


"Hallo Key, kau sedang ada dimana sekarang?"


Ia tidak menjawabku. Cukup lama aku menunggunya menjawab, namun ia tidak juga menjawabku.


"Hallo, Key? Kau sedang berada dimana?"


Aku mulai khawatir karena ia tiba-tiba memutuskan sambungan telponku. Tanganku mulai berkeringat, dan bulu kudukku berdiri.


'Kau dimana Key?'


To be continue......