
Key POV
"Follow me!" Aku langsung menarik tangan Adel paksa.
Aku sengaja tidak mengetahui yang sebenarnya. Aku tahu bahwa ia memang terpaksa melakukan semua sandiwara ini.
"Lepaskan aku Key!"
Aku sengaja tidak menghiraukannya. Dan terus menariknya agar tetap mengikuti.
"Apa kau tid...."
Aku mendorong tubuhnya hingga punggungnya terhantuk dinding, lalu mengecup bibirnya lembut.
Tidak seperti dugaanku, ia justru membalas ciumanku. Dan ia melingkarkan tangannya di leherku.
"Damn! Aku tidak ingin pisah darimu, Adel." Aku mengecup keningnya lembut.
Ia menitihkan airmata. Aku langsung mengusap airmatanya dengan ibu jariku. Aku tidak ingin melihatnya menangis seperti ini. Lihat saja nanti! Aku tidak akan membiarkan pria pengecut itu membuatnya menangis lagi.
***
FLASHBACK
Tok..tok
"Masuk!"
Aku kembali fokus dengan pekerjaanku. Padahal aku sama sekali tidak ingin bekerja saat ini. Otakku seakan penuh dengan kalimat Adel yang ia ucapkan kemarin malam.
Sampai saat ini, aku masih tidak percaya dengan ucapannya. Kenapa ia terlalu cepat merubah suasana hatinya?
"Yah, ada apa Ar?"
"Ada sesuatu yang ingin saya sampaikan pada Tuan."
"Langsung saja pada intinya."
Hem, terkadang Armin terlalu membelitkan perkataannya.
"Tapi, Anda harus bersikap seperti biasa, ketika aku menyampaikan ucapanku."
"Oh, ayolah Ar. Kenapa kau terlalu mengatakan banyak syarat. Katakan saja, aku tidak akan marah."
"Aku tahu semua yang terjadi pada Ms. Adel. Dia...."
"Cukup Ar! Aku tidak ingin mendengar namanya lagi."
Emosiku tidak bisa kupendam lagi, ketika aku mendengar namanya. Aku sedang tidak ingin mendengar nama atau kabar darinya sedikit pun.
"Tunggu sebentar Tuan! Aku belum selesai berbicara."
Armin berjalan ke arah rak buku yang berada di sudut kanan ruanganku, dan menggesernya sedikit.
"Ar, apa...."
"Lihat ini Tuan." Armin memberikan sebuah jam kecil berbentuk bundar yang ia ambil dari samping lemari.
"Perusahaan Anda sedang dalam bahaya. Ini adalah alat perekam suara yang biasa mendengar percakapan Anda sejauh 500 m. Meskipun anda masuk ke dalam ruangan rahasia Anda, benda ini mampu menembusnya."
Nice! Darimana Armin mengetahui semua ini. Aku saja baru mendengar alat secanggih itu. Bukan berarti aku tidak tahu perkembangan teknologi.
"Bagaimana kau bisa tahu semua ini?"
"Ketika Ms. Lirya membawamu pulang, aku tidak sengaja melihatnya menuju ruangan kerjamu. Dan, aku mendengar percakapannya dengan seseorang di telpon."
'Sial! Ternyata wanita itu memang tidak akan pernah berubah.'
Armin meminta maaf padaku karena ia tidak sempat mengambil alat perekam itu karena harus pergi ke apotik.
Sebelum ia pergi ke apotik, ia sempat mencari kebenaran tentang pembicaraan Lirya dengan seseorang yang sedang berusaha melenyapkan Adel.
Dan saat ia pergi ke apotik, ia bertemu dengan Adel yang hampir pingsan. Ia mengatakan bahwa wajah Adel sangat pucat, perutnya juga berlumuran darah. Armin pun langsung membawanya ke rumah sakit.
Apa aku belum bisa menjadi pahlawannya? Sampai-sampai ia menjadi menderita seperti ini. 'Lirya!'
"Lalu, bagaimana keadaannya sekarang?" tanyaku khawatir.
"Keadaannya sudah mulai membaik, Tuan. Tapi dokter menyarankannya untuk menginap beberapa hari lagi."
Aku pun menyuruh Armin untuk memindahkan Adel ke ruangan VIP, di rumah sakit milikku. Aku juga menyuruh beberapa pelayan untuk mengurusnya.
Aku tahu bahwa ia akan menolak semua ini. Jadi, aku menyuruh semua pelayanku untuk berakting sebaik mungkin agar ia tidak curiga.
"Sebenarnya, Ms. Adel melarang Saya untuk memberitahu Anda. Tapi, Saya tidak tega melihat wanita sebaik Ms. Adel terluka seperti itu. Tolong, lindungi dia Tuan."
Armin bertekuk lutut di hadapanku. Meskipun, aku sudah biasa melihat semua pelayanku bertekuk lutut seperti itu. Tapi, Armin adalah orang pertama yang memohon padaku untuk melindungi seseorang.
'Kau memang sungguh spesial, Adel.'
"Bukan hanya Ms. Lirya yang merencanakan semua ini. Tapi, termasuk orang itu....."
FLASHBACK END
Aku menitipkan Adel pada Armin dan menyuruhnya untuk berlindung di dalam perpustakaan. Aku tahu bahwa semua ini hanya tipuan mereka untuk menyerang Adel.
Pikiran licik mereka sudah terlalu penuh di kepala mereka. Sampai pikiran licik mereka terbaca oleh analisaku.
"Key!" Adel menarik lenganku lagi dan mengecup bibirku sekilas.
"Good Luck!"
Aku tersenyum padanya, kemudian lanjut berlari menjauh darinya.
"Cath, As, darimana arah serangan tadi?" tanyaku pada mereka yang sedang sibuk mengisi peluru.
"Dari arah jarum jam 3. Lebih tepatnya, sasaran itu sedang mengarah ke podium. Tapi kau beruntung, karena tembakannya melesat."
"Lalu, apa ada yang terkena tembakan itu?"
"Aku sudah memeriksa semuanya tadi, dan tidak ada korban. Pelakunya sedang berjalan ke arah jarum jam 12, mencoba keluar dari gedung kampus," jelas Aswin.
"Aku mencoba untuk mengejarnya tadi, tapi aku gagal menahannya. Pengintai itu seorang wanita berambut coklat, bermata biru, dan tingginya sedikit lebih pendek denganku. Tapi sayangnya, aku tidak bisa melihat jelas wajahnya. Kerena dia memakai topeng," jelas Cathrine cukup panjang.
'Pasti ini semua rencana Lirya dan Jacob,' batinku.
Aku tidak akan membiarkan 2 penjahat itu menghalangiku untuk menyelesaikan misiku. Dan tentu saja, aku tidak akan membiarkannya sedikit pun menyentuh Adel.
***
Adel POV
Armin mencoba membujukku untuk duduk dengan tenang, tapi aku tidak bisa. Perasaanku terus saja gelisah. Aku tidak akan bisa tenang sampai Key kembali ke sini.
"Ms. Adel, duduklah. Tuan Muda Haynsworth akan segera kembali. Percayalah, dia adalah orang yang hebat." Armin tersenyum padaku.
"Bagaimana aku bisa tenang Ar? Key sedang melawan peluru. Meski kau bilang ia orang yang hebat, tapi ia pasti memiliki kelemahan lain."
"Aku tahu itu, Ms. Adel. Tapi, Tuan Muda adalah orang yang berbeda. Aku rasa, ia memang terlahir untuk menjadi seorang pahlawan."
'Aku akan menjadi pahlawanmu.'
Yah, Key pernah mengatakan itu padaku. Sepertinya, Armin memang benar. Aku harus yakin bahwa Key tidak apa-apa.
Tok...tok...tok...
Armin berjalan menuju pintu, dan membuka pintunya.
'Key!'
Aku langsung berlari ke arahnya. Aku tidak sabar ingin memeluknya. Tapi, apa yang ia pegang itu?
"Ternyata kau mudah sekali tertipu, Ms. Adelaide Rosseau," Key menodongkan senjatanya padaku.
Aku gugup setengah mati. Bagimana mungkin, Key tega mengancamku dengan senjata. Akubrasa, ada yang tidak beres dengan semua ini.
Ia seperti menarik sesuatu dari arah lehernya. Dan yang lebih membuatku terkejut, kulitnya ikut tertarik. Aku pun teriak histeris, karena wajahnya juga ikut tertarik.
'Jacob!'
Yah, ia memakai topeng dan menyamar menjadi Key. Ternyata, ia hanya berbohong padaku. Aku sudah mengikuti perintahnya, tapi ia malah berkhianat.
"Biarkan Ms. Adel pergi!" teriak Armin.
Dorr...
"Armin!"
Aku langsung berlari ke arah Armin yang akan ambruk karena Jacob menembaknya.
'Shit! Sebenarnya apa yang terjadi?'
"Armin! Wake up! Wake up! Please!" Aku menepuk pipi Armin berulang kali. Tapi, usahaku hanya sia-sia saja.
Aku mencoba menekan bagian dadanya untuk memicu jantungnya bekerja lagi, dan juga ia sudah hampir kehabisan nafas.
Aku menangis sIm. Kenapa semua orang yang berusaha melindungiku, harus terluka seperti ini?
"Ikut aku!" Jacob mencoba menarikku.
"You are a loser! Kau boleh membunuhku, tapi jangan Armin! Ia tidak mengetahui apa-apa tentang masalah ini," ucapku sambil melepaskan cengkeramannya yang kuat.
"Aku memang akan membunuhmu, tapi tidak sekarang," ucapnya sambil menyeringai.
"Kau bilang ia tidak ada hubungannya dengan semua ini? Waktu itu, sedikit lagi kau akan mati. Tapi, supir sialan ini malah menolongmu."
"Semoga Tuhan cepat mengutukmu!"
"Padahal jika kau mati, Lirya bisa dengan mudah kembali pada Key, dan aku bisa dengan mudah mengetahui rahasia perusahaannya."
Ia menarikku paksa, kemudian menggendongku ala Bridal Style. Aku terus memukul dadanya, sedangkan ia malah tertawa dengan keras.
"Tolong! Tolong!" Aku berusaha teriak, meskipun sedikit kemungkinan ada yang mendengarkanku.
to be continue...