All In My Head

All In My Head
BAB 13



AUTHOR POV


Belum sempat ia melanjutkan kalimatnya lagi, Key sudah lebih dulu membungkam bibir nya. Reflek Adel memejamkan matanya. Tangan Key merayap ke pinggang ramping Adel dan membuat baju Adel sedikit terangkat. Sedangkan satunya lagi ia gunakan untuk membuka kancing atas baju Adel, namun tangan Adel menahan tangannya untuk mengurungkan niatnya itu. Adel melepaskan ciuman Key dengan ibu jarinya.


"Maafkan aku Key, aku tidak bisa melakukan ini." Pandangannya teralihkan ke arah jendela kamar.


"Jadi, apa kau mencintaiku?" tanyanya lagi sambil menarik dagu Adel untuk menatap binar matanya.


"Aku tidak bisa menjawabnya sekarang Key," jawab Adel sambil menatap mata Key lekat-lekat.


"Em baiklah, aku juga tidak berharap kau mencintaiku. Jadi kau tidak perlu menjawabnya." Key beranjak keluar dari kamar Adel. Adel hanya bisa melihat punggung kokohnya yang membelakanginya.


'Andai saja kau bisa membaca pikiranku, pasti kau tahu betapa sulitnya jadi diriku. Aku tau, kau juga tidak mencintaiku sepenuhnya. Jadi percuma saja ku katakan padamu yang sebenarnya.'


Ia menghapus airmatanya, dan segera bersiap-siap untuk pulang ke apartemennya. Adel menuruni anak tangga, dan menuju ruang tengah rumah Cathrine untuk berpamitan.


"Kau mau kemana?" Tanya Cathrine ketika Adel menghampirinya di ruang tengah.


"Aku mau pulang Cath," jawabnya.


"Yah Adel, kenapa kau tidak menginap saja malam ini di sini?" Cath memanyunkan bibirnya.


Adel melirik ke arah Key, namun Key sepertinya tidak peduli dengan kehadiran Adel. "Aku sudah sering menginap di sini Cath. Aku juga belum mengerjakan tugas kuliah."


"Kita kan bisa mengerjakannya bersama di sini. Ayolah Adel." Rengeknya memohon pada Adel.


Dada Adel terasa sesak kembali, ketika Key masih juga tidak peduli dengan kehadirannya. Ia sangat ingin berpamitan dengan Key, tapi ia tahu bahwa Key pasti sudah marah padanya karena tadi.


"Maafkan aku Cath, lain kali saja aku menginap disini lagi."


"Yah Adel." Cathrine memanyunkan bibirnya.


"Supirku akan mengantarmu," imbuhnya sembari mengambil ponselnya untuk menghubungi supirnya yang sedang berada di pos security.


"Tidak usah Cath, aku akan naik taxi saja. Bye Cath, good night."


"Kalau begitu aku akan mengantarmu sampai depan."


Tawar Cathrine untuk menghantar Adel sampai ke pintu pagar rumahnya.


Adel melirik lagi ke arah Key yang masih fokus menatap layar televisi. Sepertinya tidak ada harapan lagi untuknya menunggu Key menyadari keberadaanya.


Baru saja mereka ingin melangkah menuju pintu rumah, Key membuka suara. "Biar aku saja yang mengantarmu."


Adel mengerjapkan matanya beberapa kali. Sepertinya ia bermimpi, tapi kenyataannya tidak. Ia membalikkan tubuhnya, sehingga ia dapat melihat Key beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke arahnya.


Ia menarik tangan Adel, sedangkan Cathrine hanya terkekeh sambil melambaikan tangan ke arah Adel.


"Help me Cath," bisiknya dari jauh.


"Good Night Adel."


Key melepaskan genggamannya, ketika mereka sampai di depan pintu mobilnya. Ia menatap lekat-lekat binar mata Adel, rahangnya kembali menegas.


"Kau pikir, kau akan aman jika pulang sendirian, heh?"


"Aku bisa jaga diri sendiri Key. Jadi berhentilah mengkhawatirkanku," jawabnya dengan nada melemah.


"Dasar keras kepala! Masuklah, kau pikir aku akan percaya denganmu. Bila pria tadi menculikmu lagi, bagaimana?"


Adel menuruti perkataan Key untuk masuk ke dalam mobil.


****


Di kota yang sama namun tempat yang berbeda, seorang pria sedang merutuki dirinya sendiri. Tulang pipinya masih terasa perih dan bengkak, warna biru lebam menghiasi lengannya. Air mata mengalir dari pelupuk matanya, sedangkan keringat terus bercucuran dari dahinya.


'Arggh! Ada apa denganku?' Ia sedang bertengkar dengan batinnya sendiri.


Sekarang ia baru sadar dengan apa yang telah ia perbuat. Ia menyesal sudah menyakiti hati Adel. Padahal ia sendiri tahu bahwa Adel mencintainya dengan setulus hati.


Flashback


"Adel, boleh aku pinjam ponselmu? Baterai ponselku habis, jadi aku tidak bisa menghubungi temanku."


"Oh ini," kata Adel sembari memberikan ponselnya pada Richard.


Adel meninggalkan Richard duduk sendirian di bangku taman. Richard terus menghubungi ponsel temannya, namun tetap tidak diangkat. Akhirnya, ia pun frustasi dan berhenti menghubungi temannya.


Sebelum ia mengistirahatkan layar ponsel Adel, aplikasi bertuliskam memo menarik perhatiannya. Ia pun membuka aplikasi memo Adel. Secara tidak sengaja, jarinya menyentuh salah satu memo Adel, ia pun membaca memo itu.


'Dear Mr. R. Hari ini aku senang sekali. Mungkin pemberian sebuah sapu tangan itu adalah hal yang biasa bagimu, tapi....'


Belum sempat Richard membaca sampai selesai, Adel sudah dekat dengan jarak duduknya.


"Untukmu." Adel menyuguhkan segelas kopi panas padanya.


"Terima kasih untuk kopimu, tapi sebenarnya aku sudah minum kopi di tempat kerja tadi."


"Anggap saja ini sebuah perayaan, hem."


Richard kembali mengingat kalimat yang sempat ia baca tadi. 'Sapu tangan?' Sebelumnya, Richard memang pernah memberikan Adel sebuah sapu tangan karena ia sedang mimisan. Dan untuk kata 'Mr. R' sepertinya firasat Richard memang benar, Adel juga menyukainya.


Ia senang mengetahui hal itu, akan tetapi kegelapan itu menguasai dirinya lagi. Ia memang menyukai Adel, namun bagimana dengan kegelapan yang selalu menguasainya. Ia takut jika Adel mendekatinya, Adel akan terjerumus dalam kegelapan itu.


Flashback end


Sudah sejak lama ia berusaha mengontrol kegelapan yang ada dalam dirinya, namun gagal. Dan sekarang, Adel pasti sudah sangat marah padanya.  'Aku tidak boleh tinggal diam seperti ini. Aku akan menemuinya besok.' batinnya. 


***


Tomorrow


Selama bekerja tadi, Adel selalu menghindari Richard. Padahal Richard, sendiri sudah menyampaikan pesannya kepada temannya yang lain untuk memberitahu Adel. Namun, Adel sendiri tidak berbicara sama sekali pada Richard. Sampai waku pulang pun, Adel tetap tidak menggubrisnya.


"Adel, bisa kita bicara sebentar?" tegurnya, ketika Adel keluar dari pintu belakang restoran tempatnya bekerja. Richard sedari tadi memang sudah menunggu Adel keluar.


Tidak ada sahutan dari Adel, ia terus saja berjalan tanpa menoleh pada Richard. Hanya sebuah amarah yang ia rasakaan saat bertemu dengan Richard.


Ia berjalan mendekati Adel dan memegang lengan Adel.


"Adel dengarkan, aku..."


"Stay away from me!" Adel menghentakkan tangannya, sehingga tangan Richard tersingkir dari lengannya.


"Adel, kumohon dengarkan....."


"Kau tidak dengar apa yang dia katakan, heh?" tegur Key yang muncul dari balik bayangan mobil.


"Key?" Adel memastikan bahwa pandangannya bukanlah sebuah mimpi.


Key berjalan menghampiri mereka berdua. Suasana menjadi sedikit tegang, hanya suara angin dan suara hentakan dari sepatu Key saat ini yang terdengar.


"Bukan urusanmu. Dan siapa kau?" tanyanya dengan nada menantang.


"Aku, Key Armstrong Haynswort. Akhirnya, keinginanku untuk bertemu pria brengsek sepertimu, tercapai juga. Nice to meet you," jawab Key ketika wajahnya sudah terpampang jelas.


"Apa urusanmu denganku, heh?"


"Hahaha, sepertinya kau cepat sekali demensia. Kau tidak ingat tentang kejadian kemarin, heh!"


"Lalu, apa hubungannya kau dengan masalah ini? Ini adalah masalahku dengan Adel."


Rahang Key kembali menegas, matanya sedikit memerah, wajahnya penuh sekali dengan amarah yang menggebu-gebu. Ia ingin sekali memukul wajah Richard yang baru saja Adel tinju kemarin, namun ia mencoba untuk bersabar.


"Kau telah mematahkan hati kekasihku, bro!" Senyum simpul terlukis di  wajah tampan Key.


'Kekasih? Bukankah Adel menyukaiku?' batin Richard. Ia merasa malu saat ini, mengingat ia terlalu yakin bahwa Adel memang menyukainya.


"Key! Apa kau tidak sadar bahwa yang kau katakan itu adalah hal yang gila!" batin Adel. Ia sedang berperang dengan pikirannya saat ini.


Key menarik tangan Adel, sehingga tubuh mereka merapat. Ia langsung memberikan ciuman panas di bibir Adel. Seperti biasa, tubuh Adel reflek terhentak dan bulu kuduknya kembali berdiri, ketika tangan Key menyentuh pinggangnya. Key sama sekali tidak memberinya kesempatan untuk bernafas.


Richard meninggalkan mereka berdua dengan perasaan bercampur aduk. Marah, malu, dan penyesalan telah memenuhi perasaannya saat ini.


Adel mendorong keras dada Key, sehingga ciuman mereka terhenti. "I hate you, Mr. Haynsworth!" Adel memukul keras dada Key, lalu berlari pulang meninggalkan Key.


'Kenapa kau selalu menyakiti hatiku Key?'