All In My Head

All In My Head
BAB 24



Key POV


3 pm


Aku mendengus nafas kesal dan menggaruk kepalaku kasar, karena pekerjaanku tak juga selesai. Aku menerima kabar bahwa perusahaanku yang berada di New York sedang mengalami masalah. Meskipun hanya masalah kecil, tapi membutuhkan waktu yang sangat lama untuk mengurusnya.


'Oh shit!'


Aku hampir saja lupa, bahwa Adel sedang sendirian di rumah. Seharusnya aku membawanya ke penthouseku sebelumnya, karena Wendy dan Luci bisa merawatnya. Lebih baik aku menghubunginya dulu.


"Hallo Key," jawabnya dari seberang sana. Seketika, mood ku  mulai membaik setelah mendengar suaranya.


"Em Adel, bersiaplah sekarang! Aku akan menyuruh Armin untuk mengantarkanmu ke penthouse yang kemarin, biar Wendy dan Lucy bisa merawatmu."


"Kenapa tiba-tiba?"


"Tidak apa. Hanya saja, aku tidak mau kau sendirian."


"Tenang Key, aku bersama dengan Cathrine sekarang, jadi kau tidak perlu khawatir padaku."


"Hey Key! Jangan lupa berikan aku gaji!" teriak Cathrine dari seberang sana sambil tertawa keras.


"Yah! I know! Berikan ponsel Adel!"


"Kapan kau pulang?" tanya Adel lagi.


"Aku rasa sebentar lagi. Kau pasti merindukanku hem?"


"Sangat, " jawabnya sambil terkekeh.


"Sampai bertemu nanti"


Adel memutuskan sambungan, dan aku kembali fokus untuk menyelesaikan pekerjaanku. Aku jadi tidak sabar untuk segera bertemu dengannya.


***


4 pm


Sudah satu jam berlalu, akhirnya semua pekerjaanku bisa kuselesaikan.  Aku segera membereskan semua berkas yang ada di atas mejaku, meskipun aku memiliki asisten yang bisa membereskan mejaku.


Aku menjadi sedikit gelisah dan merasa bahwa akan terjadi sesuatu yang buruk. Tapi aku langsung membuang firasat buruk ini. Kemudian berjalan ke arah pintu. Sebelum aku mendekati pintu, pintu itu sudah terbuka, dan menampilkan seorang wanita sexy di luar sana.


"Key!" teriak Kate, sambil berjalan masuk.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanyaku ketus.


"Hey honey! Apa kau tidak merindukanku?"


"Maaf, sama sekali tidak. Aku mau pulang, jadi keluar lah dari ruanganku sekarang!" bentakku padanya.


Meskipun awalnya aku rela menjadi pacarnya karena kebutuhan bisnis dan misi, tetap saja aku tidak akan pernah merasa menjadi pacar sungguhannya. Yah, aku memang pria yang jahat bagi wanita sepertinya.


"Ayolah Key, kau tidak usah menolakku lagi. Lebih baik kita ke bar, agar pikiranmu bisa tenang," ucapnya sambil menarik-narik dasiku dan mengelus jasku.


Karena high heels yang dipakainya cukup tinggi, membuat tingginya terlihat sama denganku. Ia pun dengan bebas memainkan rambutku, bahkan mencoba untuk mendapatkan ciumanku. Meskipun dulu aku juga pernah bercumbu dengannya.


Aku langsung mendorongnya agar menjauh dariku, dan menyingkirkan tangannya dari wajahku. Ia hanya tersenyum nakal, dan kembali mendekatiku sambil melingkarkan tangannya di leherku. Ia memberikan ciuman di leherku, membuatku merasa geli.


'Sadar Key! Kenapa kau menjadi lemah seperti ini!' Aku pun langsung sadar, dan menyingkirkan wajahnya dari arah leherku.


"Cukup Kate! Aku tidak mau membuang waktuku untuk wanita sepertimu!"


"Oh Key, kenapa kau berubah seperti ini?" tanyanya sambil mengelus dadaku yang tertutup kemeja dan jas.


Aku langsung menariknya kasar keluar dari ruanganku.


"Maaf Tuan, wanita ini bersikeras untuk menemui Anda. Dan juga..." aku langsung memotong perkataan Alsey, sekertarisku.


"Ini bukan salahmu Al. Wanita ini memang tidak tau malu."


Tak lama kemudian, security datang dan aku menyuruh mereka untuk segera membawa Kate keluar dari kantorku.


***


Aku membuka pintu penthouseku dan masuk. Suasana penthouse sangat sepi, karena memang hanya ada Adel di sini. Aku pun langsung mencari Adel.


"Adel!" teriakku.


Ia tidak menyahuti teriakanku. Aku berjalan ke kamar untuk mencarinya. Tapi hanya sia-sia mencarinya di kamar, karena ia tidak berada di kamarnya. Aku mengambil ponselku dari saku celanaku, dan menghubungi ponselnya.


Tapi usahaku juga sia-sia saja, karena Adel tidak membawa ponselnya. 'Kemana dia?' Aku berjalan lagi ke luar kamar.


Ceklek...


Aku menoleh ke arah pintu depan, dan mendapati Adel melangkah masuk. Aku menampilkan senyumku padanya, sambil melangkah mendekatinya. Namun balasan yang kudapatkan hanya wajah datarnya yang terlihat masih sedikit pucat.


Baru saja aku ingin mencium keningnya, ia langsung mendorong dadaku pelan. Aku jadi bingung melihat tingkahnya yang tidak biasa. Mungkin saja ia sedang lelah sekarang.


"Lebih baik kau ganti baju dulu! Aku sudah menyiapkan makan malam untukmu. Aku ingin istirahat dulu di kamar," ucapnya tanpa senyuman di wajahnya.


"Adel!" Aku menahan lengannya ketika ia ingin melangkah ke kamarnya.


"I'm okay," jawabnya datar, kemudian melangkah masuk ke kamarnya dan mengunci pintu.


'Mungkin dia sedikit bosan,' pikirku.


Aku pun melangkah masuk ke kamar yang lainnya untuk berganti baju dan istirahat sejenak, meskipun awalnya aku sekamar berdua dengan Adel.


***


8 pm


Sudah 3 jam berlalu, namun Adel tidak juga keluar dari kamarnya. Aku juga bingung pada diriku sendiri, karena aku sama sekali tidak berani bertanya lagi padanya.


'Apa dia marah karena aku terlalu lama pulang?'


Dengan penuh keberanian, aku mengetuk pintu kamarnya. Berharap ia tidak terlihat murung lagi seperti tadi.


Tok...tok...


Ceklek...


Aku langsung terkejut ketika ia membuka pintu. Ia pun terlihat terkejut sepertiku.


"Ada apa?" tanyanya dengan nada tegas.


"Tidak apa, hanya saja aku penasaran padamu. Karena sejak tadi, kau tidak keluar kamar. Bahkan juga tidak makan malam."


"Aku sedang menyelesaikan tugas akhirku. Aku sudah lebih dulu makan."


Aku hampir saja lupa, bahwa ia akan wisuda sebentar lagi. Sudah paeti ia menjadi stress dan mulai sibuk. Baru saja aku ingin menciumnya, ia langsung memalingkan wajahnya dari hadapanku.


"Aku ingin melanjutkan tugasku," ucapnya lalu menutup pintu kamarnya.


Aku masih terdiam di depan pintu kamarnya, sebelum akhirnya aku masuk ke kamarku sendiri.


'Semoga ia tidak marah lagi besok.'


***


9 am


Aku memang berencana untuk tidak masuk kerja hari ini. Meskipun aku tidak berniat bangun kesiangan, tapi nyatanya aku bangun kesiangan. Aku segera keluar kamar untuk menemui wanita cantik yang menghuni di kamar sebelah kamarku.


Pintu kamarnya terbuka, dan ini kesempatanku untuk masuk diam-diam ke kamarnya. Tapi, yang ku lihat hanyalah tempat tidur yang sudah terlihat rapi, dan tidak ada dirinya.


Aku berjalan menuju dapur, berharap ia berada di sana. Akan tetapi, ia juga tidak ada di dapur. Aku mencium aroma makanan, dan aku langsung menuju meja makan.


Ternyata benar, Adel sudah memasak. Aku kembali ke dapur untuk memastikan Adel menuliskan sebuah surat yang bisa memberiku petunjuk tentang Adel. Namun ia sama sekali tidak meninggalkan pesan apapun.


'Kenapa ia tiba-tiba berubah seperti ini?'


Aku mengambil ponselku dan langsung menghubungi Cathrine, memastikam bahwa ia memang pergi kuliah.


"Hallo."


"Cath, apa kau tau dimana Adel?"


"Dia ada di perpustakaan. Aku akan menghubungimu jika ia sudah kembali nanti."


"Jangan beritahu dia bahwa aku sedang mencarinya. Aku akan kesana sebentar."


"Hey, kalian sedang ada masalah?"


"Akan kuceritakan nanti."


Aku memutuskan sambungan, kemudian beranjak ke kamar mandi untuk mandi. Kemudian bersiap pergi ke kampus.


***


"Cath, dimana Adel?" tanyaku ketika aku baru saja sampai di kantin menemui Cathrine.


"Sudah sejak tadi, ia masih di perpustakaan. Aku ingin menyusulnya tadi, tapi aku masih harus menyelesaikan tugasku."


"Kalau begitu, aku akan pergi menyusulnya."


Aku berjalan meninggalkan kantin dan menuju perpustakaan. Semua wanita melihatku, namun aku tetap tidak menghiraukan mereka.


Perpustakaan sangat sepi saat ini. Baguslah, jadi aku lebih mudah untuk mencarinya. Kebetulan, penjaga perpustakaan juga sedang tidak ada, jadi aku bisa leluasa masuk ke dalam.


Baru saja aku berjalan di antara rak buku pertama, aku sudah menemukannya. Ia sedang tidur sambil duduk di lantai perpustakaan ini. Aku tersenyum melihatnya tertidur pulas seperti itu.


Aku menggendongnya ala Bridal Style, dan mendudukannya di kursi dengan posisi kepalanya yang terbaring di atas meja. Aku memandangi wajahnya yang sangat cantik ketika tertidur seperti ini. Meskipun aku sering memandangi wajahnya ketika tidur, tapi tetap saja aku tidak pernah bosan memandanginya.


Aku mengelus rambutnya pelan, kemudian mengecup keningnya. Aku menopang kepalaku dengan tangan kiri dengan posisi masih memandanginya.


'Apa sebenarnya yang kau sembunyikan dariku?'


to be continue...