All In My Head

All In My Head
BAB 43



Lirya POV


Flashback


Jahat?


Yah, aku tau bahwa aku memang orang yang jahat. Tapi, aku melakukan semua itu bukan tanpa alasan.


Pendendam?


Tidak, aku bukan orang yang pendendam.


Trouble Maker?


Aku tahu, semua orang pasti memikirkan tentang hal itu terhadap diriku.


Biar aku ceritakan sedikit tentang kisahku.


Aku hidup di keluarga yang jauh dari kata kekacauan. Aku hidup tentram, damai, dan bahagia bersama keluargaku. Termasuk dia, yang membuat hidupku penuh dengan kebahagiaan.


Aku hanya berasal dari keluarga sederhana. Tidak seperti Key, yang terlahir sebagai keturunan milyuner.


Saat itu, aku bertemu dengannya saat aku diperintahkan menjalankan sebuah misi. Kebetulan, dia adalah rekan kerjaku untuk menjalankan sebuah misi. Dia menyatakan perasaannya padaku, dan kami pun menjadi sepasang kekasih.


Keluarga Key menganggapku sebagai keluarga mereka sendiri. Dan aku terkadang menangis ketika mengingat kebaikan mereka itu.


Tapi, kisah cintaku tidak bertahan lama dan semua menjadi hancur berantakan. Semenjak Johnny Borrowsky, seorang kriminal yang sedang diburu itu, mengetahui identitasku yang sebenarnya adalah seorang detektif.


Tidak hanya mengetahuiku sebagai anggota agen rahasia saja, melainkan sebagai kekasih Key. Siapa yang tidak mengenal keluarga Haynsworth? Salah satu keluarga terkaya di Inggris, dan menjadi incaran banyak orang untuk menjatuhkan perusahaan itu.


Tapi, usaha mereka hanya sia-sia. Karena, Key adalah seorang detektif yang sangat cerdas, dan bisa mengetahui siapa saja yang berusaha menjatuhkan perusahaannya.


Johnny Borowsky adalah salah satu dari sekian banyak penjahat yang ingin memburu Key. Ia menghilang semenjak dirinya diketahui menjalankan bisnis persenjataan secara ilegal, narkoba, dan kejahatan lainnya.


Saat itu, ia dan beberapa anak buahnya menculikku dan membawaku ke sebuah gudang tua. Ia mengajakku untuk bekerja sama dengannya untuk mengintai perusahaan lain, termasuk Key. Ia juga mengancamku untuk membunuh Key, dan anggota keluargaku, jika aku tidak menyetujuinya.


Dengan berat hati, aku pun menerima tawarannya. Aku lalu berpura-pura pada Key bahwa aku tidak mencintainya lagi, dan lebih mencintai pekerjaanku.


Aku juga merasakan frustasi seperti yang dia alami saat itu. Aku merasa bahwa ia menganggapku sebagai bayangan hitam dalam pikirannya, dan aku menerima pernyataan itu.


Memata-matai perusahaan Key tidaklah muda, karena ia sendiri sangat terlatih dalam urusan ini. Aku pun berpura-pura sedang mengintai perusahaan Key. Meski begitu, aku tetap saja merasa menjadi seorang pecundang, dan bukan sebagai superheronya.


Aku juga mencari berbagai cara agar diriku tidak dicurigai karena telah berbohong. Seperti, menjebak anak buah Johnny, dan hidup mereka pun berakhir tragis. Aku tau bahwa aku jahat, tapi aku akan lebih jahat jika berkhianat lagi pada Key.


Seiring berjalannya waktu, Johnny terlihat frustasi dan akhirnya menghentikan pengintaiannya terhadap Key. Aku pun merasa sedikit lega, ketika aku tau bahwa Key juga akhirnya kembali ke Inggris.


Aku yang cukup lega karena penghentian melakukan pengintaian terhadap Key, harus kembali menelan air liurku yang terasa pahit ini. Johnny melakukan cara yang berbeda untuk menjebak Key.


3 tahun telah berlalu, dan aku akan kembali lagi kehadapan. Aku pun akan dipandangnya sebagai wanita murahan. Yah, Johnny menginginkanku untuk menggoda Key lagi.


Malam itu, aku tidak sengaja bertemu dengan Key. Aku sangat rindu padanya, apalagi manik matanya yang berwarna Hazel itu. Meskipun aku tau, bahwa ia pasti sangat membenciku.


Saat itu juga, aku melihat wanita cantik yang bernama Adelaide itu. Ia cantik, cerdas dan juga orang yang sabar. Dan untuk kesekian kalinya, aku merasa sangat berdosa karena telah mengganggu hubungan mereka.


Tidak semudah itu, Johnny menjebak Key dengan mengirimku. Aku tau bahwa Key sudah lebih dulu tau gerak-gerikku yang sedang mengintainya. Aku ingin memberitahu pada Key yang sebenarnya, tapi nyawa keluargaku sedang terancam.


Sampai pada saat melakukan pembunuhan pada Adelaide, kekasihnya. Saat itu, aku tidak sembarangan mendorong tubuhnya. Aku sudah melihat ada pohon yang tumbuh di pinggir tebing, dan sudah pasti ia akan tersangkut di pohon itu. Ternyata memang benar.


Namun, secara diam-diam aku menghubungi Sugar. Sugar adalah tetanggaku dulu di New York. Ia pindah ketika kami lulus sekolah tingkat akhir. Tentu saja, hubungan kami tidak terputus sampai disitu saja.


Aku minta tolong padanya untuk melindungi Adel. Karena aku tau, bahwa Key sangat mencintai dirinya. Tanpa sepengetahuan Adel, aku dan Sugar sering berkomunikasi dan mencoba melindungi nyawanya.


Meskipun aku sempat berpura-pura marah padanya, ketika ia dan Sugar menyamar menjadi pelayan. Aku sengaja melakukan semua ini, karena aku memang pantas untuk dibenci.


Selanjutnya, terkait cheat itu. Aku menyamar untuk bekerja di sebuah perusahaan yang isinya adalah penghuni neraka sepertiku dan Johnny. Sesama ********, tapi saling menjatuhkan. Memang terlihat bodoh.


Saat Key mengambil cheat itu, ternyata penyamaran mereka telah terbongkar. Aku pun terpaksa untuk menemui Adel lagi. Jika tidak, Johnny akan mengetahui yang sebenarnya.


Kebenaran bahwa aku malah melindungi mereka semua.


Tapi, Aku siap untuk dipenjara atau dihukum mati, karena perbuatanku.


Flashback end


Aku bangun dari lamunanku, dan keluar dari semua masa laluku yang sangat mengerikan itu. Mengerikan bagiku, dan juga orang lain. Banyak orang lain yang hancur karena perbuatanku. Sampai-sampai, aku tak sadar bahwa airmataku mengalir begitu saja ketika mengingat itu semua.


Aku segera mengambil ponsel, dan mendapati sebuah panggilan dari ******** itu.


"Hallo."


"Aku sudah tidak sabar melihatnya menderita. Jadi, aku menyebarkan isu tentang pernikahanmu yang akan dimajukan."


"What? Kenapa kau tidak membicarakan hal ini padaku?" ucapku dengan kesal.


"Ikuti saja perintahku, dan segera ambil cheat itu. Jangan lupa hubungi para wartawan untuk meramaikan suasana di sana."


"Aku..."


Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, ia sudah lebih dulu memutuskan sambungannya. Aku mengepalkan tanganku, dan melempar ponselku entah kemana.


***


"Lirya!" teriaknya padaku, ketika ia tiba di ruangannya sendiri.


"Oh Key! Ternyata kau datang lebih cepat dari yang aku kira?" tanyaku.


Aku tahu, bahwa kau pasti akan membenciku, Key. Tapi aku tidak peduli lagi. Karena aku akan menyelesaikan semua perbuatanku ini. Dan aku akan membayar hutangku pada Adel, dengan cara menyatukan mereka kembali di depan publik.


"Berhentilah bermain-main, Lirya! Aku tidak suka dengan semua ini. Dan juga, untuk apa kau mengumumkan pada publik bahwa aku akan memajukan tanggal pernikahan, heh!" bentaknya padaku.


"Apa kau takut Key?" tanyaku, yang membuatnya kesal.


"Kau hentikan, atau aku...."


Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, aku lebih dulu memotongnya.


"Atau apa Key? Membongkar semua rahasiaku?" tantangku.


"Bukan hanya kau, tapi juga perusahaannmu," jawabnya dengan nada menantang juga.


"Kau tidak akan bisa melakukannya sayang." Aku maju mendakatinya, dan memainkan dasinya.


"Jika sampai kau melakukannya, aku tidak tau apa yang akan terjadi dengan teman kekasihmu," bisikku padanya.


Seperti dugaanku, ia pasti mendorong tubuhku kasar.


"Apa yang kau lakukan pada Sugar, heh?"


Aku berpura-pura tertawa keras, padahal sebenarnya aku ingin menangis. 'Tidak mungkin, aku melukai sahabatku sendiri Key,' batinku.


"Berikan cheat itu padaku, lalu menikahiku. Dan setelah itu, aku akan membebaskannya," tawarku untuk meyakinkannya.


Ia mengepalkan tangannya kemudian berjalan menuju meja kerjanya Lalu, membuka beberapa laci di meja kerjanya.


"Ambil ini! Dan lepaskan Sugar!" bentaknya.


"Nice!"


"Jika kau berbohong, aku tidak....."


"Besok adalah hari pernikahan kita, Key. Aku sudah mempersiapkan semuanya, meskipun terlalu mendadak. Tapi, kau tidak perlu khawatir. Dan satu lagi, kau tidak akan punya bukti apapun untuk menuduhku sebagai penyebab kematian Adel. So, bersiaplah untuk besok!"


Aku segera keluar dari ruangannya. Karena aku sudah tidak sanggup mengatakan kebohongan lagi di depannya. Aku harap, ucapanku tadi sudah bisa membuktikan bahwa aku memang pelaku pembunuhan Adel.


Seperti dugaanku, Key sengaja memancing amarahku untuk mengatakan yang sebenarnya. Dan, ia pikir aku tidak tau bahwa ia sedang merekam suaraku. Tapi ia salah, kenyataannya aku lebih tau darinya.


.


.


.


.


.


To be continue,,,