
Author POV
Key sedang terburu-buru masuk ke dalam Restoran, karena ia sudah telat 30 menit untuk makan malam bersama Adel.
"Good Evening, Mr. Haynsworth. Ms. Adel sudah menunggu Anda sejak tadi."
Resepsionis itu pun menuntun Key menuju meja yang sudah sejak tadi Adel menunggunya. Setelah menghantarkan Key, resepsionis itu pun undur diri dan kembali ke meja resepsionis.
Sebelum menemui Adel, ia lebih dulu merapikan dasi dan kerah baju, serta jasnya. Karena sedikit berantakan ketika ia berlari masuk ke dalam Restoran tadi.
"Maaf, membuatmu menunggu terlalu lama," ucapnya ketika ia sudah di kursi makan yang berhadapan langsung dengan Adel.
Tidak seperti dugaannya, Adel malah tampak tidak terkejut sama sekali ataupun tersenyum. Adel hanya menampakkan wajah datarnya, dan sedikit menolak untuk menatap mata Key.
"Apa kau marah?"
Adel memalingkan wajahnya menghadap Key. Matanya terlihat berkaca-kaca, namun wajahnya tidak menampakkan kesedihan.
"Aku yang seharusnya minta maaf padamu Key."
Kalimat Adel membuat sebongkah pertanyaan mendatangi Key. Baru saja Key ingin menyentuh telapak tangannya, ia langsung menarik tangannya. Alis Key tampak mengkerut, matanya terlihat sedikit terkejut.
"Aku tau bahwa kau marah padaku, tapi...."
"Mulai hari ini kita putus Key! Aku tidak ingin memiliki hubungan apapun denganmu."
Adel langsung beranjak dari tempat duduknya. Sedangkan Key, masih duduk sambil memikirkan kalimat yang baru saja diucapkan Adel.
'Sadar Key! Cepat bangun dan kejar dia!' Suara di benak Key seakan mengetuknya untuk segera sadar dan mengejar Adel sebelum pergi terlalu jauh.
"Adel!" Key menggapai tangan Adel.
Adel memalingkan wajahnya dari Key. Ia tidak ingin memperlihatkan tangisannya dihadapan Key. Suara gemuruh di langit semakin membuat tubuh Adel bergetar dan merinding.
'Please! Jangan tanya lagi padaku Key!' batinnya.
"Tell me Why!"
"Just let me go, Key!"
Ia mencoba melepaskan cengkeraman Key. Namun usahanya hanya sia-sia, karena Key semakin memperkuat cengkeramannya. Ia pun meringis kesakitan.
Tak lama kemudian, rintikkan air pun jatuh dari langit. Tangisan Adel saling bersahutan dengan suara gemuruh di langit. Key yang tidak bisa membendung air matanya lagi, akhirnya jatuh membasahi pipinya bersama rintikkan gerimis.
Ia melonggarkan cengkeramannya. Adel yang merasa telah dibebaskan pun, langsung berlari menjauh dari hadapan Key. Sambil memegang perutnya dan mengusap airmatanya, ia terlihat berjalan tidak seimbang.
***
Key memesan cukup banyak minuman alkohol, namun tak sedikit pun ia meneguknya. Ia hanya terfokus pada gelas di atas meja bar itu. Banyak wanita yang mencoba menggodanya, namun tak satupun wanita yang berhasil menyadarkannya dari lamunannya.
Ia masih bingung dengan tingkah Adel yang terlalu cepat berubah. Apa dia harus selalu kehilangan wanita yang sangat ia cintai. Atau ia selalu salah mencintai seseorang.
Tak lama kemudian, seorang wanita mengelus pundak tegasnya perlahan. Ia merasa sangat tidak nyaman, dan ia pun langsung menarik tangan wanita itu.
Wanita itu tersenyum lebar. Moodnya yang tadinya kurang baik, menjadi semakin memburuk setelah melihat sosok wanita yang mengelus pundaknya baru saja.
"Stay away from me!" tegasnya.
"Padahal aku baru saja ingin mengunjungi rumahmu, karena aku ingin minta maaf soal pena tadi. Aku tidak bermaksud untuk mengintaimu. Dan kebetulan sekali, aku menemukanmu di sini."
Ia masih diam, tidak menanggapi ucapan Lirya. Lirya sedikit kesal dibuatnya. Ia pun mengangkat pandangan Key ke wajahnya. Lalu mengecup sekilas pipi Key.
"Sorry," bisiknya.
Ia mencoba menuntun Key untuk masuk ke dalam mobil Key. Meskipun Key sama sekali tidak dalam keadaan mabuk.
Di sisi lain, seorang wanita sedang meringis kesakitan, sambil memegang perutnya. Sakit yang berasal dari luka di hatinya dan raganya.
Masih menahan darah yang terus saja mengalir di hidung dan perutnya. tanpa henti. Wajahnya sangat pucat, dan tubuhnya bergetar karena air hujan yang membasahi pakaiannya bersama dengan airmatanya yang sedari tadi masih terus mengalir deras. Kakinya sedikit lecet karena ia berjalan dengan heels.
Tidak ada yang bisa menolongnya saat ini. Hujan deras membuat orang enggan untuk keluar dari rumah mereka. Ia hanya duduk sendirian di depan ruko yang sudah tutup sejak petang tadi.
Perlahan ia mulai merasakan pusing. Tubuhnya seakan ingin terjatuh begitu saja. Sebelum tubuhnya tumbang ke lantai yang dingin, sebuah tangan kokoh menopang tubuhnya. Namun, pandangannya lebih dulu kabur sehingga ia tidak bisa melihat jelas wajah pria itu.
***
06:00 AM
Perlahan ia membuka matanya, lalu mengerjapkan matanya beberapa kali. Perutnya masih terasa sedikit perih.
'What is happening to me?' batinnya.
Ia melirik ke tangan kirinya yang terasa perih. Ia terkejut karena mendapati imfus melekat di tangannya.
Ceklek...
Adel pun menoleh ke arah pintu itu. Dan melihat seorang pria yang sudah tidak asing lagi baginya.
"Armin?"
"Ms. Adel, ternyata kau sudah sadar. Kalau begitu, aku akan memanggil dokter dulu," ucapnya sebelum ia keluar lagi dan memanggil dokter untuk memeriksa Adel.
Tak lama kemudian, dokter pun masuk ke dalam ruangan untuk memeriksanya.
"Ms. Adel, kau harus dirawat sekitar 2 hari lagi. Karena jahitan di perutmu belum sepenuhnya kering."
"Aku baru pertama kali menemukan luka di perut sepertimu. Sepertinya bukan luka karena pisau atau senjata api," ucap dokter yang memeriksanya sebelum keluar.
'Oh God, ini semua pasti benda yang ditusukkan oleh Jacob padaku.'
Armin mendekat ke tempat tidur Adel.
"Kau merasa sedikit baik?"
"Yah, aku rasa begitu. Em, bagaimana bisa kau menemukanku?"
Armin pun menceritakan kejadian awal ia bisa bertemu dengan Adel. Saat itu, ia ingin pergi ke apotik. Karena jalan pintas terlalu ramai, ia memutuskan untuk mencari jalan lain. Meskipun memakan waktu yang lama untuk sampai ke apotik.
"Aku menepi sebentar karena temanku menghubungiku. Aku keluar dari mobilku dan saat berjalan sedikit, aku menemukanmu duduk sendirian. Saat mendekatimu, kau tiba-tiba saja terlihat pusing dan hampir ambruk. Lalu aku langsung menopang tubuhmu dan membawamu ke rumah sakit," jelasnya.
"Berapa lama aku tidur?"
"Aku rasa, 2 hari. Karena kau mengalami kelelahan yang amat berat."
'2 hari?' batinnya.
Adel teringat sesuatu, ketika Jacob menusukkan sebuah benda ke perutnya. Sebelumnya, ia hanya merasakan sakit. Dan ketika ia berlari menjauh dari Key, darah mulai mengalir dan mengotori dress putih yang ia kenakan.
"Ms. Adel, apa kau tidak apa? Kenapa kau termenung?"
"Ah tidak apa-apa Ar. Um, terima kasih banyak Ar karena sudah membawaku kesini. Aku banyak berhutang budi padamu."
"Sama-sama. Ohiya, aku akan menghubungi Tuan muda Haynsworth, Ms..."
"Tunggu Ar!" Adel menahan lengan kanan Armin, ketika ia baru saja akan mengambil ponselnya.
"Tolong, jangan beritahu Key tentang diriku."
Armin melepaskan ponsel dari genggamannya yang masih berada di dalam saku celananya.
"Kenapa aku tidak boleh memberitahu pada Tuan Muda?"
"Ceritanya panjang Ar, kau pasti tidak akan mengerti tentang masalahku."
Ia menunduk sejenak, menyeka air matanya yang masih tertampung di pelupuk matanya.
"Baiklah, aku tidak akan menghubungi Tuan Muda jika itu maumu. Tapi, kau berhutang cerita padaku," ucap Armin sambil tersenyum.
"Aku janji," ucap Adel sebelum akhirnya tertidur dan Armin pun keluar dari ruangan Adel.
'Aku tidak akan membiarkan orang lain menyakitimu, Ms. Adel. Tidak ada yang bisa mengganti kekosongan di hati Tuan Muda, kecuali kau Ms. Adel,' batinnya. Lalu ia menutup pintu ruangan Adel.
to be continue...