
Author POV
***
FLASHBACK
"Hai Miss Rosseau," ucapnya sembari membalikkan tubuhnya menghadap Adel.
Ketika ia melihat wajah pria itu dengan jelas, Adel terdiam sejenak kemudian tersenyum.
"Em maafkan aku, aku pikir kau orang lain tadi."
Ia bersyukur karena pria itu adalah Jacob. Perasaannya mulai sedikit memburuk, dan bulu kuduknya berdiri setelah melihat pria tampan itu menyeringai. Perlahan pria itu berjalan mendekatinya, dan reflek ia berjalan mundur.
"Jacob, apa kau tidak apa?" tanyanya sedikit bergetar, karena wajah Jacob yang tiba-tiba saja berubah menjadi penuh amarah.
"TIDAK! TIDAK SAMA SEKALI!"
Adel tersentak ketika mendengarnya berteriak. Adel bingung akan kemana lagi, karena pergerakannya sudah terkunci.
Dengan gerakan cepat, Jacob berhasil menindih tubuh Adel, lalu menahan tangan Adel. Baru saja ia ingin berteriak minta tolong, Jacob langsung membungkanm mulut adel dengan tangan besarnya.
"Sorry, honey," bisiknya ke telinga Adel, lalu menggigit telinga Adel.
Adel pun membalasnya dengan menggigit tangan Jacob yang membungkan mulutnya.
"Arggh, Shit!" teriak Jacob sambil meringis kesakitan.
Adel mengambil kesempatan untuk berlari menjauh dari Jacob.
'Arghh! Kenapa pintu toilet ini banyak sekali,' batinnya.
Belum sempat ia keluar dari toilet, seorang pelayan langsung menutup pintu toilet itu lagi.
"Excuse me. Aku minta tolong karena ada orang gila di dalam toilet wanita yang mencoba untuk melecehkanku."
Tidak seperti harapan Adel, pelayan itu malah justru membawa Adel ke tempat Jacob tadi. Adel terus meronta, namun pelayan itu terlalu kebal dari rontaannya.
'Oh God! Help me please.' Ia berdoa dalam hati.
Setelah sampai di hadapan Jacob, pelayan itu langsung mendorong Adel ke tubuh Jacob. Setelah itu, pelayan itu pun kembali mengawasi pintu toilet terdepan.
Yah, Jacob sengaja menyuruh anak buahnya menjadi pelayan gadungan.
"Aku semakin heran. Kenapa wanita cantik, selalu menyebalkan? Apa kau tau jawabannya?" Jacob smirk.
"Aku tidak mengerti maksudmu menyiksaku seperti ini. Sebenarnya apa keinginanmu?"
Jacob tertawa sangat keras. Kemudian mendorong tubuh Adel ke dinding, sehingga punggung mulusnya yang terekspos terhantuk. Adel merintih kesakitan.
"Menyerahlah sekarang, Ms. Rosseau. Dengan begitu, aku bisa mengancam Key. Dan, secepatnya Key akan bangkrut dan berhenti mengintai perusahaanku."
"Dasar Pengecut! Jika kau menculikku, Key pasti dengan mudah membebaskanku dari pria pengecut sepertimu!"
Jacob tertawa lagi, bahkan lebih keras lagi. Ia seperti seorang psikopat yang haus akan kekejaman.
"Bagaimana bisa kau berpikir bahwa Key mencintaimu? Lihat ini!"
Jacob mengeluarkan ponsel dari sakunya, dan menunjukkan sebuah foto kepada Adel.
'Tidak! Key tidak seperti itu.'
Adel menggelengkan kepalanya ketika melihat foto Key tengah mengecup seorang wanita berambut coklat. Ia merasa tidak asing dengan wanita itu.
"Kau berbohong! Key tidak akan pernah mengkhianatiku," teriaknya.
"Hahaha, apa kau tidak tahu? Bahwa wanita ini adalah mantan kekasih Key."
Mata Adel membulat sempurna, dan airmatanya mengalir.
"Pasti Key belum menceritakan semuanya padamu, hem."
Jacob menusukkan sebuah benda berbentuk seperti pena ke perut Adel. Adel pun tersentak dan tubuhnya menjadi kaku. Ia melihat ke arah perutnya yang terasa sakit karena benda yang ditusukkan Jacob tadi.
Ia tidak percaya dengan apa yang ia lihat. 'Impossible!'
Bagimana mungkin, benda itu sama sekali tidak membuatnya berdarah. Padahal ia sendiri merasakan perutnya sangat sakit.
"Bilang pada Key bahwa kau tidak mau memiliki hubungan apa lagi dengannya. Jika kau tidak mengatakannya, aku tidak segan-segan membunuh Key di hadapanmu secara langsung!"
"Ka..kau..." Adel memegang perutnya yang terasa sangat perih.
"Ini bukan ancaman, Ms. Adel. Tapi, aku benar-benar akan melakukannya jika kau tidak menuruti perintahku."
Jacob mengelus rambut Adel lembut, sambil merapikan rambut Adel yang sedikit berantakan karenanya.
Jacob segera menyuruh Adel kembali ke meja makan malamnya. Sambil memegangi perutnya, Adel berjalan kembali ke mejanya.
Bukannya ia ragu karena Key tidak akan bisa melawan Jacob. Tapi, ia terlalu membenci dirinya yang selalu saja membuat Key terluka.
Tak lama kemudian setelah ia duduk, Key datang mengejutkannya.
"Maaf, membuatmu menunggu terlalu lama," ucapnya ketika ia sudah di kursi makan yang berhadapan langsung dengan Adel.
Tidak seperti dugaannya, Adel malah tampak tidak terkejut sama sekali ataupun tersenyum. Adel hanya menampakkan wajah datarnya, dan sedikit menolak untuk menatap mata Key.
"Apa kau marah?"
Adel memalingkan wajahnya menghadap Key. Matanya terlihat berkaca-kaca, namun wajahnya tidak menampakkan kesedihan.
Kalimat Adel membuat sebongkah pertanyaan mendatangi Key. Baru saja Key ingin menyentuh telapak tangannya, ia langsung menarik tangannya. Alis Key tampak mengkerut, matanya terlihat sedikit terkejut.
"Aku tau bahwa kau marah padaku, tapi...."
"Mulai hari ini kita putus Key! Aku tidak ingin memiliki hubungan apapun denganmu."
Adel langsung beranjak dari tempat duduknya. Sedangkan Key, masih duduk sambil memikirkan kalimat yang baru saja diucapkan Adel.
'Sadar Key! Cepat bangun dan kejar dia!' Suara di benak Key seakan mengetuknya untuk segera sadar dan mengejar Adel sebelum pergi terlalu jauh.
"Adel!" Key menggapai tangan Adel.
Adel memalingkan wajahnya dari Key. Ia tidak ingin memperlihatkan tangisannya dihadapan Key. Suara gemuruh di langit semakin membuat tubuh Adel bergetar dan merinding.
'Please! Jangan tanya lagi padaku Key!' batinnya.
"Tell me Why!"
"Just let me go, Key!"
Ia mencoba melepaskan cengkeraman Key. Namun usahanya hanya sia-sia, karena Key semakin memperkuat cengkeramannya. Ia pun meringis kesakitan.
Tak lama kemudian, rintikkan air pun jatuh dari langit. Tangisan Adel saling bersahutan dengan suara gemuruh di langit. Key yang tidak bisa membendung air matanya lagi, akhirnya jatuh membasahi pipinya bersama rintikkan gerimis.
Ia melonggarkan cengkeramannya. Adel yang merasa telah dibebaskan pun, langsung berlari menjauh dari hadapan Key. Sambil memegang perutnya dan mengusap airmatanya, ia terlihat berjalan tidak seimbang.
Ia bingung ingin kemana lagi. Ia kehilangan tujuan. Otaknya terlalu penuh dengan penyesalan.
FLASHBACK END
***
"Bagaimana tugasmu?"
Suara tegas pria itu memenuhi isi ruangannya sendiri, ketika wanita berambut coklat itu melangkah masuk ke dalam ruangannya.
"Done."
Pria itu memiringkan kepalanya, kemudian beranjak dari tempat duduknya. Melangkah mendekati wanita cantik bermata biru itu.
"Kau memang benar-benar spesial, Ms. Lirya James," ucapnya sambil mengelus dagu wanita itu.
"Stop it!" Lirya menepis tangan Jacob dari dagunya.
"Okay!"
"Sekarang beritahu apa rencanamu selanjutnya. Aku sudah berhasil memasang beberapa perekam suara dan cctv di apartemen dan kantor Key."
"Hem, kenapa aku jadi ragu padamu? Aku tidak yakin bahwa kau benar-benar melakukannya."
Ia menaikkan alisnya sebelah. Memberikan tatapan menantang pada Lirya.
"Terserah! Yang jelas, aku sudah melakukan tugas darimu. Aku bisa buktikan bahwa aku jujur."
Jacob tertawa keras. Tawa yang terdengar seperti ejekan untuk Lirya. Ia pun mulai geram dengan sikap Jacob itu.
"Kalau begitu, bunuh kekasihnya! Besok adalah hari kelulusan mereka. Aku mau kau membuat keributan yang besar disana."
"Damn! Itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan tujuan utama kita," protesnya.
"Memang tidak ada hubungannya, tapi ini adalah rencana baru dariku."
Lirya mengerutkan keningnya. Ia memasang senyum paksa di wajahnya, dan mendengus nafas kesal.
"Hampir saja wanita itu mati. Tapi, supir pribadi sialan Key, malah membawanya ke rumah sakit."
Tangan Lirya sedikit bergetar.
"Jangan bermain-bermain dengan bisnis ini. Karena Mr. Johnny Borowsky sendiri yang akan mengawasimu."
***
Tomorrow
"Selain Mr. Taylor, salah satu donator kita, Mr. Haynsworth juga hadir pada acara kelulusan ini. Kepada Mr. Haynsworth, kami persilahkan untuk naik ke podium," ucap MC yang membawakan acara wisuda.
Key pun beranjak dari tempat duduknya, menuju ke atas podium. Semua mata tertuju padanya, tak terkecuali Adel.
Setelah menyampaikan pidato singkatnya dan ucapan selamat, Key kembali duduk.
Satu persatu nama mahasiswa dipanggil untuk naik ke atas panggung. Tak lama kemudian, nama Adel pun disebutkan.
"Adelaide Rosseau," panggil MC. Adel pun naik ke atas panggung.
"Selamat," ucap satu persatu yang berjabatan tangan dengannya. Dan orang terakhir yang berjabatan dengannya adalah Key.
Adel menunduk malu. Ketika ia ingin menarik tangannya, cukup lama Key menjabat tangannya. "Setelah acar selesai, temui aku!" bisiknya.
Dorrr.....
Tiba-tiba suara tembakan terdengar dari sisi kanan auditorium. Semua orang pun ikut panik dan berlarian. Dengan gerakan dan langkah yang gesit, Key menarik Adel yang baru saja turun dari atas panggung.
"Follow me!" Mereka berdua pun berlari.
Adel tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Yah, Key bahkan tidak terlihat benci dengannya sama sekali.
to be continue...