All In My Head

All In My Head
BAB 48



Warning 17+


Author POV


Setelah seharian sibuk berjalan di sekitar taman, mereka berdua pun memutuskan kembali ke rumah.


"Kau ingin minum apa?" tanya Adel.


"Aku tidak haus, sayang," jawabnya sambil memeluk Adel dari belakang.


"Baiklah, jika tenggorokanmu kering aku tidak akan peduli," ucapnya sambil menggerakan pundaknya karena Key meletakkan dagunya di pundaknya.


Adel melepaskan tangan Key yang melingkar di pinggangnya, lalu bergerak menuju rumah pohon yang tak jauh dari kolam renang yang ada di belakang rumah. Key mengikuti langkahnya.


Adel duduk di atas rumah pohon yang menghadap langsung ke taman bunga itu. Key ikut duduk di sampingnya.


Ia memejamkan mata dan menyandarkan kepalanya di pundak Key.


"Aku berharap, rumah pohon ini akan tetap kokoh sampai kita memiliki anak," ucapnya.


"Bagaimana bisa kita mempunyai anak, jika kau selalu menolakku," jawab Key sambil menyentil hidung Adel.


Adel membuka matanya dan kembali duduk dengan benar. Seketika ia menjadi canggung ketika mendengar ucapan Key.


"Ah bagaimana jika kita nanti malam kita mengadakan barbeque party di tepi kolam taman bunga itu?" tanyanya mencoba memecahkan kecanggungan di antara mereka.


"Baiklah," ucapnya singkat.


***


Key membuka meja lipatnya di tepi kolam yang jernih bagaikan sebuah kristal. Sedangkan Adel sendiri, ia masih sibuk memasang celemek dan menyiapkan semua bahan untuk barbeque.


"Key, apa kau bisa kemari sebentar?" teriaknya pada Key yang masih sibuk menata tempat piknik mereka.


"Ada apa, sayang?"


"Aku ingin memotong sayuran lainnya. Apa kau bisa mulai memanggang?"


"Sure,"


Key pun mengerjakan tugasnya untuk memanggang. Sedangkan Adel sendiri, ia masih sibuk memotong beberapa sayuran lalu menata meja makan, meletakkan dua gelas slocki dan minuman soda, dan tidak lupa juga menaruh candle dinner sebagai pelengkap suasana romantis.



Setelah selesai memanggang, mereka berdua pun melepaskan celemek dan mencuci tangan lalu duduk di kursi makan. Key menyalakan lilin.


Adel membuka kaleng minuman soda, dan menuang ke gelas mereka berdua, lalu bersulang. Ia meletakkan beberapa potongan daging dan sayuran ke piring Key.


"Apa aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Adel


"Apa itu?"


"Apa kau pernah berhubungan s*x dengan wanita lain?"


Key tersedak mendengar pertanyaan Adel, lalu tertawa keras.


"Pertanyaanmu sangat lucu, babe. Of course," jawabnya sambil terkekeh.


Adel melepaskan sendok dan garpunya, lalu bernjak dari meja makan.


Belum sempat ia melangkah, Key lebih dulu menarik tangannya dan membawa Adel ke dekapannya.


"I'm sorry. Aku hanya bercanda. Aku mungkin pernah berciuman dengan orang lain di depanmu, tapi aku tidak pernah melakukannya dengan orang lain," ucap Key sambil menaruh dagunya ke pundak Adel.


Adel membalikkan wajahnya, dan menatap wajah Key.


"Lucu sekali wajah pangeranku ketika sedang mengaku salah," ucapnya lalu tertawa keras.


Key menatap bingung Adel. 'Kenapa aku selalu terlihat bodoh di depannya?' batinnya.


"Aku ke rumah, hanya untuk mengambil gitar dan menyuruhmu untuk memainkannya."


Tanpa menunggu ucapan dari Key, ia berlari menuju ke rumah untuk mengambil gitar.


'Lain kali aku tidak akan tertipu olehnya,' batinnya.


Tak lama kemudian, Adel datang membawa gitar.


"Mainkan sebuah lagu untukku!" Pintahnya.


"Lagu apa?"


"Baiklah."


Adel duduk di atas tikar yang baru saja ia gelar. Sedangkan Key, mengambil kursi makan. Key mulai memainkan gitar, dan menyanyikan lagu dari One Direction. Ia tahu bahwa Adel juga sangat menyukai grup itu.


"....


Baby you light up my world like nobody else


The way that you flip your hair gets me overwhelmed


But when you smile at the ground it aint hard to tell


You don't know.... You don't know you're beautiful


If only you saw what I can see


You'll understand why I want you so desperately


Right now I'm looking at you and I can't believe


You don't know


You don't know you're beautiful


Oh oh... But that's what makes you beautiful"


Adel menepuk tangannya keras, meskipun ia terlihat meneteskan airmata. Lalu, Key menaruh gitarnya dan duduk di sebelah adel.


"Kenapa kau menangis?"


"Selama aku masih bisa melindungimu, kau akan selalu ada disisiku Adel," ucapnya sambil menyeka airmata yang kian menderas di pipinya.


"Tapi tetap saja, kau sangat menyebalkan. Kau..."


Ucapannya terhenti ketika Key menciumnya. Adel memejamkan matanya, dan membalasnya, hingga Key berhasil membuatnya terbaring.


Key melepaskan ciumannya sejenak. "Oh damn! I cant live without you," ucapnya, sambik membuka kancing bajunya.


Ketika ia akan mengecupnya lagi, Adel lebih dulu menutup mulutnya dengan telapak tangannya.


"Jangan melakukannya disini! Ingat, kit..."


Belum sempat ia melanjutkannya lagi, Key mengecup bibirnya sekilas, lalu menggendongnya ala bridal style.


Rintikan air mulai turun dan membasahi kulit mereka. Adel jadi teringat dengan meja makan dan alat pemanggang mereka.


"Key, bagaimana dengan meja makan kita?"


"Aku bisa membelinya lagi jika rusak, tapi aku tidak rela jika aku harus menunda ini lagi."


Tak lama kemudian, mereka pun sampai di rumah. Key menaiki beberapa anak tangga, lalu tiba di kamar mereka.


Key meletakkannya di atas kasur king size mereka. Adel terlihat berkeringat, sedangkan Key sendiri menampakkan wajah smirknya.


Key melepaskan bajunya, lalu kembali mencium Adel. Adel hampir kehabisan nafas karena Key terlalu cepat menciumnya.


Key mulai menarik baju Adel ke atas, akan tetapi Adel selalu menahan tangan Key. Key yang tidak ingin diganggu pun, mengunci kedua tangan Adel ke atas, lalu kembali melakukan aksinya.


Baju Adel berhasil ia lepaskan, dan yang tersisa hanyalah pakaian dalam yang menutupi bagian tubuh terindahnya itu. Key pun kembali meraih kaitan pakaian dalam Adel, dan berusaha membukanya


Adel dengan sekuat tenaga berhasil membebaskan kedua tangannya, lalu melepaskan ciumannya.


"Biarkan aku yang membukanya sendiri," ucapnya lalu membukanya sendiri.


Dan semua pun terjadi begitu saja.


***


Cahaya matahari mulai memasuki kamar mereka, bersamaan dengan jarum jam yang menunjukkan pukul 07.00


Adel membuka matanya perlahan, dan berusaha untuk melihat jelas apa yang ada di pandangannya.


"Bonjour, My Wife," ucap Key yang sudah terlihat rapi dan duduk di atas sofa yang menghadap langsung pada Adel.


Adel menarik selimutnya, dan duduk. Ia memegang kepalanya yang sedikit terasa pusing. Dan juga merasakan sedikit nyeri dibagian bawahnya.


"Bagaimana? Apa kau ingin melakukannya lagi pagi ini?" Tanya Key sambil terkekeh.


"Yah, in your wildest dream," ucapnya dengan wajah cemberutnya.


Ia menarik selimutnya, untuk membungkus badannya lalu melangkah pelan menuju kamar mandi. Sebelum masuk ke kamar mandi, ia kembali berbalik.


"Apa kau sudah membereskannya?"


"Aku sudah menyuruh beberapa pelayan membersihkannya. Mereka datang tadi pagi, maka dari itu aku tidak tidur semalaman."


"Em baiklah," ucapnya singkat lalu masuk ke dalam kamar mandi.


Tak beberapa lama kemudian, ia pun keluar dari kamar mandi dengah bathrobe masih melekat di badannya. Adel membuka lemari dan mencari baju untuk ia kenakan.


Setelah dapat, dengan santai ia melepaskan bathrobe nya di depan Key, dengan pakaian dalam yang terlihat transparan. Tubuhnya seolah memanggil Key untuk disentuh lagi. Key menaikkan alisnya sebelah, lalu smirk.


"Apa kau mencoba menggodaku?" tanyanya.


Ia melangkah menuju Adel yang masih memperlihatkan tubuh eksotisnya itu, lalu mengelus pundak Adel dengan jemarinya.


"Aku tidak menggodamu, tapi hanya mengujimu," jawabnya.


Key mulai mencium tengkuknya, dan membuatnya merinding seluruh badan. Adel berbalik, lalu melingkarkan kedua tangannya di leher Key.


"Kau ingin membawaku kemana lagi setelah ini?" tanyanya.


"Kemana saja yang kau mau," jawabnya.


"Sebelum pulang, aku ingin ke rumah pohon itu lagi."


"Baiklah."


***


"Apa kau punya pena, spidol atau alat tulis lainnya?" tanyanya.


"Untuk apa?" Key memberikan sebuah pulpen padanya.


"Aku akan menuliskan namaku dan namamu, untuk kuperlihatkan dengan anak-anak kita nanti. Dan aku berharap, tulisan ini tidak akan hilang sampai kita kembali kesini lagi," ucapnya.


"Aku bisa membawamu kemari sebanyak seribu kali yang kau mau, Adel."


"Tidak begitu Key. Aku mau kita kesini lagi ketika kita memiliki anak kedua, agar aku bisa merasakan masa-masa menjadi pengantin baru."


Key hanya menganggukan kepalanya. Ia hanya bisa mengikuti permintaan kekasih tercintanya itu.


"Key," ucapnya lembut.


"Ada apa?"


"Bolehkah aku berbisiki padamu?"


"Kenapa harus berbisik?" Key menoleh ke sekitarnya, untuk memastikan bahwa hanya ada mereka berdua.


Adel mendekatkan bibirnya ke telinga Key.


"Aku ingin membuatmu mendengar jelas bahwa, I LOVE YOU SO MUCH!" teriaknya lalu mengecup sekilas pipi Key, dan tertawa keras.


Sontak ia menjauhkan telinganya karena reflek terkejut mendengar teriakan Adel, yang semulanya hanya bisikan. Sedangkan Adel, ia buru-buru turun dari rumah pohon dan meninggalkan Key.


"ADEL! AKU TIDAK AKAN MEMBIARKANMU LEPAS!" teriak Key sambil mengejar Adel.


THE END