
Adel POV
Aku mengerjapkan mataku beberapa kali, sebelum aku bangun dari posisi tidurku yang sedikit membuat leherku pegal. Mataku yang masih terasa ngantuk, seketika kembali segar karena melihat sepasang mata hazel sedang memperhatikanku.
"KEY!"
'Astaga, kenapa aku malah berteriak'
Aku langsung menutup mulutku dengan kedua telapak tanganku.
"Sudah puas dengan tidurmu, Miss France?"
Aku hanya mendengus kesal, sambil mengalihkan pandanganku ke arah barisan rak buku yang berdiri tegak. Ingin rasanya aku menangis di depannya sekarang juga, namun aku tetap tidak bisa mengeluarkan amarahku di depannya. Bukan tanpa alasan aku marah, tapi sepertinya alasanku ini pastinya juga sering menjadi alasan seorang wanita jika sedang cemburu.
Kemarin siang, aku bermaksud untuk mengajak Key makan malam di luar. Tapi saat aku masuk ke dalam kantornya, aku melihat ia sedang berciuman dengan wanita yang tak lain mantan kekasihnya. Siapa lagi jika bukan Kate. Aku rasa, Key masih mencintainya.
Mulutku menjadi bisu saat itu, hanya ada kekesalan di hatiku, tapi aku tidak bisa mengeluarkan airmata sedikitpun. Aku langsung keluar dari kantornya dan kembali pulang.
Entah instingku ini benar atau tidak, karena aku masih sangat bingung dengan statusku saat ini. Aku mulai ragu dengannya, apa ia memang sungguh-sungguh mencintaiku? Tapi sepertinya hanya sia-sia saja jika aku berbicara dalam hati. Karena ia tidak akan pernah tau dengan isi hatiku.
Aku langsung beranjak dari tempat dudukku dan keluar dari perpustakaan, tanpa memberitahunya. Kudengar suara langkah kakinya mulai mendekatiku. Aku pun langsung menambah kecepatan langkahku agar bisa menghindarinya.
"Adel!" teriaknya ketika aku mulai berlari.
Meskipun banyak orang yang melihatku berlari, aku tetap tidak peduli. Aku bingung ingin menceritakan kekesalanku kepada siapa. Mungkin aku adalah wanita yang cukup sabar melihat orang yang sangat aku cintai sedang berciuman dengan perempuan lain.
Ketika aku sampai di luar kampus, dan baru saja membuka pintu taxi ia berhasil menahan lenganku dan menarikku ke arah tubuhnya.
"Wanita ini tidak jadi naik taxi," teriak Key pada supir taxi itu, dan supir taxi itu pun berkendara lagi.
Aku masih memalingkan wajahku dari hadapannya, dengan posisi ia masih mencekram lenganku. Ia mulai mencekram lenganku sedikit kuat, sehingga membuatku meringis.
"Argh!" ringisku. Tapi sepertinya ia tidak perduli.
Ia memarikku untuk masuk ke dalam mobilnya yang terparkir rapi di tempat parkir sebelah gedung kampus.
***
Aku masih memilih untuk diam, tanpa memprotesnya yang mencekram tanganku tadi. Sesekali aku meliriknya, dan ia juga kebetulan melirikku. Ia memegang tanganku, dan aku pun reflek menarik tanganku.
"KEY!" teriakku, ketika ia meninjam rem secara mendadak. Dahiku hampir saja terhantuk dashboard mobil, karena aku lupa memasang sabuk pengaman.
"Tell me! Dari kemarin kau terus menghindariku. Sekarang jawab dengan jujur, ada apa sebenarnya?"
Mataku mulai berkaca-kaca, sambil menghadap ke arah mobil dan motor yang melaju dari kaca jendela mobil yang transparan. Ia memegang daguku dan memindahkan pandanganku ke arahnya. Ia mengusap airmataku dengan ibu jarinya.
"Kau jahat Key! I hate you!" teriakku sambil menangis.
Akhirnya aku pun tidak bisa menahan tangisanku yang sedari tadi terus ku pendam. Ia menarik tubuhku untuk masuk ke dalam dekapannya.
"I'm okay, if you dont love me," ucapku. Aku sendiri pun terkejut mendengar ucapanku sendiri.
"Hey, why? Kenapa kau tiba-tiba berbicara seperti itu?"
Aku tidak langsung menjawabnya, melainkan mengecup bibirnya sekilas.
"Aku tau kau masih mencintai Kate," jawabku sambil mengelus jasnya.
Key terdiam, dan menatapku dengan raut wajah yang terlihat kebingungan.
"Kenapa tiba-tiba kau membahasnya?"
Key terlihat gugup dengan pertanyaanku tadi, dan menanyakan pertanyaan lain padaku.
"I will always love you, Adel!" imbuhnya.
"Lalu, kenapa kau menciumnya?"
Bukan jawaban yang kudapatkan darinya, tapi ia malah tertawa keras. Sedangkan aku mengusap airmataku yang masih mengalir.
"Are you Jealous?"
Aku langsung memukul lengannya, karena aku tidak bisa lagi menahan malu di depannya. Namun aku mencoba untuk stay cool.
Drtt...drtt...
Ponsel Key terdengar bergetar di atas dashboard mobil, dan ia pun langsung mengambil ponselnya.
"Hallo, Mother?"
"...."
"What?"
***
4 pm
Orang tua Key tiba-tiba saja pulang ke London. Dan aku lah orang pertama yang terkena dampak. Dampaknya bagiku adalah, aku harus ikut dengannya bertemu kedua orang tuanya.
"Lebih baik aku pulang dulu saja, Key! Setidaknya aku berganti pakaian dulu."
Aku menarik-narik lengan Key yang mesih sibuk memegang stir mobil. Memohon padanya agar mengabulkan permintaanku. Aku sadar dengan pakaianku terlihat santai untuk acara makan makan malam. Celana jeans, dan kemeja motif kotak-kotak.
"Diam, atau aku akan menikahimu sekarang."
Tentu saja aku terdiam mendengar ancamannya itu. Heh, ia mengancamku untuk menikah sekarang? Terkadang ia tidak lagi berpikir ketika mengucapkan sesuatu. Tentu saja bukan keinginanku untuk menikah di detik-detik kelulusanku ini. Atau lebih tepatnya, aku tidak akan menikah sebelum aku mendapatkan pekerjaan.
Tak lama kemudian, kami pun tiba di depan rumah Key. Ternyata rumah Key lebih besar dari Cathrine. Tunggu dulu! Ia bahkan tidak pernah menceritakan tentang rumahnya padaku. Aku hanya tau bahwa ia tinggal bersama Cathrine, tanpa ada alasan apapun.
Key membukakan pintu untukku dan segera menarik tanganku keluar mobil. Aku sedikit memperlambat langkahku, karena aku masih sangat malu bertemu dengan orang tuanya.
"Mother," ucap Key ketika ia tiba di dalam rumah, dan langsung memeluk ibunya.
"Ibu sangat rindu padamu, sudah lama sekali ibu tidak bertemu denganmu. Dan siapa wanita cantik ini?" Ibunya memberikan senyuman padaku.
"Perkenalkan Mrs. Namaku Adelaide Rosseau, panggil saja Adel." Aku langsung mengulurkan tanganku untuk berjabat tangan dengannya.
"Iya Mrs."
"Kebetulan, aku sangat ingin sekali belajar memasak makanan Perancis. Ketika di Seattle, aku sangat sulit sekali menemukan makanan Perancis."
"Aku siap membantu," jawabku sambil tersenyum.
"Ikut aku!" Key menarikku untuk menaiki tangga.
Key membuka kenop pintu ketika kami tiba di depan pintu sebuah kamar. Mungkin kamar ini adalah kamar milik Key. Kami segera masuk ke dalam tanpa berlama-lama lagi.
Key menutup pintu kasar, dan mengunci pintunya. Aku sedikit gugup mendengar langkahnya yang mendekat ke arah punggungku. Aku bisa merasakan hembusan nafas Key di telingaku.
"Aku yang mandi lebih dulu, atau kau yang mandi lebih dulu?" tanyanya sambil mencium leherku sekilas.
"Kau saja duluan mandi. Setelah kau selesai, cepatlah keluar karena aku akan berganti baju di sini."
"Baiklah."
'Apa ini semua telah ia rencanakan?'
Ia bahkan sengaja membuka bajunya di hadapanku.
"Tidak mau mandi bersama?" tawarnya. Aku hanya memberikan tatapan tajam ke arahnya.
Dan ketika ia akan membuka celananya, aku langsung mendorongnya untuk masuk ke kamar mandi.
"Jangan kelewatan gila!"
***
Beberapa menit kemudian, Key keluar dari kamar mandi. Dengan keadaan yang bertelanjang dada yang menampilkan beberapa gundukan yang mirip roti sobek, dan bagian bawah pusar sampai lutut kaki tertutup oleh handuk putih. Aku menelan liurku, dan kurasakan hatiku mulai bergetar.
Aku segera bangkit dari tempat duduk untuk beranjak ke kamar mandi. Aku tidak mau menjadi korban pesona ketampanannya. Jika aku terlalu lama melihatnya, ia pasti akan mengerjaiku.
Setelah beberapa menit aku menghabiskan waktuku untuk mandi, aku segera mengelap tubuhku dengan handuk kemudian memakai bathrobe. Aku berharap ia tidak ada di dalam kamar.
Sebelum membuka lebar pintu kamar mandi, aku sedikit membuka pintu kamar mandi dan mengintip. 'Sepertinya ia sudah keluar.' Dengan keyakinan penuh, aku pun keluar dari kamar mandi.
"Pakai dress yang ku letakkan di atas tempat tidur."
Aku hampir saja teriak karena terkejut, mendengar suaranya tanpa melihat wujudnya. Ia sedang sibuk menyelesaikan pekerjaannya di depan layar laptop. Aku menghampiri dress yang Key bicarakan tadi.
Seketika aku terdiam ketika menyentuh dress ini. Dress ini berbahan sutra, dengan paduan kain sifon. 'Pasti dress ini sangat mahal. Tidak, aku tidak bisa memakainya.'
"Aku tidak memakai dress ini," ucapku ketus.
Ia menaikkan sebelah alisnya, dengan posisi masih fokus menghadap laptop.
"Pakai atau kau akan menanggung akibatnya, karena berlama-lama memakai bathrobe di hadapanku."
'Darimana ia tau? Bahkan, ia saja tidak melihatku keluar dari kamar mandi sedari tadi.'
Aku mendengus kesal, sambil membawa dress itu. Ah, aku hampir saja lupa. 'Pakaian....'
"Oh, aku lupa memberitahumu. Karena kau tidak membawa pakaian dalam, buka saja lemari kaca pendek di dalam kamar mandi. Kau bisa memilih ukuranmu," jelasnya sambil menyunggingkan senyum simpul. Seolah, ia mendengar suara batinku.
Aku meletakkan kembali dress ini dan kembali ke dalam kamar mandi, dan mencari lemari kaca yang Key katakan tadi, dan 'Wow!'
Apa ia sedang berjualan pakaian dalam, atau mengoleksi pakaian dalam?
Jumlah yang cukup banyak dengan berbagai ukuran dan motif untuk dia seorang. Terlebih, dia adalah seorang pria bukan wanita. Untuk apa ia menyediakan pakaian dalam wanita.
Tanpa berlama-lama lagi, aku langsung mengambil pakaian dalam yang sesuai ukuranku. Kemudian keluar dari kamar mandi.
Aku mengambil dress cantik berwarna navy polos, dengan bahan sutra, yang masih terbaring di atas tempat tidur. 'Ah, kenapa tidak sekalian saja?' pikirku. Aku langsung mengambil dress ini, dan berjalan ke arah kamar mandi lagi, untuk memakainya.
"Kau mau kemana?" tanyanya, ketika satu langkah lagi aku masuk ke kamar mandi.
Aku berbalik ke arahnya, dan sekarang ia sudah tidak fokus pada laptop lagi, melainkan melihatku.
"Berganti baju."
"Kenapa bukan di sini saja?"
Meskipun berganti pakaian di depan pria itu hal yang biasa, tapi bagiku itu bukanlah hal yang biasa.
"Bergantilah baju di samping lemari itu," pintahnya. Aku melirik ke arah samping lemari itu.
Aku rasa tidak masalah, karena di samping lemari itu tertutup oleh gorden, terlihat seperti ruangan namun bukan ruangan. Sepertinya memang dikhususkan untuk berganti pakaian. Aku mengurungkan niatku ke kamar mandi, dan menuju ke samping lemari itu.
'Sial!'
Kenapa semua dress terlalu banyak menggunakan resleting di bagian belakang. Tentu saja aku membutuhkan seseorang untuk membantuku. Tiba-tiba, aku merasakan sebuah tangan sedang menaikkan resleting belakangku, tentu saja aku langsung tersentak. Aku yakin pasti itu adalah Key. Aku langsung memutar badanku menghadapnya.
"Key! Kenapa kau tidak memberitahuku dulu?"
"Untuk apa memberitahumu, jika nanti kau juga akan meminta pertolonganku." Ia tersenyum simpul.
"Sekarang berbalik lah, karena aku akan menaikkan resletingmu," imbuhnya.
Aku hanya mengikuti pintahnya, dan berbalik. Ia sedikit lambat menaikkan resletingku. Yah, aku memang tau dia memang selalu seperti itu. Setelah selesai, aku segera berbalik menghadapnya. Ia langsung menarik tubuhku untuk berdekatan tubuhnya, dan menciumku.
"Maafkan aku Adel," ucapnya sekilas ketika ia melepaskan ciumannya tadi. Ia menggendongku ala Bridal Style keluar dari tempat ini.
Ia menurunkanku tepat di depan lemari. Sehingga pergerakanku untuk menahannya, tertahan oleh lemari. Ia menciumku tanpa henti, seolah ia sedang beramarah saat ini. Ia menahan tanganku ke atas agar aku tidak memberontak.
Entah berapa lama kami melakukan ciuman yang cukup panas ini, ia menghentikannya. Aku langsung menarik nafas panjang. Dan menatapnya tajam.
"Ini akibatnya karena kau marah padaku tadi malam."
Ia menarikku ke dalam dekapannya. Aku sangat rindu dengan dekapannya ini. Aku melepaskan dekapannya, lalu membetulkan kerah bajunya dan dasinya yang sedikit berantakan karena ia terlalu bersemangat tadi. Aku merapikan rambutnya lagi dan mengancing jasnya, sehingga ia terlihat sangat rapi sekarang.
"Jangan pernah mengatakan bahwa kau ragu denganku. Karena kau harus yakin bahwa aku sangat mencintaimu. Ingat itu baik-baik!" Ia memelukku lagi. Seketika, ia
to be continue...