All In My Head

All In My Head
BAB 17



Author POV


"Tunggu!" pintah Key. Adel menghentikan langkahnya untuk keluar dari kamar Key. Ia membalikkan tubuhnya menghadap Key, sambil berdoa semoga Key tidak melakukan hal-hal aneh padanya.


"Ada apa lagi Key?"


"Siapa yang menyuruhmu pulang? Bahkan aku sendiri belum mengiyakan pamitanmu."


Adel menggaruk-garuk kepalanya pelan, sambil memasang senyum terpaksa. Ia bingung harus bilang apa, karena raut wajah Key yang sudah berubah seperti serigala yang siap menerkam mangsanya.


"Key, kau kan tau sendiri bahwa aku harus kuliah. Dan dua jam lagi kelas akan dimulai."


'Semoga ia membebaskanku."


Key menghela nafas, sebelum ia menjawabnya, "aku tau kau akan pergi kuliah, tapi siapa bilang kau harus pulang ke rumah? Aku sudah mempersiapkan segalanya."


Key menepuk tangannya, mengisyaratkan sesuatu. Tak lama kemudian, datang dua housekeeper yang terlihat seumuran dengannya. Memakai seragam hitam putih, yang mirip sekali dengan baju maid anime yang biasa ia tonton. Tubuh tinggi dengan body yang ramping, tentu saja membuat Adel mematung melihatnya.


'Jadi, seleranya seperti ini? Apa pria dewasa selalu menyukai wanita seperti ini?'


"Mereka adalah Wendy dan Lucy. Mulai dari sekarang, kau tidak perlu pulang ke apartemenmu. Dan mereka berdua akan mengurusmu."


 


"Salam kenal Nona Adelaide. Mulai sekarang, kami ditugaskan untuk membantu Anda."


'Haa?'


Adel menganga cukup lebar, dengan raut wajah yang terlihat seperti orang gila yang terlantar di jalanan. Bagaimana mungkin, gadis sederhana seperti dia mempunyai pelayan pribadi yang sederajat dengannya.


"Key! Lebih baik aku pulang saja." Adel tetap bersikeras untuk pulang.


"Aku tidak terima penolakan. Kalau begitu, lakukan tugas kalian masing-masing. Kalau sampai ia kabur, kalian yang akan aku pecat."


"Baik Tuan Muda Haynsworth."


"Aku mau ke kantor dulu. Supirku akan menghantarkanmu kuliah, dan jika kau sudah pulang hubungi aku. Aku akan akan menjemputmu nanti," imbuhnya.


Adel melirik ke kiri atas, seolah-olah ia tidak mendengar ucapan Key barusan. Key yang melihatnya, menjadi sangat gemas.


Cup


Sebuah kecupan hangat dari Key mendarat di pipi kanannya. Adel mematung sejenak, sebelum akhirnya ia memberikan tatapan kesal pada Key.


Key sendiri hanya terkekeh melihat tatapan pembunuhan dari Adel, lalu berjalan keluar kamarnya.


'Pasti dia akan kebingungan dengan pertanyaanku kali ini,' batin Adel. Ia mencari alasan lagi agar bisa pulang.


"Tunggu! Aku harus pulang, karena aku tidak bisa kuliah tanpa buku ku," ucap Adel dengan penuh kemenangan.


Key menghentikan langkahnya, lalu berbalik ke arah Adel. "Siapa bilang kau tidak bisa kuliah tanpa buku-bukumu?"


Key mengarahkan jari telunjuknya ke arah samoing lemari kacanya. Senyum kemenangan Adel seketika memudar, begitu ia melihat buku, tugas, beberapa kertas, dan tasnya tersusun dengan sangat rapi di atas meja belajar yang terlihat baru.


'Kenapa aku jadi bodoh seperti ini? Dan, sejak kapan dia mengambilnya?'


Key mengedipkan matanya sebelah, kemudian melanjutkan langkahnya untuk keluar dari kamarnya.


Semalam, Key mengirimkan sebuah pesan singkat pada salah satu bodyguarnya untuk pergi ke apartemen Adel. Ia memerintahkan bawahannya untuk memindahkan semua barang-barang Adel ke Penthousenya. Key khwatir dengan keadaan Adel saat ini, yang sering jatuh sakit.  Yah, ia ingin jujur bahwa ia mulai jatuh cinta pada Adel.


***


"Ada apa Cath? Kenapa rapat pagi-pagi sekali?


"Kami mendapat serangan tadi malam." Aswin menjelaskan.


"Kau pasti tidak menyangka jika kuberi tau," imbuhnya.


"Langsung saja ke inti permasalahannya As, tidak usah bermain tebak-tebakan lagi."


"Anak Walcott menyerang kami tadi malam."


Cath masih diam, tanpa mengatakan satu patah kata pun.


"Damn! Padahal aku baru saja bertemu dengannya tadi malam, ketika aku menemui Adel di tempat kerjanya."


"Hey Key! Apa kau tidak menyadarinya?" tanya Cath.


"About?"


Cath menghela nafasnya, sebelum ia berbicara, "sepertinya ia menjadikan Adel umpan,"


"Kenapa harus Adel yang ia jadikan umpan?"


"Kau ini bodoh atau apa? Jelas-jelas, Adel itu adalah wanitamu Key."


Ia diam sejenak, mencerna kalimat Cathrine. Seketika ia sedikit merinding mendengar kalimat itu, padahal udaranya pun tidak dingin.


'Wanitaku? Apa aku memang pantas mendapatkannya'


"Key! Kita harus segera menyusun rencana untuk menumpaskan mereka!" kata Aswin bersemangat.


"Kalau begitu, apa saja informasi yang telah kalian dapatkan setelah kejadian semalam?"


"Sekitar jam 3 pagi ketika aku hendak membeli kopi hangat, aku bertemu dengan dua pria yang berpenampilan seperti anggota gangster. Dan mereka tiba-tiba menyerangku. Tapi sepertinya mereka tidak bisa menyamai kekuatanku," ucapnya sedikit sombong dengan nada bercanda.


"Dan mereka mengatakan bahwa Johnny Borowsky sudah berada di Inggris. Dia juga memalsukan identitasnya, dan mengubah penampilannya agar tidak mudah dilacak. Sialnya, aku belum menggali informasi lebih, mereka sudah melukai tanganku dengan pisau," imbuhnya panjang lebar. Cathrine segera melacak untuk menemukan tanda-tanda keberadaan Johnny Borowsky.


"Guys, liat ini!"


"Dia menuju kemana?" tanya Aswin. Cath memperbesar video cctv itu.


"Sial! Itu adalah Bazoka!"


Mereka segera membuka jendela ruangan mereka dan melompat keluar. Tak lama kemudian, ledakan cukup besar telah menghancurkan ruangan mereka. Sedangkan mereka bertiga, kini mendarat tepat di atas mobil. Tentu saja, membuat badan mereka remuk. Puluhan karyawan pun ikut berhamburan keluar.


"ARGHHH! SHIT!" teriak Cathrine. Mereka bertiga mencoba untuk duduk. Meskipun tulang punggung mereka terasa remuk.


"Aku rasa terjun dari lantai 3 adalah keseruan yang baru." Key dan Cathrine ikut tertawa mendengar ucapan Aswin, meskipun mereka masih merasakan sakit yang luar biasa.


"Lihat saja Johnny! Aku akan membalas 100 kali lipat, dari remuknya tanganku." Ia memegang lengannya yang ia rasakan sedikit retak.


Tak lama kemudian, beberapa mobil polisi, truk pemadam dan ambulance tiba. Beberapa petugas segera membawa mereka untuk masuk ke dalam mobil ambulance. Dan pemadam kebakaran, segera memadamkan api yang masih melahap sebagian gedung kantornya.


"Ceritanya panjang Sir. Akan aku ceritakan padamu nanti. Tapi kita harus tetap waspada, karena Johnny Borowsky saat ini sudah memasuki wilayah Inggris. Dan beberapa penyusup sedang mengincar kami."


"Get Well Soon Boss!"


Key hanya membalasnya dengan acungan jempol.


***


'Dasar pembohong!'


'Kau bilang kau akan menjemputku, tapi ini sudah jam 2 siang,' batinnya. Ia mengucapkan kemarahannya, sambil menunjuk nomor ponsel Key di layar ponselnya.


Ia sudah menunggu lebih dari dua jam, tapi Key tidak juga mengangkat ponselnya. Bahkan, tidak ada yang memberinya kabar. Ia pun mulai berpikiran negatif. Memikirkan hal aneh yang akan membuatnya sakit hati saja.


'Mungkin ia sedang bersama Kate.' Ia tersenyum pahit ketika mendengar kata batinnya sendiri.


"Belum pulang?" tanya seorang pria. Ketika ia mendengar suara pria itu, ia merasa sangat tidak asing dengan suara pria itu.


Ia menoleh, ke arah pemilik suara itu. "Jacob?"


"Kenapa belum pulang?" ucapnya sembari duduk di sebelah Adel.


"Eh, aku sedang menunggu seseorang. Tapi, sepertinya ia tidak akan datang. Aku rasa, aku yang terlalu berharap."


"Kekasihmu? Atau calon tunanganmu?" Jacob menyuguhkan senyum simpulnya.


'Yah, dia kekasihku. Tapi, di dalam mimpiku.'


Tubuhnya seketika melemas, mendengar pertanyaan yang sangat mustahil untuk dijawabnya.


"Engg, kau tidak apa? Apa aku salah berbicara?"


"Ah iya, aku tidak apa. Tidak, kau tidak salah bertanya.  Dan biar kujawab pertanyaanmu tadi. Jadi, aku sedang menunggu temanku." Adel mencoba untuk kembali bersemangat lagi.


"Aku hanya sedikit lelah menunggunya. Jadi, tubuhku menjadi lemas seperti ini."


Drttt....drttt....


Adel mengambil ponselnya dari dalam sakunya.


"Hallo Nona Adel."


Adel sedikit bingung mendengar suara tegas dari pria yang menelponnya ini. Terlebih, ia dipanggil Nona.


"Hallo? Who are you?"


***


"Cath! Apa kau tidak apa?" tanyanya khawatir, ketika ia memasuki ruangan Cath dirawat.


"Kau berlebihan Miss France. Aku baik-baik saja," jawabnya sambil menenangkan Adel.


"Kalau begitu, kalian boleh pergi sekarang," pintah Cath pada dua bodyguardnya.


Adel menggenggam telapak tangan Cathrine. Tangannya terasa sangat dingin, bahkan keringatnya pun masih mengalir. Padahal AC di ruangan ini sudah sangat dingin.


"Kau membuatku khawatir tau!" omelnya. Sedangkan Cathrine hanya terkekeh.


"Kau tidak mengkhawatirkanku?"


Mereka berdua menoleh ke arah Key yang baru saja masuk ke dalam ruangan Cathrine. Adel melihat tangan kri Key yang terbalut perban. Ia menunduk lemas sejenak. Mengutuk dirinya sendiri, karena sudah berfikiran buruk tentang Key. Lagi-lagi, ia merasa bersalah yang entah keberapa kalinya.


"Bukankah tadi tulangmu retak? Kenapa hanya di perban? Dan kenapa kau keluar dari ruanganmu?" tanya Cath bertubi-tubi.


"Aku pikir begitu. Tapi setelah diperiksa, aku hanya mengalami luka dalam, dan sama sekali tidak merusak tulangku."


Adel juga ikut lega mendengarnya, meskipun ia masih sangat khawatir.


"Aku merindukan seseorang, jadi aku keluar ruangan." Key mengedipkan matanya sebelah pada Adel.


"Bawa saja kalau kau mau," ucap Cath sambil tersenyum jahil.


Tanpa berlama-lama lagi, Key menarik tangan Adel untuk membawanya ke kamar tempat ia dirawat dan beristirahat.


Key menyuruhnya untuk duduk di atas tempat tidur. Ia juga ikut duduk di samping Adel. Dengan keadaan masih menggenggam tangan Adel.


"Maaf."


Satu kata yang terucap dari mulut Key, yang kedengaran sangat nyaman di telinga Adel.


"Untuk apa?"


"For everything."


Dahinya sedikit mengkerut. Ia memberanikan diri untuk menatap manik mata berwarna hazel milik Key. Ia juga memberanikan diri untuk memegang wajah Key dengan kedua tangannya.


"Key?"


"Ya?"


"Apa aku boleh menyatakan perasaanku?" batinnya.


Ia segera menghapuskan kalimat yang ia katakan di dalam batinnya sendiri. Ia menunduk lemas, namun Key mangangkat dagu Adel dengan tangan kanannya. Ia mengelus lembut bibir Adel yang berwarna merah natural.


"Katakan Adel," pintah Key.


"Key, apa aku..."


Belum sempat ia melanjutkan kalimatnya, Key sudah lebih dulu menarik dagunya dan mencium bibirnya. Adel memejamkan matanya, kemudian membalas ciuman Key.


Key sedikit kaget ketika Adel juga membalas ciumannya. Namun, ia juga sangat senang. Adel segera melepaskan ciumannya, dan itu membuat Key sedikit kesal.


"Key."


"Why, Adel? Kau ingin mengatakan apa?"


"I Love You!" 


to be continue...