
Author POV
Key memperlihatkan sesuatu yang berada di genggaman tangan kirinya.
"Apa kau mencari ini?"
Ekspresi wajah wanita itu pun seketika terkejut melihat benda yang digenggam Key tadi.
"Ba..bagaimana kau mengambilnya?" tanyanya.
"Aku sudah tau sifatmu, Ms. Lirya James," ucap Key sambil smirk.
"A...aku," ucapnya terbata-bata, namun Key langsung memotong kalimatnya.
"Silahkan memata-mataiku, tapi kau tidak akan bisa mengetahui rahasiaku," ucap Key sambil membuang perekam suara yang berbentuk seperti pena itu.
"Semoga misimu tidak gagal lagi, Ms. Lirya." Ia mengecup sekilas pipi mulus Lirya.
Lirya menggenggam tangannya sendiri, wajahnya tampak merah padam, menggambarkan bahwa ia memang sedang beramarah saat ini.
***
"Cath, apa aku boleh menanyakan sesuatu?"
Wajah Cathrine terlihat enggan mendengar ucapan Adel.
"Kau dan aku sudah berteman selama 4 tahun. Tapi, kau selalu saja meminta izin jika mau bertanya."
"Peace." Adel menunjukkan wajah lucunya, sambil mengacungkan 2 jarinya.
"Padahal Key punya tempat tinggal sendiri. Tapi, kenapa ia tinggal di rumahmu?"
Cathrine memberikan tatapan serius pada Adel. Seolah, pertanyaan Adel adalah pertanyaan yang menegangkan.
"Ceritanya panjang. Tapi, jangan pernah bilang pada Key! Promise?"
Adel yang heran pun, mulai terlihat berpikir.
"Yah, promise."
"Key tinggal di rumahku karena ia sering merasa kesepian. Orang tuanya berada di New York, dan ia juga saat itu sedang patah hati."
"Patah hati?"
"Ya. Key sendiri tidak tau bahwa aku mengetahui masalahnya. Waktu itu aku sedang pergi ke rumahnya. Dan aku secara tidak sengaja mendengarnya berteriak dan menangis di dalam kamarnya sendiri. Dan menyebut nama seseorang."
"Aku rasa, wanita itu masih menjadi bayangan hitam yang selalu menghantui pikiran Key," imbuhnya.
"Siapa namanya?"
"Lir..." Cathrine masih berpikir keras untuk mengingat nama wanita itu.
"Cepatlah Cath!"
"Wait a minute! I'm forget."
Adel menghela nafas. Menunggu jawaban dari Cathrine yang sedang mencari sambungan dari nama wanita itu.
"Yah, aku ingat. Namanya...."
"Kalian sedang membicarakan apa?"
Suara berat Key, membuat Cathrine tersentak kaget. Ia tidak berani membalikkan tubuhnya menghadap Key. Sedangkan Adel, pergerakannya menjadi kaku dan sesekali melirik Cathrine.
"Aku berharap dia tidak mendengar pembicaraan kita," bisik Cathrine tanpa mengeluarkan suara sedikitpun, hanya gerakan mulut.
"Kenapa kalian terkejut?"
Kini Key sudah berada di tempat mereka duduk. Dengan wajah yang penasaran, ia kembali membuka mulutnya untuk bertanya. Namun, sebelum ia mulai berbicara, Adel lebih dulu membungkam mulut Key dengan tangannya.
"Nothing! Just forget it!"
Key menaikkan bahunya sebelah, mengerti bahwa ia tidak harus bertanya lagi.
Kegelisahan kembali menyelimuti perasaan Adel. Ia masih penasaran dengan sosok wanita itu.
Ketakutan juga mulai masuk ke dalam pikirannya. Bukan karena ia serakah akan memiliki Key. Hanya saja, ia tidak ingin Key kembali pada wanita yang telah menjadi mimpi buruknya.
Ia beranggapan bahwa wanita itu tidak berada jauh dari lingkungannya. Ia yakin bahwa ia pernah bertemu dengan sosok wanita itu.
"Hey! Kenapa kalian berdua mematung seperti itu?"
***
Adel POV
Aku membuka kotak yang ukurannya cukup besar bewarna biru tua, yang diberikan oleh Key siang tadi ketika aku dan Cathrine asik berbincang. Meskipun mendadak, tapi hari ini adalah hari yang sangat spesial bagiku
Key memberikanku sebuah dress berwarna pink polos selutut, dan sepasang high heels berwarna putih. Aku rasa, ia sedang mengejekku. Dia sudah tau bahwa aku tidak terbiasa memakai high heels, tapi ia malah memberikanku.
Drtt...drtt
Aku segera mengambil ponselku yang tergeletak di atas meja rias ini. Sudah kuduga, pasti Key. Aku pun langsung menjawab telfonnya.
"Hallo."
"Hallo Key," jawabku.
"Apa kau tidak keberatan jika menungguku sedikit lama?"
"Tentu saja tidak Key. Aku akan pergi duluan, kau menyusul saja. Biar Armin yang mengantarkanku."
"Baiklah sayang, sampai nanti." Aku memutuskan sambungannya.
Setelah selesai bersiap, aku menghubungi Armin untuk menghantarkanku ke sebuah restoran yang menjadi tempat makan malamku dan Key. Rencananya, setelah makan malam ia mau mengajakku ke sebuah tempat yang spesial. Aku jadi tidak sabar menunggu janjinya.
***
"Jika Nona minta sesuatu, hubungi saya saja."
"Lebih baik kau pulang saja, karena Key akan datang sebentar lagi."
"Tapi...."
"Turuti saja perintahku! Jika Key marah padamu, aku yang akan bertanggung jawab, " ucapku sambil tersenyum kecil padanya.
Armin pun masuk kembali ke dalam mobil, dan melaju ke arah apartemen. Dan aku langsung masuk ke dalam restoran.
Ketika aku masuk ke dalam restoran, seorang resepsionis tersenyum dan bertanya padaku, "atas nama siapa, Miss?"
"Adelaide Rosseau."
"Anda pasti tunangan Tuan Haynsworth yah? Mari saya tunjukkan meja Anda,"
"Eh tidak, kami belum bertunangan. Kami masih sebatas sepasang kekasih," jawabku sambil tersenyum. Wajahku sedikit merona, ketika tau bahwa Key menganggapku tunangannya.
Entahlah, mengapa aku selalu berpikir bahwa hubungan kami tidak akan bertahan lama. Terlebih, aku masih memikirkan sosok wanita yang pernah menjadi masa lalu Key.
Apa mungkin Key hanya berpura-pura saja mencintaiku? Agar ia bisa melupakan bayangan hitam yang selalu masuk ke benaknya. Arghh, kenapa aku selalu bersangka buruk seperti ini? Tapi, mencintai dirinya sudah membuatku cukup senang.
Pikiranku tadi buyar begitu saja, ketika aku tiba di sebuah meja makan dengan dua buah kursi, yang tatanannya sangat rapi dan cantik. Aku pun duduk di salah satu bangku itu. Mataku berkeliling, melihat sekitar ruangan ini. Aku rasa, ini adalah ruangan VVIP.
'Lebih baik aku memeriksa penampilanku.'
Aku pun beranjak dari tempat duduk dan menanyakan letak toilet kepada seorang pelayan yang berdiri di depan pintu ruangan VVIP ini.
Aku mempercepat langkahku agar cepat sampai ke dalam toilet, agar aku bisa cepat kembali. Jika terlalu lama, Key pasti akan bingung mencariku. Mungkin bisa saja ia mengerahkan semua bodyguardnya untuk mencariku.
***
Sekitar 5 menit, aku menghabiskan waktuku untuk melihat diriku di depan kaca. Meskipun sebenarnya aku tidak pernah memikirkan penampilanku, tapi malam ini adalah kencan pertamaku dengan Key setelah kami resmi pacaran.
Ketika aku keluar, seorang pria memakai jas putih berdiri memunggungiku di depan pintu toilet ini.
"Excuse me. Apa kau bisa sedikit bergeser? Kau menutupi jalan, dan aku tidak bisa lewat," ucapku dengan sangat hati-hati. Bisa saja ia seseorang yang mudah tersinggung dan marah.
"Hai Miss Rosseau," ucapnya sembari membalikkan tubuhnya menghadapku.
Ketika aku melihat wajahnya dengan jelas, aku diam sejenak kemudian tersenyum.
"Em maafkan aku, aku pikir kau orang lain tadi."
Syukurlah pria ini ternyata hanya Mr. Jacob. Entah kenapa perasaanku sedikit memburuk, dan bulu kudukku berdiri setelah melihatnya menyeringai. Perlahan ia berjalan mendekatiku, dan reflek kakiku berjalan mundur.
"Jacob, apa kau tidak apa?" tanyaku sedikit bergetar, karena wajahnya yang tiba-tiba saja berubah menjadi penuh amarah.
"TIDAK! TIDAK SAMA SEKALI!"
Aku tersentak mendengarnya berteriak. Aku bingung ingin kemana lagi, karena pergerakanku sudah terkunci.