
Key POV
"Dimana Adel?!" teriakku pada Jacob yang wajahnya sudah lebam.
Damn! Dia menculik Adel dan sekarang dia tidak tau Adel kemana. Aku terus memukulinya, meskipun Aswin dan Cathrine sudah menahanku agar tidak mengeluarkan semua amarahku. Karena yang mereka tau, aku bisa menjadi lebih gila jika aku tak bisa menahan amarahku.
"Heh, teruslah memukuliku. Karena aku tidak tau dimana wanita ****** itu!"
"Shut up! Dia bukan ******!"
Kini Cathrine ikut memukul wajahnya.
Aku mengepalkan tanganku dan memukul kaca mobilku hingga pecah. Aku tidak peduli dengan rasa sakit di tanganku, karena aku akan merasakan sakit jika Adel meninggalkan sekarang. Dimana kau?
Tak lama kemudian, sebuah mobil sport berwarna hitam menghampiri kami. Aku menoleh sekilas, kemudian menatap pecahan kaca itu lagi.
"Key!" teriak seorang wanita, dan membuatku menoleh lagi ke arah mobil hitam itu.
"Are you okay?" Lirya menunjukkan rasa khawatirnya padaku, tapi itu tidak akan berpengaruh padaku. Karena aku yakin, dia juga berkejasama dengan Jacob.
Aku menepis tangannya dan mendorong tubuhnya, sehingga punggungnya terbentur dengan jendela mobilnya dan membuagnya merintih kesakitan. Aku sudah tidak peduli bahwa ia seorang perempuan.
"Dimana Adel?!" teriakku di hadapannya sambil menggoyang bahunya dengan kasar, dan membuatnya merintih kesakitan.
"Key! Tahan amarahmu! Dia seorang perempuan Key," teriak Cathrine sambil menahan tanganku yang masih menghentakkan tubuhnya.
"Ini lah yang ingin kukatakan padamu. Aku telah menolongnya, dan ia memintaku untuk pergi melihat lautan. Aku ingin menghubungimu, tapi aku tidak memiliki nomor ponselmu. Menurut pandanganku, ia terlihat marah. Dan tiba-tiba saja ia mendekat di ujung tebing dan melompat."
"Hentikan omong kosongmu itu!"
"Aku tidak berbohong padamu Key. Aku ingat kalimat terakhirnya, bahwa ia tidak ingin membuatmu terluka karena dirinya. Mungkin karena itu ia bunuh diri."
Bunuh diri? Aku yakin bahwa itu bukan sifat aslimu, Adel.
"Apa! Adel bunuh diri?" teriak Cathrine, dan kemudian membuatnya pingsan. Aswin pun segera menopang tubuhnya dan membawa Cathrine ke dalam mobil.
Aku mengacak rambutku kasar dan menendang beberapa batu kecil di dekatku. Aku sungguh frustasi saat ini.
Tak lama kemudian, beberapa mobil polisi pun tiba. Mereka pun segera menangkap beberapa anak buah dari Jacob, termasuk Jacob sendiri.
"Selamat Malam, Mr, Haynsworth. Kami sudah berhasil menggeledah perusahaan keluarga Walcott. Terima Kasih atas kerja sama Anda," ia menjabat tanganku.
"Em, Sherif. Apa aku boleh minta tolong pada kalian?"
"Tentu saja Mr. Haynsworth. Kami merasa sangat terhormat jika kau meminta bantuan pada polisi. Karena selama ini kau yang selalu membantu kami."
"Apa kau bisa membantuku mencari wanita ini?" Aku menunjukkan foto Adel padanya.
Ia cukup terkejut ketika aku menunjukkan foto Adel padanya. Apa ada yang salah?
"Baiklah kalau begitu Key. Kami akan berusaha untuk membantumu menemukannya. Kami permisi dulu," Sherif menepuk bahu kokohku.
***
1 weeks later
"Apa kau sudah menemukannya?" tanya Aswin pada Sherif di seberang sana.
"..."
"Oh, baiklah."
Where are you, Adel?
Aku baru saja kembali dari rumah sakit, kemarin. Seminggu penuh aku tidak bisa tidur dengan tenang, karena aku terus mencari keberadaan Adel. Dan membuat kesehatanku menurun.
"Aku sebenarnya tidak ingin mengatakan hal ini padamu. Tapi sepertinya, Lirya memang benar."
Aku menaikkan alisku sebelah.
"Aku tidak akan percaya dengan kata-katanya sampai aku menemukan sendiri jasad dari Adel."
Drtt
"Hallo?"
"..."
"Apa? Yah, baiklah."
"..."
"Aku tidak percaya dengan semua ini Key, dan tentu saja kau juga tidak akan percaya."
"Bicaralah dengan jelas As!"
"Mereka telah menemukan jasad Adel. Mayat itu memakai baju yang sama seperti dipakai Adel terakhir kali. Tapi mereka tidak bisa begitu mengenali wajahnya, karena sedikit hancur."
Setelah sampai, aku segera menemui Sherif. Beberapa wartawan membuat akses jalanku tertunda. Polisi pun segera membantuku.
"Sherif!" teriakku.
"Jasad ini mirip sekali dengan Ms. Adelaide, Key. Tapi sepertinya wajahnya sudah tidak dapat terlihat dengan jelas. Kami akan segera melakukan autopsi, untuk lebih yakin bahwa mayat ini adalah jasad Ms. Adelaide."
"Adel!" tangis Cathrine meledak begitu saja. Ia berlutut dengan lemas, sambil memukuli kepalanya. Aswin segera menahan Cathrine untuk tetap tenang.
Sama seperti Cathrine. Aku sendiri tidak dapat mengatakan apapun. Rasanya mulutku telah terjahit dengan sempurna. Hanya ada airmata yang dapat menggambarkan kesedihanku.
Satu hal lagi, aku tidak tahu harus mengatakan apa kepada kedua orang tuanya. Belakangan ini, orang tua Adel terus menghubungiku. Aku sama sedihnya dengan mereka.
Kenapa kau meninggalkanku terlalu cepat, Adel?
***
3 days later
Acara pemakaman telah selesai, tapi aku masih memutuskan untuk tetap berada. Orang tua Adel sendiri sudah pergi dari pemakaman. Seperinya mereka sudah tidak sanggup melihat Adel.
"Aku turut berduka cita Key," ucap seorang wanita, dan mengelus pundakku.
Aku menepis tangannya, dan membuatnya merengek seperti anak kecil.
"Untuk apa kau kesini?"
"Aku peduli padamu Key. Aku tau kau sangat sedih karena kepergian Adel. Jika kau sangat sedih, aku siap untuk menghiburmu Key"
Aku tidak mempedulikan kata-katanya, dan masih menatap tumpukan bunga yang bersandar di dekat namanya.
"Aku tidak peduli jika kau mengacuhkanku. Aku maklumi saja, karena kau masih depresi." Lirya mengecup bibirku sekilas.
Lirya menggandeng tanganku dan membawaku melangkah keluar pemakaman. Aku masih tidak percaya dengan semua ini.
Aku yang membuatmu menderita sampai seperti ini. Tapi, kenapa harus kau yang menanggung semua ini?
Bulu kudukku tiba-tiba saja berdiri. Aku merasakan sepasang mata sedang mengintaiku. Aku pun menghentikan langkahku dan menoleh ke sekelilingku, tapi tidak ada siapapun.
Aku rasa, karena aku tidak tidur lagi selama 2 hari ini. Sehingga membuagku terlalu banyak berkhayal.
"Ada apa Key?"
Aku hanya menggelengkan kepalaku, dan meneruskan langkahku masuk ke dalam mobilku, yang kemudian Lirya juga masuk ke dalam mobilku.
***
"Aku akan membuatkan jus buah untukmu. Kau sepertinya kekurangan banyak vitamin, sehingga membuat tubuhmu lemas."
Aku tak menjawabnya, tapi ia menggunakan inisiatifnya untuk membuat jus.
Tak lama kemudian, Lirya datang membawakan segelas jus jeruk.
"Minumlah Key! Meskipun hanya sedikit"
Aku pun meneguk sedikit dari jus itu.
"Aku tidak ingin kau seperti ini," ucap Lirya membuka pembicaraan.
"Jika kau tidak ingin aku seperti ini, kenapa kau tidak mencoba menahan Adel, heh!" ucapku kesal.
Ia mengira bahwa aku akan lupa dengan penjelasan darinya. Tentu saja aku masih marah padanya dan pada diriku sendiri.
"Key! Berhentilah memikirkannya! Aku tau bahwa kau marah padaku karena tidak menolongnya. Oke, aku minta maaf padamu. Tapi, apa kau tidak bisa memikirkan perasaanku yang tulus ini? Aku kembali kesini hanya untuk membahagiakanmu, Key."
Tiba-tiba aku merasa pusing dan hampir ambruk. Lirya segera menahanku, dan membuat wajahku dan wajahnya sangat dekat sekali. Aku mencoba untuk tetap sadar, meskipun cukup sulit.
"Kembalilah padaku Key!" Lirya memegang kedua pipiku dan mencium lembut bibirku.
Entah kenapa, aku malah membalas ciumannya. Tubuhku seakan lemah di hadapannya. Kau tidak boleh seperti ini Key!
Lirya mendorong dadaku pelan, hingga aku terbaring. Ia membuka kancingku perlahan. Damn! Kenapa aku susah sekali untuk bergerak.
Lirya melepaskan ciuman kami ketika ia berhasil membuka semua kancing bajuku. Aku tidak tahu, kenapa aku menginginkan sentuhan Lirya.
Lirya membuka bajunya, dan kini ia menampilkan tubuhnya dengan balutan bra saja.
Ketika ia ingin mendekatkan wajahnya lagi, tiba-tiba suara petasan mengejutkan kami. Pikiranku segar kembali. Aku pun segera menyingkirkan tubuh Lirya yang menindihku sedari tadi.
Aku segera berdiri dan mencari asal suara petasan. Tapi aku tidak tahu darimana asal petasan ini. Padahal pintu tertutup sangat rapat, aku juga tidak mendengar ada orang yang membuka jendela.
Apa ini semua teguran dari Adel?
to be continue...