
17+
Key POV
Dia terlihat terkejut ketika masuk ke dalam kamarku dan melihatku bertelanjang dada. Aku smirk melihatnya yang bertingkah sangat lugu.
"Maaf Tuan, dimana saya harus meletakkan sarapan Anda?" tanyanya yang kudengar dengan penuh kegugupan.
Terdengar asing kudengar kau memanggilku seperti itu.
"Letakkan saja di samping laptopku, dan susun beberapa map itu," pintahku. Ia pun mengerjakan apa yang ku minta.
"Saya permisi Tuan," ucapnya setelah selesai merapikan dokumenku. Ia terlihat buru-buru pergi, dengan cepat aku meneriakinya.
"Tunggu dulu!" teriakku dan membuatnya menghentikan langkahnya.
"Aku ingin minta tolong padamu." Aku mulai melangkah mendekatinya.
"Iya Tuan?"
Aku sudah tepat dibelakangnya, sedangkan ia masih meunggungiku. Aku bisa merasakan nafasnya yang tidak beraturan.
"Kenapa memanggilku seperti itu, Miss France?"
Aku membalik tubuhnya, sehingga tubuhnya menghadapku dengan benar. Lalu, aku mendorong tubuhnya perlahan, hingga punggungnya bersentuhan dengan dinding kamarku yang dingin.
Aku mengecup pipinya lembut, namun tangannya sangat mengangguku. Aku pun menahan tangannya yang mendorong dadaku. Aku smirk padanya, lalu mengecup bibirnya lembut. Masih sama seperti yang kurasakan dulu.
Tangan kananku melepaskan tangan kananya, dan aku segera mengunci pintu. Ia membalas ciumanku, lalu melingkarkan kedua tangannya di leherku. I like that
Aku mengelus rambutnya dengan lembut, menebarkan aroma manis yang membuatku semakin semangat untuk menciumnya lebih lama lagi. Tanganku reflek menarik bajunya ke atas, namun dengan segera ia menahanku. Aku melemparkan kacamata besarnya entah kemana.
Ia melepaskan ciumanku, dan menarik nafas panjang. Matanya membulat sempurna. Nafasnya yang naik turun, bisa kurasakan di tubuhku. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali.
"Ka...kau..." ucapnya terbata-bata.
Aku smirk, lalu mengecup bibirnya sekilas. Dan aku berhasil membuatnya terkejut lagi.
"Terlalu panas yah, untuk morning kiss?" tanyaku sambil smirk.
"Ba..bagaimana?"
Flashback
Malam itu, aku menuju ke dapur karena tidak ada seorang pun yang menyahuti panggilanku. Aku rasa mereka semua sudah tidur.
Aku mengambil air di kulkas, dan aku mendengar seseorang sedang bernyanyi dengan sangat pelan. Suara itu membuatku sangat penasaran, dan membuatku melangkah ke pintu belakang. Ternyata maid itu.
Saat aku akan berbalik, aku mendengarnya memanggil nama Key. Aku kembali melihatnya lagi, dan ia terlihat menangis. Aku langsung mengendap-ngendap ke balik tiang rumahku yang ukurannya sangat besar, agar bisa mendengarnya lebih jelas.
Jelas saja aku penasaran. Dari awal bertemu, ia memang membuatku selalu memikirkannya. Aku selalu bersikap dingin padanya, agar aku bisa melupakannya. Melupakan bahwa ia bukanlah Adel.
"Key! Aku tidak tahan lagi melihatmu bersama wanita itu!" Aku terkejut mendengarnya.
Atas dasar apa ia mengatakan itu? Padahal ia baru saja menjadi maid beberapa minggu yang lalu, tapi ia sudah seperti itu. Aku memang tidak menyukai Lirya, tapi bagiku dia hanyalah seorang maid.
"Aku ingin sekali mengatakan yang sebenarnya padamu. Tapi aku tidak ingin terlalu cepat membuka jati diriku yang sebenarnya. Aku harus melakukan rencanaku."
Jati diri yang sebenarnya? Adel?
"Lirya mencoba untuk membunuhku dan ingin merebut dirimu dariku."
Hampir saja aku menjatuhkan gelasku. Aku mematung sejenak mendengar kalimatnya. Kemudian kembali mendengarkan semua perkataannya.
Sebelum ia sadar dengan keberadaanku, aku melangkah perlahan masuk ke dalam rumah.
Sedih bercampur bahagia kurasakan saat ini. Sedih karena ia tidak ingin mengungkapkan yang sebenarnya padaku. Dan senang, karena ia masih hidup. Aku ingin memeluknya, menenangkannya, dan menciumnya.
Apa yang sebenarnya kau rencanakan, Adel?
Flashback end
"Apa kau tidak tahu, betapa senangnya aku mengetahui bahwa kau masih hidup?"
Matanya mulai berkaca-kaca, sebelum akhirnya jatuh di pipi mulusnya. Aku mengusap airmatanya, meskipun masih banyak lagi yang akan turun lagi membasahi pipinya.
"A..aku," ucapnya terbata-bata.
Aku menahan bibirnya dengan dengan jari telunjukku, agar ia tidak meneruskan kata-katanya. Aku mendekapnya dalam pelukanku, dan aku merasakan kedamaian di dalam diriku, yang sudah lama sempat hilang dariku.
***
"Berapa lama kau akan duduk dan menatapku seperti itu, hem?"
"Aku ingin disuapi olehmu," ucapku manja.
Ia memutar bola matanya dan berdecak.
"Berhentilah bertingkah seperti anak kecil, dan habiskan makananmu!"
Ia masih sibuk menyusun beberapa dokumenku yang berhambur di rak kamarku.
Aku menghampirinya dan memeluknya dari belakang. Ia terus menggerakkan bahunya untuk melepaskan tubuhnya dari pelukanku. Tapi sayang, semua usahanya hanya sia-sia. Hal itu sama sekali tidak berpengarih padaku.
Aku mencium tengkuknya dan membuatnya merasa geli. Menggapai dagunya, dan membawa dagunya menghadapku. Dan mengecupnya sekilas.
Hasilnya, aku hanya mendapatkan pukulan darinya.
"Makanlah! Dan aku akan menemanimu," ucapnya jutek.
"Emm, baiklah."
Aku mulai menyantap sarapanku, sedangkan ia masih sibuk menatapku. Mata hijaunya membuatku sedikit risih, karena aku tidak ingin ia memakai lensa ketika sedang menatapku. Menurutku itu sebuah penghalang.
Ia terlihat sedang mennggigit bibirnya. Meskipun itu sudah kebiasaannya, tetap saja aku menganggapnya sebuah godaan.
"Jika kau terus menatapku seperti itu, bisa-bisa makanan ini tidak habis. Dan kau lah yang akan kehabisan nafas," ucapku dengan penuh kemenangan.
"Ohya?" tanyanya yang membuatku mendengarnya seperti sebuah tantangan.
"Kau menantangku?" balasku sambil smirk.
Baru saja aku akan berdiri dari tempat dudukku, ia sudah berdiri dulu dan menahan pundakku untuk duduk kembali.
"Jangan berdiri!" pintahnya.
"Aku akan kembali ke dapur, dan kau lanjutkan saja makanmu!" pintahnya lagi.
Aku mengangguk pelan dan tersenyum. Tapi, aku menunggunya mengucapkan sesuatu.
"Ah, aku hampir saja lupa. Kacamataku?"
Ia mengarahkan pertanyaannya padaku. Sedangkan aku, hanya pura-pura diam tidak mendengar apapun dan melanjutkan sarapanku. Ia terlihat kesal dan menghampiriku.
"Kacamataku, Key!" cetusnya.
Aku geregetan dibuanya, dan aku pun menariknya ke pangkuanku. Matanya membulat sempurna, lalu mengerjapkan matanya beberapa kali.
"One more Kiss!" Aku menyentuh bibirku dengan jari telunjukku.
Ia memutar bola matanya dan berdecak lagi.
"Key, aku serius," ucapnya malas.
"Kalau begitu, aku juga serius."
Tanpa perintah darinya, aku langsung mendudukannya di atas meja. Lalu menciumnya lembut. Aku mengenggam jemarinya, dan memberikan kiss di bahu kananya. Ia sedikit mendesah, dan membuatku berhenti melakukan aksiku.
Aku tertawa karena melihat raut wajahnya yang sangat lucu. Ia segera bangun dan merapikan pakaiannya.
"Baiklah, kau sudah memintanya. Jadi, mana kacamataku?"
Aku mengeluarkan kacamatanya dari saku celanaku. Dan ia merampas begitu saja dariku. Kemudian melangkah ke arah pintu kamar.
"Adel!"
Ia menoleh dan menampilkan raut wajah bahwa ia sedang menunggu kalimatku selanjutnya.
"I like your bangs."
Ia tersenyum dan memegang poninya. Lalu melangkah keluar kamar lagi.
***
"Apa kau sudah menemukan tanda-tanda keberadaan Borowsky?" tanyaku pada Aswin yang sibuk mengetik, yang aku tidak mengerti apa itu.
"Ketemu," ucapnya kemudian.
"10 jam yang lalu, ia sedang naik kereta menuju London. Lalu ia berangkat menuju Rusia, dan saat itu ia sudah tidak bisa dapat dilacak lagi. Aku rasa small eyes ini, sedikit bermasalah. Aku akan mencoba meperbaikinya lagi nanti." Aku dan Cath mengangguk paham.
"Apa itu?" tanya Cathrine, menunjuk ke arah luar jendela.
Kami terus memperhatikan cahaya merah itu. Dan ketika sudah mulai mendekat, kami baru sadar bahwa itu sebuah roket.
"Sial!"
Kami segera keluar menuju jendela, dan melompat dari ketinggian 4 lantai. Apakah harus seperti ini lagi?
"Arghh!" teriak kami bersamaan ketika badan kami terbentur beberapa tembok dan akhirnya jatuh di atas truk pengangkut jerami, yang kebetulan dengan parkir di samping kantorku.
"Shit!" teriakku sambil memegang lenganku. Kami berusaha berdiri dan turun dari truk. Meskipun rasanya 100 kali lipat lebih sakit.
Tak lama setelah kami jatuh, seseorang menghampiri kami. Dan aku yakin bahwa itu adalah Johnny Borowsky.
Ia menepuk tangannya beberapa kali, lalu tersenyum. Senyum yang mengatakan bahwa ia adalah seorang penjahat terhebat di dunia.
"Aku sudah bilang pada kalian, untuk melupakan misiku. Dan bergabunglah dengan jaringanku."
"Hem, dasar ba*in*an! Sebentar lagi kau akan kami tangkap, jadi tenang saja. Puaskan saja dirimu berbuat jahat, sebelum akhirnya kau akan dihukum mati!"
"Silahkan saja, kalau kalian bisa."
Ia mengeluarkan sebuah benda, yang berbentuk seperti tembakkan. Dan menembakkannya begitu saja pada kami. Bukan sebuah peluru, tapi bisa kurasakan bahwa itu adalah obat bius.
Tak lama setelah itu, ia menghilang dari pandangan kami. Aku masih sempat mendengar suara alarm mobil polisi, sebelum akhirnya kami pinsan.
To be continue....