
Adel POV
05:00 AM
Aku sengaja bangun lebih awal hari ini. Karena Mrs. Haynsworth dan Mr. Haynsworth akan berangkat pukul 8 AM nanti. Mereka bilang ada urusan mendadak, yang membuat mereka harus berangkat hari ini juga.
Aku rasa, mereka semua masih tidur, termasuk Key. Yah, meskipun aku tidak terlalu yakin bahwa Key akan tidur sungguhan ketika aku tidak ada di atas tempat tidur.
"Ms. Adel, apa yang sedang Anda lakukan?" tanya seorang pelayan yang terlihat seumuran denganku. Kuakui bahwa aku sedikit terkejut.
"Ah, aku sedang membuatkan makanan prancis untuk sarapan pagi. Ohiya, kita belum berkenalan, siapa namamu?" tanyaku ramah.
"Em, panggil saja aku Sisca, Ms."
"Kau tidak perlu memanggilku Ms. Cukup memanggil namaku saja, Adel," ucapku sambil tersenyum padanya.
"Tapi..."
"Shutt! Jangan melanggar perintahku tadi!"
Sisca pun ikut membantuku membuat sarapan. Akan lebih baik lagi jika aku bisa akrab dengan semua orang di rumah ini.
Aku merasakan seseorang mendekapku dari belakang. Aku pun menoleh.
"Key!"
Aku langsung menggerakkan pundakku agar ia melepaskan dekapannya. Pertama, aku tidak mau Sisca melihat ini, yang kedua aku tidak ingin jika Ayah dan Ibunya melihatnya mendekapku seperti ini. Meskipun Ayah dan Ibunya saat ini sedang tidur, bisa saja nanti mereka tiba-tiba bangun dan ke dapur.
Dan yang ketiga aku sedang membuat sarapan. Tentu saja aku sedikit sulit bergerak, karena ia menahan pergerakanku.
"Lepaskan Key! Aku sedang memasak."
"Lalu kenapa, jika kau sedang memasak? Aku juga ingin seperti di film-film romantis. Memeluk kekasihnya dari belakang, ketika sedang memasak."
Aku mendengus kesal. Ia selalu saja membandingkan kehidupan nyata dengan kehidupan di dalam film.
"Haha, leluconmu sangat lucu."
Aku pun mencuci tanganku, lalu mendorongnya untuk keluar dapur. Sedangkan Sisca hanya tersenyum melihat tingkah kami berdua.
"Jangan kesini, sampai aku selesai memasak!"
Ia menghembuskan nafasnya kasar, dan menggaruk kepalanya. "Bagaimana, jika kau berikan satu kiss, untuk pagi ini?" tawarnya.
Tentu saja ia membuatku sangat malu di depan Sisca. Aku pun menjentik dahinya dan ia pun meringis kesakitan, sambil berjalan menaiki anak tangga. Aku rasa dia akan kembali ke kamarnya. 'Biarlah.'
***
07:15 AM
Bertepatan denganku yang sedang mempersiapkan sarapan, Mr. Haynsworth dan Ms. Haynsworth, sudah terlihat berpakaian dengan sangat rapi saat menuruni anak tangga.
"Wah, siapa yang membuat sarapan ini?" tanya Mrs. Haynsworth yang baru saja datang ke meja makan.
"Ms. Adel Nyonya," jawab Sisca.
"Ah, sayang sekali aku tidak bangun lebih awal untuk membantumu memasak," sesalnya.
Tak lama kemudian, Key juga datang ke meja makan dengan berpakaian sangat rapi. Seperti biasa, ia selalu terlihat tampan dengan balutan kemeja putih dan jas abu-abu yang terlihat sangat pas di tubuhnya.
"Morning, Mother Father," sapanya sambil mengecup pipi Ms. Haynsworth.
"And.."
Baru saja ia ingin melangkah ke arahku, aku langsung memberikannya tatapan tajam. Ia hanya smirk kemudian duduk.
Karena semua sudah siap, aku berencana kembali ke dalam dapur untuk membersihkan bekas kegiatanku. Namun, sebelum aku melangkah ke dapur, Ms. Haynsworth menegurku.
"Kau tidak ikut sarapan, Adel?"
"Karena aku yang memasak, jadi aku tidak makan sekarang. Anggap saja, aku seorang chef hem," candaku.
Tepat setelah aku selesai mebersihkan dapur, tak lama kemudian mereka juga selesai makan. Mr. Haynsworth dan Mrs. Haynsworth segera bersiap-siap dan aku pun ikut menghantarkan mereka sampai ke depan pintu rumah.
"Aku berharap kau bisa menjadi menantuku," ucapnya sambil memelukku dan mengecup keningku. Aku jadi rindu ibuku.
Wajahku hampir saja memerah karena malu, dan aku pun melirik ke arah Key yang sedang terkekeh pelan. Ia yang sadar akan tatapan tajamku, langsung menghentikan tawanya.
"Dan untukmu Key, jangan pernah lepaskan wanita baik dan jago masak seperti Adel. Paham?" tegasnya sambil mencium pipi anak laki-lakinya itu.
Seketika, bulu kudukku berdiri mendengar Ibunya mengucapkan kalimat itu. Mereka berdua pun segera masuk ke dalam mobil. Ibunya melambaikan tangan dari dalam mobil, dan aku pun membalas lambaiannya.
***
Key POV
Sedari tadi, aku hanya terus melamun di atas meja kantorku. Padahal tinggal sedikit lagi, pekerjaanku akan selesai. Tapi, aku belum juga bisa konsentrasi dengan pekerjaanku ini.
'Key'
Suara panggilannya masih terngiang di pikiranku sedari tadi. Terlebih saat ibuku bilang, 'jangan pernah lepaskan wanita baik dan jago masak seperti Adel. Paham?'
Otakku semakin bersemangat untuk mengenang kembali dirinya.
Sentuhannya, nafasnya, dan tatapan matanya kembali terkenang di dalam kepalaku. 'Oh shit!'
Tok..tok
Suara ketukan pintu membuat lamunanku terhentikan. Aku pun menekan remote untuk membuka pintu.
"Maaf Mr. Haynsworth. Ada seorang wanita sedang ingin bertemu Anda. Tapi aku tidak mengetahui namanya, karena ia tidak ingin memberitahukan identitasnya. Kami....."
"Kalau begitu, suruh saja dia masuk."
"Baiklah, Mr. Haynsworth."
Setelah asistenku keluar, seorang wanita berambut coklat memakai dress putih, masuk ke dalam ruanganku. Aku menaikkan alisku sebelah, padahal aku melihat wajahnya dengan jelas. Hanya melihatnya berjalan saja.
"Hello Key? Long time no see," ucap wanita yang kukenali ini, sambil tersenyum.
Ia berjalan mendekatiku. Aku langsung menekan tombol untuk menutup pintu ruanganku dan berdiri dari tempat dudukku lalu menariknya duduk di atas meja kerjaku dan mencium bibirnya.
'Sial!'
Aku langsung melepaskan ciumanku dan berdiri menjauh darinya. Ia hanya tersenyum sambil menyilangkan kaki jenjangnya.
Aku sepertinya sudah hilang kesadaran sampai berani melakukan hal tadi. Lagi-lagi, aku mengulangi kesalahan yang sama. Yah, mungkin aku adalah salah satu kelompok pria brengsek.
'Jangan pernah lepaskan wanita baik dan jago masak seperti Adel. Paham?'
Kalimat ibuku tadi, seolah sedang mengetuk kepalaku.
"Key, are you okay?"
Aku menepis tangannya yang mencoba menyentuhku. Aku tidak ingin hilang kendali lagi.
"Key, tenangkan dulu pikiranmu!" teriaknya.
"Aku tau bahwa aku sudah menyakitimu di masa lalu. Aku tau bahwa kau membenciku, tapi tolong dengarkan alasanku kali ini," ucapnya dengan nada bersalah, namun aku sama sekali tidak terpengaruh.
"Aku sangat bimbang saat itu, karena aku harus memilih pekejaanku atau kau akan terluka. Mereka semua membencimu Key. Aku tidak mau kau terluka, jadi aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan kita," jelasnya panjang lebar, yang kudengar seperti nanyian lagu lama.
Terdengar seperti tulus, tapi aku tau bahwa ia sedang berdusta. Aku sangat mengenali dirinya.
"Aku..."
Ia menghentikan kalimatnya, dan wajahnya berubah menjadi sedikit tegang dan tampak pucat. Tangannya seperti meraba sesuatu. Aku menaikkan sebelah alisku karena heran. Dari awal ia memang terlihat mencurigakan.
"Apa kau...."
To be continue....