All In My Head

All In My Head
BAB 11



Adel POV


'Astaga! Sudah jam 6 pagi' Aku tergesa-gesa ke kamar mandi, karena aku sudah sangat kesiangan. Padahal Richard akan menjemputku jam 7. Pasti ini semua karena aku terjaga semalaman. Aku sibuk memikirkan kencan pertamaku ini. Untung saja semuanya sudah aku persiapkan tadi malam.


Rencananya, aku akan menyatakan perasaanku yang sejujurnya pada Richard. Jadi, aku membeli sebuah kado kecil untuknya. Ahh, aku jadi tidak sabar.


Setelah selesai mandi, aku segera mengeringkan badan, lalu memakai baju terbaik yang ku miliki, dan flat shoes biru dengan hiasan pita kecil di atasnya. Aku mengurai rambut pirangku, dan menggulungnya sedikit dengan alat hair styler. Tidak lupa aku menaruh kado kecil yang akan aku berikan untuk Richard ke dalam sling bag murahan yang baru aku beli tadi malam. Dan yang terakhir, tidak boleh kulupakan adalah menyemprotkan parfum yang baru tadi malam aku beli juga.


Baru saja keluar dari gedung apartemen, aku langsung berpapasan dengan Richard. Aku mematung karena terpesona oleh penampilannya. Dia sangat tampan dengan kemeja abu-abu, celana jeans, dan sepatu sneakers biru dongker.


Ia tersenyum padaku dan berhasil membuat wajahku merah seperti memakai blush on. Ia mengulurkan tangan kanannya. Aku jadi bingung dibuatnya. Tanpa seizinku, ia mengeratkan jari-jari nya dengan jari-jari ku. Aku hampir pingsan dibuatnya.


"Kenapa telapak tanganmu berkeringat? Kau sakit?" tanyanya padaku.


'Ahh, kenapa bisa berkeringat seperti ini.'


"Aku tidak berkeringat, tapi tadi aku habis mencuci tangan dan lupa mengelapnya." Untung saja aku bisa mencari alasan lain.


"Ayo," ajaknya.


"Iya."


Aku berdoa semoga kencan pertamaku ini adalah kencan yang paling indah.


***


"Apa kau ingin ice cream?" tawarnya padaku.


"Em, kita kan baru saja sampai, apa kita tidak jalan-jalan dulu?" tawarku balik padanya.


"Oh, baiklah." Ia tersenyum lagi dan mengambil genggaman tanganku.


Rasanya seperti menjadi sepasang kekasih saja, padahal ini semua hanya kencan sebagai seorang teman.


Kami melihat ratusan orang yang memakai kostum super hero. Meskipun aku bukan penggemar film super hero, tapi aku mengetahui nama-nama super hero. Aku mengangkat pandanganku ke atas. Aku bisa melihat beberapa orang sedang mengadakan pertunjukkan di atas panggung dan di sana juga ada Menteri Sosial. Richard dan aku ikut tertawa kemudian memberikan applause ketika pertunjukkan mereka selesai.


Seketika pandanganku kini teralih pada pria yang memakai kostum Captain America. Pria berkostum itu juga sepertinya sedang memandangi kami berdua. Aku yakin sekali kalau dia sedang melihat kami, karena mataku masih sangat sehat.


"Adel, bagaimana kalau kita mencoba naik bianglala?"


"Em baiklah," jawabku sambil mengangguk setuju.


Saat aku memandang ke arah pria itu lagi, ia sudah tertutup oleh orang-orang berkostum lainnya.


'Sepertinya ada yang salah dengan Richard?' Tadi dia menggenggam tanganku lembut dengan sangat lembut. Sekarang, ia justru sedikit mencengkeram tanganku. Aku sedikit merengek, tapi sepertinya ia tidak mendengarku karena suasana disini sangat ramai. Aku mencoba berpikir postif, mungkin ia sedang tidak sadar atau sedang emosi.


"Richard, bukankah arah menuju bianglala ada di sebelah sana?" Tanyaku padanya, karena kami malah pergi menjauh dari bianglala.


"Siapa bilang aku akan membawamu ke bianglala. Kita akan bersenang-senang Honey!" Senyum licik mengembang di bibirnya.


Hatiku menjadi sangat sakit mendengar perkataannya tadi. 'Dia bukan Richard yang aku kenal'


"Richard, lepaskan aku! Aku bukan wanita murahan!" Suaraku seperti terdengar sangat kecil karena suasana semakin ramai.


Aku mencoba melepaskan cengkeraman, tapi ia malah semakin kuat mencengkeram tanganku. Aku tidak boleh menyerah begitu saja. Aku memukul bokong wanita yang ada di sebelah kananku, dan wanita itu menoleh. 'Yes, aku berhasil."


"Nyonya, dia yang melakukannya," ucapku dengan menunjuk ke arah Richard.


"Hey anak muda! Kau belum pernah diajari sopan santun!"


"Rasakan ini!" Wanita tua itu memukul Richard dengan tasnya. Dan ia menjadi tontonan banyak orang.


"Dan ini hadiah untukmu, dasar pria licik!" Aku langsung meninju tulang pipinya. Meskipun tanganku terasa perih, tapi perlakuannya tadi lebih membuat hatiku perih.


"Terima kasih nyonya," ucapku sambil tersenyum pada wanita tua yang memukul Richard juga. Ia tersenyum balik padaku.


Senyum kembali mengembang dari bibirku. 'Rasakan itu!'


Aku segera berlari menjauh dari Richard. Tapi aku bingung harus kemana. Mencari jalan keluar saja sulit, yang ada aku hanya tersenggol dengan orang-orang.


Disaat aku sedang berhenti untuk mengatur nafas sejenak, pria yang memakai kostum Captain America tadi, menarik tanganku untuk berlari lagi.


"Cath, Aswin, pergi ke taman di sebelah festival sekarang!"


'Cath? Apa itu Cathrine?'


Pria ini membuka topengnya. Aku tidak percaya, bahwa pria ini adalah Key.


"Key?" teriakku padanya.


"Sudah, ikut saja denganku," pintahnya.


Key melepaskan genggaman tangannya, dan melihat ke kulit tanganku. "Kenapa tanganmu terluka?"


Aku bingung harus mengatakan apa. Pasti dia akan marah, karena aku sedang berjalan dengan seorang pria. Meskipun aku bukan kekasihnya, tapi ia selalu posesif padaku.


"Em, a..aku tadi terkena gelas kaca di rumah. Saat aku membersihkannya, pecahannya mengenai tanganku." Semoga dia tidak bertanya lagi padaku.


"Jangan bohong lagi Adel! Aku tahu semuanya. Kau sedang berjalan kan dengan pria. Dan pria itu mungkin seorang pria jahat yang sedang menyamar dan pura-pura baik padamu. Sudah kubilang, jangan terlalu cepat percaya dengan pria yang tiba-tiba baik padamu, atau dengan pria yang baru kau kenal!"


Aku hanya menunduk mendengar omelan Key. Karena semua yang ia katakan memang benar. Aku seharusnya tidak cepat percaya. Mungkin ini semua karena aku yang terlalu berharap bahwa Richard juga menyukaiku.


"Maafkan aku Key. Kau benar, pria itu hanya pura-pura baik padaku." Key memelukku erat. Rasanya hatiku menjadi tenang kembali. Rasa sakit yang diberikan oleh Richard tadi sudah tidak lagi kurasakan.


Tidak lama kemudian, Cathrine dan Aswin berkumpul bersama kami. Mereka mengeluarkan senjata lengkap dari dalam tas yang Cathrine bawa.


"Penembak itu berada di gedung sebelah kanan panggung," kata Cathrine sambil menunjuk ke arah pria yang sudah mengarahkan senapannya ke arah Menteri Sosial yang ada di atas panggung.


"Oh tidak, ini gawat!" Aswin menunjuk ke arah tangga yang tertutup tirai di sebelah kiri panggung.


"Kalau begitu, kalian tunggu disini. Aku akan menuju tirai panggung. Dan tetap awasi pria yang ada disana!" Kami semua mengangguk setuju.


"Key!" Ia menghentikan langkahnya dan menghadap ke arahku.


"Cepatlah kembali! Jangan sampai kau terluka!" Ia tersenyum padaku kemudian berlari lagi.


Belum ada lima menit, Key sudah berhasil menghabisi pria yang berada di tangga yang tertutup tirai itu. Kami tersenyum padanya, meskipun jarak kami yang sangat jauh dengannya.


'Oh tidak!'


Pria berbada besar dan tinggi, dengan seragam hitam, berada di belakang Key. Ia sudah bersiap-siap untuk menghajar Key.


"Awas Key! Dibelakangmu!" Teriak Cathrine melalui alat komunikasi canggihnya.


'Oh God! Aku mohon, tolong selamatkan Key."


to be continue...