All In My Head

All In My Head
BAB 39



Author POV


Pada malam harinya, Key memutuskan untuk pulang lebih awal. Lebih tepatnya, ia pulang hanya untuk memastikan agar Adel tidak salah paham.


Lirya menuntun Key masuk ke dalam rumahnya. Setelah sampai di depan pintu, mata Key mulai berkeliling mencari Adel. 'Dimana dia.' Key mulai terlihat gelisah.


Namun ia segera menyembunyikan kegelisahannya itu agar Lirya tidak mencurigainya. Ia enggan menaiki anak tangga, karena ia masih ingin mencari Adel. Ia sudah bisa menebak bahwa Adel pasti akan salah paham.


"Tidurlah Key. Besok aku akan menemuimu lagi." Lirya mengecup sekilas pipi Key dan kemudian beranjak ke luar kamarnya.


Key meraih ponsel miliknya yang lain di atas kasur, kemudian menghubungi Sisca. Ia berpura-pura meminta minuman, padahal ia sama sekali tidak haus.


Tak lama kemudian, Sisca tiba di kamarnya membawa segelas air putih.


"Apa kau salah satu pendengar gosip itu?" tanyanya pada Sisca.


Sisca menggelengkan kepalanya.


"Kenapa kau menggeleng?" tanyanya lagi.


"Meskipun Alexa baru beberapa minggu di rumah ini, tapi aku yakin bahwa ia orang yang baik. Maaf aku lancang mengatakan ini Tuan, tapi Alexa memiliki kepribadian yang mirip sekali dengan Ms. Adel," jelasnya.


"Jadi, dimana ia sekarang?" tanyanya.


"Ia sudah pergi semenjak kejadian itu, Tuan."


Sudah kuduga....


Key mengangguk dan menyuruh Sisca kembali ke kamarnya. Ia mencari nomor ponsel beberapa temannya yang menjadi mata-mata, untuk mencari keberadaan Adel.


Baru saja ia akan menghubungi mereka, ia melemparkan kembali ponselnya. Ia hampir saja lupa bahwa nyawa Adel akan berbahaya jika Lirya sampai mengetahuinya. Lirya terlalu cerdas untuk mengetahui segalanya dengan cepat.


Ia menggaruk rambutnya kasar, kemudian beranjak dari tempat tidur dan mengambil mantelnya. Lalu, ia keluar kamar dan menuju garasi mobilnya.


Aku yang akan mencarimu sendiri Adel.


***


Sudah 2 jam Key mengelilingi Kota, tapi ia tidak tau harus menemukan Adel dimana. Ia menyesal pada dirinya sendiri yang tidak bisa melindungi Adel. Baru saja ia mendapatkan permata miliknya, dan sekarang ia harus kehilangan lagi.


Key memutuskan untuk mampir ke sebuah minimarket yang tidak jauh dari jangkauannya. Ia membeli beberapa minuman soda dan air putih. Ia bukanlah tipe pecinta minuman alkohol, tapi ia adalah penggila minuman soda.


Tak jauh dari pandangannya, ia melihat seorang wanita yang tampak mencurigakan. Ia pun memutuskan untuk menaruh minumannya di dalam mobil, dan mengikuti jejak wanita itu.


Perasaannya mengatakan bahwa wanita itu adalah Adel. Meskipun tidak begitu yakin, ia tetap mengikutinya.


Setelah cukup lama wanita itu berjalan, akhirnya wanita itu masuk ke sebuah apartemen mewah. Key melihat dengan seksama bentuk apartemen mewah itu. Dan ia teringat sesuatu.


Yah, apartemen itu adalah milik keluarga Hoshwind. Aku akan menemukanmu.


***


"Bisakah kau mencari tahu lebih dekat tentang keluarga Hoshwind?" tanya Key.


"Keluarga milyunner itu?"


"Iya, benar. Apa kau tau tentang mereka?"


"Aku tidak terlalu tau mereka. Yang hanya kuketahui adalah mereka punya beberapa perusahaan yang memproduksi persenjataan, pesawat, restoran, buku dan masih banyak lagi."


"Wow!" kagumnya.


"Kenapa kau kagum? bukankah kau sendiri lebih kaya dari mereka?" Aswi tersenyum jahil.


"Tunggu dulu! Kenapa kau tiba-tiba bertanya tentang mereka?"


Key menggeleng, dan pikirannya mulai tertuju pada rencananya.


Tok tok tok


Key menyuruhnya masuk. Kaki jenjang seorang wanita masuk ke dalam ruangan Key, yang tak lain adalah sekretarisnya sendiri.


"Ini Pak, semua proporsal pengajuan yang anda minta." Sekretarisnya membuka beberapa map yang berisi proporsal yang akan ditandatangani oleh Key.


"Saya sudah menghubungi pihak perusahaan Mr. Hoshwind. Dan katanya, Anda bisa melakukan pertemuan sore ini."


Key mengangguk mengerti dan menyuruh sekretarisnya pergi. Aswin mematung sejenak, mendengar percakapan Key tadi. Baru saja Key menanyakan tentang keluarga itu, dan sekarang ia sudah menyiapkan berkas untuk melakukan kerjasama dengan keluarga itu.


"WTF! Key? Baru saja kau bertanya tentang mereka, dan sekarang kau akan melakukan pertemuan dengan mereka.


Kerja sama ini dilakukan oleh Key hanya untuk bertemu dengan Adel. Ia sangat yakin bahwa Adel sedang bekerja dengan keluarga.


***


"What?" 


Adel seketika terkejut mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Sugar. Bagaimana tidak? Sugar baru saja menawarkan pekerjaan beberapa hari yang lalu, dan sekarang ia harus melakukan presentasi di depan klien. Padahal, ia belum bekerja sama sekali.


"Aku tau bahwa kau mampu, Adel. Ayahku tidak bisa datang rapat, karena dia ada urusan mendadak. Aku bohong padanya bahwa selama ini aku bekerja dengan baik di kantor, padahal aku menyuruh sekretarisku untuk mengerjakan semua pekerjaanku," jelasnya cukup panjang.


"Lalu, jika ada pertemuan?"


"Aku hanya beralasan saja, hehe. Pura-pura sakit, pingsan atau apapun lah itu, asalkan aku bisa menghindari pertemuan itu." Sugar terkekeh pelan.


Adel masih memikirkan tawaran Sugar, sedangkan Sugar terus saja memohon padanya. Dengan berat ia mengatakan bahwa ia menerima tawaran Sugar.


Sugar berteriak kegirangan, dan memeluk Adel.


"Tapi, siapa klien itu?" tanyanya penasaran.


"I don't know. Ayahku hanya mengatakan bahwa kita harus melakukan presentasi dengan sangat baik. Karena salah satu dari klien itu, seseorang yang diibaratkan sebuah kesempatan emas."


Adel mendengus nafas. Ia takut jika klien itu adalah Key.


***


Tomorrow


Jarum jam menunjukkan pukul 7 pagi. Adel segera bersiap-siap pergi ke kantor untuk melakukan pertemuan dengan klien, yang bisa dibilang kesempatan emas.


Tidak lupa juga, ia memasang rambut palsunya, lensa dan kacamata. Meskipun menurutnya sia-sia saja menyamar, jika klien itu adalah Key.


"Wah! Kau terlihat sangat cantik." Sugar memuji Adel. Ia hanya tersenyum kecil.


"Good luck! Adel."


Sugar menyemangati Adel, meskipun ia sangat bersalah telah menyuruh Adel menggantikannya. Adel hanya membalasnya dengan senyum simpul. Adel menarik nafas panjang sebelum ia keluar dari penthouse.


Tak lama kemudian, mereka berdua pun tiba di kantor Sugar. Sugar segera menuntun Adel ke ruangannya.


"Kita di sini saja dulu, sampai sekretarisku memanggilmu."


Tak lama kemudian, sekretaris mengetuk pintunya dan memanggil Adel karena klien mereka sudah tiba. Berulang kali Adel menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya.


Ingin rasanya ia pingsan sekarang, akan tetapi ia ingat dengan semua kebaikan yang diberikan oleh Sugar padanya. Namun disisi lain, ia takut bahwa dugaannya ternyata benar. Benar bahwa klien itu adalah Key.


Jantungnya mulai berdetak tidak beraturan. Tangannya terasa dingin dan butiran keringat mulai mengalir dari dahinya, padahal AC ruangan kantor sangatlah dingin.


"Silahkan masuk, Ms. Adel."


"Terima Kasih," ucap Adel pada sekretaris Sugar.


Ia menarik nafas lagi, sebelum menarik kenop pintu. Ketika ia berhasil masuk ke ruangan itu, seketika kakinya terasa kaku untuk melangkah lagi. Key tepat duduk di bangku yang berhadapan langsung dengan Key.


Selain Key, ia juga melihat Aswin dan beberapa klien lainnya. Ia yang sadar dengan posisi tubuhnya yang mematung, segera berdiri tegak. Kemudian mengahmpiri meja pertemuan.


Ia merasa risih karena Key terus melihatnya dengan senyum simpul di wajahnya. Oh God! Kenapa harus dia?


Adel segera membuka laptopnya dan melakukan presentasi. Meskipun ia baru saja mempersiapkannya dalam waktu semalam, Adel mampu melakukan presentasi dengan sempurna.


"Jadi, selain melakukan promosi di toko buku, kami juga akan melakukan presentasi melalui website kami dan beberapa aplikasi membaca online milik kami. Baik itu saja, presentasi dari saya. Terima Kasih."


Adel menutup presentasi itu dengan sangat baik, dan ia mendapatkan tepuk tangan dari beberapa klien yang hadir. Dan mereka semua pun tertarik untuk bergabung dengan perusahaan milik keluarga Hoshwind. Termasuk Key sendiri.


Meskipun dari awal sampai akhir ia tidak mendengarkan presentasi dari Adel, melainkan memandangi Adel. Ia tidak peduli dengan presentasi Adel. Jika saja presentasi Adel sangat buruk, ia akan tetap menandatangani surat kerja sama.


"Key, aku turun lebih dulu. Adikmu yang cantik itu akan cemberut lagi jika aku telat mengajaknya makan."


Key hanya mengiyakannya. Setelah semua klien keluar, dengan bebas ia menarik tangan Adel dan membuat tubuh Adel menabrak dadanya.


"Seperti apapun kau menyamar menjadi siapapun, aku akan tetap tau bahwa itu kau, Adel," ucapnya sambil menatap manik mata Adel.


Sedangkan Adel, ia berusaha untuk melepaskan dirinya dari dekapan Key. Rasa sakit itu masih melekat di hatinya. Dimana ia harus bersiap untuk kehilangan cintanya.


"Kau tidak pernah mendengarkan penjelasan dari orang lain, maka dari itu kau cepat sekali salah paham," jelasnya.


Adel menatap Key dengan bingung. Key yang gemas melihat Adel, langsung mengecupnya sekilas. Dan berhasil membuat mata Adel membulat sempurna.


"Maukah kau makan siang denganku?"


Adel memikirkan ajakan Key, kemudian ia mengiyakannya.


Mereka berdua masuk ke dalam lift. Suasana sangat hening, tak ada perbincangan atau apapun. Adel masih sibuk meremas tangannya sendiri, sedangkan Key hanya memandangi Adel.


"Lupakanlah semua yang membuatmu gelisah itu!" ucap Key sekilas, kemudian mendorong tubuh Adel, sehingga punggungnya terbentur dinding lift.


Lalu ia mencium Adel dengan begitu bersemangat, seakan ia sedang kelaparan. Tangan Adel tergerak untuk memegang wajah Key, tapi ia tidak akan membiarkan Adel menyentuh atau menganggu ciuman darinya.


Ia pun segera mengunci tangan Adel ke atas. Saat lift terhenti, mereka langsung menghentikan ciuman panas itu dan segera merapikan pakaian mereka. Adel tersenyum kecil sambil menggit bibir bawahnya.


To be continue...