
Adel POV
Aku tahu bahwa kemarahanku tadi malam, memang tidak masuk akal. Key hanya bermaksud membantuku, meskipun ia mengatakan kebohongan itu. Tapi, mendengarnya saja membuat tubuhku menjadi lemas dan membuat mataku berkaca-kaca.
Ku lirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kiriku, 'sudah pukul 12 siang'. Hari ini dosen kami sedang berhalangan hadir, jadi kami sedang berada dalam kebebasan. Dan juga, aku tidak melihat wujud Cath yang biasanya berteriak di kelas jika sedang ada jam kosong. Pantas saja suasana kelas hari ini sedikit lebih tentram dari biasanya.
Biasanya aku selalu ke perpustakaan jika sedang tidak ada kelas, kali ini aku mengurungkan niat untuk pergi ke perpustakaan. Pertama, aku sedang badmood dan yang kedua aku takut jika nanti bertemu Key. Menurutku, kantin lebih cocok untuk suasana hatiku saat ini. Mungkin dengan meneguk sekaleng minuman soda bisa sedikit menghilangkan stres. Walaupun sebenarnya aku tidak terlalu suka minuman soda.
Semua orang terlihat sibuk dengan gadget mereka masing-masing. 'Aku?' Tidak usah ditanya lagi. Menatap layar gadget selama 5 menit saja tidak pernah, apalagi sampai berjam-jam.
Baru saja aku membaringkan kepalaku di atas meja, namun sepertinya seseorang sedang duduk di sebelahku dan membuatku menoleh. 'Ini sebuah kenyataan atau hanya mimpi? Apa ada yang bisa mendengarkan pertanyaanku?'
"Apa aku boleh duduk di sini?"
'Suranya.'
Seketika membuatku teringat dengan idolaku, Theo James. Sepertinya, ia bukan seorang mahasiswa. Menurut pandanganju, dia berumur sekitar 26 tahun atau mungkin lebih. Pekerjaannya mungkin CEO, dan terutama sepertinya ia seorang playboy. Matanya yang berwarna biru, melengkapi ketampanannya. Meskipun menurutku, Key lebih tampan darinya.
"Hey! Are you okay?" tanyanya sambil mengibaskan telapak tangannya di depan mataku, dan membuatku tersadar dari lamunanku.
"Oh Yes, I'm okay."
Aku beranjak dari tempat dudukku, karena aku bingung harus melakukan apa. Aku terlalu gugup duduk di sampingnya. Tapi sebelum melangkah, ia menahan lengan kanananku, dan tentu saja aku terkejut. Aku membulatkan mataku dan melihat tangan kokohnya sedang menahan lenganku.
"Apa aku mengganggu? Sampai-sampai kau harus mengalah dan pergi dari sini," tanyanya sambil tersenyum simpul. 'Senyumnya sangat manis.'
"Eh tidak, kau tidak mengganggu sama sekali. Aku hanya ingin pergi saja, karena aku sudah lama sekali berada di sini," jawabku asal.
"Bagaimana kalau kau menemani makan siangku?" tawarnya.
'What? Aku menemaninya makan siang?'
"Maaf, Mr?"
"Oh aku lupa, perkenalkan namaku Jacob Walcott, kau bisa memanggilku Jacob." Ia tidak lagi memegang lenganku, melainkan mengulurkan tangannya untuk bersalaman denganku.
'Tunggu dulu! Nama belakangnya Walcott? Apa dia brother dari Kate Walcott?'
"Maaf Mr. Wallcot, apa kau saudara dari Kate Walcott?"
"Iya kau benar," jawabnya sambil tersenyum. Aku kembali duduk di sampingnya, mengurungkan niatku untuk pergi.
"Ternyata memang benar, adikku adalah seorang yang populer," imbuhnya.
'Haha, iya kau memang benar. Dan dia juga pacarnya Key.'
"Kenapa wajahmu cemberut seperti itu?"
"Ah, tidak. Aku hanya sedikit kesal."
'Kesal karena adikmu adalah kekasih Key.'
"Maaf kalau aku membuatmu kesal." Ia menampilkan senyumannya yang menurutku senyum terbaiknya.
"Ah bukan, bukan kau maksudku, tapi seseorang. Dan lebih baik lupakan saja tentang ekspresiku tadi."
'Kalau saja aku gadis yang tidak tahu malu, pasti saat ini aku akan berteriak di depanmu kalau Kate sudah membuatku cemburu."
"Haha, baiklah ..."
"Adelaide Rosseau, panggil saja Adel." Aku mengulurkan tanganku untuk berjabat tangan dengannya.
"Jacob!"
Aku menoleh ke arah sumber suara itu.
'Kate'
Aku jadi tambah badmood ketika melihat wajahnya. Aku melihat sekelilingku, memastikan sesuatu. 'Ah, tidak ada.'
'Untuk apa lagi kau mencarinya Adel? Kau sendiri yang bilang bahwa kau sangat membencinya.' Kalimat itu seolah sedang membangunkanku, untuk tidak memikirkan Key lagi. Jujur saja, aku jadi merindukan Key.
"Aku dengar-dengar, kau mulai hari ini menjadi dosen disini?"
Ternyata instingku salah. Ia bukan seorang CEO, melainkan dosen baru di kampus ku.
"That's right, my honey sister." Ia mencubit pipi mulus Kate, dan tentu saja membuatnya meringis.
"Hey! Jangan lakukan ini di depan umum! Aku malu tau!"
'Malu? Bermesraan di depan umum dengan Key, kau tidak malu. Tapi hanya sebuah cubitan dari Kakakmu, kau merasa malu? Dasar gadis yang aneh.'
"Dan kau! Sedang apa kau duduk bersama dengan kakakku?" Ia menatapku dengan tatapan pembunuhan. Mirip sekali dengan penagih utang yang pernah aku lihat di film.
"Diamlah Kate, aku yang menyuruhnya untuk duduk di sini. Jadi kau diam saja!"
"Hey! Kenapa kau membentakku? Seharusnya kau diam saja, tidak perlu membelanya! Gara-gara dia, Key sekarang sudah jarang menemuiku dan mengajakku jalan. DASAR PEREMPUAN MURAHAN!"
'Shitt! Dia membuatku malu.' Semua orang melihatku karena teriakannya tadi. Dia bilang aku perempuan murahan? 'Sial! Bukannya dia yang lebih murah.'
Aku segera berdiri dari tempat dudukku, dan kekuar dari kantin sebelum ia membuatku lebih malu. Bukannya takut, tapi aku hanya malas saja meladeninya.
***
'Key'
Tulisan namanya sedang tampil di layar ponselku. Aku sengaja tidak mengangkatnya, karena aku masih kesal padanya. Tidak lama kemudian, seseorang sedang menekan bel apartemenku. Aku segera membuka pintuku tanpa mengintip terlebih dahulu.
"Adel."
"Key?" Aku reflek menutup pintuku, namun ia terlebih dulu menahan pintuku. Aku terdorong ke belakang ketika ia berhasil menerobos pertahananku. Aku hampir saja terjatuh, tapi sebuah tangan kokoh menopang tubuhku.
Yah, itu adalah tangan Key. Aku segera berdiri sempurna sebelum ia berhasil membuatku terpesona lagi. Ia menutup pintu, dan menguncinya.
"Untuk apa kau kesini?"
Aku memang senang bisa melihat Key lagi, tapi sepertinya jual mahal itu perlu. Aku sengaja memasang wajah datarku.
"Rindu." Jawabannya yang singkat, justru membuat pipiku merona. Tapi aku harus tetap pertahankan ekspresiku tadi.
"Kalau kau tidak ada perlu, lebih baik kau pergi saja sana."
"Sudah ku katakan, bahwa aku rindu padamu."
Aku menatap manik mata hazel miliknya. Aku tidak yakin dengan jawabannya. Karena aku tahu dia selalu bercanda, dalam situasi apapun dan kapan pun. 'Kapan kau akan berbicara serius padaku Key?'
"Sudahlah Key, jangan bercanda lagi. Aku sedang badmood sekarang."
Ia memberiku tatapan serius, seolah ia ingin mengatakan sesuatu. Tapi ia menutup kembali mulutnya.
"Apa aku terlihat sedang bercanda?" Tidak ada sedikitpun senyuman terlukis di wajahnya, selain tatapan matanya yang membuatku seketika bisu.
'Tidak Adel! Jangan mudah percaya padanya!' Tentu saja tidak. Aku tahu persis Key seperti apa. Ia mudah sekali menipu dengan ekspresi wajahnya yang seperti itu.
"Key, lebih baik kau...."
Ia mendorong tubuhku, sampai aku tersandar di pintu. Ia mengunci kedua tanganku dengan tangan kanannya, lalu menciumku. Bisa kurasakan bahwa ia sedang beramarah sekarang. Ia sama sekali tidak memberiku kesempatan untuk bernafas. Aku hampir mati dibuatnya.
Aku masih berusaha untuk melepaskan ciumannya, tapi ia terlalu kuat. Lalu ia menggendongku ala Bridal style, dan menghempaskan tubuhku di atas tempat tidurku. Aku bernafas sejenak, ketika ia sudah membebaskanku. Baru saja aku ingin bangkit dari tempat tidur, tapi ia menindih tubuhku.
"Key, lepaskan aku!"
Bukan malah melepaskanku, ia malah memberikan ciuman lembut di bibirku sekejap. Air mataku keluar begitu saja dari ujung mataku. Aku masih bingung dengan dirinya. Ia menciumku, memelukku, bahkan menolongku. Aku bertanya pada diriku sendiri, 'untuk apa ia melakukan itu semua?' Aku terkadang kesal, karena ia tidak pernah tahu apa yang kurasakan.
Ia mengusap air mataku dengan ibu jarinya, kemudian mencium kelopak mataku dengan lembut ketika aku memejamkan mataku.
"Kenapa kau menangis?"
'Kau sendiri bahkan tidak tahu apa yang kurasakan, apalagi kau bisa mengerti kenapa aku menangis.'
Aku menatapnya lekat-lekat, dengan jarak wajah kami yang tinggal 5 senti. "Kau jahat!"
Raut wajahnya sedikit bingung, kemudian ia berdiri normal dan menarik tubuhku untuk duduk.
"Tell me why!" pintahnya.
Aku hanya menggelengkan kepalaku tanpa menjawabnya.
"Jawab Adel! Atau aku..."
"Karena aku me....."
Aku membulatkan mataku reflek, dan menutup mulutku dengan kedua tanganku. 'Adel! Kenapa kau begitu bodoh!'
Ia menatap mataku dengan penuh harapan.
"Teruskan," pintahnya.
to be continue...