
Key POV
Akhirnya pekerjaanku selesai juga. Baru kali ini aku lembur bekerja. Padahal biasanya, aku selalu pulang awal.
Tok..tok..tok
Aku rasa itu Aswin, aku pun langsung menyuruhnya masuk.
Aswin masuk ke dalam ruanganku sambil membawa sebuah map coklat. Ia meletakkan amplop itu di atas mejaku.
"Key, ini adalah daftar orang yang terlibat dengan Johnny Borowsky yang berhasil aku dapatkan."
Aku segera membuka map tersebut, dan melihat daftar tersebut.
"Jacob Walcott?" tanyaku pada Aswin.
"Aku juga sedikit terkejut, karena keluarga Walcott juga menjalin kerja sama dengan Johnny Borowsky. Padahal sebelumnya mereka saling bersaing," jelas Aswin.
Aku sedikit meremas kertas daftar ini. Jujur saja, meskipun kami sudah terlatih dengan sangat profesional, tetap saja ini sebuah ancaman yang sangat berat. Dengan bergabungnya mereka berdua, sangat sulit untuk menyelesaikan kasus ini.
"Ohiya, aku tadi sedang mengikuti salah satu anak buah Johnny. Tapi karena keberadaanku sudah diketahui, terpaksa aku menghajar mereka. Aku mendapatkan informasi bahwa mereka akan melakukan penyerangan di festival besok,"
"Aksi?"
"Iya, mereka akan melakukan penyerangan kepada Menteri Sosial."
Aku sangat terkejut mendengarnya. Menurutku, Menteri Sosial tidak ada kaitannya dengan mereka, tapi mereka malah menyerangnya.
"Apa alasan mereka menyerang Menteri Sosial? Kalau mereka menyerang Menteri Pertahanan, menurutku itu masuk akal saja."
"Aku tanya padanya, tapi ia tidak tahu. Ia hanya bilang, bahwa itu adalah perintah dari Johnny Borowsky. Sebelum aku membawanya ke kantor, ia sudah lebih dulu kabur," sesalnya.
Jika tidak ada alasan apapun, mungkin mereka hanya ingin membuat keributan dan memancing amarah kami. Atau mereka ingin menunjukkan kehebatan mereka di depan umum. Ternyata mereka belum pernah berhadapan denganku. Aku tidak akan kehilangan jejaknya untuk kedua kalinya. 'Kali ini kau akan tertangkap, Mr. Borowsky!"
"Kalau begitu, aku pulang duluan Key," ucapnya sembari melangkah keluar dari ruanganku.
Aku mencari ponselku dan menghubungi Cathrine untuk mempersiapkan semuanya. Sepertinya besok adalah pertempuran yang besar.
Aku tidur di kantor tadi malam. Sebenarnya bukan rencana, tapi aku tertidur di sofa kantor. Aku terburu-buru pulang ke rumah karena sudah pukul 4 pagi. Saat tiba di rumah, aku langsung menuju kamar Cathrine. Aku mengetuk pintu Cathrine.
"Ya masuk!"
Aku pun membuka kenop pintu dan melangkah masuk. Cathrine sudah menyiapkan semuanya. Pistol, alat komunikasi, ear zoom, dan masih banyak lagi.
Cathrine menyodorkan kostum Captain America.
"Are you kidding to me? Aku tidak mau!" tolakku.
Meskipun kami melakukannya secara diam-diam, tapi aku tidak mau terlihat konyol di festival nanti. Aku tidak mau ketampananku tertutup dengan kostum super hero ini.
"Hey, Mr. Key! Kalau kau tidak mau, bagaimana bisa kita menyamar?"
tanya Cathrine yang sedikit geram karena tingkahku.
"Aku kan bisa memakai jas hitam, dan kacamata hitam. Kalau kau mau, kau saja lah yang memakai kostum itu. Menurutku kau lebih cocok memakai kostum Cat Women."
Aku terkekeh membayangkan Cathrine memakai kostum Cat Women.
"Lebih baik kau saja yang memakai kostum Cat Women," ucapnya sambil cemberut. Aku terkekeh sambil mengacak rambutnya kasar.
"Baiklah, aku akan memakai itu. Tapi jangan iri kalau aku memiliki banyak penggemar. Super Hero yang menyelamatkan banyak wanita cantik."
Aku bisa melihat Cathrine yang berbisik pada dirinya sendiri. Ia pasti sedang mengejekku.
Aku mengambil ponsel dan menelfon Aswin untuk segera ke rumah kami, karena sudah jam 6 pagi. Dan sebentar lagi festival akan di mulai.
Kami segera berpencar ketika sudah tiba di festival. Sebelumnya kami sudah mengganti pakaian kami dengan kostum super hero yang sudah dipersiapkan Cathrine. Tidak lupa juga, kami memasang ear zoom dan alat komunikasi kami.
"Apa kalian sudah menemukan tanda-tanda mencurigakan?" tanyaku pada mereka.
"Belum Key," jawab mereka berdua.
Aku terus melangkah ke dalam kerumunan orang-orang berkostum. Menteri Sosial sedang duduk di kursi yang berada di atas panggung.
Mataku terus berkeliling, mencari suruhan Borowsky. Saat tiba di tempat yang sedikit tinggi, aku melihat sosok perempuan yang sudah tidak asing di mataku, siapa lagi kalau bukan Adel.
Dia sangat cantik sekali hari ini. Aku lupa, dia memang selalu cantik setiap harinya. Tapi, ia sedang bersama siapa. Aku melihat seorang lelaki dengan kemeja abu-abu sedang berdiri di sebelahnya. Sepertinya mereka berdua sedang membicarakan sesuatu, sampai tertawa seperti itu. 'Apa itu kekasihnya?'
"I'm sorry," ucap pria berkostum ketika ia terdorong dan membuatku hampir terjatuh. Aku hanya mengangguk sambil tersenyum.
Aku kembali melihat ke tempat Adel dan lelaki tadi berdiri. Dan sialnya, mereka sudah tidak berdiri di sana lagi. Aku kembali gelisah memikirkan Adel.
'Cemburu?' Aku tidak tahu. Tapi yang jelas, aku takut kalau nyawa Adel juga ikut terancam. Sekilas pria itu memang tidak mencurigakan, tapi aku tidak bisa langsung mengatakan pria itu benar-benar aman untuk Adel atau tidak.
to be continue...