After Yesterday

After Yesterday
After Yesterday 8



Happy reading!


***


.


William mengerutkan kening saat membaca isi amplop yang diberikan Detektif Holland padanya. Dalam amplop tersebut disebutkan bahwa orang yang ingin diketahuinya itu memiliki riwayat hidup yang sangat mencurigakan.


Makin membaca paragraf bagian bawah, bibirnya menyeringai dari balik masker hitam. William tidak bisa memercayai itu.


"Kau yakin telah memeriksanya dengan teliti, Detektif Holland?" William bertanya lagi, berulang kali dia mengucapkan kalimat yang sama, seakan tidak percaya pada apa yang dilihatnya.


"Dia hidup sendirian, Tuan. Hanya memiliki seorang teman wanita yang bekerja sebagai dokter gigi. Tidak punya teman pria selain pria bernama Hunter yang setiap hari menyatakan cinta tapi setiap saat juga ditolak. Semua orang mengatakan tidak mengenalinya, dan tidak ada yang tahu dari mana asal-usulnya. Tidak ada koneksi sama sekali."


William mengangguk. Keningnya terlipat ke dalam, dan mata hitamnya tidak tertebak. Terkandung banyak misteri di dalam sana. Seperti lautan luas, terlihat tenang tapi berbahaya.


"Lea Alayra ...," gumamnya pelan. "Siapa kau sebenarnya?"


"Kau sudah memeriksa teman wanitanya itu?" Lanjutnya kemudian.


"Dia berasal dari San Diego, Tuan."


William mengangkat pandangan dari kertas putih di tangannya. Memandang Detektif Holland yang segera melanjutkan kalimatnya. "Aku sudah menghubungi koneksiku di sana juga, tapi tidak menemukan seseorang yang bernama Lea Alayra, Tuan."


Masih diam beberapa saat, William akhirnya undur diri. "Terima kasih, Detektif Holland. Aku akan menghubungimu lagi jika membutuhkan bantuan."


Pemilik manik hitam itu segera memakai kacamata hitam dan keluar dari kantor polisi tempat di mana Detektif Holland bekerja.


Sudah seminggu William penasaran dengan identitas Lea. Selama seminggu itu juga dia sabar, menunggu hasil yang memuaskan dari detektif yang disewanya. Sayang sekali, dia tidak mendapati apapun tentang Lea, wanita misterius yang telah mencuri perhatiannya sejak berdiri sebagai bartender. Seakan wanita itu manusia planet lain.


"Dia tidak mungkin terlahir dari batu."


Sembari menjalankan mobilnya, mata hitam itu menjelajahi setiap sudut jalanan. Pagi yang hampir siang tanpa matahari yang mengunjungi, hanya ditemani beberapa butiran salju yang masih kuat menerjang, tanpa disadari olehnya sendiri, William tidak sengaja berhenti di depan sebuah bangunan tinggi.


Sebuah apartemen yang tidak terlalu mewah. Dia tahu tempat itu. Meski belum melihat isinya, William lebih dulu mengenal siapa yang tinggal di sana. Apartemen yang tertulis sebagai alamat tempat tinggal Lea di formulir pendaftaran sebagai karyawan di bar.


Masih memandang tanpa kedip bangunan itu, dia membuka kaca mobil, memeriksa setiap detail dinding merah bata yang melapisi. Sampai mata William tidak sengaja bertubrukan dengan mata cokelat milik seseorang dari balik jendela di lantai enam, dia menyeringai, memandang tajam disertai kilatan membunuh.


"Jalaang ...."


William memalingkan wajah, membuang napas yang mulai tercekat. Nalurinya ingin dia berlari, menghampiri dan memeluk wanita berlesung pipi itu, mencium dan menghirup aroma memabukkan serta menyalurkan rasa inginnya pada Lea. Namun, akal sehat William masih terkendali. Dia tidak akan menemui Lea, tidak sebelum William tahu siapa Lea sebenarnya. Dia mencengkram kemudi lalu menancap gas pergi dari sana.


"Aku pasti sudah gila," geram William mengetatkan rahang.


Dalam perjalanannya ke apartemen, William harus menepikan mobilnya lagi ketika menerima telepon.


"Ada apa, Ruby?"


Suara terbata-bata penuh ketakutan dan kecemasan perempuan yang berjabatan sebagai Manager di kasino miliknya membuat William menancap gas lebih cepat dari tadi. Dia buru-buru masuk ke dalam kasino. Kaki panjangnya dengan cepat memasuki pelataran halaman yang tidak terlalu luas.


Tepat di depan bangunan megah, William dihadang seorang polisi. Lelaki berseragam lengkap dengan atribut itu menunjukkan sebuah surat penangkapan.


"Kasino ini dilaporkan atas tuduhan menginzinkan adanya bisnis ilegal dan penggelapan dana. Anda sebagai pemiliknya diharapkan ikut kami ke kantor polisi dan melakukan pemeriksaan lebih lanjut."


William menegang. Ada yang salah. Selama ini dia menjalankan bisnis yang bersih, menerima uang bersih yang didapatkannya dari penjualan minuman dan bermain kartu. William melarang keras adanya pertukaran barang ilegal di dalam kasino miliknya. Dan sekarang, apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba dia diseret ke kantor polisi?


Tidak ingin terseret dalam masalah besar, dia mengikuti. William masuk ke dalam mobil polisi, duduk diam seraya berpikir panjang. Bagaimana pun juga dia menebak, William tidak merasa ada yang melanggar hukum.


***


Sudah seminggu lamanya Lea hidup tenang. Tenang dalam arti William tidak mengganggunya, bukan Hunter. Setiap hari seperti biasa, Hunter tidak absen mengetuk pintu rumahnya, memberi bunga, serta mengatakan cinta.


Kesal dan marah. Itu yang Lea rasakan setiap hari. Hanya saja, Hunter tidak sebejat William. Pria itu tahu batasan, memilih memakai akal sehat daripada nafsu. Menggunakan cara halus, bukan kekasaran.


"Terimalah, bunga ini melambangkan hari yang tenang dan damai. Aku berharap, harimu menyenangkan."


Hunter memaksa Lea menerima sebuket bunga yang dibawanya. Namun, lagi-lagi seperti biasa, Lea menepis, menyentak kasar tangan Hunter, memukul kening pria itu yang baru saja sembuh.


"Aku sama sekali tidak mengharapkan harapan sialanmu! Pergi!"


Hunter terkekeh, kembali memaksa Lea menerima bunga pemberiannya. "Aku tidak akan memaksamu lagi menerima cintaku. Aku hanya berharap kita bisa berteman."


"Dengar! Sekalipun hanya tersisa kau satu-satunya manusia di bumi ini, aku lebih memilih tidak punya teman! Hewan menjijikkan apa yang namanya 'teman'?"


Setelahnya, Lea menendang tulang kering Hunter kemudian pergi tanpa berbalik. Wajah datarnya kembali terpasang, dan hanya dia yang tahu apa arti tatapan mata tajam. Mungkin penyesalan ataukah rasa benci, Lea tidak ingin perasaannya diketahui orang lain.


Cukup hatinya yang menanggung penderitaan. Apalagi sebelumnya matanya saling bersitatap dengan William, Lea merasa hidupnya sudah berada di ambang kehancuran. Walau tidak bisa terbaca dengan jelas wajah William tadi, Lea yakin lelaki itu mengutuk dan menghinanya. Bukan hanya di mulut, hati William pasti menginginkan kehancurannya.


Berjalan gontai seperti telah kehilangan sukma, Lea masuk ke sebuah toko kecil. Dia memilah beberapa bungkus mi instan dan membawa ke meja penjaga toko. Kehidupan biasa kini Lea jalani di kota besar ini, memakan mi instan kala tanggal tua.


"Seperti biasa," ujar wanita tua penjaga toko itu saat Lea memasang wajah datar bertanya.


"Thanks." Lea keluar sembari menenteng sebungkus kantong besar berisi mi dan makanan instan lainnya.


Tepat di depan pintu, seseorang yang berlari dikejar preman menabrak kantongan miliknya. Lea tidak menjerit atau berteriak, dia hendak mengambil batu dan melempari orang itu. Tapi tangannya keburu ditahan oleh preman yang mengejar.


"Kau menghalangi jalanku, Sialan!"


Lea mematung. Napasnya mulai tercekat, dada Lea bergemuruh lalu disusuli kakinya yang lemas tak berdaya. Seseorang yang menabraknya tadi sangat dia kenali. Apalagi tato di lengan, Lea tidak pernah melupakan gambar yang dulu disentuh dan diciumnya.


Orang itu adalah Harry.


.


***


William La Vaughn



Lea Alayra Haggins



Jullian Haggins



Leon Falcon



Bryan Knight



Natalie De Souza



Kenzie



Hunter



Harry



----


Monmaap kalo nanti updatenya gak teratur ya^_^. Tapi jan lupa masukin list favorite biar selalu dapet notif up bang Will.


Love,


Xie Lu.