After Yesterday

After Yesterday
After Yesterday 24



Happy reading!


.


***


"Harry Ontario. Katakan apa hubunganmu dengan orang itu!"


Lea memandang tajam Hunter dan mengguncang lengannya, memastikan pria itu juga menatapnya. "Apa kau mau menjebakku dengan membiarkanku menetap di rumahmu?"


"Apa aku salah menilaimu, Hunter?" Lea tertawa sinis tatkala Hunter masih diam. "Apa kau benar-benar baik atau hanya pencitraan?"


Hunter masih diam tanpa kata. Merasa menyesal telah menyembunyikan hal yang selama ini disembuyikannya. Setiap perkataan Lea menusuk tepat di ulu hatinya. Sakit, tapi mungkin kekecewan perempuan itu melebihinya.


"Aku pikir perasaan cinta yang kau utarakan setiap hari itu juga tulus," ringis Lea dengan mata terpejam dan tangan mengepal. Banyak arti dari setiap tatapan dan guncangan di lengan Hunter.


"Kau kecewa padaku?" Hunter bertanya setelah menghembuskan napas pelan. Ditatapnya mata cokelat Lea yang dipenuhi amarah. "Aku berniat menceritakannya padamu tapi kau sudah tahu lebih dulu."


"Ikuti aku!"


Hunter menarik Lea keluar dari perpustakaan itu dan membawanya ke sebuah ruangan. "Ini ruang pribadiku. Lihatlah!"


"Aku tidak berniat menjebak atau mencelakaimu, Lea. Bahkan saat kau berjalan di kegelapan itu, aku takut Ontario menemukanmu lebih dulu sebelum aku. Aku takut, sampai aku juga bersembunyi selama ini."


Meski mendengar penjelasan Hunter, Lea memilih sibuk memerhatikan setiap lembar kertas yang ditempel di dinding ruangan itu. Terdapat foto serta identitas diri, riwayat hidup serta riwayat kejahatan yang dilakukan tiap orang di foto.


Lea membeku saat dia membaca apa yang telah dilakukan Harry. Kenyataannya, kejahatan yang dilakukan Harry lebih banyak daripada yang didapatkannya dari detektif sewaannya dulu.


"Kau menakutkan, Hunter. Apa ini dirimu yang sesungguhnya?"


Hunter tertawa kecil dan duduk di atas meja dan memainkan pulpen. "Aku memang informan, tapi tidak melakukan kejahatan. Informasi yang aku dapatkan semuanya halal dan legal."


"Sejak Ontario menghubungi kami untuk sebuah informasi, aku terkejut sekaligus takut karena ternyata kaulah orang yang dia cari. Hari itu, aku mencari informasi tentangnya secepat mungkin dan mengetahui bahwa dia seorang kriminal dan buronan yang paling dicari."


Hunter lalu berdiri dan bersedekap di samping Lea. Dia melirik raut Lea yang tidak berubah. Datar dan menakutkan. "Aku mulai takut saat dia bilang sesuatu yang membuat darahku mendidih. Aku takut dia menemukanmu. Aku takut tidak bisa melindungimu. Dan malam itu, aku menahan amarah karena kau berjalan sendirian dan kemudian aku menyeretmu paksa ke sini."


Lea berdesis, "Pembohong! Takut?!" Matanya mendelik tidak suka. "Bahkan kau tidak memberitahuku dan membiarkan aku yang mengambil keputusan!"


"Kau lebih berbahaya, Hunter!"


"Kau yang dalam bahaya, Lea." Hunter memaksa Lea berhadapan dengannya. "Percaya padaku! Walau aku tahu tidak semudah itu kau percaya pada orang lain, tapi kali ini, biarkan aku membantumu."


Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, Lea keluar dan membanting pintu ruangan Hunter.


"Astaga, aku pikir butuh uang dan jantung cadangan untuk tetap bersamamu, Lea," gumam Hunter seraya memegang dadanya.


Di sisi lain, Lea termenung. Duduk bersandar dan memandang jauh ke depan. Bumi yang bulat sedang sibuk. Bekerja dan mencari kebahagiaan. Sementara dirinya terkurung di tempat ini.


Seberapa pun banyaknya alasan yang diberikan Hunter, akal sehat Lea tetap pada satu garis lurus. Tidak ada manusia yang benar-benar baik di dunia ini, tidak Hunter, tidak pula sang kakak, Jullian. Meski sebelumnya hati Lea sempat goyah oleh kebaikan Hunter, namun saat ini Lea kembali seperti semula. Seorang wanita muda tanpa welas asih. Dingin dan kejam.


***


Hiruk pikuk kendaraan menyeruak masuk ke dalam pendengaran. Ditambah dinginnya udara membuat Lea makin mengeratkan hoodie yang menutupi kepala serta telinganya.


Berjalan tanpa tahu arah. Bermaksud untuk meredakan emosi yang membuncah di dadanya. Lea berhenti di sebuah tempat yang lumayan sepi, hanya berkawan suara burung dan desiran ranting yang saling bergesekkan.


Di bawah perlindungan sebuah akar besar yang menutupi hampir seluruh permukaan tanah, Lea menemukan setangkai dandelion berteduh di bawahnya.


"Dandelion yang tangguh," gumam Lea. "Aku pikir pada musim ini aku tidak akan bisa menemukan keberadaanmu," lanjutnya dengan tangan yang serta merta memetik bunga itu.


"Pergilah! Kelilingi dunia, jangan berteduh terlalu lama. Keluarlah dari zona nyamanmu!" Lalu Lea meniup bunga halus dan rapuh itu hingga menyisakan tangkai tak bermahkota di tangannya.


Beberapa memori lama kembali terulang di benak Lea. Saat dia dan Jullian bersama-sama meniup seluruh bunga di ladang dandelion sehingga mereka diusir oleh pemiliknya.


Lea kemudian berjalan lagi, berputar kembali ke arah yang bisa diingatnya untuk pulang ke rumah Hunter. Di jalan besar, dia tidak sengaja melihat Jullian keluar dari mobil bersama Natalie dan masuk ke dalam kafe.


Lea memalingkan wajah ketika Natalie mencium pipi Jullian. Sebab Lea tahu batasan Jullian hanya sebatas pipi. Tidak lebih.


"Semoga kau tidak melakukan kesalahan, Jullian," ucap Lea dingin.


.


***