
Happy reading!
***
.
"Apa yang Mommy bicarakan dengannya?" William melirik pada Lea yang sibuk mencuci piring di wastafel dapur. Walau ekspresinya tidak terbaca, pikirannya berkecamuk.
"Natalie bercerita padaku kalau kau dia datang ke sini dengan kekasih barunya. Jadi, Mom mampir sepulang dari bank."
William mengangguk pelan. Dia memiringkan kepala lalu membaringkannya di paha Meredith. "Apa Mom akrab dengannya?" William menunjuk Lea.
"Walau aku tidak suka karena dia jalaang, tapi sikapnya baik. Tidak ada alasan untuk membencinya."
William terkekeh dengan tangan yang tidak henti menggenggam tangan yang mulai berkeriput itu. Tanpa disadari, bibirnya terus tersenyum disertai sudut mata yang tidak henti melirik Lea yang sibuk.
"Aku membencinya," ucap William kemudian. Cahaya mata hitamnya terdapat luka, kesedihan dan juga kekhawatiran.
"Lalu kenapa kau membawanya ke sini?"
Terdiam sebentar, William nampak berpikir sebentar lalu menatap Meredith. "Apa Mom membenciku karena membawa jalaang itu ke sini? Aku pikir Mom akan benci pada jalaang."
"Mom tahu kau bisa menanganinya dengan baik, Will. Masa lalu tidak bisa dikejar lagi tapi kau bisa mempertimbangkan hari ini untuk esok." Kemudian wanita itu mengangkat kepala William dari pahanya setelah bersungut bahwa kepala William berat.
"Mom harus pergi sekarang. Kau juga harus kembali ke kantor 'kan?"
William mengangguk dan mengantar Meredith ke pintu depan. Mencium pipi wanita itu seperti biasa dan melambaikan tangan.
"Mom tidak melarangmu membiarkan jalaang itu tinggal, kau hanya perlu ingat, tidak semua orang yang bersikap baik bisa dipercayai. Terkadang mereka bisa mengkhianati dengan lebih kejam."
William terdiam, merenungi apa yang baru dikatakan Meredith. Memang benar, tetapi hatinya terlanjur masuk dalam jeratan kenikmatan cinta.
"Seharusnya kau mengantarku pulang, Will, sekaligus kau mampir ke rumah. Sudah lama aku tidak melihatmu pulang. Apa kau sebenci itu pada rumah?"
William tetap bergeming, tanpa berniat mundur atau maju dari ambang pintu. Sudut bibir William berkedut, menyembunyikan perasaannya tentang apa yang terjadi.
Setelah lama terdiam, William akhirnya memutuskan. "Aku akan mengantarmu pulang, Mom."
Meredith tersenyum seketika. Tangannya langsung menggapai lengan William, memaksa William untuk berjalan menyesuaikan langkahnya.
"Tapi aku tidak akan mampir!"
Senyum di bibir Meredith meredup, tetapi kepalanya mengangguk perlahan. "Mom mengerti," ujarnya pedih.
Masalah keluarga yang terjadi beberapa tahun silam membuat William enggan menjejakkan kaki di rumah Meredith. William memilih tinggal di apartemen dibandingkan bersama dengan ibu dan adik perempuannya.
Perpisahan kedua orang tuanya waktu itu membuat batin William terpukul dan dia memutuskan untuk mengganti marganya menjadi La Vaughn alih-alih De Souza seperti milik sang ayah.
Tidak lama setelah kejadian itu, Meredith dan Scott kembali bersama, tinggal di bawah atap yang sama. Saat itu pula, William enggan menganggap Scott sebagai ayahnya dan menyebar berita kalau Scott sudah meninggal.
Kebencian William pada perempuan jalaang berawal dari kisah orang tuanya. Menghilangkan peri kemanusiaan dalam dirinya ketika mengetahui fakta bahwa Lea tidak seperti yang dibayangkan. Menyiksa wanita itu dengan tangannya sendiri yang bertujuan untuk mengubur perasaan William.
Dan sekali lagi, takdir menghukumnya. William jatuh cinta pada wanita yang membangkitkan iblis dalam tubuhnya. Meski tak ingin, Lea telah menempatkan setengah dari jiwanya yang hilang.
William menghentikan langkahnya sejenak kemudian berbalik pergi, melepaskan cekalan Meredith yang makin erat. Langkah William buru-buru masuk ke apartemen dan mencari Lea.
Ketika menemukan Lea, William memeluknya dan berbisik, "Tunggu aku pulang!"
***
Sekelompok pria bertudung hitam nampak berdiri di dalam rangkulan senja yang akan segera dijemput malam. Hunter bersedekap sambil bersandar di dinding bangunan tua itu. Kepalanya sesekali mengangguk mendengar pembicaraan beberapa lawan bicaranya.
Di tengah-tengah keseriusan mereka, seseorang menghampiri. Napasnya terengah-engah, seperti baru melakukan lari marathon.
"Maaf, aku terlambat!"
"Kau datang rupanya, Harry," ucap seseorang.
"Harry."
"Informasi apa yang kau butuhkan? Orang biasa, politisi atau miliuner?" Hunter langsung to the point, bertanya dengan penuh penasaran. Dia menilik penampilan Harry yang tampak familier baginya.
"Orang biasa," sahut Harry singkat dan mengeluarkan selembar foto. "Aku ingin menemukan mantan kekasihku yang menghilang selama lima tahun."
Hunter segera menerima lembaran berukuran selebar telapak tangannya dan melihat dengan jelas wajah siapa yang tercetak jelas di sana. Seketika Hunter terpana melihat wajah cantik dan senyum manis perempuan yang ada di sana.
Perempuan berambut merah dengan lesung di kedua pipinya. Perempuan yang tidak asing bagi Hunter, perempuan yang selama ini menjadi penyejuk di hari-hari kemalangannya. Dia, Lea Alayra.
"Sangat cantik," ucap Hunter tanpa sadar.
"Aku ingin sekali menemukannya. Tolonglah!"
Hunter tersenyum manis. Tangannya menepuk pundak Harry dan menenangkan. "Serahkan pekerjaan ini pada kami. Kami akan memberikanmu informasi yang akurat."
"Terima kasih."
"Tapi ..., apa yang akan kau lakukan jika dia berhasil ditemukan?"
Gerak-gerik Harry cukup membuat Hunter mengerti. Dia kembali menepuk pundak Harry dan berujar memberi kepastian. "Tidak apa-apa, katakan saja. Kami juga memberi konseling pada pelanggan yang meminta tolong pada kami. Jadi, apa rencanamu setelah menemukannya?"
"Aku ... aku terbiasa hidup mewah dengan uangnya. Aku mencarinya untuk meminta uang dan menikmati tubuhnya," aku Harry yang makin membuat Hunter menepuk pundak Harry makin keras. Giginya beradu namun senyum manis dia berikan pada Harry.
"Kau bisa melakukan apapun sesukamu setelah menemukan dia. Kau bisa pergi sekarang."
Harry tertawa kecil kemudian berbalik dan pergi. Seringai kecil terbit di bibirnya ketika menjauh dari sana. "Aku akan menemukanmu, Lea. Tunggu aku, hanya aku yang bisa menikmati tubuhnya. Ahhh ....!"
Di tempatnya, Hunter bergeming. Pikirannya langsung berlari ke awal pertemuannya dengan Lea dan bagaimana dia mengetahui masa lalu Lea meski tidak tahu siapa sebenarnya lelaki yang telah menodainya. Dari gaya bicara Harry, Hunter langsung bisa menebak, hanya orang yang tidak tahu malu yang akan mengatakan itu secara gamblang.
Lamunan Hunter buyar ketika seseorang menepuk pundaknya serta mengejutkannya.
"Apa yang akan kau lakukan, Dude? Dia wanita yang kau sukai, bukan?"
Hunter seketika melebarkan senyumnya dan menatap Herold. "Apa lagi? Ini pekerjaan kita. Penjual informasi tetap harus melakukan apapun untuk mendapatkan uang 'kan? Jangan bilang kau akan berhenti jika seseorang mencari informasi tentang istrimu?"
Herold tersenyum miris lalu memukul kepala Hunter. "Sialan, kau mengatakan sesuatu yang buruk!"
Hunter terkekeh. Lantas dia merangkul semua teman-temannya dan mempersatukan tangan mereka.
"Biar aku saja yang melakukan ini. Paham?"
Berpisah dari teman-temannya, Hunter menyusuri jalan gelap di kawasan kumuh. Hanya sedikit cahaya yang menembus ke sana memaksanya harus menggunakan pemantik sebagai penerang.
Daerah itu dipenuhi oleh wanita dan pria kelaparan yang membutuhkan makanan untuk mengisi kekosongan mereka.
Beberapa langkah dari sana, Hunter mendapati seseorang berjalan pelan dalam kegelapan. Tampak sebuah koper di tangannya. Dari cara berjalannya, orang itu sepertinya sangat ketakutan sehingga seluruh wajahnya tertutupi syal.
Hunter mendekati orang itu dan menyapa. "Apa kau tersesat?"
Orang itu terus berjalan tanpa menghiraukannya sama sekali. Dia menepis tangan Hunter ketika Hunter hendak membuka syal di wajahnya.
"Halo, aku bukan orang jahat. Apa kau tersesat di sini?"
Masih dengan pemantik di tangan yang apinya tidak pernah padam, Hunter mengikuti orang itu dan menjaganya dari jangkauan lelaki yang ingin menyentuhnya.
Sampai di ujung jalan, syal di muka orang itu dihembuskan angin. Mata Hunter melebar seketika dan segera mendorong orang itu ke belakangnya.
"Apa yang kau lakukan di tempat ini, Lea? Bagaimana jika kau bertemu bajiingan?"
.
***