
Happy reading!
.
***
Aku sangat mengenali pria ini. Ya, aku pernah melihatnya di kasino. Dia yang dulu mengantar serta memegang tangan Lea-ku.
Tapi bukan itu inti masalahnya. Pria yang tampak biasa ini ternyata seseorang yang besar, yang tidak pernah ku bayangkan sebelumnya. Bahkan kekuasaan yang dimilikinya bisa memengaruhi seluruh otoritas di kota ini.
Aku mengepal geram. Tidak ku sangka Lea punya kenalan yang begitu hebat. Hunter. Si informan. Yang namanya terkenal di kalangan atas tetapi sangat menutup diri terhadap publik.
Pantas saja aku tidak bisa menemukan wanitaku di mana pun. Dia disembunyikan ataukah bersembunyi dengan baik lebih tepatnya. Aku mulai ragu. Keadaan ini sama seperti waktu Kelly meninggalkanku dulu.
Pikiranku tidak bisa fokus. Berkas di hadapanku berantakan dan aku melihat mata Ruby menatapku tajam.
"Keluarlah!" perintahku sedikit kasar. Tetapi Ruby tidak beranjak, malah mendekat dan menarik tanganku.
"Aku hanya meminta tanda tanganmu, Will. Jangan bersikap kekanak-kanakkan seperti remaja yang putus cinta." Ruby balik membentakku.
Ruby adalah temanku juga. Tapi tidak terlalu dekat, sedekat aku, Bryan dan Leon. Aku memercayainya mengelola tempat ini selagi aku bepergian, dan tentu saja pada saat seperti ini. Patah hati.
"Aku sudah memberi apa yang kau minta. Keluarlah, jangan terus menggangguku," usirku lagi.
Ruby malah duduk. Tersenyum nakal lalu kemudian tertawa memekakkan telinga. Aku menyelamatkan gendang telingaku secepat kilat. "Kau benar-benar menjadi seperti ini karena seorang wanita. Siapa wanita beruntung itu?"
"Kau pasti tak akan bisa percaya." Aku sedikit ragu bercerita pada Ruby. Mengingat aku jarang membicarakan masalah pribadi padanya selain pekerjaan. "Lea Alayra, bartender-mu."
Aku menunggu reaksi Ruby, tetapi dia malah tersenyum dan mengangguk pelan. "Dia memang cantik, pantas saja kau terpesona padanya. Kau menyukainya? Jadikanlah dia kekasihmu. Kenapa kau repot-repot galau dan membentak orang? Masalah kecil seperti ini kau tidak bisa mengatasinya?"
Perkataan Ruby membuatku mengepal erat lalu memberanikan diri menceritakan segala hal yang menghubungkanku dengan Lea. Semua yang aku lakukan padanya sampai Lea memilih pergi dariku.
"Brengsekk! Brengsekkk!!" Ruby menggebrak mejaku dan berteriak keras. Aku hampir tersedak air liur. "Kau pantas mendapatkannya, brengsekk! Kalau aku jadi Lea, aku akan membunuhmu dulu sebelum aku pergi! Kau tidak pantas memilikinya!"
"Aku tahu," ujarku lemah. Ruby benar. Aku tidak pantas dan memang tidak pantas. Tetapi kenapa? Hatiku sangat tidak rela saat Ruby mengucapkan kalimat itu.
"Apa bagimu seorang wanita hanya dihargai dari perawan dan tidak perawan? Bajiingann!!! Aku sekarang ingin sekali membunuhmu," geram Ruby. Dia sampai mengcengkeram pulpen yang ada di tangannya dan nyaris patah.
"Kenapa selalu wanita yang disalahkan dan kalian para bajiingan tidak sadar diri? Mengapa kami para wanita yang sebenarnya korban dari kekejian kalian harus dibantai seperti binatang dan tidak dihargai? Kalian meniduri banyak jaalaang dan mengatakan diri kalian suci dan mencari perawan? Huh!!! Aku benci bajiingan seperti itu! Suatu saat karma akan menghampiri! Pasti!!"
Setelah puas mengeluarkan amarahnya, Ruby mengambil berkas yang tadi kutandatangani dan pergi. Dia juga menutup kasar pintu ruanganku. Aku nyaris terjatuh dari kursi saking kagetnya.
***
Sudah banyak hari yang kulalui tanpa tujuan yang pasti. Semangat masa mudaku sepertinya perlahan menghilang. Sudah seminggu lamanya aku terlunta-lunta. Mengejutkan! Notifikasi pesan menyadarkan lamunan yang hampir merenggut kesadaranku.
Keningku berkerut dalam disertai degupan jantung yang makin menggila. Sebaris kalimat dari orang-orang utusanku yang memantau pergerakan Lea dan Hunter kembali mengacaukan hatiku.
Nona Alayra pergi ke landasan pribadi 'orang itu', Tuan La Vaughn.
Bukan lagi kecemburuan yang hinggap, tetapi takut kehilangan. Aku buru-buru meraih jaket yang memeluk punggung kursi dan berlari keluar apartemen yang sangat mirip kapal pecah.
Aku mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, berharap setidaknya aku bisa melihat wajah mungil wanita-ku. Tidak, meskipun aku menyetir dengan kecepatan seperti ini, rasanya aku hampir gila. Jantungku yang tak henti-hentinya mendobrak tulang dada membuat hasrat mengumpatku bangkit.
Aku mengumpati apapun yang menghalagi jalan. Bahkan anak kecil dan wanita tua. Ya, kalian tahu aku seberengsekk itu, tapi sebenarnya aku tidak melakukan kejahatan pada wanita tua dan anak-anak. Dan kali ini, pertama kali dalam hidupku. Aku benar-benar gila.
Belum hilang ketakutan dan kecemasanku, sekali lagi notifikasi dari orang yang sama. Kali ini bukan pesan, tetapi panggilan video.
Bola mataku hampir keluar memandang layar pipih di tanganku, seorang wanita yang sangat familiar, berjalan dengan anggun memasuki jet mewah. Tanganku bergetar hebat bahkan tanpa ku sadari ponsel itu sudah berada di bawah kakiku.
"Tuan La Vaughn ..."
Suara itu samar-samar terdengar, namun kesadaranku belum kembali. Sungguh gila rasanya melihat wanita yang kau cintai pergi dan kau tak pernah bisa menggapainya.
Tak tahu sudah berapa lama aku berdiam dalam kesadaran yang telah melayang, mulut yang tadinya terkatup rapat terbuka dengan sendirinya.
Kekehan mengejek yang disertai butiran kristal kecil mengembalikan akal sehatku. Aku tertawa sinis, berkata pada diriku sendiri, "Memang apa yang akan kau lakukan jika berhasil bertemu dengannya?"
.
***
Maaf, setelah sekian purnama aku kembali hadir dengan permintaan maaf yg sama😊. Cerita ini akan terus berlanjut sampai tamat, seberapa lama pun prosesnya. Mohon pengertiannya😊♡.