
Happy reading!
***
.
"Petani tidak bercocok tanam untuk memelihara burung liar."
Kalimat itu menyadarkan Lea akan statusnya di mata William. Sekali lagi, uang menilai segalanya. Lea yang bermasa lalu suram, Lea yang diibaratkan sebagai hama, Lea yang seperti barang tidak punya harga. Dia terlihat seperti kaca bening, tembus pandang.
Dan sekali lagi, tekad Lea juga tidak tergoyahkan. Sampai bulan memudar dan matahari menjadi darah, Lea berpegang teguh, memutar balikkan waktu yang sedang berjalan sekarang, membuat semua orang yang menyakitinya menyesal telah melihat sisi Lea yang lemah.
Setiap malam, Lea berbaring dengan air mata yang tidak pernah surut, tangan mengepal dan juga sorot mata yang dingin. Pergumulan dengan Tuhannya tidak pernah dilupakan Lea.
Sekalipun Lea membenci kehidupannya yang sekarang tidak berdaya, tapi dalam hati Lea tidak pernah menyalahkan Tuhan yang memberinya hidup seperti ini. Dia bersyukur, telah melihat sisi dirinya yang dulu ada dalam William dan juga merasakan bagaimana menjadi kaum lemah dan tidak bisa melakukan apa-apa.
Decitan pintu mempercepat gerakan tangan Lea, menyeka air mata yang membasahi bantal. Lea lantas berbalik dan mendapati wajah datar William yang setiap malam berlaku kasar.
Apartemen yang besar itu memiliki tiga kamar, tetapi William tidak mengizinkan Lea memakai kamar lain. Menjadi penghangat ranjang ialah alasan satu-satunya William melakukan itu.
"Menangis lagi, huh?" William menyeringai lalu duduk di bibir ranjang, membuang sembarang kemejanya dan ikut berbaring di samping Lea.
"Ketahuilah, Jalaang, sekalipun kau mati, uang yang kuberikan padamu tidak setara dengan nyawamu," ucap William yang tepat menembus batas pertahanan Lea. Dia berbaring menghadap Lea, menatap wajah Lea yang tidak pernah menunjukkan perasaan apapun.
Lea mengepalkan tangan dan menghela napas perlahan, mencoba sabar dengan segala kesadaran. Meyakinkan diri bahwa cobaan ini tidak akan lama dan akan berakhir secepatnya.
"Terima kasih." Dia berujar pelan, bagai hembusan angin malam yang melambai perlahan.
"Kau tahu diri juga," ejek William. Tangan lelaki itu menyentuh rambut Lea, lalu turun pada pipi dan berakhir di dagunya. William mengangkat dagu Lea agar tepat berhadapan dengannya karena Lea enggan melakukan itu.
William memandang Lea tanpa kedip, mencoba mengindetifikasi tiap inci bagian wajah cantik itu. Tidak ada yang istimewa, tapi William telah masuk dalam jeratan. Ada sesuatu yang tidak bisa dia ungkapkan ketika melihat Lea. Ditatapnya bibir yang tampak pucat itu lalu mengecupnya pelan dan secepat mungkin melepaskannya.
"Damnn!"
William menggeram tertahan. Iblis dalam dirinya kembali bergejolak, meminta dipuaskan. Setiap malam, tidak ada waktu yang dilewatkan William. Sesuai dengan perjanjian yang disepakati, Lea telah menjadi wanitanya. Dan dengan uang, dia membayar wanita itu.
"Lepaskan bajumu!"
Tanpa menunggu Lea bergerak lagi, William langsung menindih, mengunci setiap pergerakan Lea yang terkadang bergerak gelisah. Dia melabuhkan bibirnya di bibir Lea, menutup mulut Lea yang sering mengumpat, melumatt dengan kasar dan memberi gigitan kecil yang mampu membakar gairah.
Seperti yang sudah-sudah, setiap melihat dan bersentuhan dengan Lea, William kepanasan. Dia membutuhkan lebih dari sekadar air dingin untuk melepas dahaga. Dia butuh es untuk memadamkan api di dalam dirinya. Dia butuh tempat untuk membuang energi panas yang menyulitkannya bergerak. Dan hanya Lea yang dibutuhkan. Karena wanita itu telah dia dibeli.
Tidak ada lagi penolakan. Tidak ada lagi tangisan dan air mata. Tidak ada lagi umpatan dan sumpah serapah. Lea yakin telah menjual tubuhnya pada lelaki ini, lelaki yang memberinya apa yang dia butuhkan. Kartu emas yang bisa membeli apapun.
Dan sekalipun dia ingin berbalik, waktu tidak bisa dikembalikan. Masa lalu tidak bisa Lea kejar lagi. Dia mengikuti permainan William, berjalan ke mana arus membawanya. Dengan membawa segudang bukti.
"Aku menyesal telah membiarkan Bryan mencicipi tubuhmu." William menggeram di sela-sela kegiatannya. Dia menatap Lea yang tetap tidak menunjukkan raut apapun.
William memuaskan diri sendiri dalam permainannya, makin mempercepat tempo tatkala puncak kenikmatan itu tiba. Tangannya tidak henti menyentuh wajah Lea, bibirnya pun tidak bisa diam. Melumaat, menggigit juga memberi tanda di leher jenjang Lea. Dia mengikis jarak, tidak memberi sedikit pun ruang antara dadanya dan Lea.
"Aku pikir jalaang sepertimu pandai bermain. Nyatanya tebakanku salah, kau seperti patung."
William menghentikan gerakannya saat melihat raut Lea yang berubah. Dia memegang dagu wanita itu dan menyeringai.
"Apa kau tidak pernah berlatih? Atau kau sedang berpura-pura?"
Lea mengepalkan tangan dan memalingkan muka, mendengkus tidak suka melihat wajah William yang berjarak satu inci.
William menyeringai lebar, makin mengeratkan cengkeramannya di dagu Lea lalu berujar sinis, "But, you still a b*tch."
Bersamaan dengan kalimat itu berakhir, William menyentak kasar membuat umpatan keluar dari mulut Lea.
"Iblis brengsekkk!"
***
Hari baru telah datang. Memberi secercah harapan di lubuk hati Lea. Dia berharap, waktu berlalu dengan cepat. Yang berarti keberadaannya di apartemen William juga akan berakhir.
Tidak ada penentuan berakhirnya perjanjian menjadikan Lea sebagai wanita William, tetapi misi Lea akan berakhir begitu dia mendapatkan uang sebagai bayaran hutangnya pada Jullian. Hutang tantangan yang menjadikannya berakhir tanpa apa-apa di Las Vegas.
Notifikasi pesan dari ponselnya memaksa Lea membuka mata yang sangat tidak ingin terbuka. Tubuhnya yang remuk akibat perbuatan William semalam membuatnya malas bangun.
Namun, mengingat tujuannya berada di sini Lea memaksakan diri. Dia membuka e-mail yang ternyata dari Kenzie.
^^^^^^"Mantan pacarmu itu terlibat banyak kasus. Perjudian, pecandu benda terlarang, pemerkosaan sampai pada pembunuhan serta pemutilasian anak di bawah umur."^^^^^^
Lea meringis seraya melebarkan mata. Dia berulang kali membaca kalimat yang sama, meyakinkan penglihatannya tidak bermasalah.
Ketika Lea hendak membalas, William yang baru keluar dari kamar mandi menghentikan. Dia mematikan ponselnya segera.
"Kau menyembunyikan sesuatu, Jalaang?"
William merebut ponsel Lea saat menyadari pergerakan Lea yang mencurigakan.
"Kembalikan!"
"Aku harus memastikan kau tidak menggunakan uangku untuk membayar gigolo di luar sana!"
William membuka ponsel itu dan mencari riwayat pemakaian Lea. Matanya memicik tajam membaca e-mail yang baru saja masuk.
"Mantan pacar?"
Seakan ada api yang membakar kepala William, dia melemparkan ponsel Lea sehingga benda pipih itu hancur. Dia memaksa Lea duduk dan mencekik leher wanita itu.
"Apakah dia lelaki yang menidurimu?! Kau masih mengharapkannya?!"
Lea meronta-ronta, memukul tangan William, mencoba melepaskan cekikan William di lehernya meskipun itu mustahil.
"Kau membayarnya dengan uangku, huh? Dasar jalaang tidak tahu malu!"
Tidak puas dengan itu, William juga menampar pipi Lea, meninggalkan luka lagi di sudut bibir Lea.
Yang dilakukan Lea hanya menunduk, menahan air mata yang meronta ingin keluar.
"Kau milikku! Hanya milikku!" William menggoyangkan pundak Lea, memaksa wanita itu menatap mata hitamnya yang berkabut oleh amarah. "Berhenti berpikir bisa menjalani hidup yang baik dengan bajiingan itu!"
Pagi yang tadi memunculkan sebersit harapan di hati Lea seketika berubah menjadi lautan darah, penuh amarah dan kekerasan dari pemilik manik hitam yang bagai iblis itu.
.
***