
Happy reading!
***
.
Denting jam dinding di ruangan kecil itu seakan membuat jantung seorang perempuan berlarian. Pasalnya, dia sedang menunggu kedatangan seseorang yang istimewa. Beberapa dekorasi telah menghiasi dinding.
Sesekali mata Kenzie menatap pintu yang belum juga dijamah. Ketukan belum terdengar, atau pun ponsel yang tidak menyapa. Jantungnya berdebar-debar. Rasanya seperti ada letupan kembang api yang meluap-luap di sana.
Mendapat kabar bahwa orang itu datang ke Las Vegas membuat Kenzie tidak karuan. Dia ingin segera bertemu. Namun naasnya, pekerjaan menghalangi. Dan hari ini, Kenzie ingin menjadi bawahan yang keras kepala demi merayakan sesuatu. Dia ingin sekali bertemu orang yang dirindukannya ini.
Sabar akan penantiannya, Kenzie mendapat bayaran yang setimpal. Pintu apartemennya diketuk perlahan sebanyak tiga kali. Senyum terulas di bibirnya. Dengan penuh semangat, dia lari ke arah pintu dan mengintip dari lubang kecil di sana.
Alangkah bahagianya Kenzie saat orang yang ditunggu akhirnya berada tepat di depan sana. Mereka kini hanya terhalang sekat ini. Begitu Kenzie membukanya, tidak ada lagi jarak yang menjadi pembatas seperti beberapa waktu belakangan.
Degup jantungnya membuat Kenzie kelabakan sendiri. Dia gugup antara buka atau tidak. "Bagaimana ini?" Kenzie bermonolog.
"Kenz ...." Suara lembut dari luar terdengar disusul oleh ketukan yang sedikit mendesak. Dengan perasaan campur aduk dan tangan yang sedikit gemetar, Kenzie melebarkan senyuman dan membuka sekat yang membatasi mereka.
Shitt!
Lengkungan bibirnya perlahan memudar kala dia melihat orang lain yang berdiri di sana. "Selamat datang kembali di Las Vegas, Nona Haggins," ujar Kenzie basa-basi dengan memaksakan senyum. Dia mempersilahkan dua orang yang berdiri itu masuk. Rupanya bukan orang ini yang ditunggunya tadi.
"Kau terlihat sedikit tidak suka," celetuk Lea sembari menjelajahi pandangan ke seluruh penjuru kamar apartemen Kenzie. "Apa karena yang datang tidak sesuai dugaanmu?" Senyum meledek tercipta saat mulut Kenzie mengerucut. Wanita berlesung pipit itu menghampiri meja yang menarik pandangannya.
"Aku benci karena kau yang datang tapi sedikit terhibur melihat perjuangan dia terbayar," ucap Kenzie menyengir sembari melirik orang yang datang bersama Lea. "Ada kabar terbaru?"
Orang yang dimaksud Kenzie hanya tersenyum simpul. Dia menatap Lea yang juga menatapnya. "Mara yang akan menjawabnya."
Lea mengedik acuh. "Tidak ada apapun. Aku dan Hunter berteman. Yah, sedikit lebih dekat," jelas Lea yang melebarkan senyuman di bibir Kenzie.
"Bagus dong. Akhirnya kau tidak marah-marah lagi karena Hunter memberimu bunga."
"Aku masih begitu," sela Lea. Dia memgambil sepotong kue yang ada di meja tanpa dipersilahkan. "Kau tahu, aku tidak suka mawar, tapi dia terus memberikannya padaku. Setiap hari." Lea menekankan kalimat terakhirnya.
Hunter tertawa kecil. Ikut duduk di meja yang berisi dessert, tepat di samping Lea. "Aku suka melihat ekspresi Mara yang kesal. Karena ekspresi seperti itu tidak dia perlihatkan pada orang lain," tutur Hunter yang mampu membuat Lea memalingkan muka. Hunter juga ikut mengambil potongan kue yang tertata rapi di atas meja.
Melihat perilaku dua tamu itu, Kenzie berujar heboh. "Wah, wah, wah, kalian berdua sangat serasi. Saking serasinya, sama-sama tidak sopan dan tidak menghargai tuan rumah."
Lea tidak menggubris. Dia berjalan ke arah kulkas dan mengambil botol minuman beralkohol dari sana serta meneguknya langsung di sana.
Hunter tersedak. Dia buru-buru memukul dadanya sementara Kenzie menyodorkan segelas air. "Ck, kau seperti remaja. Di umur yang seperti ini, kau masih malu mengatakan sesuatu perihal hubungan pria dan wanita?"
Tepukan di pundak menahan kaki Kenzie yang hendak berdiri. "Dia masih suci, Kenz. Bahkan untuk ciuman saja, bibirnya bergetar."
Ledakan tawa Kenzie menambah rona malu-malu di wajah Hunter. "Rupanya kau cukup berani juga. Lalu, apa kabar dengan 'juniormu'? Sudah pernah bercocok tanam?"
Lea duduk di tengah mereka. Dia tersenyum dan memandang wajah Hunter. "Jangan dengarkan! Terkadang omongannya cukup gila dan vulgar."
Setelah tawa Kenzie mereda, Lea menatapnya datar. Kenzie tersenyum bingung. "Kenapa?"
"Kau tidak berniat memberiku ucapan selamat? Atau apapun yang bisa mengembalikan mood setelah berjalan berhari-hari tanpa tidur?"
Kenzie meneguk ludah. Saking senangnya meledek mereka, dia melupakan awal dari terciptanya keributan di sini meski tidak bermaksud langsung memberi ucapan pada Lea, tetapi untuk melihat seseorang yang menarik di matanya. Dia mengembalikan rautnya ke mode serius dan menatap mata Lea. "Selamat ya, jaksa Haggins. Kau berhasil menghebohkan masyarakat Nevada. Dan kemungkinan besar, ada yang sangat terkejut setelah kau tinggal lagi di sini."
Hening mengambil alih sesaat. Suasana yang tiba-tiba sepi membuat Kenzie melanjutkan kalimatnya. "Ayo kita minum-minum sebentar malam! Ada tempat yang kau inginkan?" Kenzie memandang Lea dan Hunter bergantian, lalu tersenyum penuh arti. "Tapi kalian yang bayar. Kalian tahu 'kan, aku yang paling miskin di antara kalian berdua."
"Tentu saja," sahut Hunter sambil tersenyum.
Berbeda dengan tanggapan Lea. Wanita itu justru mendengus kesal sementara fokusnya direbut oleh dessert dan makanan yang ada di meja. "Tanpa dibilang pun, aku sedang memikirkannya di kepalaku bahwa kau pasti minta traktir." Satu suapan penuh masuk sekaligus. "Aku mendapat libur dua hari. Ayo bersenang-senang," ajaknya dengan mata yang sengaja menatap Hunter.
Kenzie terkekeh pelan. Dikiranya tatapan Lea itu mengandung arti yang dewasa, sementara Hunter mengangguk kecil dengan senyum profesional. Tidak ada maksud seperti yang ada di kepala Kenzie.
"Kode-kodeannya nanti saja, masih ada aku di sini," ucap Kenzie yang panas sendiri. "Jadi, ke mana kita akan pergi? Aku akan mengambil jatah cutiku tahun ini untuk liburan musim panas kita."
"Musim panas ya, tentu saja ke pantai," sahut Lea. Sebuah kedipan diberikannya pada Kenzie. "Jangan lupa membawa pasangan ya."
Seolah tertancap panah patah hati, Kenzie mengumpat pelan. "Aku punya dua pria. Namanya Bryan dan Leon. Aku akan membawa mereka bersama-sama."
Tatapan tajam dan datar dari Lea seolah menembus wajah Kenzie. Hidungnya terasa gatal. "Apa? Aku tidak mau kesepian dan menjadi pasarit pengganggu di antara kalian!"
Bukan itu fokus Lea. Tetapi pada nama dua pria yang baru saja disebut Kenzie. Semoga saja. Dia merapalkan doa di dalam hati. Ya, semoga saja bukan mereka. Karena nama Bryan dan Leon sangat pasaran. Bisa saja bukan orang yang dikenalnya.
Dan semoga saja terhindar dari kisah yang tidak ingin terjadi. Meski pada dasarnya, yang terjadi tetaplah terjadi. Masalah ada untuk dihadapi.
.
***