
Happy reading!
***
.
Dengan panik, Natalie berlari tanpa memedulikan Jullian yang tengah memandangnya. Wajah pria itu tidak bisa memyembunyikan kebahagiaannya. Dia menarik Natalie yang hendak menyeberang padahal ada mobil berkecepatan tinggi melintas.
"Terima kasih," ujar Natalie setengah terengah. Dia kemudian berlari lagi menuju sebuah taksi. Namun, Jullian lagi-lagi menarik lengannya. "Biar aku antarkan."
"Kau melupakan sesuatu, J. Kita ke sini berjalan kaki," tolak Natalie, karena memang tadi mereka hanya berjalan kaki ke kafe tempat mereka menyantap sarapan berupa sepotong roti dan americano panas.
Sambil menyunggingkan senyum manis, Jullian menggeleng. Demi menjalankan misi balas dendam pada William dan Natalie, tentu saja Jullian memerankan perannya sebagai kekasih yang sangat baik. Selain menyuruh Theodore membatalkan waktu keberangkatannya, Jullian juga menyuruh sang asisten untuk membawa mobil ke kafe.
"Pandu aku." Jullian melajukan mobil dan Natalie sebagai pemandunya. Karena kepura-puraan ini harus nyata.
Di tempat lain, lelaki bermanik hitam itu terdiam. Matanya menatap tajam pada layar yang menunjukkan rekaman cctv di kamar apartemennya. Bagaimana bisa setiap pergerakannya terekam. Kegiatan panas serta kekerasan verbal maupun fisik yang serta merta dilakukannya tiap waktu.
Sejak semalam, belum habis kesedihan William karena ditinggal pergi oleh wanita yang belum resmi menjadi kekasihnya, kepulangannya ke kasino langsung disambut oleh polisi yang menangkapnya dengan tuduhan kekerasan dan pelecehan seksual.
Bukannya berakhir di kantor polisi, kasus yang melibatkan dirinya kini masuk ke kantor kejaksaan. Yang berarti, tindak kekerasan yang dilakukan William tidak akan terhapus begitu saja.
Di dampingi pengacara pribadinya, William menunduk sambil merenungi apa yang telah terjadi. "Saya tidak memiliki pembelaan," ujar William yang sontak membelakkan mata sang pengacara.
"Tuan La Vaughn!"
"Semua bukti telah jelas. Anda melakukan kekerasan verbal maupun nonverbal yang membuat korban mengalami luka di seluruh tubuh serta gangguan psikologis yang parah. Dengan didampingi pengacara Anda, tolong bekerja sama untuk melancarkan persidangan yang akan dilangsungkan dalam waktu dekat."
William membeliak. Gangguan psikologis katanya? Dia menggeleng pelan. "Di mana dia sekarang?"
Jaksa itu menggeleng. "Sebelum persidangan, saya menolak untuk mempertemukan pelaku dan korban untuk mencegah terjadinya kasus berkelanjutan. Mohon maaf."
William menghela napas pelan. Diliriknya pengacara yang sudah dua tahun menjadi bagian dari keluargannya. Wanita berusia lanjut itu melotot kasar pada jaksa yang baru saja meninggalkan ruangan.
"Ada sesuatu yang janggal dengan kasus ini. Tolong hati-hati dalam beberapa hari ke depan, Tuan La Vaughn," ucapnya seraya memperbaiki letak kacamata. "Sebelum persidangan, saya akan bekerja lebih keras lagi untuk meringankan pikiran anda."
Jaksa yang dipanggilnya Mrs. Def itu berdecak pelan lalu mengangguk paksa. Dia bergumam, "Benar-benar ada yang tidak beres."
***
Waktu tetap berjalan sebagaimana mestinya meski ada yang ingin mempercepat atau memperlambat lajunya waktu. Selambat-lambatnya waktu, William ingin sekali mempercepat langkah kakinya yang makin melambat.
Hanya turun ke lantai bawah dari ruangan kerjanya seakan ada ribuan beton yang memasung kakinya. William tak pernah selelah ini sebelumnya. Bukan alkohol penyebabnya, karena sebanyak apapun dia minum dan alkohol merek apapun tak berpengaruh pada kesadarannya.
"Kasus ini ditutup sementara karena permintaan korban. Anda diharapkan mempersiapkan diri untuk kelanjutannya."
Perkataan jaksa yang menangani kasus yang menjeratnya terus berputar bagai kaset di otak William. Dirinya yang tidak pandai tentang jalur hukum dibiarkan bingung meski Mrs. Def telah menjelaskan.
Bukan hanya itu, jejak Lea tidak ditemukan meski William telah menyewa detektif swasta. Ada yang melaporkan wanita itu pergi ke Asia, tepatnya negara Jepang, tetapi hasilnya tidak ditemukan. Ada yang memberi informasi kalau Lea berkeliling dunia dan yang lebih tidak masuk akal bahwa Lea hidup bersama penguin di Antartika. Tidak masuk akal.
Cahaya remang-remang lampu di bawah sana mengaburkan pandangan William. Matanya berkunang-kunang disertai kepala yang berdentum sakit. Tidak seperti biasanya.
Mungkinkah karena usia yang telah lanjut atau pengaruh kesehatannya yang terganggu, penglihatannya makin buram seiring dengan suara musik yang memekakkan telinga, yang dipandu oleh seorang disk jokey.
Sebelum benar-benar terjatuh dan mengatupkan kelopak mata, bayangan seorang disk jokey itu berhasil dikenali William. "Lea Alayra ...?"
Sepasang mata cemerlang yang mengamati dari sudut gemerlap kasino terkesiap. Dia melangkah lebar ke arah William diikuti beberapa orang yang juga terkejut oleh kejadian jatuhnya 'seorang pria gagah'.
"Apa-apaan kau? Laki-laki kok tapi sangat lemah," ujar Hunter seraya memapah William. Lagi-lagi, Hunter tergugu. Berat badan lelaki yang dipapahnya itu tidak seperti kebanyakan orang. Sangat ringan.
"Kau tidak mengurus dirimu ya? Bajiingan gila," dengus Hunter pelan dan memasuki sebuah ruangan, yang dipandu oleh Ruby.
2 tahun kemudian ...
.
***