After Yesterday

After Yesterday
After Yesterday 22



Happy reading!


***


.


Keluar dari kegelapan yang mencekam itu, tangan Lea ditarik ke jalanan yang lebih sepi tapi penerangannya cukup. Hunter menghembuskan napas kasar dan memperbaiki letak syal di leher Lea yang sempat terbawa angin tadi.


Lea memasang tampang datar meski dia sudah melihat jelas raut cemas Hunter. Pria itu kesal bercampur khawatir, namun tidak mengatakan apapun lagi. Tanpa kata, dia menarik Lea serta tidak peduli pada penolakan yang secara tersirat tergambar di wajah Lea.


Hunter terus menarik dan Lea tidak berniat melepaskan tangannya. Selain takut sendirian di jalanan asing, kemampuan Lea untuk membaca arah juga masih diragukan. Lea buta arah.


Lama mereka berjalan dalam kesunyian. Hanya semilir angin malam yang kadang terasa, menusuk kulit dengan suasana dinginnya. Lea memeluk tubuhnya sendiri sementara kopernya entah sejak kapan sudah berpindah ke tangan Hunter.


Berjalan ke arah yang tidak diketahui olehnya, Lea mendadak berhenti ketika Hunter membuka sebuah rumah berpagar besi. Tampak besar dan megah, berkilauan seperti istana di dalam dongeng. Meski malam tidak memancarkan cahayanya, Lea berhasil mengidentifikasi tempat itu sebagai tempat orang kaya dari lampu penerang yang menunjukkan jati diri rumah itu sendiri.


"Aku tahu kau tidak punya tujuan lain lagi. Apartemen lama-mu sudah ditinggali orang." Hunter menarik tangan Lea, tapi Lea masih menahan kakinya. Berpijak dan menahan berat badannya, tetap bertumpu di kaki. Penolakan secara langsung sebagai ketidakmauan Lea masuk ke dalam sana.


Hunter terkekeh kecil kemudian memanggul Lea di pundaknya. "Aku tidak pernah memaksakan keinginan, tapi kau harus paham keadaan. Di luar sana banyak bahaya, bagaimana kalau kau bertemu orang jahat?"


"Justru kau orang yang harus aku hindari, Bajiingan!" Lea memukul-mukul pundak Hunter, tetapi Hunter tidak menanggapi. Pria itu menggerakkan tangannya dan seseorang menghampiri lantas mengambil koper Lea.


Semuanya terjadi secepat kilat di mata Lea. Dia tidak bisa mencerna apa yang sedang terjadi dan apa saja yang dia lihat. Dan matanya makin melebar tatkala Hunter memasuki ruangan yang luas, penerangan yang mampu menyilaukan mata di setiap sudut bangunan itu, serta interior yang cukup menggugah indera penglihatan.


"Malam ini saja, turuti perkataanku, Lea. Aku tidak ada niat jahat. Kau bisa menghukumku kalau itu terjadi."


Lea terkejut tatkala kaki tanpa alasnya menginjak lantai yang dingin. Dia hendak meludahi Hunter seperti perbuatannya yang sudah-sudah, namun hati nuraninya kali ini tidak mengizinkan itu terjadi. Pria yang selama ini mengganggunya hadir sebagai penolong. Entah tulus atau tidak, Lea tentu berwaspada.


"Ini rumahku," ujar Hunter sambil tertawa kecil. Tanpa sungkan, dia menarik Lea dari sana dan memasukkannya ke sebuah kamar. "Ada banyak kamar kosong. Mandilah, aku akan menunggumu makan malam."


Lea masih membeku. Dia ragu dan tidak percaya pada penglihatan serta pendengarannya. Rumah Hunter? Pria yang selama ini hanya berjalan kaki setiap saat dan tidak pernah berpakaian selayaknya orang kaya, tiba-tiba saja membawanya ke rumah mewah dan mengakui dirinya sebagai pemilik.


"Orang gila," ujarnya seraya terkekeh miris. Lea lantas menutup pintu dan merebahkan diri di kasur berukuran besar itu. Menutup matanya rapat-rapat serta terjun ke alam mimpi. Melupakan fakta bahwa Hunter harap-harap cemas menungguinya di meja makan.


"Aku sudah lapar, Paman. Kapan kita makan?" Seorang pemuda remaja merengek dan memelas sembari mengangkat piring, ingin menyendokkan makanan karena lapar.


"Lima menit lagi, Justin. Tolong sabar ya," ucap Hunter dan mengelus kepala Justin yang seketika murung, namun tidak membantah.


***


Seperti waktu lima tahun silam yang secepat itu berakhir, pagi datang menyapa dan membangunkan Lea. Dia mengucek matanya dan mengembalikan kesadaran penuh. Menjelajahi seluruh isi kamar yang lagi-lagi membelalakkan matanya.


Tidak. Ini bukan mimpi ataupun ilusi. Semua nyata. Terbukti dari vas cantik yang berada di atas lemari. Lea menyentuh serta melihat tanda keaslian benda itu. Ditambah koleksi benda berharga yang hampir memenuhi kamar itu. Mulai dari poster, lukisan yang memenuhi dinding serta benda antik dan elegan lainnya. Lea sadar.


Jika semalam Lea melihatnya sebagai istana dalam dongeng, pagi ini dengan kesadaran penuh, Lea memercayai penglihatannya.


"Dia benar-benar gila," gumam Lea seraya mencepol rambut panjangnya.


Tidak hanya kamar, bahkan kamar mandi pun penuh dengan koleksi benda berharga. Lea tidak bisa lagi menahan keterkejutannya. Dia menyentuh tembok yang berisi banyak pasal undang-undang kenegeraan. Pada tempat lain dinding itu, sejumlah lukisan pemandangan musim semi memenuhi, memaksa kaki Lea berhenti dan menikmati keindahannya.


Lama berpaku di tempat itu, sorot mata Lea berubah sayu. Binar cerah dari manik cokelatnya terganti dengan aura suram dan kesedihan. Seiring dengan perubahan itu, tangan Lea mengepal. Menyadarkan diri sendiri akan keadaan yang kini menjepitnya.


"Aku pasti akan membalasmu. Tunggu aku William La Vaughn dan Harry Ontario!" Lea merapalkan dua nama yang benar-benar telah menanamkan kebencian di dalam hatinya. Dua lelaki yang kini tengah mati-matian melacak keberadaannya.


.


***


Maaf ya, aku kelamaan hiatus. Entah kenapa, ini tidak terencana😣. Jangan tanya kenapa dan ke mana karena sekarang aku telah kembali. Untuk update selanjutnya, aku tidak menjanjikan akan seperti apa. Kemarin aku janji, tapi tidak ditepati, jadinya kapok buat2 janji mulu😁.