After Yesterday

After Yesterday
After Yesterday 9



Happy reading!


***


.


Tubuh mungil itu meringkuk di bawah selimut. Membiarkan kulitnya yang mulai gemetar tertutup rapat, berharap tidak ada satu pun orang di dunia ini yang mengenalinya.


Kejadian tadi membuat Lea kembali mengingat kejadian tahun silam, waktu di mana dia masih menjadi gadis polos dan bodoh, mencintai Harry sampai buta.


Masa lalu masih menjadi pisau tajam untuk Lea. Meski sudah bertahun-tahun lamanya, dia tidak pernah melupakan apa yang telah terjadi. Kisah kelam itu masih terpahat sempurna dalam ingatan.


Dan sekarang semuanya mengambang bebas di atas permukaan. Lea tidak salah mengenali. Lelaki bertato yang kepalanya ditutupi hoodie itu adalah Harry. Lelaki yang dulu dicintainya dengan sepenuh jiwa dan raga.


Tubuh Lea bergetar karena isakan. Dia menangis. Entah apa yang dirasakan, Lea tidak pandai mengeja rasa. Yang dia rasakan hanyalah sesak di dadanya tidak tertahankan saat mengenali lelaki itu.


Cinta atau benci, hanya sedikit kemungkinan. Hati Lea berdenyut sakit saat dia mengucapkan kalimat benci, tapi otaknya berpikir keras bahwa yang dirasakannya ialah kebencian terdalam. Lea terjebak dalam lautan dan ombak besar siap menghantam.


Lama dalam posisi seperti itu. Menangisi masa lalu yang tidak akan kembali. Lea bangkit dan mengusap air matanya. Dia meraih ponsel dan menekan tombol panggilan cepat.


"Kenz, tolong lakukan sesuatu untukku." Lea memelas dengan suara serak. Tenggorokannya sakit akibat terlalu lama menangis.


"Kau menangis lagi?! Apa bajiingan itu menyakitimu lagi?"


"Bukan dia, tapi brengsekk lima tahun lalu."


Kenzie berdecak dari seberang. "Kau masih belum move on? Come on, Baby, tidak ada gunanya menangisi orang yang tidak mencintaimu."


"Bukan itu, aku menangis untuk menghibur diri sendiri."


"Jangan membohongiku. Tapi, ya sudah, katakan apa yang kau inginkan! Aku masih sibuk, banyak pasien hari ini."


Lea menghembuskan napas lalu berujar pelan. "Apa kau masih berhubungan dengan detektif itu?"


"Jaden?"


"Ya."


"Katakan saja, aku akan menghubunginya untukmu."


"Aku membutuhkan salinan cctv dari sebuah tempat, katakan padanya untuk berhati-hati. Aku tidak ingin Jullian mengetahui itu."


"Baiklah, berikan rincian alamatnya lewat pesan."


Nun jauh di tempat lain, Jullian terkekeh mendengar pembicaraan Lea dan Kenzie. Pria yang memiliki jaringan di mana-mana itu sangat mudah mendapatkan informasi tentang adiknya, bahkan pembicaraan serta pesan yang masuk dalam ponsel Lea saja tidak lepas dari pengawasan Jullian.


"Aku tahu kau pintar, Lea. Lakukan saja, aku mendukungmu."


Dan mata Jullian makin berbinar senang melihat alamat yang diberikan Lea. Sebuah kasino mewah.


"Adikku tidak akan pernah kalah. Dia kuat. Karena dia kuat dan tidak mudah menyerah makanya berani menantangku."


Bibir Jullian menyeringai sembari melirik sebuah foto di dinding yang dijadikannya papan dart. "William La Vaughn!"


Lalu pandangannya teralihkan pada gambar seorang perempuan cantik yang dia pisahkan dari gambar William. Perempuan cantik yang juga berprofesi sebagai dokter di Brasil bernama Natalie.


"Mata dibalas mata dan gigi dibalas gigi. Tunggu pembalasanku, La Vaughn!"


***


Sepasang mata hitam makin menajam tatkala memasuki area bar. Wajah wanita yang selama ini membayangi langsung dilihatnya, tanpa ekspresi seperti biasa.


William memalingkan muka, berjalan cepat dan acuh seperti yang sering dilakukannya. Penampilannya sekarang terlihat seperti orang biasa yang selalu datang dan menghabiskan waktu di bar dan diskotik.


Kejadian diseret ke kantor polisi tadi siang membuat William makin membuka mata lebar, waspada. Ternyata penyamarannya selama ini tidak membuahkan hasil, masih ada penjahat yang menjual benda ilegal di tempatnya. Kali ini dia akan mematai semua ruangan di kasino ini dan memperketat penjagaan.


Untung saja siang tadi William dibantu oleh rekaman cctv yang menunjukkan aksi pertukaran barang ilegal itu terjadi secara rahasia dan tidak diketahui orang lain termasuk pekerja. Hanya sayang, kasino 'Lotus Inn' miliknya menjadi pusat perhatian para polisi. Dijaga ketat dan mendapat peringatan.


"Aku menunggu waktu yang tepat, Dude. Kapan kau akan memberikannya padaku?"


Bryan datang ke meja yang dipakai William untuk memantau keadaan. William mengerutkan kening. "Maksudmu?"


"Atau kau melupakan deal kita minggu lalu? Come on, Dude, kau belum setua itu."


William terkekeh kecil lalu mengeluarkan ponsel. "Waktunya belum tepat. Dia masih kesakitan."


"Well, kau peduli padanya?" Bryan tertawa miris dan memerhatikan raut muka William. Sembari menggoyangkan gelas minumannya, Bryan memanjakan matanya dengan wanita seksi yang berlimpah di tempat itu.


"Aku takut dia pingsan sebelum kau menyelesaikan permainan. Bersabarlah!"


Sudut bibir Bryan terangkat dan William melihat itu dari bibir gelas yang sedang dia habiskan isinya. "Kau tahu aku paling bisa dipercaya masalah itu, dan kau juga tahu aku membenci minuman jeruk. Rasanya kecut."


Segera bangkit dari sana, William menepuk pundak Bryan. "Aku akan kembali. Tunggu kabar dariku!"


Bryan menatap punggung William yang sangat lebar, kekar dan penuh otot. Meski tertutupi jaket berhoodie, tetap saja pesona William sangat memikat.


"Karena kau sangat bisa dipercaya makanya aku berani bertaruh."


Sementara itu, William kembali berkeliling. Dia melewati ruangan menajemen, melihat beberapa orang duduk mengawasi seluruh sudut kasino ini. Berdiri sebentar sembari menatap intens seseorang, William merasa asing dengan orang itu.


William menggeleng perlahan lalu melanjutkan langkahnya, menyusuri setiap sudut gelap dan bagian yang belum terjamah oleh penjaga keamanan.


Kaki William seakan tidak bisa bergerak saat sampai di sebuah jalan setapak yang gelap. Tidak ada penjagaan ketat di sana. Bukan itu fokusnya, melainkan pada tubuh yang berjalan cepat ke gudang anggur. William meremang, dia mengetatkan rahang saat mengetahui siapa pemilik tubuh mungil itu.


Seraya menelan ludah kasar, kakinya otomatis mengikuti, berjalan cepat seperti yang pertama kali dilakukannya ketika membawa paksa Lea. Dan seperti yang sudah terjadi, Lea makin berjalan cepat, menembus malam yang gelap. Menghindari William.


"Jalang ...," desis William sembari menahan pintu gudang tatkala Lea menutupnya cepat.


Lea tergelonjak kaget. Pupilnya melebar dengan kaki yang siap menendang. "K-kau ...?"


William berdecih, matanya menilik tajam serta sunggingan miring di bibirnya tampak menyeramkan. Dia bersedekap seraya bersandar di pintu, memandang Lea yang gemetar menuruni anak tangga.


William berdiri tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Mulutnya seakan terbungkam sendiri, hanya mata tajamnya yang tidak henti-henti memandang keindahan tubuh wanita yang sibuk memilah minuman dengan tubuh bergerak gelisah.


Di tempatnya, Lea gemetar, takut dan hilang kendali. Otaknya tiba-tiba kosong, mengingat lagi apa yang pernah terjadi sebelumnya. Mungkin sekarang dewi keberuntungan berpihak pada Lea, lelaki itu tidak bergerak seinci pun. Meski begitu, Lea masih merasa takut.


Masih bergeming di tempat, dua orang itu seperti benda mati. Hanya hembusan napas William yang terdengar memenuhi ruangan sedangkan Lea untuk menarik napas saja dia harus berhati-hati. Dada Lea sesak oleh ketakutan, namun wajahnya tampak datar, tidak menunjukkan ekspresi yang sedang dirasakannya.


Sampai kaki Lea tidak kuat menahan tubuhnya sendiri, dia hendak terjatuh, tapi sebuah tangan kekar langsung menahan.


"Angka 69 dilihat dari sisi mana pun tetap akan sama," ucap William sinis. Dia memegang erat pundak Lea lalu memaksa wanita itu duduk di lantai. "Jalaang," lanjutnya kemudian membersihkan pecahan botol kaca di lantai.


"Ya, aku juga merasa begitu. Seorang bajiingan tetap saja bajiingan meskipun melakukan satu kebaikan." Lea mendorong William ketika lelaki itu menahannya tetap duduk.


"Jalaang kurang ajar!" William mengetatkan rahang dan hendak menahan Lea, tetapi Lea keburu pergi, menaiki tangga setelah mengambil minuman yang dipilih tadi.


Mata hitamnya seketika meredup lalu tiba-tiba kilatan berbeda terpancar dari sana. Sebentar saja, William terkekeh kuat, memenuhi gudang bawah tanah yang penuh minuman beralkohol.


"Sungguh jalaang yang bertekad kuat."


.


***