
Happy reading!
.
***
Sudah dua hari berlalu sejak hari itu. Lea masih seperti biasa. Datar dan tampak acuh tak acuh. Seorang pemuda remaja mengerucut sembari mendekatinya.
"Aku masih tidak suka padamu, tapi paman memberikan ini."
Justin menyodorkan setangkai mawar putih, namun Lea tidak mengalihkan matanya dari lembaran buku yang ada di pangkuannya. Bukan tidak ingin, tetapi Lea bingung harus mengatakan apa pada pria yang memberinya tumpangan itu.
"Hei! Apa kau mendengarku?" Justin menggoyangkan lengan Lea dan memaksa telapak tangannya terbuka. "Kau membiarkanku kelaparan malam itu," ucapnya seraya berbalik pergi.
"Maaf ...."
Lea berujar pelan, namun telinga Justin masih menangkap gema yang terbawa angin sore itu. Dan dia berlalu seolah-olah tidak mendengar dengan senyum tipis terpatri di wajahnya. "Pantas saja paman tidak bisa berpaling. Dia memang sedikit unik."
Dari kejauhan, sepasang mata bening memandang itu dengan menahan tawa. Hunter merasa lucu dengan interaksi Lea dan Justin. Yang satu blak-blakkan, sementara yang satu lagi acuh tak acuh dan bertampang dingin.
Semenjak Lea berada di rumahnya, Hunter sebisa mungkin tidak bertemu secara langsung dengan Lea. Alasannya mungkin sederhana, tapi Hunter merasa sangat berat. Bahkan kepercayaan dirinya yang setiap hari memberikan tangkai bunga, kini tidak lagi tersisa melihat wajah murung Lea setiap hari.
Saat Hunter berbalik dari tempatnya berdiri, suara Lea menghentikan. Dan langkah kaki Lea mendekat.
"Aku tidak suka mawar putih!"
Hunter memaksakan bibirnya tersenyum dan menatap wajah Lea yang tak berekspresi. "Lalu, apa yang kau suka?"
Tanpa berbicara apa-apa, Lea memetik setangkai bunga berwarna ungu di taman itu. Lalu memberikannya pada Hunter. "Hyacinth ungu. Untukmu!"
Hunter terkekeh pelan sambil menatap lamat bunga yang unik itu. "Kau tahu apa artinya ini?"
Masih dengan tampang yang tidak berubah, Lea menggeleng dan kemudian mengangguk kecil.
"Aku yang seharusnya minta maaf padamu. Maaf, aku menyeretmu ke sini tanpa izin." Hunter memandang Lea dengan tatapan teduh, senyum tipis pria itu membuat wajah tampannya lebih bercahaya.
Lea berdehem kecil dan memalingkan wajah. "Terima kasih dan maaf. Malam itu aku berjalan tanpa tujuan, terima kasih telah menolongku."
"Astaga!" Hunter tertawa keras seraya mengacak rambut Lea. "Tidak perlu sungkan. Anggap saja rumah sendiri. Lagipula, di sini banyak kamar yang kosong. Bahkan jika ada kucing yang tersesat, aku akan membawa mereka ke sini," ujarnya bercanda.
Raut Lea yang semula melembut kembali dingin. Dia berbalik setelah melayangkan pukulan di lengan Hunter. "Sialan kau orang jahat yang suka menlong!"
"Melenyapkanmu!"
Lea masih berujar ketus meski hatinya tidak lagi se-mendidih kali lalu saat diganggu Hunter. Beberapa hari menumpang di rumah pria itu telah membuka wawasan Lea. Orang tampan tidak selamanya brengsekk seperti mantan kekasihnya, dan penampilan buruk tidak selalu mencerminkan kemiskinan. Adakalanya mata kita terbutakan oleh apa yang tampak dan tidak melihat ketulusan orang lain.
Hunter pria tampan yang baik, secara keseluruhan dan tidak terkecuali.
***
Setiap hari, yang dilakukan Lea hanyalah menghabiskan waktu di perpustakaan mini milik Hunter. Matanya menjelajahi dengan seksama setiap deretan paragraf panjang. Memastikan otaknya masih bisa mencerna apa yang pernah dipelajari.
"Kau butuh bantuan?"
Hunter menghampiri dengan sepiring kukis dan segelas susu. Tidak ada jawaban dari Lea, tapi tangannya segera menerima apa yang diberikan Hunter.
"Aku tidak menyangka kau seorang kutu buku. Sudah berapa banyak yang kau kumpulkan?"
Lea menunjuk pada setumpuk kertas di atas meja dan Hunter terbelalak karenanya. Pria itu meletakkan piring berisi kukis itu dan membaca tiap lembaran kertas. Seketika wajahnya meredup saat menerka apa yang akan dilakukan Lea.
"Ayah Justin seorang pengacara. Kau bisa mengatakannya saat butuh bantuan."
"Tidak, terima kasih. Belum saatnya aku melakukan itu."
"Lalu, kapan?" Hunter bertanya penuh harap.
"Dua tahun kemudian!"
Hunter tersedak ludahnya sendiri dan menghampiri Lea. "Apakah waktunya tidak kedaluwarsa?"
"Tidak jika ada trik khusus," ujar Lea dingin dengan seringai tipis di bibirnya. "Dan kau, apa hubunganmu dengan orang ini?"
Lea memberikan Hunter sepucuk kertas yang dilipat-lipat kecil, bertuliskan nama seseorang yang cukup membuat Hunter kesusahan menelan ludah.
"Harry Ontario?"
.
***