
Happy reading!
***
.
Perpisahan merupakan peristiwa yang sangat dihindari oleh semua orang. Apalagi perpisahan oleh kematian. Setengah gila rasanya ditinggal mati oleh orang yang disayang.
Begitulah yang tengah dirasakan oleh lelaki bermanik hitam yang sedang duduk di kursi kebesarannya saat mendapat kabar kematian teman berharganya. William syok, apalagi alasan kematian itu karena perbuatan salah satu temannya.
Dua orang yang bagai sekeping koin itu biasanya tidak terpisahkan. Namun, kali ini William mengganggap pendengarannya bermasalah. Tidak mungkin Bryan membunuh Leon.
"Kau menganggapku gila ya, Ruby?" William tertawa paksa. Rasa tidak percaya terpancar jelas di manik hitamnya. "Kasus seperti ini tidak akan terjadi di antara Leon dan Bryan. Dan ... Bryan? Dia tidak gila mencelakai sahabatnya sendiri."
Bukannya William tidak memercayai kenyataan yang saat ini sedang ditontonnya di layar tablet yang diberikan Ruby, tetapi rasa percaya pada Bryan dan Leon yang membuatnya berpikir positif. "Semuanya pasti rekayasa," tuturnya lagi.
"Kau pernah bilang padaku saat aku bertengkar dengan mantan pacarku dulu, "Kita tidak bisa mengukur kedalaman hati seseorang." Sama halnya dengan yang terjadi sekarang. Bagaimana kau tahu apa penyebabnya kalau kau saja tidak sering bersama mereka?"
William tertampar kenyataan. Selama dua tahun terakhir, dia jarang bergabung dengan Leon dan Bryan. Alasannya sederhana, William ingin kedamaian saat dia sendirian. Hanya sesekali Bryan datang ke apartemennya, itu pun hanya sekadar mampir untuk minum dan memberi nasehat agar William lebih menerima kenyataan. Setelahnya, Bryan pergi.
Sementara Leon, pria muda yang kadang konyol dan tidak nyambung saat berbicara itu, seringkali datang dengan celotehnya untuk mengganggu waktu sendiri William. Alasan Leon hanya satu, menemani William. Walau sebenarnya William tahu, pria itu sedang melarikan diri dari sang ayah yang selalu menyodorkan banyak wanita padanya.
"Tetap saja, Bryan tidak sekejam itu." William menepis jauh-jauh pemikiran yang mengganggu akal sehatnya. Dia berulang kali menonton rekaman video di tablet itu.
Mata hitamnya terpaku pada punggung seorang wanita yang menghampiri Bryan. Meski wajah wanita itu tidak terlihat, dari penampilan belakangnya William merasa familiar. Lebih tepatnya sangat mengenali punggung yang tidak pernah dilupakannya.
"Kenapa dia di sini?" William tidak tahan lagi untuk bertanya, meski harus menelan kenyataan pahit karena Ruby tidak memberi jawaban yang memuaskan. "Mungkin saja dia bekerja di hotel itu."
William tidak sebodoh itu. Mana ada pekerja hotel bebas keluar-masuk saat ada kasus pembunuhan sementara polisi membatasi garis TKP? William tampak berpikir keras, namun dia tidak menemukan jawaban pasti dari pertanyaannya.
William ingin sekali menghampiri Bryan dan menanyakan kebenaran langsung dari mulut pria itu. Namun, dia menyadari tersangka sangat sulit ditemui saat kebenaran di balik kasus dan sidang belum dilaksanakan.
Menyadarkan diri dari lamunan itu, William keluar dari ruangan menyisakan Ruby yang memandang heran, membawa mobilnya, memutar ke arah laut, di mana hotel tempat kejadian perkara.
Sesampai di sana, William dihampiri seorang pria berpakaian serba cokelat, topi menutupi sebagian wajahnya sehingga William hampir tidak mengenalinya. Segaris senyum tergambar di wajah pria itu, namun William tidak menanggapi. Dia bertanya acuh, "Apa yang membawamu ke sini?"
"Aku mau bertemu seseorang," sahut pria itu. Matanya mengawasi gerak-gerik William dan William menyadari itu. "Mau kubuat sebuah 'kebetulan' yang bermakna?"
"Aku tidak paham maksudmu." William tidak menggubris lagi. Dia bermaksud melewati pria itu, tetapi pendengarannya menangkap suatu suara, yang mampu menahan kaki William. Jantung William berdebar tak karuan, segala rasa bercampur aduk.
***
Tengah malam, manik hitam bagai mutiara itu terbuka lagi. Dia tidak bisa tidur. Rasanya bagai mimpi, yang ternyata bukan mimpi. William terjaga walau matanya sempat tertidur.
Tangannya bergerak pelan menyentuh surai hitam yang tersibak di bantal samping kepalanya. "Ini nyata 'kan? Jangan katakan ini hanya mimpi!"
Berulang kali, terus-menerus William mengecup puncak kepala wanita yang tengah didekapnya erat. Dadanya bergemuruh, rasa rindu yang menjalar serta kebahagiaan yang tak terukir menghangatkan pikiran serta jiwanya.
Bibirnya tersenyum hangat. Tak apa jika dia tertampar kenyataan pahit saat bangun nanti. William ingin menikmati perasaan damai ini setelah sekian lama terpenjara dalam perasaan menyakitkan.
Walau William kembali merasakan perasaan menghangat yang dulu pernah hilang, dia juga merasa seolah ada yang hilang dari dirinya sekarang. Mengapa dia harus bertemu wanita ini saat dirinya tengah berduka? William kehilangan kedua temannya sekaligus. Leon meninggal, dan Bryan tidak lama lagi pasti akan mendekap di penjara.
"Aku merinduimu sampai seluruh jiwaku mati rasa," bisik William dengan suara bergetar. Didekapnya makin erat tubuh yang tidak menggemuk itu. "Aku rindu, tetapi aku tidak bisa menemukanmu. Kau ke mana saja selama ini?"
"Apa kau baik-baik saja?" tanya William yang disahut keheningan. "Terakhir kali aku mendapat kabar kalau aku membuatmu terguncang. Apa kau masih sakit?" William tetap bermonolog. "Aku harap kau segera membaik."
"Selama ini aku tidak baik-baik saja. Kau tahu? Saat kau pergi dari rumah hari itu, aku mencarimu. Aku mengutuk diriku sendiri yang tidak bisa menahanmu pergi. Aku merasa diriku adalah lelaki terbodoh yang kehilangan wanita yang dicintainya. Kau pergi karena ibuku 'kan?" William tersenyum miris. "Kepergianmu hanya dipercepat karena alasan itu, bukan? Aku tahu kau memang sangat ingin pergi, tapi tidak menemukan alasan yang tepat."
"Padahal aku ingin mengajakmu makan malam saat itu dan mengatakan sesuatu yang sulit aku ucapkan. Ternyata aku bernasib malang ...."
Cahaya remang-remang yang disebabkan oleh lampu tidur membuat William diserang rasa kantuk. Namun, dia berusaha melawannya.
"Aku sangat bodoh, bukan? Aku melihatmu bersama pria lain, tetapi aku masih menginginkanmu. Aku membukakan pintu dan menjebakmu lagi naik ke ranjangku."
Lagi-lagi William mengecup lama kening wanita itu membuat sang empunya menggeliat. William segera tersadar bahwa perbuatannya itu bisa saja membangunkan pemilik lesung termanis di dekapannya.
"Lea Alayra, siapa dirimu yang sebenarnya?" tanya William pada dirinya sendiri setelah lama menunggu wajah cantik itu terlelap kembali. "Aku tidak paham kenapa kau bisa ada di sini, tetapi aku bahagia karenanya. Aku bahagia ..., sampai merasa bodoh karena tidak bisa menangis haru saat kita bertemu."
Manik cokelat yang memiliki bulu lentik itu terpejam rapat. William tidak melarikan pandangan dari sana. Satu tangannya menyentuh garis wajah Lea, sementara tangan yang lain dijadikan bantal dan membawa wajah Lea ke dekapannya.
"Kau bisa merasakan detak jantungku 'kan? Ini hanya untukmu," lirih William sembari mengatupkan kelopak matanya dan terjun bebas ke alam mimpi. Lengannya makin erat mendekap Lea, takut wanita itu pergi tanpa sepengetahuannya. Karena dalam tidur pun William terjaga.
Malam yang hangat tanpa terasa telah pergi, membangunkan pagi yang segera menyapa dengan sinar teriknya. Sepasang mata hitam yang telah menatap lama wajah cantik di sampingnya bersirobok dengan manik cokelat yang tiba-tiba terbuka.
Tidak ada suara, tidak ada gerakan, hanya hening yang sedetik kemudian beradu dengan detak dua buah jantung tanpa irama, yang satu menyiratkan kerinduan sementara yang satu karena terkejut. Kedua mata itu saling beradu beberapa waktu sampai si pemilik manik cokelat memutuskan berpaling.
"Kenapa kau di ranjangku?" Lea bertanya ketus. Terkejut? Tentu saja. Namun, dia bisa mengendalikan ekspresi wajahnya. Tampang datar yang ditujukan pada semua orang kembali terpasang.
William tidak menjawab. Dia hanya memandang tubuh atas Lea yang polos tanpa tertutupi selimut. Dia bingung harus menjawab apa. 'Kau masuk ke kamarku dan meniduriku!'? Mustahil.
Kepala Lea tiba-tiba merasa pusing saat dia bangkit dan tangan lelaki itu menahannya saat hampir terjatuh. "Hati-hati," ujar William pelan.
Lea menepisnya. Dia bergerak perlahan untuk turun dari ranjang. Sadar bahwa dirinya tidak mengenakan sehelai kain pun, Lea menarik selimut dan menatap tajam pada William.
"Kau mengambil keuntungan dari wanita mabuk." Lea berusaha mengendalikan dirinya agar tidak menyerang William dengan vas bunga yang ada di meja. Rasa marah di dada membuatnya berulang kali menghembuskan napas. "Such a jerk!" umpatnya kasar.
Lea memungut pakaiannya yang berserakan di lantai dan lari ke kamar mandi. Umpatannya terdengar jelas dari luar. Sesampai di dalam sana, Lea menyadari ada yang aneh.
Letak kamar mandi dan perabotan kamar ini sama persis dengan kamarnya, yang membedakan hanya isi kamar mandi ini yang berupa peralatan pria. Bukan peralatan miliknya.
"Sial." Lea memukul keningnya dan menggeleng kuat. "Salah masuk kamar?!"
Rasa malu menghinggapi dirinya, tetapi langsung teredam saat sadar bahwa William mengambil keuntungan. "Bajiingan gila!"
Tanpa ekspresi, Lea keluar dari sana setelah membanting pintu dan tidak menghiraukan William yang masih terduduk di ranjang.
Buru-buru Lea meninggalkan lorong kamar yang ternyata berada satu lantai di atas kamarnya. Dia turun melewati tangga darurat karena harus menyiapkan alibi jika nanti ada yang menanyakan kepergiannya.
Benar saja. Seseorang sedang bersedekap di samping kamarnya. Rasa gugup melanda Lea. Dia berdiri untuk meredakan kecemasannya dan menghampiri. "Ada masalah?"
Pria itu tidak menjawab, namun segera memeluk Lea. Tubuhnya bergetar serta napas yang tersengal-sengal. "Kau baik-baik saja?"
Lea menengang. Mulutnya sekejab terkatup rapat. Tidak bisa menemukan alibi apapun untuk membela diri meski tadi sudah dipersiapkan matang-matang.
.
***