
Happy reading!
***
.
Tangan Lea saling bertautan, bergetar tanpa henti. Pemandangan di hadapannya sungguh menodai mata. Jullian tampak sangat bermesraan dengan perempuan yang diketahuinya sebagai adik William. Saling bersuapan dengan makanan yang dibuatnya.
Sementara di sampingnya, William mematung. Dengan mata yang tidak lepas dari dua orang yang seperti dilanda asmara, William menggenggam tangan Lea di bawah meja. Nampak kekhawatiran di matanya mengenali siapa kekasih Natalie.
Dalam hati, Lea berharap Jullian segera pergi dan meninggalkannya sendirian di sini. William yang hendak ke kantor harus tertahan karena kedatangan sang adik. Rasanya tidak nyaman terhimpit di antara dua kakak beradik yang memperlakukannya bagai sampah.
"Kau beruntung, Kakak ipar. Istrimu pandai memasak." Jullian mencoba mencairkan suasana yang bagai api. Mulutnya tidak henti mengunyah, menikmati makanan itu tanpa peduli pada Lea yang sangat gemetar di tempat.
William berdehem pelan lalu melirik tajam pada Lea, namun bibirnya berusaha tersenyum. "Bukan istri."
"Huh?" Jullian menatap William dan Lea bergantian lalu terkekeh, bersandiwara seolah-olah dia salah bicara. "Maaf, aku pikir dia istrimu. Kalian terlihat sangat serasi."
"Dia istri masa depan." William terkekeh pelan seraya mencengkeram kuat tangan Lea di bawah meja. Kakinya juga menahan kaki Lea yang bergerak. Tidak memberikan ruang bagi Lea untuk memberontak.
Pada saat itu juga, Jullian serta Natalie tersedak. Keduanya terbatuk-batuk dan memandang William tidak percaya.
"Kakak! Apa kau gila?! Dia jalaang!"
"Nath!"
Jullian mencuri pandang ke arah Lea, lalu menatap Natalie yang nampak sangat marah. Tangan perempuan itu mengepal diiringi sentakkan garpu. Lantas Jullian menggenggam tangan Natalie dan menenangkan perempuan itu. "Maksudmu ...?"
"Ya, dia wanita jalaang yang menginginkan uang kakakku!"
Jullian terkekeh. Dipandangnya wajah William yang mengeras dengan tatapan tajam yang tidak lepas dari Natalie. "Benarkah? Sayang sekali, dia terlihat seperti wanita baik-baik."
"Dia wanitaku," sahut William dingin. Dia memandang tidak suka pria yang tersenyum cerah padanya. "Terserah bagaimana masa lalu dan cara orang memandangnya, dia wanitaku. Orang yang aku cintai."
"Kakak!"
"Kau juga memilih pria yang terlihat baik-baik saja. Siapa yang tahu dia memiliki masa lalu yang buruk? Jangan menghakimi wanitaku hanya karena dia terlihat tidak pantas."
Dalam diamnya, Jullian menyeringai kecil. Sudut matanya tidak lepas dari Lea yang memancarkan aura seperti biasa. Dingin dan tidak berekspresi. Namun Jullian bisa melihat ada kecemasan di sana. Bola mata Lea bergerak gelisah.
"Kakakkmu benar, Nath. Semua orang punya masa lalu masing-masing. Untuk apa memerhatikan itu jika cinta sudah berbicara?" Jullian menanggapi. Dia berusaha menenangkan perempuan yang sangat marah itu.
"Kau juga memihak padanya, Jullian!"
"Kami sama-sama pria dewasa. Dan aku paham perasaannya."
Wajah Natalie memerah padam. Dia langsung bangkit dari sana dan berpaling marah. Jullian segera mengikuti, langkahnya pelan, dan ekspresi ramahnya berubah dalam sekejab. Bola matanya memancarkan aura iblis, diiringi seringai yang menakutkan.
Sementara di tempatnya, William bergeming. Tangannya makin mencengkeram erat pergelangan tangan Lea, memandang wanita itu tajam.
"Kau sepertinya mengenal lelaki itu, Jalaang. Kau punya hubungan dengannya?"
Lea tidak menjawab. Dia terbungkam dengan jantung yang berdebar gila. Seluruh tubuhnya masih gemetar, takut dan juga cemas identitasnya terbongkar. Meski dia tahu Jullian tidak seceroboh itu.
"Jalaang!" William langsung mencengkeram lengan Lea, membuat Lea tergelonjak kaget.
"A-apa ...?"
"Sudah puas melihat lelaki itu?" William menggeram tertahan. Ujung hidungnya bersentuhan dengan hidung Lea. Memaksa Lea memandang wajahnya saja. "Kau mengenalnya?"
Lea sontak menggeleng cepat. Lalu berusaha menghindari bertatapan dengan William. "Ti-tidak ...."
Kemudian William memegang dagu Lea, mencengkeram kuat sehingga kukunya tertancap di kulit Lea. Marah dan juga tidak suka menyadari tatapan Jullian tadi membuat William tidak sadar, bahwa sepasang mata menatapnya dari kejauhan dengan ponsel yang merekam aksinya barusan.
"Kalian benar-benar serasi." Jullian menghampiri dengan senyum khas setelah menyembunyikan ponselnya. "Aku menunggu kabar baiknya."
William segera berpaling, memutar kepala dan memamerkan senyum yang tak kalah manis. Juga bersandiwara seolah tidak terjadi apa-apa. "Di mana Natalie? Aku minta maaf atas sikapnya yang kasar. Dia sangat dimanja olehku karena dia satu-satunya."
Jullian mengangguk kecil disertai kekehan. "Dia di balkon. Dia sepertinya sangat marah, aku akan membiarkan dia meredakan amarahnya dulu," ujar Jullian.
"Aku paham. Aku juga punya adik perempuan kecil yang menggemaskan sepertinya. Sangat polos dan tidak mengerti apapun." Sudut mata Jullian melirik pada Lea yang langsung diketahui William. "Natalie ada di balkon."
Selepas kepergian William untuk menemui adiknya, Jullian langsung berdiri tepat di depan Lea dan berucap, "Larilah selagi masih ada kesempatan! Aku tidak percaya kau sebodoh ini masuk ke dalam neraka yang kau ciptakan sendiri."
"Kau mengajariku bagaimana cara bertanggungjawab, aku tidak akan melepaskan tanggung jawab itu sebelum menyelesaikannya," sahut Lea dingin. Rasa takutnya kini berganti menjadi amarah setelah mengetahui Jullian merekam perbuatan William tadi. "Jangan ikut campur, Kak!"
Jullian mengedik acuh seraya mengerucutkan bibir. "Wanita itu juga menyakitimu 'kan? Bryan Knight sudah bangkrut!"
Lea langsung mengerti arah pembicaraan Jullian. Dia berbalik dengan wajah datar. "Apa kau akan menjadi orang brengsekk yang menghancurkan masa depannya?"
"Astaga, Lea, kau mengenalku. Mata dibalas mata, gigi dibalas gigi, bukan berarti caranya harus sama persis."
"Ingat! Kau punya adik perempuan!"
***
Pagi berganti siang, mentari kembali memanas seperti musim panas. Lea menyeka keringat yang membasahi keningnya, apartemen itu rasanya seperti neraka. Panas terik.
Larangan William agar tidak memakai pendingin ruangan membuat Lea menderita meski lelaki tidak ada. Lea berpikir mungkin ini cara William menyiksanya jika William tidak ada.
Sembari buru-buru menambahkan kecap pada makanan yang dimasaknya, Lea berlari kecil ketika bunyi bel terdengar. Jantungnya tidak henti berdebar, takut jika saja Jullian dan Natalie kembali lagi karena tadi kedua orang itu meninggalkan pesan akan datang lagi.
Namun, bukan Natalie atau pun Jullian, bukan pula William. Melainkan seorang wanita paruh baya yang nampak menakutkan. Lea mundur beberapa langkah setelah Meredith masuk.
Lagi-lagi Lea susah payah menelan ludah ketika Meredith berjalan dengan tatapan mengintimidasi. Wajah Meredith datar, tapi masih memberi kesan anggun dan elegan.
"Apa kau akan membakar rumah ini? Apa yang ada di kompor?" Meredith makin mempertajam mata hitamnya saat Lea mundur ketakutan.
"Maaf ...."
Lantas Lea mempercepat gerakannya dan menyelesaikan kegiatan memasaknya untuk membuatkan minuman untuk Meredith.
"Aku benci minuman jeruk!" Meredith menghempaskan tangan Lea yang menyodorkan gelas sehingga benda itu terjatuh.
"Katakan berapa hargamu agar kau pergi dari sisi anakku!"
"Excuse me?" Lea menyeringai tipis dengan kepala tertunduk. Dia menahan tawa ketika Meredith mengeluarkan selembar kertas juga pulpen di atas meja.
"Aku akan memberimu sebanyak yang kau mau untuk pergi dari sisi William! Tuliskan sebanyak yang kau mau!"
Tanpa ragu lagi, Lea menuliskan beberapa digit angka yang cukup memuaskan. Mungkin ini cara Tuhan untuk melepaskannya dari kejaran maut ini. "Terima kasih, Nyonya."
Tidak lama setelah itu, sepasang mata hitam berbinar cerah melihat Meredith tersenyum pada Lea.
"Kenapa datang tanpa pemberitahuan, Mom?"
.
***