
Happy reading!
***
.
Satu hari yang penuh darah dan air mata menyempurnakan penderitaan Lea. William tidak berperasaan, menyiksa tubuhnya yang lemah, memerintahkannya melakukan apapun.
Ingin memberontak, tapi Lea lebih dulu memasuki perangkap yang memasukkannya ke dalam neraka. Perangkap yang dibuatnya sendiri. Perangkap yang dia persiapkan dari jauh hari, yang ternyata lebih buruk dari dugaannya.
Mata hati William telah tertutup, tidak melihat air mata dan tubuh tak berdaya Lea. Iblis dalam dirinya memberontak, membelenggu hatinya, dan memerintahkan tangannya melakukan kekerasan pada Lea.
William sudah melihat sekujur tubuh Lea yang penuh bekas luka dan mengeluarkan darah, tapi itu tetap tidak menggerakkan hatinya dengan belas kasih. Hanya amarah yang berkobar di hati William, apalagi menyadari fakta tubuh Lea telah disentuh Bryan.
"Bersihkan seluruhnya!"
William kembali bertitah, menekan kepala Lea masuk ke dalam bathup, menyuruh wanita itu membersihkan diri. "Aku tidak ingin menyentuh jalaang yang tidak tahu diri."
Lea menahan isakan, namun air mata menguncur dengan sendirinya. Pahit. Itu yang dirasakan Lea. Sekujur tubuhnya telah memar, darah mulai menetes dari kening. Meski sudut bibirnya yang robek oleh tamparan Bryan tadi telah diobati, tetap saja kambali berdarah karena paksaan dan kekerasan yang dilakukan William.
Lea tidak berdaya. Dia mengikuti setiap instruksi William. Manik cokelatnya sayu, nyaris tak terbuka, karena bengkak oleh air mata.
Lea menggerakkan tangannya dengan susah payah, bahkan untuk menggapai punggung, tangannya terasa lebih pendek dari biasanya. Lea meringis pelan, menahan sakit juga perih di kulit, kepalanya juga seperti mau pecah.
"Apa tanganmu puntung, Bodoh?" William membentak, dan sedetik kemudian dia menggosok punggung Lea.
Tidak ada yang berubah. William menggerakkan tangannya kasar, menekan dan menggosok kasar punggung Lea.
"Jalaang tidak tahu diri," ucapnya datar.
Lea bergeming lalu mengusap air mata, membiarkan William menyentuh seluruh tubuhnya. Meski sakit yang dia rasakan, tekad di hati tidak akan runtuh. Tekad yang membuatnya tersenyum dingin dalam hati. Tekad yang mungkin mengubah cara pandang William terhadap dirinya.
"Apa kau sudah gila, Jalaang?!"
William memutar kasar leher Lea saat menyadari wanita itu tertawa kecil, dia berdecak tidak suka.
"Aku memang sudah gila, dan sayang sekali kau menyentuh wanita gila ini," ujarnya dingin lalu tertawa hambar. Dia menatap mata William yang menajam dan segera bangkit dari bathup yang seperti neraka baginya. "Aku sudah selesai."
"Jalaang!"
William tidak tahan untuk mengumpat melihat perubahan sikap Lea yang mendadak. Terkadang wanita itu seperti anak kelinci imut yang tidak berdaya, dan sebentar saja sudah berubah menjadi kucing yang siap mencakar. Sulit ditebak.
William menyusul dan mendapati Lea mematung di depan cermin. Mereka hanya terhalang kaca kecil yang menghubungkan kamar mandi dengan walk in closet, tapi William bisa melihat setiap inci tubuh Lea.
"Aku tidak menemukan pakaian wanita di sini." Lea berujar pelan diiringi desahan lalu memandang William.
Tidak ada sahutan dari William membuat Lea menjelajahi seluruh tempat. Lalu pandangannya tertuju pada kotak obat yang tadi dia lempar.
Masih dengan piyama handuk yang membungkus, Lea mengobati seluruh luka di kulitnya. Hal itu tidak lepas dari pandangan William. Lelaki itu bergeming, memandang Lea yang masih sangat baru baginya. Belum dikenal secara pribadi.
"Aku tidak boleh sakit satu hari pun karena tidak akan berguna jika kau membutuhkan. Kau membayar hargaku," ucap Lea sembari meringis pilu. Hatinya sakit saat mengatakan itu, tapi dia memilih memasang wajah datar, tanpa ekspresi yang membuat William membenci raut itu.
"Aku memang tidak butuh peliharaan yang sakit-sakitan dan tidak berguna." William mendekat dan mencengkeram dagu Lea. Suara gemeletuk gigi lelaki itu menembus pendengaran Lea, namun dia memilih diam.
***
Walau tanpa interaksi seperti orang satu atap pada umumnya, Lea menjalani tugas seperti wanita simpanan yang sebenarnya. Kalimat 'menjadi wanitaku' tentu saja berarti simpanan, yang tidak lain dianggap sebagai penghangat ranjang.
Seluruh tubuh yang remuk dan penuh luka tidak menghambat pergerakan Lea. Meski tidak cekatan seperti wanita hebat, Lea memasak, membersihkan apartemen William yang tampak kacau menurutnya.
"Aku melarangmu menyentuh barangku tanpa izin!"
Sudah tiga hari semenjak hari di mana dia dipaksa masuk ke apartemen itu, Lea tidak pernah lagi pulang ke tempatnya. Menyibukkan diri dengan tugas baru yang diberikan William membuatnya perlahan melupakan rumah ternyamannya.
Tidak lagi bekerja sebagai bartender merupakan larangan pertama dari William setelah Lea masuk ke apartemen lelaki itu. Walau terkesan dipaksa, namun Lea merelakan meja bar itu. Karena satu kartu tanpa batas yang diberikan William mampu membayar segalanya.
Suara bel apartemen menghentikan tangan Lea yang sedang mengepel lantai. Dia buru-buru membuka pintu saat menyadari William tidak berada di ruang tamu.
"Kau ...? Jalaang itu?"
Perempuan berambut sebahu itu terbelalak lalu masuk dan menyambar rambut Lea. Dia menarik paksa rambut Lea dan menyeretnya menempel di dinding. "Apa yang kau lakukan di sini, Jalaang? Pura-pura menjadi pembantu dan menggoda kakakku?!"
Lea menjerit tanpa suara, menahan perih di kulit kepalanya. Dia memegang tangan Natalie, mencoba menahan pergerakan yang mungkin akan mencabut rambutnya.
"Katakan! Kau menggoda kakakku?!"
"Nath!"
Seorang wanita paruh baya memandang tajam Natalie, mengisyaratkan agar dia melepaskan tangannya dari rambut Lea.
"Dia jalaang, Mom! Dia mendekati kakak pasti karena menginginkan uangnya!" Natalie mempererat pegangannya di rambut panjang Lea.
"Akkhhh!"
"Nath!" William menghampiri setelah mendengar suara adik dan ibunya.
Natalie segera melepaskan tangannya dan menghadap William. "Apa kau tidak jera, Kak? Wanita ini sama seperti Kelly, menginginkan kekayaanmu!"
"Aku tahu. Lalu apa? Setidaknya dia mengatakan ingin uang."
"Kak ...." Natalie mengerucut, dan sebentar saja tangannya langsung mendarat di kepala Lea, menjambak rambut Lea. "Jalaang tidak tahu diri!"
"Akkhhhhhh!!!"
Meredith, wanita paruh baya itu mendesah, memandang tanpa ekspresi pada Lea. Mata birunya tidak tertebak, dan dari sana Lea tampak waspada.
Tanpa peduli pada ekspresi kesakitan Lea, William merangkul Natalie dan menyuruh adiknya diam. Tidak melanjutkan pekerjaan yang baru saja diselesaikan, Lea memgambil minuman untuk dua tamu itu.
"Apa kau menaruh racun di minuman ini?"
Natalie memegang tangan Lea, lalu mendudukkannya di lantai dengan kasar. Postur Lea yang mungil dan kurus memudahkan Natalie melakukan apapun. Dia mencengkeram dagu Lea dan memaksa wanita itu membuka mulutnya.
"Aku harus memastikan tidak adanya racun di dalam minuman ini," ucapnya menyeringai.
Lea tersedak. Minuman rasa jeruk itu membuat tenggorokannya terbakar. Dia terbatuk-batuk dan mengeluarkan sebagian cairan berwarna orange itu.
"Jalaang!!!" Natalie histeris karena cairan dari mulut Lea mengenai gaunnya. Tanpa perasaan, dia menjambak rambut Lea lagi dan menekan kepalanya di sofa. "Aku akan membunuhmu, Jalaang! Aku akan membunuhmu!"
Air mata Lea berurai turun, dia meredam isakannya, menahan sakit dan juga malu. William dan ibunya bergeming, hanya menonton tanpa memiliki empati.
Tidak hanya dijambak dan dicekik, Natalie juga menendang Lea. Kesakitan terus mendera, menikam ulu hati Lea yang memendam luka terdalam.
Hingga sampai pada titik terlemahnya, Lea terjatuh. Dia tergeletak tanpa kekuatan. Dan sebuah suara menghentikan kaki Natalie yang menendangnya.
"Hari ini hentikan sampai di sini!"
.
***