After Yesterday

After Yesterday
After Yesterday 17



Happy reading!


***


.


"Berikan aku anak! Lahirkan anak untukku, Lea."


Tidak ada keraguan dalam kalimat William. Mata hitamnya tetap menajam, menyorot manik cokelat Lea yang tidak berkedip.


"Kau membutuhkan uang 'kan? Aku bisa memberikan sebanyak apapun yang kau mau, tapi kau harus memberiku seorang anak."


William menangkup pipi Lea, menjadikan lengan kirinya sebagai bantal agar dia bisa lebih mendekatkan Lea padanya. Lea terbungkam. Bibirnya seolah telah dijahit, tidak terbuka.


Membuat William terkekeh hambar. Dia menggigit bibir Lea hingga berdarah. "Kau terkejut? Aku sedang berlatih untuk melamar wanita yang aku cintai."


Lea tetap bergeming. Bahkan rautnya tidak berubah sedikit pun. Tangannya mencengkeram erat kaos William yang belum dilepas. Ada ketakutan tersendiri dalam hatinya mendengar perkataan William. Sama seperti bom yang meledakkan kepala.


"Lea, namanya juga Lea. Kau jangan berpikir aku menyukaimu. Kau jalaang, tidak pantas melahirkan anak untukku!"


"Aku tahu diri," ujar Lea. Meski tanpa senyum, namun intonasinya tidak kasar. Dia memandang William. "Kapan kau puas denganku? Aku harus mempersiapkan diri ditendang dari sini. Kau tidak akan membutuhkan wanita jalaang lagi nanti."


William yang tidak suka dengan kalimat itu langsung mencengkeram dagu Lea, menyulitkan Lea untuk melanjutkan kalimat.


"Aku membelimu dengan harga yang tidak terbatas. Kau pikir kapan aku akan puas? Tidak akan! Sampai kapan pun, aku tidak akan puas. Seperti kartu itu yang tidak ada batasnya."


"Kau berniat selingkuh?"


"Kau bukan simpanan, Jalaang! Anggap saja aku meniduri wanita di rumah bordil, kau bukan apa-apa."


Meski tahu hatinya telah jatuh pada pesona wanita itu, William tetap mempertahankan harga dirinya. Awal mula dia menyebut Lea sampah, dan akan terdengar menjijikkan jika dia bersikap baik lebih awal.


Lea terkekeh kecil. Dia hendak berbalik membelakangi William, tapi tangan kekar menghentikan tubuhnya.


"Kau lupa tugasmu, Jalaang? Puaskan aku!"


Lea mendadak kaku. Dia menatap gamang pada William yang mengerutkan alis.


"Buka bajumu, Jalaang!" William kembali bertitah dan Lea perlahan melepaskan kancing yang tersisa beberapa karena perbuatan William tadi. Dia melemparkan piyama itu ke lantai dan itu menerbitkan seringai lebar di bibir William.


"Kau makin menurut. Kau akhirnya sadar diri, Jalaang."


William langsung membenamkan wajahnya di dada Lea, menghirup aroma memabukkan dari wanita yang dia cintai.


Saat ini, jantung William seperti digoyang oleh kekuatan dahsyat, berdebar kencang dan tidak bisa dikendalikan. Jika dulu yang bangkit adalah nafsunya karena dia melihat Lea tanpa kain pelapis, maka sekarang berbeda. Kini jantungnya yang berdegup hebat, tidak kuat melihat keindahan ciptaan Tuhan.


William memberi gigitan kecil dan hisapan yang meninggalkan jejak kemerahan di dada Lea. Menciumnya lembut dan menyentuh mesra sehingga Lea ikut terbawa suasana.


Dia menarik rambut William, menekan kepala lelaki itu agar terbenam di dadanya. Dan sebuah desahan kecil lolos dari bibirnya.


"Jalaang ...." William terkekeh kecil.


Tidak ada permainan kasar seperti dulu. Tidak ada erangan sakit dari mulut Lea. Semua terganti dengan desahan nikmat dari bibir William. Dia berulang kali memaksa Lea bersuara, tapi mulut wanita itu terbungkam.


Hanya satu yang ada dalam pikiran Lea. Bagaimana caranya pergi dari situasi seperti ini. Karena pada akhirnya, semua menjadi rumit dari yang seharusnya.


***


Menjadi prioritasnya bangun pagi membuat Lea sudah berkutat di dapur sejak pukul empat. Membuatkan sarapan untuk William, menyiapkan pakaian kantor untuk lelaki itu lalu membersihkan rumah.


Setiap hari pekerjaaannya menjadi sedikit membosankan karena hanya berkeliling di tempat tertutup itu. Di sela-sela Lea mencuci gelas kotor di dapur, dia mendengar derap langkah kaki William yang mendekat.


"Kau melihat asbak milikku?"


"Di dekat pajangan bunga lotus."


Seketika mata Lea melebar menyadari dia menyebutkan tempat yang tidak seharusnya. Dia bergegas menghentikan William, tetapi lelaki itu lebih dulu menyentuh barang itu.


William lantas berbalik, membuat Lea menahan napas. Takut William mengamuk.


"Aku sudah menemukannya, kembalilah!"


Lea mengangguk pelan. Dia kembali menyelesaikan cuciannya di dapur.


Sementara itu, William memasuki ruangan khusus yang dia jadikan kantor mini. Manik hitamnya mengilat marah, dia mengepalkan tangan dan membuang semua benda yang ada di meja.


"Sialan! Aku membenci ini!"


William menatap benda hitam kecil yang menempel di pajangan bunga lotus tadi. Sebuah kamera pengintai. Kekecewaan tergambar di wajahnya, membuatnya merasakan sakit yang amat mendalam.


"Kau kenapa?" Lea menghampiri karena mendengar dentigan benda dari ruangan itu.


William segera menarik Lea masuk ke sana. Mencengkeram dagu Lea dan mencium bibirnya dengan brutal.


"Jalaang!" Dia menggeram, menekan tengkuk Lea agar wanita itu tidak memberontak.


"Jangan bergerak, Jalaang! Kau memasang kamera di sana agar kau bisa menonton tubuhmu yang telanjang disetubuhi? Baiklah, aku akan membuatkan film yang bagus untukmu."


William mengeluarkan kamera digital dari lacinya, menaruhnya di atas meja lalu merobek kaos Lea. William menelanjangi Lea dengan kasar.


Dia kembali lagi menjadi William yang tidak berperasaan. Mencekik, menampar dan bahkan memukul Lea yang mulai menangis ketakutan.


"Ampun ..., maafkan aku ...."


Berulang kali Lea memohon, tapi iblis yang merasuki jiwa William tidak mendengarkan. Dengan brutal, dia meniduri Lea. Tidak peduli dengan teriakan kesakitan wanita itu ataupun bibir dan leher Lea yang memerah bahkan berdarah olehnya.


"Aku benci wanita yang tidak tahu batas!" William menjambak rambut Lea. "Akkkhhhhh!"


"Diam, Jalaang!"


Sampai pada ambang kesadarannya, William mendadak berhenti. Memutar tubuh Lea untuk berhadapan dengannya. Dia juga menghapus air mata Lea yang membasahi pipi.


"Ketahui batasmu, Jalaang! Aku baik bukan berarti mudah dipermainkan."


William lantas keluar dari sana setelah memperbaiki penampilannya. Niat tadi hendak merokok mendadak hilang karena perihal kamera tersembunyi itu.


Dia masuk ke kamar dan mendapati semua keperluannya telah dipersiapkan oleh Lea. Sekali lagi, William tertegun. Dia menatap intens semua perlengkapannya, cocok dengan seleranya.


William kembali menebak. Siapa gerangan Lea yang dijadikannya budak ini. Jika dia orang biasa, menyiapkan sesuatu dengan telaten tidak mungkin bisa dilakukan. Apalagi semua hal yang berkaitan dengan kantor, Lea paling bisa melakukannya.


Namun, sebentar saja amarah melanda hatinya. William menyibakkan jas serta kemeja itu dari tempat tidur sehingga kain itu teronggok begitu saja di lantai.


"Kau bisa memukulku jika marah, jangan lampiaskan pada pakaian yang susah payah kau beli dengan harga mahal."


William tidak berbalik, tapi dia merasakan Lea berada tepat di belakangnya.


"Aku minta maaf. Aku menyimpannya di sana karena takut ada pencuri yang masuk tanpa sepengetahuanku."


William terkekeh sinis dan berbalik serta menatap tajam Lea. "Sungguh? Aku melihatmu seperti binatang yang siap menerkam."


Lalu tangan lelaki itu menggapai rahang Lea, menekannya kuat. "Kau pantas diperlakukan seperti itu maka uangku tidak akan habis dengan percuma."


.


***