After Yesterday

After Yesterday
After Yesterday 18



Happy reading!


***


.


"Di mana lagi kau tempatkan selain di sini?"


William mengambil juga benda kecil yang dia temukan di atas lemari bajunya. Awal menyadari adanya kamera di sana tidak menimbulkan reaksi apapun pada William, namun menemukan lebih dari satu membuatnya tidak suka.


Dia menarik Lea, mendudukkan paksa wanita itu di atas ranjang. William mencekik leher Lea. Matanya sudah berkabut oleh amarah, tidak melihat air mata Lea yang bersikeras turun.


"Di mana lagi kau tempatkan yang lainnya, Jalaang? Katakan!"


William menghempas tubuh Lea di sana, lalu dia mengobrak-abrik seluruh kamar, mencari dan mencoba temukan benda yang membuatnya marah. Kemarahannya bukan karena tujuan Lea yang ingin merekam kegiatan intim mereka, tapi takut jika Lea memakainya untuk sesuatu yang bisa merugikan dia.


William masih ingat bagaimana Lea mengancamnya sehingga Lea bisa masuk ke apartemen dan menyetujui untuk dijadikan wanitanya.


Tidak menemukan apapun di sana, William mengusap wajah kasar. Dia menghampiri Lea yang meringkuk di kasur, menangis sesegukan dengan air mata yang membanjiri pipi. Seperti riasan, air mata tidak pernah jauh dari Lea. Mungkin sekarang, William berharap besok tidak ada lagi.


"Keluar! Atau ku pukul kau!"


William menarik Lea, tanpa peri kemanusiaan dia mendorong tubuh Lea keluar sampai wanita itu tersungkur di lantai, lalu dengan cepat menutup pintu kamar. William nampak frustrasi, ingin melampiaskan amarahnya pada Lea lagi.


Namun, mengingat iblis dalam dirinya yang tidak akan bisa berhenti ketika bangun, William memungut kembali jas serta kemeja yang teronggok di lantai. Dia bersiap-siap ke kantor.


Di depan pintu, William menghentikan langkah melihat Lea yang sedang sibuk mempersiapkan makanan di atas meja. Dia terkekeh mengejek lalu berlalu begitu saja. Rasa marahnya terlalu besar hanya untuk disuap dengan kebaikan Lea.


"Ummm ..., apa kau tidak sarapan dulu?" Lea hendak mengejar, tapi gerakan tangan William langsung menghentikan.


"Tidak perlu berpura-pura lagi, Jalaang! Aku sudah memberikanmu uang, kau sudah bisa pergi sekarang! Aku tidak membutuhkan jalaang lagi sekarang!"


"Tidak, aku tidak akan pergi. Kau pernah mengatakannya, aku bisa pergi setelah kau puas."


"Aku sudah bosan, Jalaang!"


"Itu karena kau sedang marah!" Lea berbalik dan pergi, tanpa menatap mata kelam William yang ingin menghancurkan dirinya.


Kesempatan Lea berada di tempat ini dan menjalankan rencananya hanyalah sekarang. Jika tidak, maka akan terhenti oleh kejadian yang tidak terduga. Selama pendiriannya masih teguh dan perasaannya belum goyah, tekad Lea tetap sama. Memutar balikkan kenyataan.


Lea pergi ke balkon. Dari sana dia menghirup udara pagi yang cukup menyejukkan, menetralkan suaranya yang bergetar karena ketakutan.


Tampak juga mobil William keluar dari parkiran, berlari cepat hingga ke jalan besar. Lea menghembuskan napas, merasa tenang juga lega melihat kepergian William.


Jujur saja, bersama William membuat Lea tidak leluasa. Untuk bergerak, Lea selalu berhati-hati. Hanya untuk menarik perhatian William. Membuat lelaki itu lengah dan dia mengetahui kelemahan William.


Teringat akan permintaan tersirat William yang sungguh menakutkan baginya, Lea menelan ludah kasar. Melahirkan anak? Yang benar saja, William menginginkan anak dari wanita yang dia anggap sampah dan benda yang diperjualbelikan?


Lea terkekeh miris, membayangkan apa jadinya dia jika bersama dengan lelaki iblis itu.


"Semuanya tidak akan terjadi sebelum aku membalaskan dendamku padamu," gumam Lea sembari mengepalkan tangan.


Dalam hati, Lea terus menguatkan diri, merapalkan doa pada Pemilik semesta, agar dia senantiasa baik-baik saja menghadapi William.


***


Rotasi bumi mengantarkan siang yang cerah menemui senja yang indah. Manik cokelat itu menatap lekat pada tubuh sempoyongan yang baru saja menekan password dan menerobos masuk.


Dari mata hitamnya yang berubah merah, tampak William sangat mabuk. Sepertinya. Namun, seringai iblis di bibirnya langsung terukir saat melihat Lea.


"Jalaang ...."


William terkekeh lalu menghampiri Lea yang berdiri mematung, hanya tersenyum kecil. Tidak berniat mendekatinya.


"Aku menggantikan ponselmu yang rusak itu." William melemparkan paper bag yang di tangannya dan mengenai wajah Lea. "Aku pikir kau sudah pergi, Jalaang," gumam William lagi sembari melangkah pergi.


Melirik ke dalam paper bag yang dilemparkan William, Lea mengambil ponsel baru itu. Memasukkan nomor orang yang dia hafal dan mengirimkan pesan pada Kenzie.


Tidak lama setelah pesan itu masuk ke Kenzie, Lea langsung mendapat telepon dan teriakan Kenzie memekakkan telinganya.


"Aku pikir kau sudah mati, Bodoh! Ke mana saja kau selama ini dan tidak menghubungiku?!"


Lea bercicit pelan, takut William mendengar suaranya. Lantas Lea pergi ke balkon. "Iblis itu menghancurkan ponselku."


"Oh, apa kau ketahuan?"


"Hampir," bisik Lea. Kepalanya melirik kiri kanan. "Tidak lama lagi aku akan pergi dari sini. Tolong persiapkan semuanya untukku."


"Baiklah, hati-hati. Tapi, apa kau membutuhkan dokter?"


Lea menggeleng meski Kenzie tidak melihat. Dia terkekeh pelan sehingga menimbulkan teriakan protes Kenzie lagi-lagi menulikan telinganya.


"Kau depresi? Aku bertanya serius!"


"Sepertinya aku memang membutuhkan dokter untuk menulikan telinga. Aku mendengar kalimat aneh setiap waktu aku tidur." Lea menyeringai kecil. Tangannya mengepal erat dan hembusan napasnya terasa berat. Penuh dendam dan kebencian terdalam.


"Kalimat aneh? Seperti apa?"


"Aku akan menceritakannya nanti." Terdiam sebentar Lea lalu berdehem, memastikan tidak ada yang menguping pembicaraannya. "Pastikan keberadaan dokter Leeroy tidak diketahui iblis itu. Tolong hapus juga riwayat kedatanganku ke sana."


"K-kau? Apa yang terjadi? Kau tidak berniat untuk itu 'kan?"


"Aku tidak bodoh. Jangan khawatir, aku tidak akan membiarkan itu terjadi." Lea menghembuskan napas kasar lalu segera menutup panggilan itu.


Dia berbalik, dan seketika menegang. Sepasang mata hitam legam memandangnya datar, sunggingan miring membangunkan bulu kuduk Lea. Lea meremang, mencengkeram kuat ponsel di tangannya. William bersandar di daun pintu.


"Apa lagi yang kau rencakan, Jalaang?" William berujar sinis, tangannya langsung memegang kuat dagu Lea.


"Aku ... temanku mengkhawatirkan aku."


"Bukan mantanmu?"


William terkekeh. Wajah tampannya yang baru selesai mandi dengan tetes air yang jatuh dari rambut menambah ketampanannya, juga sebias cahaya jingga yang menembus jendela. Meski begitu, di mata Lea, William adalah iblis, bukan lelaki tampan.


"Bukan."


William menukikan alis tajam apalagi saat Lea melewatinya begitu saja. Tidak terima dengan itu, William menarik Lea sehingga wanita itu menubruk dadanya.


"Jalangg!"


"Apa?" Lea juga tidak kalah tajam. Wajah datarnya kembali aktif, tidak ada lagi senyum paksa seperti kemarin. Dia menarik wajah dari dada William, tapi tangan William menahannya.


"Kau tidak ingin mengatakan apapun?"


Lea sejenak terdiam. Masih dengan wajah datar dan tanpa ekspresi Lea berucap, "Maaf ... dan terima kasih."


Dua kata yang tidak pernah ada dalam kamus kehidupan Lea dulu, kini harus dia munculkan demi memuluskan niatnya menghancurkan lelaki iblis ini.


"Jalaang pintar," sinis William. Tangannya menahan tubuh Lea, memerangkap badan yang hanya setengah tingginya, membiarkan angin senja membelai keduanya.


Hanya keheningan. Namun, debaran berbeda dari dada keduanya terdengar. William meringis pelan, tangannya makin mengeratkan pelukan di pinggang Lea dan menyerukkan kepalanya di leher Lea. Menghirup aroma memabukkan di sana.


"Siapa kau sebenarnya, Jalaang?"


.


***