After Yesterday

After Yesterday
After Yesterday 25



Happy reading!


.


***


"Aku butuh bantuanmu!"


Lea menyuruh Hunter mengikutinya dengan isyarat tangan. "Aku tidak percaya padamu, tapi aku rasa kau akan membantuku tanpa aku pinta sekalipun."


Hunter tertawa kecil seraya merasakan nikmatnya kopi yang dia genggam. Ya Hunter, si penikmat kopi sore hari. "Kau unik. Meminta bantuan tapi tidak memercayai orang yang kau mintai. Dan itu bagian yang paling menarik darimu."


"Katakanlah!" lanjut Hunter karena penasaran.


"Biarkan aku kembali ke San Diego tanpa ada siapa pun yang mengetahuinya, termasuk Jullian. Ah, aku pikir kau sudah tahu siapa Jullian. Kau informan."


Lea sibuk membereskan pakaiannya yang tergeletak, memasukkan ke dalam koper dan mulai membersihkan kamar itu.


Meski sedikit terkejut, Hunter menahan senyuman. "Kau baik-baik saja?" tanyanya pelan.


"Aku tangguh."


"Benarkah? Aku merasa kau selalu pura-pura kuat, pura-pura tangguh dan pura-pura baik-baik saja. Meski kemungkinannya kecil untuk menjadi kekasihmu, biarkan aku menjadi penyedia bahu saat kau ingin menangis." Hunter mendekat untuk melihat ekspresi Lea. Datar memang, tapi matanya terlihat tidak biasa.


Hunter terkekeh tatkala Lea membisu dengan tangan mengepal yang hendak meninjunya. "Aku serius. Kalau kau canggung, anggap saja aku samsak tinju atau seekor anak anjing peliharaanmu, datanglah padaku kalau ingin menangis."


"Sialan, aku benar-benar akan menangis," lirih Lea dan memukul dada Hunter, dan tangannya ditahan oleh pria itu. "Aku tidak memelihara anjing, tapi aku suka kucing."


Lea memandang tangannya yang dipegang Hunter dan berusaha menariknya. Tetapi Hunter sengaja tidak melepasnya. Dalam situasi yang agak canggung itu, Lea langsung menendang tulang kering Hunter dan berujar dingin, "Aku tidak suka bela diri, tapi aku akan mencobanya demi bajiingan sepertimu agar tidak menggangguku lagi!"


"Hahaha .... Baiklah, aku paham. Ada satu pertanyaan yang selalu ingin aku tanyakan padamu. Apa bunga yang kau sukai?"


"Huh?!" Lea seketika membisu. Dan sebentar saja, tangannya yang baru saja dilepaskan oleh Hunter langsung menepuk pundak pria itu.


"Itu juga yang ingin aku beritahu padamu. Aku benci mawar merah tanda cinta darimu. Dan aku paling suka bunga dandelion. Ingat itu!"


Hunter tersenyum lalu mengambil sebuah pulpen yang khusus diletakkannya di dalam laci di kamar itu. Lalu menuliskan kata 'Dandelion' pada secarik kertas dan menempelkannya di dinding.


Lea tersenyum sinis melihatnya. Dia mendekati Hunter dan tertawa mengejek. "Sebegitu suka padaku? Sampai seisi kamar ini penuh dengan apapun yang aku suka?"


"Begitulah. Aku tidak mengijinkan siapa pun masuk ke kamar ini sebelumnya dan berharap tidak ada siapa pun yang melihat isi di dalamnya."


"Aku pemilik sebenarnya?"


"Benar."


"Dua tahun ke depan, aku harap ini masih milikku," ketus Lea sembari membalikkan badan saat dia melihat gelagat canggung dari Hunter.


"As you wish, Lady Lea."


"From now, call me Mara!"


***


"Paman, kau yakin melepasnya begitu saja? Bukankah kau sangat suka padanya?" Justin, sang keponakan berbisik nakal di telinga Hunter saat melihat Lea yang bergegas menarik koper dari kamar.


"Bukan suka, tapi cinta," sanggah Hunter. Dia mendorong wajah Justin yang menyengir.


"Beda ya?" Justin membeo.


"Tentu saja. Kau masih kecil dan tidak pantas mengetahui hal yang belum kau pelajari."


"Aku punya pacar, Paman!" Justin mengerucut. "Dan aku sangat menyukainya."


Hunter tertawa dan menepuk keras pundak Justin yang membuat sang keponakan berteriak kesakitan. "Hanya dengan perasaan suka yang kau miliki tidak akan membuat seekor burung tenang berada di kadangmu. Kau harus mencintai dan menjaganya."


"Dan menjadi bodoh seperti Paman?"


Hunter ingin menjewer telinga sang keponakan andai saja Lea tidak segera berada di sampingnya.


"Alangkah baiknya kalau musim seperti ini ada 'Bunga Matahari' di tamanmu, Hunter," ujar Lea penuh makna.


Memalingkan wajahnya yang mungkin saja akan berubah melihat ekspresi tidak percaya dari Hunter, Lea berjalan lebih cepat dan masuk ke dalam mobil.


Dalam beberapa hari, banyak hal yang dia pelajari di tempat Hunter. Dalam kesehariannya yang jarang mengucapkan kata-kata merendah, dia selalu berusaha mengungkapkan apa yang dia pikirkan meski dalam suatu perumpamaan.


"Apa dia gila? Mana mungkin bunga matahari mekar pada musim dingin?" Justin memberenggut sedangkan Hunter masuk ke dalam mobil dengan wajah berseri. Mengendarai kendaraan beroda empat itu menuju sebuah landasan pesawat yang khusus diperuntukkan bagi Lea. Tempat khusus yang juga dipakai Hunter untuk bisnis ke luar negeri.


"Apa kau bersedia memberikanku alamat rumahmu di San Diego?"


Lea menghentikan langkah dan melambaikan tangan tanpa menoleh. "Kau seorang informan, kalau kau lupa!"


"Aku akan sering mengunjungimu, Mara! Sampai jumpa!"


Meski tidak ada cahaya matahari atau cahaya bulan, Lea memakai kacatama hitamnya dan mengulas senyum di bibir. "Terima kasih, Hunter," bisiknya pelan.


Dan dalam hati, Lea berharap, Hunter akan membantunya untuk sebuah misi yang dia rencanakan.


Sementara itu, Hunter juga berbalik. Mengeluarkan ponsel dan menghubungi Herold. "Aku tahu tempat yang menyenangkan untuk minum. Ayo habiskan malam yang panjang di kasino Lotus Inn."


.


***