
Happy reading!
***
.
"Kasus pencurian berlian langka yang berhasil menarik minat masyarakat Nevada belakangan ini telah berhasil diungkap. Pelaku mengakui, dia nekad melakukan aksi tersebut karena terjerat hutang oleh seorang bandar narkotika berupa heroin. Singkatnya, meski menjadi pecandu, pelaku sangat lihai dalam menutupi jejaknya sehingga para polisi kebingungan."
Sebuah berita di televisi mengganggu tidur seorang pria bermanik hitam pekat itu. Dia berusaha menutupi telinganya dengan selimut, tetapi volume televisi yang berada di angka penuh membuatnya menggeram.
"Bajiingan itu tidak mematikan tv sebelum pergi rupanya," umpat William sembari meraba nakas guna mencari remote control. Tubuhnya tidak bergerak sedikit pun.
" ...Seorang jaksa misterius mengungkap kejahatan pencuri tersebut. Banyak yang menebak identitas jaksa yang menutupi diri dari publik ini. Ada yang mengatakan beliau seorang lelaki muda, adapula yang mengatakan dia seorang lelaki tua yang matang, dilihat dari caranya mengungkap kasus. Akan tetapi, semua tebakan itu masih menjadi tanda besar. Siapakah jaksa itu? Benarkah dia seorang pemuda atau lelaki tua? Atau mungkin seorang anak kecil seperti Edogawa Conan dalam animasi Jepang yang terkenal itu?"
William mendengus mendegar kalimat terakhir reporter wanita berambut sebahu itu. "Apa kau tidak terlalu banyak bercanda?" Lalu dia mematikan televisi yang cukup mengganggu pendengarannya.
Pandangan William terpaku pada seseorang di lantai tatkala dia melayangkan pandang ke sekitar. Dia bangun dan menendang kaki pria yang tidur tanpa alas. "Bangun kau, Falcon!"
"Uhmmmm ...." Hanya erangan penuh kemalasan yang menjadi jawaban.
Sekali lagi, William menendang Leon, bukan di kaki melainkan kepala. "Sudah siang. Kau tidak kerja?"
"Uhhhh ...." Masih dengan nada yang sama, tapi kali ini diikuti mata yang terbuka seraya duduk bersila. "Jam berapa?"
"Jam satu siang!" ujar William yang berjalan masuk ke dapur.
Mata Leon terbelalak setelah sempat diam beberapa detik. "Apa kau tidak terlalu jahat? Sudah jam segini berarti waktunya tidur sampai malam." Yang diiringi dengan kepala yang langsung terjatuh di atas kasur William.
"Bodoh," ketus William. Dia memberikan segelas air dan memaksa Leon membuka mata. "Sekarang jam tujuh pagi."
Leon meneguk segelas air putih itu dan tanpa berkata apa-apa, dia meninggalkan apartemen William yang berantakan oleh berbagai botol alkohol.
Keheningan merenggut kediaman lelaki bermanik hitam itu. Hanya gesekan plastik sisa makanan yang saling beradu. Setelahnya, diam yang sebenarnya dimulai.
Tatapan matanya kosong. Sesekali terpejam diiringi helaan kasar dari mulutnya. William merasa kehidupannya belakangan tidak berwarna. Abu-abu.
Menyandarkan kepalanya lagi di kasur, rasa kantuk kembali menyerang William. Sadar bahwa dirinya akan tertidur lagi, William bangun sambil menenteng kantongan yang berisi sampah.
Di depan pintu, dia tergelonjak melihat Leon yang masih berdiri dengan separuh nyawa yang belum terkumpul. "Apa-apaan kau? Belum pulang?" kesal William. Dia hendak menarik Leon, tetapi tangannya buru-buru ditepis.
"Jangan bersedih terus. Hidup hanya sekali, berbahagialah!"
William terkekeh pelan. "Hidup itu berkali-kali setiap kau membuka mata. Yang sekali itu, mati!" Diikuti oleh Leon dari belakang, keduanya menuruni lift dalam keheningan.
Dalam hati, William tertohok oleh perkataan Leon. Adakalanya Leon bisa menasehatinya dan kadang pula pria bermata biru itu hanya tahu bermain. Untuk apa juga menjalani hidup yang tidak bahagia? William berulang kali merapal kalimat itu.
Lagi-lagi, William menghembuskan napas. Setelah memasukkan sampah ke dalam tempat yang seharusnya, dia kembali ke unit apartemennya. Baru saja dia masuk ke kamar, benda pipih di atas kasur memanggilnya. Nama Bryan tertera di sana.
"Hm?" William mengerutkan kening tatkala hanya deru napas Bryan yang terdengar. "Ada apa, Bryan?" ulangnya dengan tiga kalimat yang panjang.
Kali ini Bryan bersuara dengan suara putus-putus. "Ak-aku ... aku melihat se-se ... seseorang yang mirip wanita itu ...."
Tidak perlu dua kali disebut, William sudah tahu arah pembicaraan Bryan. Wanita itu? Ya, dia yang selama ini mengacaukan hidup William. Dia yang selalu menghantui William dengan segala hal yang ada di tiap sudut apartemen ini. Dia pula alasan terbesar William tidak menjual apartemen ini, karena setiap kenangan yang mereka buat, William tidak ingin melupakannya sedikit pun. Bahkan setelah dua tahun, William tidak memiliki niat untuk merubah dekorasi apartemennya sekali pun Meredith dan Natalie berulang kali mencoba untuk mengubah hidupnya yang monoton.
"Di mana?" tanya William serak. Seluruh tubuhnya kini bergetar. Sampai-sampai kakinya tidak bisa menahan berat tubuhnya. William terduduk lemas di lantai.
Kali ini, tidak ada amarah seperti dulu. Hanya ada rindu yang memenuhi dada, sesak rasanya karena terlalu banyak. William merasa pipinya kini basah oleh cairan bening yang turun tanpa permisi. Dia menangis tanpa suara.
"Dia di sini. Di Las Vegas."
Sekejab, ponsel di tangannya telah berpindah tangan ke lantai. Kepalanya berputar dan pandangan matanya tidak fokus. "Kau tidak sedang mempermainkanku 'kan?" tanya William lagi. Ragu.
"Aku tidak bercanda di situasi seperti ini, Dude. Aku melihatnya dengan mataku sendiri, dan aku yakin, itu dia." Bryan menjelaskannya dan terdengar meyakinkan. Membuat William kembali memungut ponselnya dari lantai.
"Kau di mana sekarang?"
"Di depan Lotus Inn."
Tanpa menunggu lama, William segera mengganti kain yang menempel di tubuhnya dengan setelan kemeja. Dia tidak mandi, hanya mencuci muka saja. Karena meskipun sekarang musim panas, udara di apartemennya selalu sejuk.
William turun dengan tergesa-gesa. Lift yang mengantarkannya ke bawah dirasanya melambat. Dia tidak sabar untuk segera sampai ke tempat di mana Bryan melihat seseorang itu.
Begitu sampai di lobi, William segera memasuki mobil lama kepunyaannya. Karena selama dua tahun ini, William berhenti mengoleksi mobil apapun. Beberapa detik kemudian, mobil berwarna merah itu hilang ditelan tikungan.
Tepat di pintu masuk sebuah kafe, pandangannya tidak teralihkan dari seorang wanita bertubuh mungil yang keluar dengan merangkul lengan seorang pria. Senyum terpatri indah di wajah wanita itu. Apalagi dipadukan dengan lesung di kedua pipinya.
Sesaat William lupa diri. Dia tersenyum. Seakan wanita itu ada di depan mukanya. Namun, kenyataan menampar telak kedua wajahnya. William terjatuh sekali lagi. Wanita itu, wanita yang dicarinya selama ini sedang bermesraan dengan seorang pria. Seseorang yang cukup mengganggu pemandangan.
Lea dan Hunter.
.
***
...Aku terharu karena masih ada yg menunggu dg sabar cerita ini. Makasih ya! Untuk kalian, aku akan berusaha meng-update meski tidak janji untuk teratur. ...
......Jangan lupa tekan jempol ya beb👍❤💚🐰......