After Yesterday

After Yesterday
After Yesterday 5



Happy reading!


.


***


Aku mencintainya, tapi terlalu takut pada masa lalunya yang kelam.


William La Vaughn, After Yesterday.


---


Bibir wanita berlesung pipit itu mengembung marah dengan tangan yang mengepal, matanya menatap tajam pada pria yang bersikeras mengantarnya ke tempat kerja.


Tanpa bicara lagi, Lea memasuki ruangan yang tertutup, membiarkan Hunter menatapnya dalam diam.


Bibir pria itu tersenyum, melirik tangannya yang tadi nekad memegang tangan Lea. Sungguh sebuah keajaiban karena Lea tidak menolak.


"Aku berharap kau bisa membuka hatimu untuk cinta lagi, Lea," gumam Hunter kemudian berlalu dari sana.


Sementara di dalam, Lea menggaruk telapak tangannya yang digenggam Hunter tadi, bukan karena jijik pada pria itu, melainkan jijik pada diri sendiri.


Hunter pria yang baik dan Lea merasa dirinya tidak pantas untuk mendapatkan cinta dari pria sebaik Hunter.


Semakin digaruk, telapak tangannya memerah dan hampir berdarah. "Bukan apa-apa," gumam Lea. "Luka kecil ini lebih baik dari hatiku."


Hunter seharian terjaga untuknya, seperti seorang kakak yang menjaga adiknya disaat demam. Pria itu tidak peduli dengan setiap bentakan dan amarah Lea, dengan sabar merawat luka Lea.


Sampai pada akhirnya, Lea membiarkan ketika Hunter menawarkan diri untuk mengantarnya ke sini. Karena pria itu pasti akan tetap saja melakukan apapun yang tidak disukai Lea.


Sambil berganti pakaian dengan seragam dan apron khas bartender, Lea menelusuri setiap inci tubuhnya. Bekas luka semalam masih terlihat, bahkan dengan foundation tidak bisa tertutupi.


Tertawa miris dalam hati, Lea mempersiapkan diri dan hendak keluar dari ruang ganti. Tapi tangannya dicekal seseorang.


"Ada yang melaporkan kalau kau sakit, Lea. Kenapa kau masih datang?"


Tanpa menatap mata perempuan yang sedang berbicara padanya, Lea melepaskan cekalan di tangannya dengan paksa dan sedikit kasar.


"Tidak ada urusannya denganmu. Kenapa kau selalu jadi pengganggu di mataku?"


Perempuan cantik di hadapannya hanya tersenyum manis, bahkan tidak merasa marah dengan emosi Lea yang meledak-ledak.


"Aku mengkhawatirkanmu, Lea. Kalau terjadi apa-apa, beritahu aku."


"Apa kau bos? Kenapa harus memberitahumu segala sesuatu?" Lea bertanya ketus.


Perempuan itu berdecak. "Kau tidak peka sama sekali. Aku takut kau pingsan dan sakitmu bertambah, kau mengenal manajer Ruby, Lea."


Lea berbalik dengan wajah datar yang biasa. "Itu lebih bagus kalau aku dipecat. Berada di tempat seperti ini membuatku ingin mati saja."


Perempuan itu mengernyit, dia menghadang langkah Lea. "Eh, apa maksudmu, Lea?"


"Jangan menghalangi jalanku, Rose Turner!" teriak Lea, membuat perempuan bernama Rose itu berjengit kaget.


"Astaga, kau selalu galak padaku, Lea," ucap Rose dan membiarkan Lea pergi.


Dengan langkah tegap dan masih terkesan anggun, Lea memasuki wilayah yang sudah sangat ramai, padahal waktu belum menunjukkan banyak angka di jam dinding.


Bagian kasino megah yang terbuka tiap waktu itu memang selalu ramai, Lea berganti shift dengan pekerja lain. Area bar yang penuh dengan aroma alkohol, Lea merasainya setiap malam.


Bergerak lincah dengan berbagai botol minuman membuat luka di tubuh Lea kembali berdenyut sakit. Ringisan kecil keluar dari bibirnya jika dia tidak bisa menahan kesakitan itu.


Tentang orang yang mengabari dirinya sakit sudah pasti ulah Kenzie, gadis cantik yang selalu ada untuknya di kota ini.


"Wine seperti biasa, Sayang!"


Seorang pria yang selalu datang tepat waktu, membuat Lea mengangkat kepalanya dari botol-botol yang bertengger indah di lemari penyimpanan, tepat di belakang tubuhnya.


"Seperti biasa?" tanya Lea memastikan.


Pasalnya, pria itu selalu membiarkan bekas minuman tanpa menghabisinya.


"Kau mengenalku, Sayang. Aku punya banyak uang."


Lea mengangguk tanpa ekspresi. Dengan lihai, dia menuangkan minuman berkadar alkohol tinggi itu ke dalam gelas cantik nan elegan.


Keahlian Lea dalam menuang minuman menjadi satu-satunya kategori yang membuatnya bisa bekerja di luar tanpa bantuan identitas. Lea tidak pernah bekerja sebelumnya, bahkan untuk menyendokkan nasi ke piring saja, harus para pelayan yang melakukan.


Dan untuk menuangkan minuman seperti ini, Lea memperlajarinya saat sekolah.


"Ini minuman Anda, Tuan."


Sedikit mengangkat sudut bibirnya, Lea memberikan minuman wine untuk pria itu.


"Terima kasih."


"Sudah sepatutnya saya lakukan, Tuan." Lea sedikit menunduk dengan gerakan kaku membuat pria di seberang meja tersenyum tipis.


Lea menaruh botol wine ke dalam baki, kemudian menyuruh seseorang mengantarkan benda tersebut ke ruangan khusus.


Hanya sedikit orang yang memandangnya dengan tatapan biasa, Lea menghembuskan napas setelah pria itu berlalu.


***


Puluhan orang mengeliligi meja bundar di hadapannya. Mata William menatap tajam dengan tangan yang memegang dua lembar kartu.


Pikirannya tidak fokus pada taruhan yang seperti mainan anak kecil untuknya. Dengan sesekali menghembuskan napas gusar, akhirnya William berdiri dan meninggalkan meja poker begitu saja.


Hal tersebut menimbulkan tanya di kepala Leon. "Ke mana kau pergi, Will? Kita belum selesai bermain."


"Bukan urusanmu," jawab William ketus.


Dengan langkah lebarnya, William menaiki lift khusus owner. Belum sempat William menutup pintu tersebut, manik hitamnya tidak sengaja melihat seseorang yang tadi bersama Lea.


Bibirnya menyeringai tipis, mengejek diri sendiri yang sekarang memerhatikan setiap detail tentang Lea. Sebelum malam itu, William memang selalu memandang kecantikan Lea dari kejauhan.


Mengontrol diri agar tidak terjerumus dalam hal yang tidak diinginkan, tapi pada akhirnya, William hilang kendali saat Lea sedang sendirian.


"Jalaang kecil," gumamnya dan menutup pintu lift.


William menghembuskan napas kasar saat lift sudah naik, dan segera memasuki ruangan pribadinya setelah sampai di lantai teratas.


Mengingat tidak ada pendamping di ruangan itu, William menekan intercom ke ruangan seseorang. "Antarkan wiski untukku. Sekarang!"


Desahan lega lolos dari bibir William ketika bokongnya mengenai sofa yang lembut. William terpejam sesaat, memorinya kembali memutar kejadian semalam. Saat dirinya dengan nekad membawa Lea, menyetubuhi wanita itu dan menyiksanya dengan kasar.


Mata hitamnya terbuka dengan cepat. Tidak ada gurat penyesalan atau apapun di sana, emosi di kepala mengalirkan amarah, membuat tangan William kembali mengepal.


Dia meremas kuat sofa yang menjadi tempatnya bertumpu, dan mengangkat pandangannya saat ada suara pintu diketuk.


Dengan mata tajam yang biasa, William menatap pintu yang perlahan dibuka. Entah kenapa, ada yang berbeda dari cara orang itu membuka pintu. Tidak seperti cara Ruby melakukannya.


Dan tatapan tajamnya berubah menegang dengan seringai sinis saat melihat wajah yang sedari tadi merasuki pikirannya. Wanita itu juga tampak terkejut dengan keberadaan William, buktinya dia berhenti dan mematung di belakang pintu yang sudah tertutup dengan cepat.


William bangkit, mendekati Lea yang tampak ketakutan. Wiski yang ada di tangan Lea bergoyang, pertanda wanita itu gemetaran.


"Apa kau ingin mengulangi hal yang semalam, Wanita? Kau datang memberikan tubuhmu padaku?"


William memberikan Lea akses untuk berjalan, tapi Lea tidak bergerak. Hal itu membuat William segera mengangkat wajah Lea untuk menatapnya.


"Kau sedang berpura-pura jual mahal, Jalaang? Ayolah, kau pandai melakukannya pada orang lain, tapi aku tidak akan terpengaruh pada wajahmu yang munafik."


Tanpa diduga, baki dari tangan Lea terjatuh dan menimpa kaki William. Mata hitamnya menajam dengan kilat amarah, William mencengkram kuat dagu Lea.


"Apa yang kau lakukan, Jalaang? Kau gila? Apa begini caramu bekerja?!"


Lea bergeming, wajahnya yang tanpa ekspresi membuat William berdecih tidak suka. "Jalaang rendahan, sampah tidak berguna," ucapnya dan melepaskan cengkraman dari dagu Lea.


William mundur selangkah dan dia terkejut ketika Lea membungkuk dan memungut pecahan beling dari lantai.


"Apa kau ingin membuat masalah lagi, Jalaang?! Berdiri!"


Lea tidak mendengarkan, tangan kurus dan penuh luka itu terus memungut pecahan beling hingga tanpa sengaja benda tajam itu membuatnya kembali berdarah.


William yang melihat dengan penuh amarah segera menarik Lea dengan kasar. "Apa kau benar-benar gila, Jalaang? Kau masokis?!"


Ambang kesabarannya kini melebihi batas, dengan kasar William menghempaskan Lea di sofa. "Jalaang gila," ucapnya sinis.


Terburu-buru saat mencari sesuatu, William menabrak meja dan membuatnya kembali mengumpat. Setelah mendapatkan apa yang dicari, William mendapati Lea sedang menunduk dengan tangan yang masih gemetar.


"Kau takut? Bukankah kau sudah terbiasa melukai diri sendiri agar diperhatikan dan memikat pria?"


William hendak membersihkan darah yang terus menguncur dari jari Lea, tapi wanita itu menahan tangannya.


"Aku bisa melakukannya sendiri," ucap Lea tanpa ekspresi.


William terkekeh mengejek. "Kau pikir aku akan melakukannya, Jalaang? Aku ingin kau lenyap dari hadapanku, bahkan aku ingin kau mati sekarang juga."


Tanpa perasaan, William menekan jari Lea yang terluka hingga bibir merah tipis itu meringis sakit.


"Aku mau kau merasakan sakit sampai ingin mati, tapi aku tidak akan membiarkanmu mati dengan mudah, Jalaang. Aku akan membunuhmu perlahan di tanganku."


.


---




.


***