After Yesterday

After Yesterday
After Yesterday 28



Happy reading!


***


.


Ufuk Barat mulai menggelap disertai butiran putih yang dingin menyapa bumi. Sepasang mata gelap yang masih berkutat dengan pikiran kosong memandang tanpa arti ke arah depan. Entah sudah berapa lama, tidak ada yang tahu pasti keberadaan William di sana.


Lelaki tampan yang berusia cukup matang itu masih setia memegangi setir mobilnya, berdiam diri tanpa malas menegakkan kepala.


Udara makin mendingin, kendaraan berlalu-lalang menandakan malam semakin larut. William juga sudah merasakan keram dan pegal di punggungnya akibat usia yang tidak lagi muda. Dia melenguh pelan. "Aku benci malam ini."


William melajukan mobil yang memang sejak tadi lupa tidak dimatikan, menuju tempat yang ternyaman baginya. Tempat yang dulu masih menjadi ruangan kesah-kesah, yang tiba-tiba menjadi tempat pertama kali dia menyentuh seorang wanita. Dan sayangnya, wanita yang sudah mencuri perhatiannya sejak awal tidak seperti yang dibayangkan.


Langkah William gontai. Penampilannya yang acak-acakan menjadi pusat perhatian setiap wanita yang tidak sengaja berpapasan.


Dari sudut tergelap kasino itu, sepasang mata yang bening bercahaya menangkap dan mengunci objek bidikannya. Wajah tersenyumnya sangat manis. Dia menyesap segelas Mermaid's song.


Ekor mata Hunter tersenyum seraya melirik beberapa orang berseragam polisi memasuki kasino mewah itu. Dia melambai pada Herold yang tampak mengawasi dari luar kemudian lelaki beristri itu menghampiri.


"Aku bisa tidur tenang malam ini," ujar Herold sambil menghembuskan asap bernikotin dari mulutnya. "Wanita itu sudah sampai?"


"Aku baru saja memberi informasi padanya." Hunter lalu menoleh dan tersenyum penuh arti pada Herold. "Masih ada satu orang yang aku butuh bantuanmu, Kakak."


Herold bergidik geli. Pasalnya tatapan memohon Hunter seakan mencubit ginjalnya. Geli dan memuakkan. "Apa lagi? Semua sudah beres 'kan?" kilahnya sambil melajukan mobil. "Informasi orang yang ingin diketahui oleh pengedar Meksiko itu sudah diberikan, kisah pemerkosaan anak di bawah usia, pembunuhan dan yang lainnya sudah semua. Apa lagi yang kurang?"


Hunter menopang kepalanya di kaca mobil yang dingin. Dia bersedekap dan tertawa kecil. "Harry Ontario."


"Kau yang ingin menyelesaikannya sendiri. Kau mengatakannya hari itu."


"Maksudku, tolong ubah informasi perjalanan Lea ke arah yang jauh. Rekayasa beberapa rute maskapai ke Asia. Ke Jepang atau Hong Kong. Atau ke tempat yang lebih jauh lagi," jelas Hunter panjang lebar. "Tujuan pria itu tentu tidak baik. Bahkan dia secara terang-terangan mengatakan padaku dengan tatapan mata yang penuh iblis."


"Aku paham." Herold menyahut. "Kenapa tidak rekayasa ke kutub Utara atau kutub Selatan saja biar sekaligus orang itu mati tertutup salju? Melihat matamu sekarang, aku sudah tahu maksudmu."


"Aku memang tidak suka, tetapi membunuh orang dengan sengaja itu tidak baik."


"Kau merekayasa sama saja dengan menipu dan membunuh."


Hunter mendengus seraya melambai. "Kau cerewet. Apa polisi tadi bisa dipercaya?"


"Sepertinya mereka di bawah pengawasan orang lain juga. Mendengar nama klien kita, mereka tidak sungkan-sungkan menyumpahserapahi pria itu."


Hunter bergumam kecil. "Apa itu Jullian?"


***


Pagi dengan cepat kembali menyapa. Langit cerah membukakan mata seorang pria yang tak hentinya tertawa semalam. Mengulang memori semalam, Jullian kembali terkekeh kecil. Dia meregangkan ototnnya lalu masuk ke kamar mandi.


Tak selang beberapa lama, pria tampan dengan wajah memesona itu telah siap dengan setelan jas berwarna navy, dipadukan dengan dasi yang memberi kesan pria modern yang seksi dan ceria. Tak lupa sebuah syal melingkari lehernya yang berisi. Wajah Jullian tak henti tersenyum. Dia juga tampak sesekali bersenandung.


"Ada hal baik yang terjadi?" Sapaan hangat nan halus dari seorang perempuan menyapa telinga Jullian sehingga lehernya refleks menoleh.


Sedetik saja, timbul kekesalan di wajah Jullian yang langsung ditutupinya dengan baik. "Hanya berhasil melakukan sesuatu yang menarik," ujarnya. "Ada apa kau kemari sepagi ini?"


"Ini sudah tidak pagi, J. Lihatlah, orang-orang sedang beraktifitas." Perempuan bertubuh semampai itu langsung melingkari tangannya di lengan Jullian dan menunjuk dengan dagunya pda orang yang berlalu-lalang. "Aku hanya ingin mengajakmu sarapan. Kita belum pernah sarapan bersama sejak kita berkencan."


Jullian mendengus kecil. Sangat kecil sampai Natalie tak menyadari. "Kenapa tidak menelepon lebih dulu? Bagaimana kalau tadi aku tidak ada di sini?"


Natalie mengerucut. "Buktinya sekarang kau ada di sini. Ayolah!" Dia langsung menarik Jullian tanpa persetujuan pria tampan itu.


"Sial, kakak-beradik di keluarga ini sama saja," sungut Jullian dalam hati dan mengikuti Natalie, demi memperlancar hubungan yang sengaja dibuatnya.


"Aku sibuk hari ini, Natalie."


"Ini juga tidak akan lama."


Ini juga tidak akan lama. Kalimat yang mampu membuat kepala Jullian mendidih. Pasalnya sejak pagi, Natalie mengoceh panjang lebar menceritakan kisah kakak laki-lakinya yang tidak lain sasaran dari tujuan Jullian menjalin hubungan ini.


Dalam hati, pria berparas rupawan itu tertawa mengejek. "Sungguh bodoh. Apa kau tidak tahu apa yang terjadi pada kakak kesayanganmu itu sekarang?"


Jullian kemudian mengirim pesan pada Theodore untuk mengundur waktu keberangkatannya hari ini. Karena keberangkatannya baru saja dibatalkan oleh mulut Natalie yang terus berbicara tentang kelebihan sang kakak.


"Sayang sekali, wanita kakakku bukan wanita baik-baik. Dia jalaang. Dan sepertinya Will sudah jatuh hati padanya."


Jullian mulai tertarik pada pembahasan ini. "Kau tahu dari mana kalau dia bukan wanita baik-baik?" Tanya Jullian memancing.


"Dia bekerja di kasino kakakku. Pastinya dia akan di-booking oleh pria kaya di sana. Karena biasanya bartender bisa melakukan hal itu juga."


"Pastinya? Biasanya?" Jullian menyeringai kecil. "Kau harus berhati-hati dengan kalimatmu, Natalie. Asumsi bisa membunuh orang. Dan apa menurutmu bar kakakmu menampung gigolo dan pelac*r? Apakah maksudmu, kakakmu juga seorang gigolo?"


Kalimat William membuat wajah Natalie memerah kesal. Dia mencengkeram erat kedua tangannya di bawah meja. Menahan amarah, karena dia tidak bisa marah pada pria yang dicintainya. Suasana tiba-tiba menjadi canggung oleh senyum Jullian yang seperti pedang bermata dua.


"Bu ... bukan ... maksudku bukan seperti itu ...," ujarnya ragu-ragu.


Suasana yang canggung itu akhirnya terhenti oleh bunyi ponsel Natalie yang nyaring.


"Kantor jaksa?!" teriak Natalie nyaring sampai-sampai Jullian menutup telinganya.


"Ada apa? Kau punya urusan di kantor jaksa?" Jullian bersandiwara.


"William ditangkap polisi dan sedang diselidiki jaksa atas tuduhan kekerasan seksual."


.


***