
Happy reading!
***
.
Ruangan kantor yang dibatasi sekat kaca itu tampak hiruk pikuk oleh suara keyboard yang beradu serta dering telepon yang sudah biasa didengar. Kisah di baliknya tidak asing lagi. Laporan berbagai kasus masuk ke lembar kertas putih milik kejaksaan.
Tumpukan berkas menghalangi wajah penuh lesung yang sedang berkutat dengan komputernya. Beberapa kali dia menghela napas serta memperbaiki letak kacamata bacanya.
"Cokelat hangat dengan topping vanilla seperti biasa." Seorang pengantar minuman membuat Lea mengangkat wajah. Dia tersenyum dan mengucapkan terima kasih. "Sudah waktunya ya?"
"Kau selalu melewatkan waktu makanmu, Jaksa Haggins. Jangan lupa diminum cokelatnya selagi masih hangat."
Pengantar makanan yang sering mengingatkannya waktu makan itu pergi. Lea mendesah kecil lalu menyeruput minuman hangat yang diharapkannya bisa menahan kantuk. "Lapar, lelah dan mengantuk bagiku hal yang masih baru di kantor ini, Cletus," gumam Lea.
Setelah menghabiskan minuman itu, Lea pergi untuk mengantre makanan di kantin yang dikhususkan jaksa junior. Dipilihnya beberapa makanan yang diketahui memiliki gizi seimbang.
"Makananmu berbeda hari ini, Jaksa Haggins," celetuk seseorang membuat Lea berhenti sejenak. Dia tertawa sebelum menyuap makanan ke mulutnya.
"Aku berusaha menjaga kesehatan, Jaksa Kasady. Aku tidak boleh jatuh pingsan saat mengerjakan pekerjaanku."
"Baguslah kalau kau sadar. Kau terlihat sedikit kurus belakangan ini," tambah jaksa pria yang duduk di sebelahnya.
Lea hanya mengangguk paham. Dia sadar akan perubahan dirinya yang mulai kurus. "Aku masih terjebak dalam kasus penculikan remaja puteri belakangan. Belum ditemukan titik terang," jelasnya memberi alasan.
Beberapa jaksa yang ikut mendengarkan percakapan itu menanggapi. "Banyak kasus kekerasan juga yang masuk ke kantor kita. Kota ini memang kota dosa seperti julukannya."
"Apa kabar kasus pembunuhan yang sedang kau kerjakan, Jaksa Kasady?" tanya Lea agar pembicaraan ini berada di jalurnya, bukan mengenai kesehatannya.
"Ah, sebentar lagi selesai," sahut pria itu. "Tapi sepertinya tidak sesederhana yang kita pikirkan. Mungkin saja ini melibatkan banyak pihak."
"Kasus penculikan ini juga tidak biasa. Kemungkinan ada kisah besar di baliknya. Aku akan segera menyelesaikannya juga," tambah Lea.
"Kau pasti bisa, Jaksa Haggins. Seperti kasus pencurian berlian langka yang telah kau selesaikan bulan lalu, berhasil kau pecahkan dalam seminggu lebih. Aku tidak akan terkejut kalau kasus ini berhasil menemui titik terang dalam beberapa hari ke depan." Seorang perempuan muda memberi Lea semangat yang dibalasnya dengan cengiran.
"Semoga aku bisa. Kalian juga semangat," tutup Lea. Dia menghabiskan makanan di piringnya dan segera pergi.
"Dia sedikit pucat," tukas Kasady setelah dirasanya Lea berlalu dari sana.
"Juga bertambah kurus," tambah yang lain.
"Iya, biasanya dia melewatkan makan siang. Makanannya juga pilih-pilih."
Hening sesaat membuat beberapa orang di meja itu saling pandang. "Maklumi saja, dia memiliki pacar."
***
Di tempatnya yang semula, Lea tetap setia menemani komputer yang memancarkan radiasi ke kacamatanya. Sudah berkali-kali dia mengecek lembaran putih di tangannya, memastikan kebenaran yang dia lihat.
"Oh, rupanya aku tidak perlu mencarimu ke tempat lain," desisnya tajam melihat profil seseorang yang terlibat dalam kasus yang sedang dikerjakannya. "Tidak salah lagi, aku sudah dapat kabar tentangmu yang seperti ini, hanya bukti yang belum cukup."
Lea menyeringai tipis dan segera menyimpan hasil kerjanya hari ini. "Aku makin bersemangat," serunya girang.
"Mulai sekarang, aku tidak akan lembur lagi," gumamnya. Lea mulai membereskan meja kerjanya dan menghampiri jaksa lain yang masih berteman dengan komputer. "Aku duluan!"
"Eh?" Beberapa orang membeliak. "Tidak lembur?" tanya mereka bersamaan.
"Akan ku lanjutkan di rumah," ujarnya sedikit gugup karena ditatap penuh curiga oleh mereka. "Aku punya jadwal kencan malam ini," selorohnya lagi berbohong sambil memerhatikan jam tangan karena sipitan mata dari rekan kerjanya yang tidak percaya.
Berpura-pura punya jadwal kencan adalah harapan kecil agar mereka tidak curiga. Bukan karena apa, Lea merasa lelah dan ingin segera istirahat. Lea tidak paham kenapa dia berbohong seperti itu, padahal bukan sesuatu yang penting.
"Irinya ..., aku juga ingin kencan tapi tidak ada yang mau dengan orang yang menghabiskan waktu di ruangan seperti kita," sahut seorang yang diketahui Lea kalau namanya Frances.
"Bukan tidak mau, kau hanya belum menemukan orang yang tepat. Makanya, standar pria-mu jangan terlalu tinggi. Perhatikan juga meja atau daerah sekitarmu," celetuk jaksa Kasady yang membuat Lea mengulum senyum. "Aku duluan," pamit Lea.
"Jangan terlambat besok!"
"Semoga kencanmu lancar!"
"Hati-hati di jalan!"
Sebelum keluar dari sana, Lea lebih dulu menelepon Hunter agar pria itu menjemputnya. Lea bukannya takut pulang sendiri, mengingat pekerjaannya sebagai orang yang membuktikan kesalahan orang lain serta mendakwa mereka di pengadilan, ada baiknya berhati-hati apalagi dirinya hanya seorang wanita lemah. Bukan tidak mungkin jika dia akan berakhir di tangan penjahat.
Berbeda saat dulu waktu Lea bekerja sebagai bartender, tidak ada yang perlu ditakutkan dan identitasnya tidak seterbuka sekarang, meski identitas jaksa-nya belum banyak yang tahu.
Di sisi lain, setelah mendapat telepon dari Lea, Hunter melaju dengan mobilnya. Pria itu sengaja membawa mobil karena lidah mentari masih menjalar di dedaunan tinggi, panasnya masih terasa. Hunter pria penyayang, dia tahu Lea tidak akan nyaman jika kepanasan sepulang kerja.
Di tengah perjalanan, mobilnya dihadang oleh seorang pria. Kepalanya tertutupi hoodie sehingga Hunter tidak mengenali wajahnya. Segera setelah pria itu membuka hoodie-nya, Hunter tersentak. Dia menurunkan kaca mobilnya lebih ke bawah dan menjulurkan kepala.
Pria itu menghampiri Hunter. "Kau pembohong yang menerima uang haram. Kau menjual informasi palsu." Kepalan tangan pria itu hampir mengenai wajah Hunter jika saja dia telat menangkapnya sedetik saja.
Hunter tertawa sinis. Dihempaskannya tangan yang penuh tato itu sehingga mengenai pintu mobilnya. "Kau meminta informasi orang yang salah. Dia bukan sembarangan wanita yang bisa kau permainkan," desis Hunter penuh benci.
Pria itu terkekeh. Dia mendekatkan wajahnya ke kaca mobil Hunter dan berkata, "Aku yang pertama kali menidurinya. Dia gampangan."
Ketika Hunter hendak memukulnya, suara pria itu menahan tangannya. "Aku hanya perlu mengikutimu ke mana-mana, maka aku bisa menemukan wanita itu 'kan? Tidak usah takut, aku tidak akan melenyapkannya."
Gemeletuk gigi Hunter terdengar. Dia mengepal erat, menunggu waktu yang tepat untuk meninju wajah menyebalkan yang tertawa seperti orang gila itu. Harry, pria yang pernah dikirimnya ke Jepang berbekal informasi palsu.
"Tapi ada untungnya juga aku pergi ke negara itu. Aku punya tambahan teman," jelas Harry sebelum pergi dari sana.
Dari belakang, pria itu tampak seperti gelandangan yang tidak punya tempat tujuan. Tubuh kurus, rambut gondrong yang tidak terurus serta pakaian compang-camping yang menandakan bahwa tidak ada rumah yang nyaman untuknya.
Hunter melajukan mobilnya dengan hati-hati. Maniknya sesekali melirik kaca spion serta memerhatikan area sekitar memastikan Harry tidak benar-benar mengikutinya.
"Kenapa kau terlambat sekali?" Nada tegas pemilik manik cokelat yang menghampirinya membuat Hunter sedikit tersendat. Dia tidak bisa menjelaskan kejadian yang baru saja terjadi. Bisa-bisa Lea tidak tidur sepanjang malam untuk mengatur strategi untuk menjebak dan membawa Harry ke jalur hukum. "Kakiku pegal menunggumu!"
"Maaf, aku terlambat memanasi mesin mobil ini. Sudah lama tidak dipakai." Alasan spontan keluar begitu saja dari mulut Hunter. Dan untungnya, Lea percaya meski wajah masam perempuan itu tidak bisa dia kembalikan ke ekspresi semula.
.
***