After Yesterday

After Yesterday
After Yesterday 16



Happy reading!


***


.


Pagi berganti siang, dan senja menjemput malam. Kini kerlap-kerlip lampu jalanan menambah keindahan malam di Las Vegas. Berbagai tempat ramai oleh kegiatan khas malam hari.


Sepasang manik cokelat bening memandang keindahan kota dari balik jendela hotel tempatnya menginap. Sesekali bibir Jullian menyeringai melihat interaksi dua perempuan di bawah sana, tepatnya di sebuah restoran bintang lima yang letaknya berhadapan dengan hotel.


Dia tertawa kecil melihat perempuan berambut sebahu itu tampak gelisah dengan mata yang tidak henti menatap layar ponsel. Lantas Jullian meraih ponselnya dan menekan panggilan ke ponsel Theodore.


"Hentikan lelaki yang akan dia temui! Aku akan berangkat!"


Setelah mengucapkan kalimat itu, raut William langsung berubah. Rahangnya mengeras diikuti dengan kilatan berbahaya dari maniknya. Ada iblis juga di matanya.


Jullian mengganti kaosnya dengan jas, memanjakan tubuh kekarnya dengan pakaian yang dipesan khusus dengan harga fantastis. Rambutnya ditata rapi sehingga ketampanannya bertambah berkali-kali lipat.


Selesai dengan itu, Jullian kembali mematut dirinya di hadapan cermin. Dia tidak henti memandang dan memuji ketampanannya di sana sampai getar ponsel membuatnya beranjak.


"Sudah saatnya," gumam Jullian lalu keluar dari hotel itu.


Jarak yang hanya beberapa langkah menuju restoran itu tetap membuat Jullian mengendarai mobil mewah miliknya. Mobil edisi terbatas yang akan menunjukkan siapa dirinya. Seorang tuan muda yang kaya raya.


Sapaan hormat dan kepala yang tertunduk langsung menyapa Jullian ketika dia memasuki restoran. Bukan hanya karena kekayaannya yang merambah ke Las Vegas, tapi wajah rupawannya juga menjadikan Jullian pusat perhatian.


Dia tersenyum manis, membalas sapaan dengan ramah. Matanya terus melirik dua orang yang menjadi targetnya malam ini. Saat sampai di meja dua orang itu, Jullian sengaja menabrak meja dan menjatuhkan sendok sehingga perhatian dua perempuan itu teralihkan.


"Ah, maafkan saya, Nyonya," ujar Jullian lalu membungkuk berulang kali meminta maaf.


Wanita paruh baya yang hendak marah itu seketika tersenyum ramah melihat Jullian. Dia mengurungkan niatnya dan menyenggol sang puteri yang sibuk memandang ponsel.


"Tidak apa-apa, tidak apa-apa."


Lalu pandangan Jullian beralih pada perempuan berambut pendek itu. Dia pura-pura terkejut dan memandang antusias.


"Nona De Souza? Kau di sini? Kebetulan yang tidak disengaja." Jullian langsung duduk di kursi kosong yang diperuntukkan bagi seseorang yang ditunggu Natalie. Dia berbicara santai, seolah-olah sangat akrab dengan Natalie.


"Tuan muda Haggins?" Natalie terkejut lalu tersenyum manis. Dia meletakkan ponselnya dan fokus pada Jullian. "Aku tidak menyangka bisa bertemu dengan Anda lagi. Apa kabar?"


"Sebuah kehormatan bisa berjumpa denganmu lagi, Dokter cantik. Aku baik-baik saja karena melihat senyummu. Bisakah jangan terlalu formal? Aku tidak terbiasa dengan situasi seperti ini."


Jullian bersikap ramah seperti biasa. "Bolehkah aku bergabung di sini? Atau kau sedang menunggu seseorang?"


"Tidak, tidak ada." Meredith, sang ibu langsung menyela. Dia menyikut Natalie karena perempuan itu terdiam. "Anda bisa di sini semau Anda, Tuan. Natalie sering membicarakan tentang investor rumah sakit tempatnya bekerja. Saya tidak menyangka bisa bertemu Anda di sini, Tuan. Karena Anda yang tidak pernah memandang bulu, anak saya bisa tetap bekerja di sana. Terima kasih."


Jullian tertawa kecil. Lalu memesan makanan yang sama dengan milik Natalie dan ibunya. "Itu bukan apa-apa jika bukan karena dedikasinya yang besar. Dia tetap bekerja di sana karena keahliannya. Aku hanya sekadar membantu."


"Anda rendah hati seperti yang diberitakan, Tuan." Meredith tersenyum lebar yang juga dibalas Jullian dengan cara yang sama. Mereka sama-sama menyantap makanan di satu meja. Yang masing-masing menyimpan perasaan lain di hati.


"Aku yang akan membayar," ucap William ketika mereka menghabiskan hampir seluruh makanan di meja.


"Ti-----!"


"Terima kasih, Tuan." Meredith menunduk, menyela perkataan Natalie yang tidak utuh, mengucapkan rasa terima kasih yang tidak terhingga. "Maaf, aku tiba-tiba ingin ke toilet," ucap wanita itu karena melihat Jullian yang tidak lepas dari wajah Natalie. Insting wanitanya langsung bekerja, menebak apa yang akan terjadi.


Jullian mengangguk. Dia juga menggesekkan kartu ajaib miliknya dan membayar seluruh makanan tadi. Sekali lihat saja, Jullian memahami bagaimana sifat wanita paruh baya itu. Dia berharap Lea tidak jatuh hati pada William, karena adiknya yang malang itu akan kesulitan menghadapi ibu mertua bermuka dua.


Malam yang panjang baru saja dimulai. Seringai iblis langsung tercetak di bibir Jullian saat dia membukakan pintu mobil untuk Natalie.


***


Berbeda dengan dua insan yang baru saja saling mengenal, atau lebih tepatnya Natalie yang akan mengenal Jullian. William yang tidak lagi menginap di kasino dan memilih pulang ke apartemen memandang lekat wajah wanita yang sudah tertidur pulas.


Dia berbaring menghadap Lea. Tangannya menyusuri garis wajah Lea, menyentuh pipi, alis, hidung dan bibir wanita itu.


William berlama-lama menyentuh bibir Lea. Merasakan kehangatan dari bibir yang sering dia gigit itu.


"Kita bertemu di waktu yang salah. Jika saja aku bertemu denganmu jauh lebih cepat, aku akan mencintaimu dengan cara yang berbeda. Aku akan memberikan seluruh yang aku miliki dan mempertahankanmu di sisiku. Sayang sekali ...."


Lea menggeliat merasa geli ketika William membuka kancing piyamanya. Tangan lelaki itu juga menjalar, menyentuh bagian yang disukainya.


"Diamlah, Jalaang!" William menggeram lalu menggigit telinga Lea. Dia membisikkan kata cinta dengan deru napas yang memburu dan tangan yang lembut, menyentuh kulit Lea yang hangat. Membawa Lea dalam pelukannya. Memeluk hangat wanita mungil itu. Mendekapnya erat, seolah tidak ada hari esok untuk melakukan itu. Karena kenyataannya, William tidak akan melakukan itu saat Lea terjaga.


William tidak hanya menyukai wanita yang ada dalam dekapannya ini. Dia telah jatuh, kalah telak dalam permainannya. Keinginannya untuk menyakiti Lea hancur lebur karena kelembutan Lea beberapa hari ini.


Lea yang datar tidak lagi William lihat. Dia sering menjumpai Lea yang hangat dan penuh senyuman setiap hari. Hal itu yang membuatnya nyaman pulang ke rumah. Tempat yang dulu jarang dia datangi.


Keberadaan Lea membuatnya merasakan seperti benar-benar memiliki rumah. Ada orang yang menunggunya pulang. Ada yang menyiapkan makanan, pakaian dan menemaninya tidur.


Lea bukan lagi wanita penghangat ranjang baginya. Tetapi lebih dari itu. Lea kembali menjadi wanita yang menggetarkan hati William seperti sejak pertama kali melihat wanita itu berseragam bartender. William jatuh cinta. Jatuh cinta pada wanita yang dia sakiti.


William tidak lagi peduli pada masa lalu Lea yang membuatnya benci pada wanita itu. Semuanya berubah, William terpenjara oleh cinta. Satu kata yang nyaris tidak pernah dia ucapkan setelah pengkhianatan mantan kekasihnya.


William lantas mengecup kening Lea, menyalurkan perasaan yang tidak pernah dia perlihatkan pada Lea. Perasaan cinta yang sesungguhnya. Dada William sesak saat bibirnya turun pada hidung dan pipi Lea. Dia menyentuh pipi Lea yang sering dia tampar, mengecup lama pada bagian itu.


"Bagunlah, Jalaang! Aku tidak suka meniduri jalaang yang pingsan!"


Lalu tangannya mencubit kuat put*ng Lea membuat wanita itu membuka matanya.


"Aku pikir kau mati, Jalaang!"


"Maaf, aku ketiduran." Lea mengucek matanya. Menyadari dia sudah setengah telanjang, Lea menarik selimut untuk menutupi dadanya.


"Bagian mana yang tidak pernah aku sentuh? Lepaskan!" William membuang selimut itu ke lantai. Membiarkan tubuh Lea terpampang jelas di matanya. "Tidak perlu berpura-pura polos di depanku, aku membenci jalaang munafik."


Tidak seperti biasanya, William memilih diam saja. Dia hanya memandang tubuh Lea tanpa berniat menyentuh lebih. Manik hitamnya menatap tajam dengan tangan yang menangkup pipi Lea. Ada sesuatu yang ingin dia katakan, tapi mulutnya terlalu berat.


"Berikan aku anak! Lahirkan anak untukku, Lea."


Bibir William bergetar saat mengatakan itu. Kerongkongannya tercekat. Pertama kali dalam hidupnya dia meminta, memohon dari palung hati terdalam meski wajahnya tidak menunjukkan itu. Memohon sesuatu yang mungkin sangat mustahil bagi Lea. Karena wanita itu menginginkan sesuatu yang lain darinya.


"Berikan aku anak yang manis sepertimu, aku menginginkannya," ulangnya lagi saat Lea hanya bergeming. "Katakan iya, aku akan membayarmu lebih."


.


***


...Berikan like di setiap part ya^_^...


...Maaf ya, up-nya aku usahakan sekali seminggu. Tapi bakalan up yang banyak kok, tenang aj....