
Happy reading!
***
.
Dengan bantuan kain sobek sisa yang dirobek William, Lea menutupi bagian tubuh depannya, berjalan terseok-seok menuruni tangga. Matanya bergerak gelisah, tertumpuk banyak kristal bening di pelupuk. Waspada agar tidak dilihat orang lain. Meski selalu ada sepasang mata yang mengintai ke mana pun dia pergi.
Seluruh tubuh Lea penuh luka sehingga tidak terlihat warna kulit aslinya. Menangis dalam diam, itu yang bisa Lea lakukan. Tidak ada sandaran dalam hidupnya yang sekarang. Jika dulu dia melampiaskan kemarahan pada orang yang lemah, sekarang dia menjadi orang lemah itu sendiri. Merasakan bagaimana disiksa, ditampar dan ditendang oleh tenaga yang kuat.
Sebuah isakan lolos dari bibirnya saat masuk ke dalam bilik toilet yang sunyi. Cocok menjadi tempat untuknya mencurahkan isi hati. Lea duduk mengapit lututnya, menundukkan kepala bersamaan dengan banjirnya air mata di lantai.
Hidupnya telah hancur. Dan sekarang makin tidak berguna. Lea layaknya mainan, yang rapuh dan semudah itu dipermainkan oleh iblis bernama William.
Puas menangis seperti itu, Lea lalu memukul seluruh bagian tubuhnya. Mengumpat dalam hati, berharap dirinya mati saja. Lagi-lagi Lea tidak merasakan sakit saat menjambak rambut panjangnya, memukul kepala juga dadanya yang sesak. Dia ingin mati walaupun tidak berpikir untuk bunuh diri.
Sakit di tubuhnya tidak seberapa dibandingkan dengan hatinya yang menyerap semua perlakuan buruk dari lelaki iblis itu. Lea menangisi hidupnya yang tidak berarti lagi. Hanya malang yang menimpa. Tanpa dia tahu, itu baru permulaan. Masih banyak yang akan menunggunya di esok hari.
***
Setelah mengganti dengan pakaian biasa di ruangan ganti yang sepi oleh pekerja, Lea menghembuskan napas kasar. Tidak ada lagi sisa air mata walaupun mata cokelat itu telah bengkak. Tanpa peduli lagi dengan waktu kerja yang masih tersisa banyak, Lea keluar dari gedung bertingkat dan sangat mewah itu.
Di tepi jalan, dia melihat bayangan seorang pria yang sedang berbincang dengan beberapa orang. Lea berputar arah, tidak ingin bertemu Hunter yang selalu mengganggunya. Makin melihat pria itu, Lea merasa hatinya perlahan terkikis kemudian terjun bebas ke dasar samudera.
Berjalan tanpa arah, derap langkahnya di jalan kasar dan keras itu terdengar nyaring. Sebentar lagi sang Surya akan menyapa, Lea buru-buru ingin membuka pintu apartemennya. Mengunci diri dan tidak akan keluar lagi melihat dunia.
Sayang sekali, rencana itu tidak segera terwujud. Wajah datar Lea menajam ketika tangannya dicekal. Secepat mungkin dia menepis kasar tangan yang menyentuh kulitnya. "Bajiingan!!!" teriaknya pada Hunter.
Lalu dia menendang tulang kering Hunter agar pria itu tidak membuka mulut karena melihat sudut bibirnya berdarah. "Aku membencimu! Aku membenci semua lelaki di dunia ini! Kau brengsekk!" teriaknya lagi sembari melempari Hunter dengan sepatu setinggi sepuluh sentimeter miliknya.
Hunter menghela napas. Mengusap-usap tulang keringnya yang sakit. Dia memandang Lea penuh cinta, binar matanya tetap sama meski jutaan kali dimaki dan dihina oleh Lea.
"Kau perlu sampai dengan selamat di rumah."
"Aku tidak butuh anjing untuk memimpin jalan untukku!"
Karena Hunter tetap mengikutinya, Lea membuka sebelah sepatunya lagi dan melempari Hunter. Ujung haknya yang runcing tepat mengenai kening pria itu. Darah menguncur dari kening Hunter saat itu juga sehingga sudut bibir Lea menyeringai.
"Aku sudah bilang, aku tidak butuh anjing miskin dalam hidupku!"
Lea pergi begitu saja. Tidak peduli ialah kebiasaan hidupnya dari dulu. Entah teman atau pun musuh, hanya seorang pria yang pernah dia pedulikan. Dan sayangnya, orang itulah yang membuangnya, mengikat lehernya erat sehingga Lea berharap hidupnya sekarang tidak ada. Membunuhnya perlahan dalam penyesalan.
Di tempatnya berdiri, Hunter menyeka darah yang terus mengalir dari keningnya. Bibirnya tersenyum pedih, dengan mata yang menatap nanar kepergian perempuan yang dia cintai. Jantungnya terus berdebar, merasakan cinta yang tak terhingga untuk wanita itu.
Cinta membuat Hunter tidak peduli apapun. Amarah dan kebencian, kekerasan dan penghinaan. Semua hal yang dilontarkan Lea melalui bibirnya, Hunter menyukainya. Entah dia bodoh atau apa, yang dia tahu, dia mencintai Lea sepenuh hati. Menerima semua sisi baik dan buruk wanita itu. Masa lalu Lea yang kelam, Hunter tahu dan tetap mencintainya.
***
"Apa dia wanita yang kau cintai?"
"Tutup mulutmu! Aku mengatakan dia hanya sampah, Sialan!"
William menggeram, kilat amarah langsung terpancar dari mata hitamnya. Sehingga Leon seketika gemetar di tempat. Dia mengatupkan bibir, namun senyum mengejek masih terlukis. Begitu pula dengan Bryan, dia tersenyum miring.
Waktu William meninggalkan mereka di meja poker tadi, Leon dan Bryan segera mengikuti William setelah menghabiskan satu ronde dalam permainan. Hanya sebentar. Mereka melihat seorang wanita tanpa busana keluar dari ruangan William. Bryan segera menutup mulut Leon ketika pria itu hendak menjerit histeris.
"Dia jalaang!" William berusaha meredamkan amarah ketika dua temannya tertawa.
"Come on, Dud. Jalaang tapi sudah kau nikmati. Jangan sampai termakan omongan sendiri," ujar Leon.
Pandangan matanya fokus pada benda di tangan. Game. Tidak melihat aura berbeda yang dipancarkan sepasang mata di sampingnya. Segera Bryan menginjak kaki Leon, menyuruh menutup mulutnya yang seperti sungai mengalir. Banyak bicara tapi penuh omong kosong walau terkadang ada benarnya juga. Mungkin saja sekarang ada kebenaran. Karena Bryan sudah paham apa yang ada di hati William.
"Dia hanya boneka pemuas nafsuku," ucap William dingin setelah menghembuskan asap rokok. Sebentar saja, bibirnya tersenyum mengingat wajah Lea yang pasrah di bawah kungkungan tubuhnya. "Tidak terlalu nikmat, tapi cukup membuatku berkeringat."
Sembari terkekeh pelan, dia menuangkan wiski ke dalam gelas dan menyesapi rasa yang nikmat saat sampai di kerongkongannya.
"Sialan, sudah menidurinya tapi bilang tidak nikmat," umpat Leon seraya mencebik. Dia melempari William dengan tablet miliknya. "Juniormu sudah tertancap sempurna di sana 'kan? Kau pasti mendesah nikmat tadi."
Bryan ikut terkekeh. "Aku juga berpikir begitu. Apalagi dia kecil, pasti pas sekali kau genggam, Will."
William tidak membantah. Sudut bibirnya berkedut, menyeringai sinis. "Karena kecil, makanya tidak nikmat. Dagingnya tidak empuk dan tulangnya sangat rapuh."
"Brengsekk!" Kembali Leon mengumpat sinis. "Kalau kecil, juniormu pasti tidak akan bergerak. Dasar pecundang!"
Bryan tertawa. Sementara William hanya menyeringai tidak senang. Tubuhnya berada di sini, tapi otaknya berlarian pada kejadian barusan. Kejadian di mana dia lagi-lagi tidak terkendali melihat tubuh Lea. Hanya karena bokong wanita itu, hasrat lelakinya bangkit dan iblis menguasai.
"Brengsekk! Dia jalaang!" William mengumpat seraya menyugar kasar rambutnya.
"Iya, kau brengsekk!" Leon menambahi.
William seketika sadar lalu melempar Leon dengan puntung rokoknya yang masih menyala.
"Sialan!!! Panas! Panas! Panas!" Leon menjerit kesakitan.
"Lain kali bukan api," ancam William.
"Wanita?"
"Aku akan menenggelamkanmu ke dalam laut."
Pria yang tidak bisa berenang itu terbungkam seketika. Dia kembali fokus pada game-nya, tidak peduli pada pembicaraan Bryan dan William.
"Aku pikir si bodoh ini ada benarnya, Dude. Bahaya kalau suatu saat kau termakan omonganmu sendiri."
"Apa aku terlihat peduli? Dia jalaang, aku benci wanita seperti itu."
Bryan diam sebentar. Dia melipat ujung bibirnya dan menatap William. "Bermain bersama? Bagaimana menurutmu?"
"Dia jalaang, jangan mengotori dirimu."
"Ayolah, Dud. Kita teman, jangan terlalu pelit, ok? Aku akan memberimu Ferarri yang baru saja aku beli."
William tersenyum lebar. Dia mengepalkan tangannya dan ber-high five dengan Bryan. "Deal!"
Keduanya tertawa, menyeringai bersama. Pertemanan yang seperti keluarga, rela berbagi dan menikmati bersama. Ya, pertemanan yang tulus. Dan mungkin saja salah satunya palsu.
.
***