After Yesterday

After Yesterday
After Yesterday 19



Happy reading!


***


.


Jemari kekar itu berulang kali mengetuk meja, bermain dengan suasana dingin di dalam ruangan penuh dengan aroma makanan memabukkan. Matanya tidak henti berkeliling, memandang pemandangan di luar. Lautan tidak lagi membiru karena langit menggelap. Langit hendak menerjunkan air beningnya.


Duduk di dekat jendela yang disuguhkan pemandangan laut pagi hari membuat Jullian seketika melupakan tujuannya berada di tempat ini. Jullian terpesona oleh keindahan alam, sibuk berkelana dengan pikirannya sendiri.


Dunia yang dulu indah saat Jullian bersama dengan Lea, bermain air laut saat musim panas, naik kapal dan memancing. Ditemani kedua orang tua yang sangat menyayangi mereka. Sungguh, saat-saat seperti itu bagai surga untuk Jullian. Ditemani dan menemani orang-orang yang mencintai dan juga dicintainya.


Namun, semuanya berubah ketika Jullian beranjak dewasa. Lea tidak lagi mendengarkannya ketika Harry masuk ke dalam kehidupan Lea. Berulang kali Jullian memperingatkan Lea agar tidak terlalu percaya pada Harry.


Sayangnya, semua tidak dalam kendali Jullian. Lelaki yang dia tahu sebagai pecandu narkoba itu menghancurkan masa depan Lea. Jullian sangat marah dan menuntut Lea untuk terus bertanggung jawab dengan hidupnya.


Dalam sekejab juga, dunia Jullian hancur lagi. Kecelakaan pesawat yang merenggut nyawa kedua orang tuanya menuntut Jullian untuk menjadi orang tua bagi Lea. Mengurus adiknya yang sangat manja dan tidak paham apapun, selain hukum.


Jullian mengirim Lea ke tempat ini. Tempat di mana yang menjadi tempat asing bagi adik kesayangannya. Memblokir semua akses agar Lea tidak sewenang-wenang seperti dulu, bekerja keras dan bisa mencapai tingkat hidup sederhana. Memahami bagaimana kehidupan yang sebenarnya, tanpa berfoya-foya seperti Lea yang dibutakan oleh cinta Harry.


Sampai kedatangan seorang perempuan berambut pendek, Jullian masih tidak menyadarinya. Dia masih sibuk, fokus pada memorinya yang mengambang di atas permukaan.


"Sudah menunggu lama?"


Jullian tersentak dan segera menyadarkan diri. Dia menoleh dan mendapati Natalie di depannya. Segera Jullian tersenyum. "Maaf, aku sepertinya tidak menyadari kedatanganmu. Aku terpesona pada laut."


"Oh, restoran ini memang terkenal dengan pemandangan lautnya. Aku bersyukur bisa berada di sini."


"Apalagi bersama denganmu." Jullian menambahkan dan memesan makanan termahal yang ada di sana.


Natalie tersenyum malu-malu. Ditatapnya Jullian yang begitu tampan. Membius pikirannya dalam sekejab dan bisa memutuskan kekasih yang telah bersamanya dalam waktu lama.


"By the way, aku belum pernah menanyakan ini padamu sebelumnya. Maaf jika memberi kesan tidak sopan, tapi aku benar-benar penasaran. Apa kamu sudah punya pacar?"


Jullian memandang Natalie serius, memberi dampak pada perempuan yang dia tahu telah memberi akses masuk untuknya.


"Itu ...." Natalie tampak linglung. Tersenyum canggung untuk menutupi kegugupannya. "Aku ...."


"Aku mengerti. Sepertinya tidak ada tempat lagi untukku ya .... Hahahahah ...." Jullian juga mulai bersandiwara. Sebagai sosok pebisnis yang banyak memenangkan tender dengan otak, Jullian memulai permainan.


Meski tidak pernah berpacaran sebelumnya, Jullian paham materi tentang percintaan. Bagaimana merayu perempuan dan merebut hati mereka.


"Bukan ... bukan seperti itu. Aku sudah putus dengannya!"


Jullian berpura-pura tersedak dan berdehem sejenak. Lalu dengan elegan, bertanya, "Putus? Kenapa bisa?"


Natalie menunduk dalam lalu menghembuskan napas. Dan kembali menegakkan kepala setelah berkompromi dengan akal dan hatinya. "Aku menyukaimu!"


Seringai lebar langsung terukir jelas di wajah Jullian. Satu langkah telah berhasil dan saatnya menaklukkan lebih bagus lagi.


Natalie menggeleng perlahan dan tertunduk malu. "Ini memang terdengar tidak tahu malu, tapi aku serius."


Jullian terkekeh. Dia kemudian menarik kursi duduknya dan berpindah ke samping Natalie. Menatap wajah yang malu-malu itu dari dekat. "Malah aku bersyukur karena itu. Sebenarnya aku sudah menyukaimu sejak perkenalan pertama di rumah sakit, hanya karena aku terlalu sibuk makanya tidak bisa mengajakmu makan bersama seperti saat ini. Sampai sekarang baru aku memiliki waktu yang luang."


Di belakangnya, Theodore yang duduk seperti patung hanya berdecak. Sekarang tidak sibuk katanya? Padahal Jullian membatalkan semua rapat penting demi melancarkan aksi ini. Tuan mudanya itu pandai bermulut manis. Entah bagaimana nasib perempuan berambut pendek itu nanti. Theodore mencemaskannya.


Di luar, hujan mulai menyapa bumi. Membuat suasana makin dingin. Jullian perlahan mendekatkan diri pada Natalie, menyuapi perempuan itu makan yang hangat dan berusaha merebut hatinya. Melakukan hal-hal manis dan romantis layaknya seorang kekasih yang benar-benar jatuh cinta. Tanpa seorang pun di ruangan itu tahu, kecuali Jullian sendiri dan Theodore. Dan Tuhan juga tentunya.


***


Akhir pekan bukanlah hari libur bagi para pebisnis seperti William. Lelaki itu sudah berpakaian rapi, siap berperang dengan kebiasaan lama.


Kaki William terhenti melihat tubuh mungil yang terbungkus apron, bergerak lincah di meja makan. Mempersiapkan sarapan pagi.


Bibirnya tersenyum mengejek. Perihal kamera penyadap yang diletakkan Lea di rumahnya membuat William sedikit waspada. Lea tidak memberitahu apapun, tapi insting William mengatakan jika wanita yang dibawanya itu sangat berbahaya.


"Kau terlihat seperti istri yang memperlakukan suaminya dengan baik. Apa lagi yang kau inginkan, Jalaang?"


William kemudian melepas paksa apron di tubuh Lea, menarik perempuan itu agar lebih dekat padanya. Dipaksanya juga agar Lea menatap wajahnya dengan mencengkeram dagu Lea.


"Berusaha berbuat baik tapi hatimu dikuasai iblis tidak ada artinya. Pikiran dan hatimu harus sejalan, maka kau akan mencapai tujuan yang sama."


"Aku menginginkan kematianmu." Lea berujar dingin. Tanpa ragu dan tanpa ketakutan. Bola mata cokelatnya seperti menyalakan api, siap membakar.


William terkekeh. Makin menarik dagu Lea agar lebih terangkat kemudian menggigit bibir bawahnya. "Apa kau bisa? Burung di dalam sangkar tetap tidak bisa mematuk pemiliknya."


"Hanya karena kau bisa menyelam, tidak berarti kau bisa menaklukkan samudera."


Seketika mata hitam itu juga memancarkan aura yang sama. Dingin dan penuh aura membunuh. William makin mengeratkan cengkeramannya di dagu Lea membuat Lea meringis sakit dan memukul tangannya.


Pertama kali setelah sekian lama, Lea berani menunjukkan aura yang berbeda di hadapan William. Terkejut tentu saja, tetapi William lebih takut. Takut Lea pergi dari hidupnya setelah apa yang terjadi.


Kemarin William baru saja menyuruh Lea pergi, namun pagi ini, keinginan itu tertelan oleh sepasang manik yang berani menantangnya. William berubah pikiran. William tidak ingin Lea pergi. Tidak. Sampai kapan pun, William tidak akan melepaskan wanita yang merebut hatinya.


"Karena kau terikat, maka jalani saja takdirmu, Jalaang."


William lantas melepaskan cengkeramannya dan pergi. Tidak peduli pada makanan yang membutuhkannya untuk disentuh. Tidak menoleh atau pun berbalik. Mata hitamnya menajam, bahkan sampai membuka pintu, William tersentak melihat dua orang yang berdiri sembari tersenyum padanya.


"Nath?"


Dari belakang, Lea juga terkejut. Matanya melebar sempurna. Bibirnya bergetar, cemas dan juga takut.


"Kakak?" gumamnya pelan. Namun, Lea segera mengatupkan bibirnya saat William dengan tatapan tajam menoleh padanya.


.


***